[y/n] adalah seorang gadis yang hidup dalam topeng sempurna. Baginya, dunia adalah panggung sandiwara di mana senyumnya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya hanyalah kepalsuan yang disusun rapi tanpa celah. Namun, benteng yang ia bangun bertahun-tahun mendadak retak saat ia menginjakkan kaki di sekolah barunya.
Seorang pemuda bernama Ariel—si berandal jenius yang ugal-ugalan namun memiliki insting tajam—menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat di balik topeng tersebut. Di saat semua orang tertipu oleh keramahan [y/n], Ariel justru menantangnya untuk jujur.
Akankah hidup [y/n] berubah setelah rahasianya mulai terkelupas satu per satu? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kepalsuan? Dan rahasia gelap apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik helai rambut birunya? Temukan jawabannya dalam perjalanan penuh rima, luka, dan perlindungan yang tak terduga...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mondᓀ‸ᓂ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nyemplung got
Ariel menyeringai tipis di balik helmnya. Dia melirik spion, melihat mobil sedan merah Velora yang terus-terusan memepet dan membunyikan klakson dengan arogan.
Di dalam sana, si cowok pengemudi—yang gayanya sok jagoan—terus memaki-maki.
"Riel, mereka makin deket! Bahaya!" teriak [y/n] sambil mempererat pelukannya di pinggang Ariel.
Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena baper, tapi karena ngeri melihat moncong mobil itu hampir menyentuh ban belakang motor mereka.
"Tenang, [y/n]. Pegangan yang kuat. Kita kasih mereka 'wisata' gratis," bisik Ariel rendah, suaranya terdengar sangat tenang namun mematikan.
Ariel sengaja melambatkan motornya sedikit, memancing mobil itu untuk menyalip dari sisi kiri. Sisi kiri jalan itu adalah area perumahan lama dengan saluran air alias got yang cukup lebar dan dalam, yang kebetulan tutupnya sedang dibuka karena perbaikan.
"Haha! Liat tuh, dia takut! Minggir lu, gembel!" teriak cowok antek Velora itu sambil menginjak gas dalam-dalam untuk menyalip Ariel dari kiri.
Velora tertawa melengking, "Dadah, Rambut Biru! Makan tuh debu—"
Tepat saat moncong mobil itu sejajar dengan motor Ariel, Ariel melakukan manuver gila. Dia melakukan flick atau goyangan setir mendadak ke arah kanan, seolah-olah mau jatuh, membuat si pengemudi mobil kaget setengah mati dan refleks membanting setir ke arah kiri dengan sangat keras.
"W-WOI! APA-APAAN—"
CIIIIIIIIEEEEEEEEEEEETTTTTT!
Suara gesekan ban mobil dengan aspal terdengar memekakkan telinga. Karena kecepatan yang terlalu tinggi dan refleks yang panik, mobil sedan mewah itu kehilangan kendali.
BRAAAAK! JLEB!
Ban depan sebelah kiri mobil itu langsung amblas masuk ke dalam lubang got yang menganga. Bagian belakang mobil terangkat sedikit sebelum akhirnya berhenti dengan posisi miring 45 derajat. Moncong mobil itu mencium beton pinggiran got dengan sukses.
(adengan dalam cerita jangan di tiru btw... nanti yg niru bisa sampe akhirat atau UGD)
Ariel mengerem motornya beberapa meter di depan mobil itu. Dia menurunkan standar motor, lalu membuka kaca helmnya. [y/n] masih melongo, menatap mobil yang kini terjepit di antara aspal dan air got yang hitam pekat.
"Aduh, sayang banget mobilnya. Mau pamer elit, eh malah nyemplung ke parit," ledek Ariel dengan nada bicara yang sangat datar tapi pedasnya minta ampun.
Velora keluar dari pintu mobil yang miring dengan susah payah. Rambut pirangnya yang tadi rapi sekarang berantakan kena debu, dan yang paling parah: sepatunya yang katanya mahal itu menginjak air got saat dia mencoba turun.
"ARIEL! LIAT NIH MOBIL COWOK GUE JADI RUSAK! LU HARUS GANTI RUGI!" teriak Velora histeris, hampir menangis melihat sepatu dan ujung roknya kotor.
[y/n] yang tadinya tegang, tiba-tiba nggak bisa nahan tawa. motor ariel berhenti , y/n kemudian menatap Velora yang malang.
"Ubur-ubur ikan tenggiri, mobil elit kok nyungsep di kiri?" celetuk [y/n] spontan, membalas nya dengan pantunnya yang tadi pagi.
"HAHAHA! Cakep!" sahut Ariel sambil menepuk helm [y/n]. Dia kemudian menatap cowok antek Velora yang masih shock di balik kemudi.
"Lain kali kalau mau balapan sama gue, pastiin lu punya nyali, bukan cuma punya mobil cicilan. Cabut, [y/n]!"
Ariel kembali menyalakan motornya, deruman mesinnya seolah mengejek Velora yang sedang berusaha menarik kakinya dari lumpur got.
"DAAAH PIRANG! SEMANGAT YA MANDI LUMPUR-NYA!" teriak [y/n] sambil melambaikan tangan saat motor Ariel melesat pergi meninggalkan mereka yang meratapi nasib di pinggir jalan.