Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Fajar menyingsing di ufuk timur Jatinegara, membawa hawa sejuk yang kontras dengan kegelisahan di hati Sandi. Ia beranjak dari tempat tidurnya, mengenakan seragam putih biru yang rapi, lalu berpamitan pada ibunya. Sebagai bakti rutin, Sandi membantu membawakan bungkusan besar berisi pakaian bersih hasil setrikaan ibu untuk diantar ke rumah pelanggan di sekitar gang sebelum ia tancap gas menuju sekolah.
Tepat pukul 06.10 WIB, roda motor Ninja hijau Sandi berhenti di parkiran SMP Pejuang Bangsa. Suasana sekolah masih sangat lengang. Sandi melangkah masuk ke kelas 3-A, mengambil kain lap, dan mulai membersihkan meja serta kursinya sendiri. Namun, entah karena refleks atau rasa bersalah yang menghantui, tangannya terus bergerak mengelap meja di sampingnya—milik Saskia.
"Pagi, Sansan! Wih, rajin bener. Sekalian meja gue dong, masa meja Saskia doang yang kinclong!"
Sandi menoleh dan mendapati Anggita yang baru tiba dengan tas yang disampirkan di satu bahu. Sandi cengengesan tipis. "Dih, pagi-pagi sudah tengil nyuruh-nyuruh gue."
Anggita meletakkan tasnya dan bersandar di meja. "Emang nggak boleh apa pagi-pagi gue manja sedikit sama lo?"
Sandi berpura-pura menggidik. "Iiih... kok merinding ya gue. Kesannya kayak ada cowok yang manja-manja ke gue."
"Haha, pe’a lo! Lagian kemarin gue suruh grepe-grepe gue biar 'tumbuh', lo nggak mau. Kalau lo mau kan bisa gede punya gue, biar nggak kelihatan tomboi lagi," sahut Anggita dengan tawa renyahnya yang khas, masih melanjutkan candaan absurd mereka kemarin.
Sandi menggelengkan kepala, tangannya masih sibuk mengelap kursi Saskia. "Jangan ngadi-ngadi deh, masih pagi nih. Otak gue belum siap."
Anggita melangkah mendekat, matanya jenaka. "Dih, ini justru asupan bergizi di pagi hari, biar otak lo rileks sebelum ketemu matematika."
Sandi baru saja hendak membalas, "Ada gitu asup—"
"SANSAN!"
Suara melengking yang tinggi membelah keheningan kelas, membuat Sandi dan Anggita tersentak kaget. Di ambang pintu, Saskia berdiri dengan napas memburu, wajahnya memerah padam. Di belakangnya, Mama Saskia berdiri dengan raut wajah serba salah.
Saskia berjalan cepat, langkahnya menghentak lantai kelas. Sebelum Sandi sempat membuka mulut untuk menyapa, sebuah gerakan kilat terjadi.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Sandi. Suaranya bergema di dinding kelas yang masih sepi. Sandi terdiam, pipinya terasa panas dan berdenyut, namun ia tidak menghindar maupun membalas. Ia hanya menatap Saskia yang kini matanya mulai berkaca-kaca oleh amarah dan kekecewaan.
Anggita ternganga, tangannya refleks menutup mulut karena syok. Mama Saskia di pintu pun tersentak, tak menyangka putrinya akan bertindak sejauh itu.
"San, kamu bener-bener ya!" suara Saskia bergetar, air mata mulai luruh di pipinya. "Mama aku itu ikhlas kasih ke kamu, tapi kamu sama sekali nggak menghargainya! Aku sedih, San! Aku... aku marah sama kamu! Aku benci sifat kamu yang kaya begitu! Apa alasan kamu sebenarnya nolak pemberian Mama aku?!"
Saskia menangis tersedu-sedu. Anggita yang melihat sahabatnya hancur segera merangkul bahu Saskia, membiarkan gadis itu menumpahkan tangisnya di bahunya.
Mama Saskia akhirnya melangkah masuk, mendekati Sandi yang masih menunduk. "Sandi... Tante ke sini bukan mau marahin kamu kok. Tante cuma mau bertanya langsung alasan kamu mengembalikan hadiah itu lewat satpam. Tapi... maafin Saskia ya, Tante nggak tahu kalau dia sampai emosi begini."
