NovelToon NovelToon
Senyum Berbalut Luka

Senyum Berbalut Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Persahabatan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: RahmaYesi.614

Nadia anak tanpa identitas yang mencoba tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia.

Nadia hanya ingin hidup nyaman, mengubur semua duka masa lalu untuk melanjutkan masa depan yang lebih baik. Namun, suatu hari Nadia menabrak mobil milik orang kaya, sehingga Nadia harus membayar ganti rugi sebanyak ratusan juta.

Mampukah Nadia membayar uang ganti rugi atau Nadia memilih mengakhiri perjalanan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalimat itu lagi...

Hampir setengah jam Nadia sembunyi di bilik toilet, setelah merasa lebih baik, barulah dia kembali ke meja kasir.

Adit yang sejak tadi menunggunya dengan khawatir pun merasa lega saat melihat Nadia sudah kembali. Adit hendak melangkah mendekati Nadia, tapi saat teringat apa yang terjadi mungkin karena kecerobohannya dan itu membuat Nadia tidak nyaman, Adit pun mengurungkan langkahnya.

Adit memilih memperhatikan Nadia dari kejauhan untuk beberapa saat. Setelah memastikan Nadia terlihat baik-baik saja, Nadia mulai tersenyum pada pelanggan dan juga mengobrol dengan karyawan lainnya, barulah Adit kembali ke ruangannya.

Sementara itu, di kampus, Jeni masih belum pulang. Dia sedang dikuasai emosinya. Saat ini dia menunggu Yuri dan Laura tepat di depan mobil Yuri yang masih parkir di parkiran fakultasnya.

Untungnya tidak berapa lama, Yuri dan Laura datang.

"Loh, Jeni! Belum pulang." Yuri menghampirinya, duduk di sebelah kiri dan Laura duduk di sebelah kanan Jeni.

"Nadia mana?" tanya Laura celingukan berharap bisa menemukan Nadia.

"Dia udah pulang duluan." sahut Jeni datar.

Laura mengangguk paham. Begitu juga dengan Yuri. Tapi, kali ini Laura menangkap keanehan di wajah sahabatnya itu. "Lo kenapa, beb?" memegang kedua pipi Jeni.

"Apa lagi kalau bukan sakit merindu, LDR era." ejek Yuri yang berakhir mendapat tatapan tajam dari Laura.

Jeni sendiri diam sambil menundukkan tatapannya. Dia lebih suka menatap sepasang sepatu kets yang menutupi kakinya ketimbang harus memperlihatkan wajahnya pada dua sahabatnya itu.

"Beb, lo kenapa?" Kali ini Yuri bertanya.

"Gue benci diri gue sendiri!" Teriaknya getir.

Laura dan Yuri saling tatap sebelum mereka memeluk Jeni bersamaan.

"Beb, kata Dilan 'rindu itu berat.' gak usah rindu, biarin aja Kevin yang rindu sama lo." hibur Yuri yang berpikir Jeni mungkin sangat merindukan Kevin dan Jeni benci dengan hubungan LDR.

"Kali ini gue setuju sama sabda Dilan, beb. Gak usah sedih ya. Kita di sini meluk lo, beb." sambung Laura.

Entah seperti apa yang dirasakan Jeni saat ini. Yang dia tahu, hatinya terus menuntunnya untuk mencurigai Nadia dan Kevin. Beberapa saat lalu, Jeni bahkan membayangkan Nadia diam diam merayu Kevin di belakangnya dan Kevin perlahan mulai luluh pada Nadia.

"Gue benci pikiran gue! Gue benci, gue benci...." jeritnya tertahan sambil menggenggam erat lengan Yuri dan Laura.

"Beb, lo kenapa!" mereka mulai khawatir.

Pelukan itu dilepas untuk memperhatikan keadaan Jeni yang terdengar menahan luapan emosi yang berapi-api.

"Gue, gue..." Jeni bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatnya.

"Beb, lo gak sendirian. Kita disini, kalau lo belum siap cerita sekarang, gak usah cerita. Kita di sini buat temanin lo, oke."

"Iya beb. Gak usah cerita juga gak apa-apa. Lo cuma harus tau kalau lo gak lagi sendirian." Sambung Yuri.

Bukannya merasa tenang, Jeni malah berakhir menangis terisak dalam pelukan dua sahabatnya. Dia merasa benci karena pikirannya sendiri. Tapi, dia juga tidak bisa untuk terus mempercayai Nadia maupun Kevin setelah dia menyaksikan sendiri betapa dalamnya tatapan mata Kevin pada Nadia.

...>~<...

PUKUL 19:30

Nadia duduk di ruang istirahat karyawan untuk menyantap makan malamnya. Dia hanya menatap makanan dalam piring tanpa menyuapnya.

