Sebelum kau membaca kisah ini, kau harus tahu satu hal:
Aku bisa melihat bagaimana kau akan mati.
Bukan dengan bola kristal. Bukan dengan ritual aneh. Cukup dengan menyentuhmu. Satu sentuhan, dan mataku akan dipenuhi gambar—kau di ujung napas terakhir, dengan cara yang mungkin tidak pernah kau bayangkan.
Kakek bilang ini kutukan. Aku bilang ini hadiah.
Karena dengan hadiah ini, aku tahu siapa yang harus aku hindari.
Tapi malam itu, saat pertama kali menyentuh Damian Adhiratria, aku tidak melihat kematiannya.
Aku melihat kematianku sendiri.
Dan aku tersenyum.
Karena akhirnya, setelah 24 tahun, aku tahu kapan aku akan mati.
Tepat 6 bulan setelah menikahi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Kepribadian yang Dibunuh
Peringatan: Bab ini mengandung adegan kekerasan psikologis dan referensi trauma masa kecil yang mungkin tidak nyaman bagi sebagian pembaca.
---
Udara di ruang hukuman terasa seperti menelan Alea hidup-hidup.
Bukan karena panas atau lembap. Justru dingin. Dingin yang aneh—seperti dinginnya mayat yang sudah tiga hari tidak ditemukan. Dingin yang merayap masuk lewat pori-pori, membekukan darah, lalu berbisik di tulang belakang: kamu tidak seharusnya di sini.
Alea membuka mata.
Atau dia pikir dia membuka mata. Tapi semuanya sama saja. Gelap. Gelap pekat seperti tinta yang menenggelamkan segalanya. Dia tidak bisa melihat tangannya sendiri meski didekatkan ke hidung. Tidak bisa melihat lilin kecil yang tadi dibawa Damian Kecil.
Damian Kecil.
Alea menarik napas. Udara dingin itu masuk ke paru-paru, dan untuk sesaat dia merasakan sesuatu yang asing: bukan takut, tapi kesadaran penuh bahwa dia berada di tempat yang sama di mana seorang anak laki-laki dikurung selama tiga bulan. Di tempat yang sama di mana seorang anak belajar bahwa menangis tidak akan menyelamatkannya. Di tempat yang sama di mana seorang anak memilih mati—secara psikologis—agar bisa terus hidup.
"Kak..."
Suara itu datang dari dekat sekali. Tepat di samping telinga kirinya.
Alea menahan diri untuk tidak berteriak. Dia sudah belajar, di 25 tahun hidupnya sebagai psikiater forensik, bahwa ketakutan adalah pemicu terburuk dalam situasi seperti ini. Ketakutan membuatmu buta. Ketakutan membuatmu lupa bahwa di balik suara anak kecil, ada jiwa yang lebih takut darimu.
"Aku di sini," kata Alea, suaranya serak. "Kamu di mana?"
"Dekat. Tapi gelap. Aku takut sama gelap."
"Bukannya kamu yang tinggal di sini?"
Keheningan. Lalu suara Damian Kecil, lebih pelan dari sebelumnya:
"Aku tidak tinggal di sini. Aku mati di sini."
Alea merasakan sesuatu menyentuh tangannya. Jari-jari kecil, dingin seperti es, meremas jari-jarinya dengan erat. Bukan cengkeraman yang menakutkan. Cengkeraman anak kecil yang takut kehilangan satu-satunya orang yang mau mendengarnya.
"Kamu tidak mati," kata Alea. Dia membalikkan tangannya, menggenggam jari-jari dingin itu. "Kamu masih di sini. Kamu bicara sama aku."
"Tapi Damian dewasa bilang aku mati."
"Damian dewasa salah."
"Damian dewasa tidak pernah salah."
"Semua orang bisa salah."