Sandi perlahan mengangkat wajahnya, menatap Mama Saskia dengan tulus meski pipinya masih memerah. "Iya, Tante, nggak apa-apa. Sandi juga tahu Sandi salah sudah buat Saskia dan Tante kecewa. Tapi alasan Sandi tetap sama, Tante. Sandi menolak karena Sandi merasa nggak pantas dan nggak mau punya utang budi yang terlalu besar."
Sandi menarik napas panjang. "Itu barang mahal, Tante. Bagi Sandi dan Ibu, uang setara harga ponsel itu sudah cukup untuk kami makan mewah pakai ayam goreng setiap hari selama tiga bulan penuh. Sandi nggak bisa pegang barang semahal itu sementara Sandi tahu perjuangan Ibu mencari uang setiap harinya."
Mama Saskia terdiam, matanya berkaca-kaca mendengar kejujuran Sandi. Ia terenyuh. Ternyata penolakan Sandi bukan karena sombong atau tidak sopan, melainkan karena harga diri dan realitas hidup yang sangat kontras.
"Baiklah, Sandi, kalau memang itu alasannya. Tante paham sekarang," ucap Mama Saskia lembut. "Tante boleh nggak bertemu dengan ibumu? Tante ingin sekali berkenalan."
Sandi sedikit tersentak. "Maaf, Tante... sepertinya agak sulit kalau mendadak. Ibu harus keliling ambil pakaian kotor pelanggan, belum lagi kalau ada yang minta jahitin pakaian sore-sore. Tapi nanti Sandi coba bicara dulu ya sama Ibu."
Mama Saskia mengangguk mengerti, hatinya makin tersentuh mengetahui Sandi adalah anak dari seorang pejuang nafkah yang gigih. "Baiklah. Tante permisi dulu ya. Sas, Mama pulang ya. Kamu jangan nangis lagi, kamu sudah dengar kan alasan Sandi?"
Saskia yang masih terisak di pelukan Anggita hanya bisa mengangguk pasrah tanpa berani menatap wajah Sandi.
Setelah Mama Saskia meninggalkan kelas, suasana mendadak menjadi sangat canggung. Keheningan yang berat menyelimuti mereka bertiga di pojok belakang kelas 3-A, hanya menyisakan suara isak tangis Saskia yang perlahan mulai mereda.
Keheningan di pojok kelas 3-A terasa begitu pekat, seolah oksigen di sana mendadak menipis. Anggita, yang menyandang status ranking satu sekaligus ketua kelas, menarik napas panjang. Jiwa kepemimpinannya bangkit; ia tahu jika dibiarkan, suasana ini akan merusak kekompakan Kelompok Sableng yang baru saja terbentuk.
"Sas? Ayo, duduk dulu. Tarik napas pelan-pelan," ujar Anggita dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas. Ia membimbing Saskia yang bahunya masih berguncang untuk duduk di kursinya.
Setelah Saskia duduk, Anggita menoleh ke arah Sandi yang masih mematung, menunduk menatap lantai kelas seolah sedang menghitung ubin. "San? Duduk sini," perintah Anggita.
Sandi mendongak, menatap wajah Anggita yang kini memasang ekspresi serius sebagai ketua kelas. Ia hanya bisa mengangguk patuh dan menyeret kursinya untuk duduk di samping Saskia.
"Gue di sini sejujurnya nggak tahu detail apa yang terjadi kemarin sore," Anggita memulai pembicaraan, matanya menatap Sandi dan Saskia bergantian. "Tapi gue mau lo berdua baikan sekarang juga. Gue nggak suka ada drama di dalam kelompok kita."
Sandi menghela napas, rasa panas di pipinya akibat tamparan tadi mulai berganti menjadi rasa sesak di dada. Ia menoleh ke arah Saskia yang masih menunduk dalam. "Sas? Maafin gue ya. Gue sungguh-sungguh minta maaf kalau tindakan gue menyinggung perasaan lo dan nyokap lo. Tapi gue jujur, gue nggak bisa terima hadiah itu. Gue harap lo bisa ngerti dan nggak maksa gue lagi."