Dari luar ruangan, Adit memperhatikan Nadia lagi. Dia masih khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Nadia. Adit juga merasa bersalah dan ingin minta maaf, tapi tidak berani mendekati Nadia. Dia takut Nadia salah paham dan malah berakhir menjaga jarak atau bahkan mungkin bisa mengundurkan diri.

"Huh!" helaan napas berat menyudahi lamunannya. Nadia mulai menyuap makanan itu, mengunyah sangat pelan dengan sorot yang masih terlihat linglung.

Suara notifikasi pesan di handphone menyadarkannya. Segera dia memeriksa pesan itu.

Laura: Beb, lo masih di kafe ya?

Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Nadia segera merespon pesan itu.

Nadia: Iya nih, beb. Ada apa?

Laura: gue mau pamit pulang. Tadi pagi mama masuk rumah sakit. Penyakit jantungnya kambuh dan harus rawat inap.

Mata Nadia melotot membaca isi pesan barusan.

Nadia: ya ampun, beb. Terus sekarang gimana keadaan Tante?

Laura: katanya sih mama udah sedikit membaik, tapi belum sepenuhnya siuman.

Nadia: syukur deh. Terus lo pulangnya gimana. Naik bus?

Laura: gue lagi nunggu kak Luna, dia juga mau pulang sekalian sama suaminya.

Nadia: ya udah, hati-hati perjalanannya. Salam juga sama tante, bilang Semoga cepat sembuh.

Laura: Iya nanti gue sampaikan ke mama. Lo juga hati-hati di rumah sendirian.

Nadia: gue oke kok.

Laura: syukurlah. Ya udah gue pulang dulu ya, beb.

Nadia: iya. Kalau udah sampai rumah, kasih info ya!

Laura: oke.

Nadia menggeleng pelan membaca pesan itu.

Baru saja Nadia mulai merasa sedikit lebih baik, pesan dari Astrid masuk lagi. Isi pesannya masih topik pembahasan yang sama.

Ibuk: jangan lupa besok kirim uang!

Nadia hanya menatap tulisan itu tanpa berniat mengirimkan pesan balasan.

"Aku capek. Ayah, tidak bisakah ayah jemput aku!" Lirihnya.

Pikiran Nadia penuh saat ini. Dia baru saja mengalami hal yang cukup membuatnya hampir kehabisan napas. Belum lagi, bayangan saat tadi di kampus dimana Jeni yang terlihat jelas sengaja menghindarinya.

"Apa yang aku lakukan? Kenapa Jeni mengabaikan aku. Atau mungkin, tanpa sadar aku melakukan hal yang membuat Jeni marah?" gumamnya mengikuti isi kepala yang terus menerka-nerka berbagai kejadian yang dia alami hari ini.

Setelah selesai menyantap makan malamnya, Nadia merasa sedikit lebih nyaman. Kemudian Nadia kembali ke meja kasir.

Rupanya Digo baru datang dan langsung menghampiri Nadia.

"Malam Nadia!"

Sapaan itu membuat Nadia kaget, tapi kemudian dia menghela napas lega sesaat setelah mengetahui siapa yang menyapanya.

"Malam juga. Mau pesan?" tanya Laura basa-basi.

"Iya dong." jawab Digo tersenyum ramah pada Nadia. "Lo udah makan malam belum?"

"Udah kok. Baru juga kelar makan malamnya." jawab Nadia cepat dengan nada suara datar.

"Yah sayang banget dong. Jadinya gue makan sendirian."

Nadia hanya sedikit mengangguk tanpa senyum menanggapi ocehan Digo. Mendapat respon seperti itu, membuat Digo berhenti tersenyum pada Nadia.

"Mau pesan apa?"

"Gak jadi. Gue udah gak mood." sahut Digo terdengar dingin dengan wajah merah padam.

Nadia mendongak untuk memastikan apa yang terjadi, begitu melihat ekspresi wajah kesal Digo, Nadia pun segera menunduk. "Maaf, kalau gue terlalu kasar."

"Biasa aja. Gue udah biasa kok dapat perlakuan seperti ini dari cewek-cewek sombong kayak lo!"

Pupil Nadia membesar, dia tidak menyangka Digo tersinggung oleh ucapannya. "Bukan seperti itu, maaf..."

"Gak butuh. Tapi, gue mau bilang sesuatu sama lo." Digo mendekatkan mulutnya ke arah telinga kiri Nadia. "Ngaca! Punya kaca kan? Lo gak secantik itu untuk sok cuek sama gue!"

Tangan Nadia mengepal erat, matanya sedikit gemetar dan napas pun terasa sesak. Kalimat yang Digo ucapkan barusan sama persis dengan kalimat yang dulu juga pernah di ucapkan dua cowok bajingan itu.

Napas Nadia naik turun tak beraturan. Kedua tangannya menekan kuat bagian dadanya yang mendadak terasa panas.

Tidak! Aku baik-baik saja. Semua itu hanya masa lalu yang harusnya gak usah aku ingat lagi...

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!