Jari-jari dingin itu bergerak. Meremas lebih erat. Lalu Damian Kecil menarik tangan Alea ke suatu tempat—mungkin ke dadanya sendiri? Alea tidak bisa melihat, tapi dia merasakan sesuatu berdenyut di bawah telapak tangannya. Detak jantung. Cepat. Tak beraturan. Detak jantung anak kecil yang ketakutan.
"Kak... kalau aku mati, aku bisa hidup lagi nggak?"
Pertanyaan itu menusuk sesuatu di dada Alea. Sesuatu yang selama 11 tahun dia kubur rapat-rapat setelah kakaknya meninggal. Sesuatu yang dia pikir sudah mati bersama semua pasien yang gagal dia selamatkan.
"Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Soalnya... kalau aku mati, Damian dewasa bisa hidup. Tapi kalau aku hidup, Damian dewasa mati. Aku nggak mau ada yang mati."
Alea membeku.
---
Pertanyaan Damian Kecil menggantung di udara dingin ruang bawah tanah seperti pisau yang belum jatuh.
Alea merasakan jari-jari kecil itu gemetar di tangannya. Bukan gemetar karena kedinginan—gemetar karena sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan termometer atau tes darah. Gemetar anak kecil yang dipaksa memilih antara membunuh dirinya sendiri atau membunuh orang lain.
"Kamu tahu," Alea memulai perlahan, "aku seorang psikiater. Aku menangani orang-orang dengan banyak kepribadian."
"Aku nggak punya banyak kepribadian." Suara Damian Kecil tiba-tiba berubah. Lebih datar. Lebih dewasa. "Aku cuma satu. Tapi Damian dewasa nggak mau aku ada."
"Kenapa dia nggak mau kamu ada?"
"Karena kalau aku ada, dia lemah."
"Lemah?"
"Aku takut gelap. Aku takut ayah. Aku takut sendirian. Damian dewasa nggak takut apa-apa. Makanya dia lebih kuat."
Alea menggigit bibir bawahnya. Di kepalanya, puluhan teori psikologi berkelebat. Dissociative Identity Disorder. Kepribadian yang terdisosiasi karena trauma berat. Host personality yang membunuh alter untuk bertahan hidup. Tapi teori-teori itu terasa hambar di sini. Di ruang gelap ini. Dengan tangan anak kecil yang menggenggam tangannya.
"Kalau aku boleh tanya," Alea menelan ludah, "siapa yang lebih dulu ada? Kamu atau Damian dewasa?"
Keheningan panjang.
Lalu Damian Kecil berkata, dengan suara yang begitu pelan hingga hampir tak terdengar:
"Aku."
Alea menutup mata. Di gelap, itu tidak membuat perbedaan. Tapi dia perlu melakukannya. Karena air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, dan dia tidak ingin Damian Kecil mendengar isaknya.
"Aku Damian. Yang asli. Tapi ayah bilang aku nggak cukup kuat. Ayah bilang anak laki-laki harus tegas. Nggak boleh nangis. Nggak boleh takut. Kalau aku takut, ayah kurung aku di sini."
"Berapa lama?"
"Pertama kali tiga hari. Terus seminggu. Terus sebulan. Terus..." Suara Damian Kecil terputus. Jari-jarinya meremas tangan Alea sampai sakit. "Terus terakhir, tiga bulan."
Tiga bulan.
Alea membayangkan seorang anak laki-laki berusia delapan tahun dikurung di ruang bawah tanah tanpa jendela. Tanpa makanan yang cukup. Tanpa suara manusia kecuali teriakannya sendiri yang tidak didengar siapa pun. Dan di ruang itu, hanya ada satu hal yang bisa dia lakukan untuk bertahan hidup:
Matikan dirimu.
Lahirkan seseorang yang tidak takut.
"Waktu itu," Alea berbisik, "kamu memutuskan untuk... menghilang?"
"Aku nggak hilang. Aku cuma tidur. Terus bangun-bangun Damian dewasa yang ada. Dia lebih kuat. Dia nggak nangis. Dia nggak takut. Ayah jadi seneng sama dia."