Saskia tidak menjawab. Kepalanya tetap tertunduk, hanya sebuah anggukan kecil yang nyaris tak terlihat sebagai respons.
Anggita mengerutkan kening. "Saskia? Kenapa diam saja? Sandi sudah minta maaf dengan tulus, lo juga harus merespons dengan jelas. Nggak cukup cuma angguk-angguk begitu."
Mendengar teguran Anggita, Saskia perlahan menggerakkan tangannya. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia meraih ujung seragam putih Sandi, meremasnya pelan. "San... aku... aku..." Kalimatnya terputus oleh isak tangis yang kembali pecah.
Sandi yang melihat kegalauan sahabat kecilnya itu langsung meraih tangan Saskia, melepaskan remasan di seragamnya, dan menggenggam jemari gadis itu dengan tenang. "Iya, nggak apa-apa, Sas. Gue tahu. Lo nggak perlu minta maaf lagi, gue yang salah karena sudah bikin lo kecewa."
Anggita yang melihat pemandangan itu akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Ia bertepuk tangan sekali dengan cukup keras untuk memecah suasana sendu. "Oke! Masalah ini gue anggap sudah beres, dan gue nggak mau ada drama lanjutan, titik! Mumpung belum ada anak-anak lain yang datang, mending lo ikut gue ke toilet dulu, Sas. Cuci muka, bersihin sisa air mata lo itu biar nggak kayak zombi."
Saskia mengangguk pelan dan berdiri dari kursinya. Namun, saat ia melangkah melewati bagian belakang bangku Sandi, sebuah tindakan tak terduga terjadi. Saskia tiba-tiba melingkarkan lengannya di leher Sandi, memeluk cowok itu dari belakang dengan erat. Ia membenamkan wajahnya di bahu Sandi hingga pipinya yang masih basah bersentuhan langsung dengan pipi Sandi yang tadi ia tampar.
"Sandi... maafin aku ya," bisik Saskia tepat di telinga Sandi, suaranya sangat lirih dan penuh penyesalan. "Jangan benci aku karena aku sudah tampar pipi kamu tadi. Aku tadi cuma terlalu emosi."
Sandi mematung. Matanya membelalak menatap Anggita yang berdiri tepat di depannya. Ia benar-benar syok mendapat perlakuan sefrontal itu di dalam kelas, apalagi kulit pipi Saskia yang halus dan dingin terasa begitu nyata menempel di kulitnya.
Anggita hanya bisa terkekeh melihat wajah "bloon" Sandi yang membeku. Ia menepuk bahu Saskia dengan pelan. "Sudah, Sas. Sandi sudah maafin lo kok. Ayo kita ke toilet sebelum penonton makin banyak."
Saskia akhirnya melepaskan pelukannya, lalu dengan cepat meraih tangan Anggita, menggenggamnya erat seolah ia adalah anak kecil yang takut tersesat di tengah keramaian sekolah. Keduanya berjalan keluar meninggalkan kelas.
Sandi masih terduduk kaku di kursinya, tangannya refleks meraba pipinya yang tadi ditempeli wajah Saskia. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, dan ia hanya bisa bergumam lirih pada diri sendiri, "Ini nyata kah? Beneran nyata kah?."
Sandi menarik napas panjang, mencoba mengoksigenasi otaknya yang mendadak korsleting. Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya yang masih terasa dingin, lalu dengan gerakan lesu, ia membenamkan wajahnya di atas meja. Keningnya bersandar pada permukaan kayu yang keras, seolah berharap suhu dingin meja bisa meredam denyut panas di pipi kirinya yang kini mulai membiru samar membentuk pola jemari.
Di ambang pintu kelas, tawa membahana khas remaja laki-laki mendadak pecah. Vino dan Andra melangkah masuk dengan gaya selengean, saling dorong bahu sambil membicarakan skor pertandingan bola tadi malam. Namun, langkah mereka serentak terhenti saat mata mereka menangkap pemandangan tak lazim di barisan belakang: Sandi, sang pilar ketenangan kelompok mereka, tampak lunglai tak berdaya.
Keduanya segera menghampiri dan menghujani pundak Sandi dengan tepukan-tepukan keras yang sok akrab.
"Ngapa, Sob? Lemes amat kayak sayur kangkung kena panas," celetuk Vino sambil menarik kursi di sebelah Sandi.
Andra mengambil posisi duduk terbalik di bangku depan Sandi, melipat tangannya di sandaran kursi. "Yoi, ngapa lo, Bro? Tumben banget muka lo mendung begini. Biasanya kan lo yang paling cool di antara kita."
Sandi perlahan mendongakkan wajahnya, matanya terlihat sedikit sayu karena kelelahan emosional. "Nggak apa-apa, Bro. Aman," jawabnya pendek, berusaha memasang wajah datar andalannya.
Namun, usaha Sandi gagal total. Begitu cahaya lampu kelas menyinari wajahnya, Vino dan Andra serentak terdiam, lalu detik berikutnya ledakan tawa mereka pecah hingga hampir terjungkal dari kursi. Mereka melihat dengan jelas "kenang-kenangan" di pipi Sandi—sebuah ceplakan telapak tangan yang sangat presisi.
"Astagfirullah! Ngapa itu pipi lo, San? Abis ngintip cewek mandi lo ya di ruang ganti?" goda Vino sambil memegangi perutnya yang kram karena tertawa.
Andra ikut tertawa geli, telunjuknya menunjuk-nunjuk pipi Sandi. "Lo bener-bener kacau, San! Pagi-pagi sudah ada sertifikat 'tangan melayang' di pipi. Abis berbuat mesum di mana lo sampai dapet stempel gitu?"
Melihat tingkah konyol kedua sahabatnya, Sandi yang tadinya stres akhirnya tak tahan juga. Ia ikut tertawa kecil, meski pipinya terasa perih saat otot wajahnya tertarik. Tawa mereka bertiga sempat mengisi kekosongan kelas yang mulai menghangat oleh sinar matahari.
"Sandi abis menzalimi Saskia, woy!"
Suara lantang Anggita tiba-tiba memotong tawa mereka. Anggita muncul dari balik pintu bersama Saskia yang sudah terlihat lebih rapi meski matanya masih sedikit sembab.
Sandi spontan berteriak, "Setan lo, Nggi! Jangan bikin berita hoax, anjing! Mulut lo minta dicabein emang."
Anggita tertawa geli melihat reaksi panik Sandi, sementara Saskia hanya bisa menundukkan wajahnya dalam-dalam, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. Vino yang penasaran langsung berdiri. "Emang ada apa sih ini? Ceritanya gimana?"
Andra menimpali dengan wajah sok serius, "Sandi beneran ngintip isi roknya Saskia ya? Sampai ada cetakan high definition di pipinya gitu? Wah, nggak nyangka gue, diem-diem menghanyutkan lo, San."
Saskia makin tertunduk malu, meremas ujung roknya sendiri, sementara Anggita tertawa renyah melihat Sandi yang dipojokkan. Sandi membela diri dengan sisa tenaganya, "Setan lo pada ya! Jangan ngadi-ngadi dah, gue nggak serendah itu."
Akhirnya, sambil duduk melingkar, Anggita pun menceritakan kronologi drama pagi itu—mulai dari kedatangan Mama Saskia, penolakan ponsel yang heroik bin keras kepala dari Sandi, hingga aksi "tangan besi" Saskia yang mendarat di pipi Sandi.
Vino dan Andra manggut-manggut paham. Mereka saling lirik, merasa kagum sekaligus kasihan pada Sandi. Bagi mereka, Sandi memang unik; punya harga diri setinggi langit namun tetap menjadi sasaran empuk bagi kegemasan cewek-cewek di sekitarnya.
Satu per satu teman sekelas lainnya mulai berdatangan, tas-tas dilemparkan ke meja, dan hiruk-pikuk obrolan pagi mulai memenuhi ruangan. Drama pagi itu pun berakhir di bawah karpet kenangan Kelompok Sableng, menyisakan Sandi yang kini sudah bisa tersenyum lebar meski pipinya masih terasa sedikit kebas.