"Tapi kamu masih ada di sini."
"Iya. Aku di dalam. Kadang aku bangun kalau Damian dewasa lagi tidur. Tapi dia marah kalau tahu aku bangun. Dia bilang aku harus mati. Biar dia bisa hidup selamanya."
Alea merasakan sesuatu mengalir di pipinya. Air mata. Panas, meski dingin ruangan ini berusaha membekukannya.
"Kamu nggak harus mati," katanya. Suaranya bergetar, tapi dia tidak peduli. "Kamu berhak hidup."
"Tapi Damian dewasa..."
"Damian dewasa diciptakan oleh ayahmu. Bukan oleh kamu. Kamu yang asli. Kamu yang pertama. Kamu yang berhak atas tubuh ini."
Keheningan.
Lalu Damian Kecil berkata, dengan suara yang berbeda—lebih dewasa, lebih pahit:
"Kamu nggak ngerti."
Alea merasakan jari-jari kecil itu melepaskan genggamannya.
"Damian dewasa bukan cuma 'diciptakan'. Dia aku. Aku yang memilih jadi dia. Aku yang bunuh diri biar dia bisa hidup."
"Kamu bunuh diri?"
"Iya. Aku bunuh kepribadianku sendiri. Biar yang tersisa cuma Damian dewasa. Ayah bilang, kalau aku nggak bunuh diri, ayah bakal bunuh ibu."
Alea tersentak.
---
Ruangan tiba-tiba terasa lebih dingin. Atau mungkin itu hanya darah Alea yang membeku.
"Kamu bunuh diri," ulang Alea pelan, "karena ayahmu ancam bunuh ibumu?"
"Iya."
"Tapi ibumu..." Alea menghentikan kata-katanya. Dia ingat data yang dia kumpulkan diam-diam selama tiga minggu terakhir. Ibu Damian meninggal saat Damian berusia delapan tahun. Penyebab kematian: tidak diketahui. Catatan rumah sakit hanya menyebut "kegagalan organ multipel". Tapi tidak ada detail lebih lanjut.
"Ibu nggak mati waktu itu," kata Damian Kecil, seperti bisa membaca pikiran Alea. "Ayah cuma ancam. Tapi aku nggak tahu. Aku masih kecil. Aku takut. Jadi aku bunuh diri."
"Kamu bunuh diri dengan cara apa?"
"Aku... aku lupa. Tapi yang aku ingat, aku masuk ke kamar mandi. Terus aku buka keran. Terus aku lihat Damian dewasa di kaca. Dia tersenyum. Dia bilang, 'Makasih udah mati.' Terus aku nggak ingat apa-apa lagi."
Alea menggigit bibir bawahnya sampai terasa perih. Dia adalah psikiater forensik. Dia pernah menangani korban kekerasan berat. Tapi tidak pernah—tidak pernah—dia mendengar kisah seperti ini. Seorang anak laki-laki yang dengan sadar "membunuh" dirinya sendiri untuk melindungi ibunya. Dan kemudian "pembunuhan" itu tidak menyelamatkan siapa pun.
"Setelah itu," Alea bertanya, "ibu kamu?"
"Damian dewasa yang tahu. Aku tidur lama. Bangun-bangun, ibu udah nggak ada. Damian dewasa bilang ibu meninggal karena sakit. Tapi aku nggak percaya."
"Kamu nggak percaya?"
"Iya. Soalnya... kadang kalau Damian dewasa tidur, aku bangun. Aku cari-cari ibu. Di lemari. Di kolong tempat tidur. Di bawah tangga. Tapi nggak ketemu. Terus suatu hari, aku nemu..." Suara Damian Kecil terputus. Alea mendengar isakan tipis. "Aku nemu ibu di ruang bawah tanah ini."
Jantung Alea berdegup kencang. "Ibu kamu di sini?"
"Iya. Di pojok. Dengan selimut biru. Tapi dia nggak gerak. Matanya kebuka. Mulutnya kebuka. Aku panggil-panggil, dia nggak jawab."
Alea tidak perlu bertanya lebih lanjut. Dia sudah tahu. Mayat. Ibu Damian sudah mati sebelum Damian Kecil "bangun" dari tidurnya yang panjang. Dan anak laki-laki itu menemukan mayat ibunya di ruang yang sama di mana dia dulu dikurung.
"Aku panggil Damian dewasa. Tapi dia nggak mau bangun. Aku takut sendiri. Jadi aku lari ke kamar. Terus tidur. Terus bangun-bangun, Damian dewasa yang ada. Dia bilang, 'Jangan cari ibu lagi. Ibu udah pergi.' Tapi aku tahu ibu di sini. Ibu di pojok."
Alea merasakan tangan Damian Kecil kembali meremas jarinya. Lebih erat dari sebelumnya. Lebih erat dari cengkeraman orang yang takut kehilangan.
"Kak, aku nggak mau mati. Tapi Damian dewasa bilang, aku harus mati. Karena kalau aku hidup, dia nggak bisa sembuh. Katanya penyakit aku bikin dia lemah. Tapi aku kakak... aku nggak mau mati."
---
Alea menarik Damian Kecil ke dalam pelukannya.
Di gelap, dia tidak bisa melihat di mana letak kepala anak itu. Tapi dia merasakan tubuh kecil yang kaku karena ketakutan, kemudian perlahan melunak saat pelukannya makin erat. Dia merasakan bahu Damian Kecil bergetar. Mendengar isakan yang ditahan-tahan. Merasakan air mata yang jatuh di lehernya—air mata yang tidak mungkin ada, karena ini hanya kepribadian, karena ini hanya "penyakit", karena ini hanya sesuatu yang seharusnya disembuhkan, bukan dicintai.
Tapi air mata itu terasa nyata.
Getaran itu terasa nyata.
Ketakutan itu terasa nyata.
"Kamu nggak akan mati," bisik Alea. "Aku janji."
"Tapi Damian dewasa..."
"Diamin. Aku yang urus Damian dewasa."
"Dia bisa bunuh aku, Kak."
"Dia nggak akan berani. Selama aku di sini."
"Tapi kakak nggak akan di sini selamanya."
Pertanyaan itu menusuk. Alea membisu sejenak. Dia memang tidak akan di sini selamanya. Dia adalah istri paksa yang sebenarnya sedang menyusup untuk menyelidiki pembunuhan kakaknya. Suatu hari nanti, dia akan pergi. Meninggalkan Damian dewasa. Meninggalkan Damian Kecil. Meninggalkan semua ini.
Tapi malam ini, di ruang bawah tanah yang gelap ini, dengan tubuh anak kecil yang gemetar dalam pelukannya, Alea memutuskan untuk berbohong.
"Aku akan di sini," katanya. "Selama kamu butuh aku."
"Janji?"
"Janji."
Damian Kecil terdiam. Lalu tangannya meraih leher Alea, memeluknya balik. Pelukan anak kecil yang terlalu lama tidak mendapat kasih sayang. Pelukan yang mengatakan: aku percaya padamu meski aku tahu kamu mungkin berbohong, tapi aku tidak punya siapa-siapa lagi.
Mereka berpelukan dalam gelap untuk waktu yang Alea tidak tahu berapa lama. Detik? Menit? Jam? Di ruang bawah tanah ini, waktu terasa berbeda. Waktu terasa seperti sesuatu yang berhenti bergerak, seperti kematian itu sendiri.
Lalu Alea mendengar suara langkah kaki.
Dari atas.
Tiga langkah. Berhenti. Satu langkah lagi.
Alea menegang. Damian Kecil juga merasakannya. Tubuh kecil itu mendadak kaku, lalu berbisik:
"Dia bangun."
"Siapa?"
"Damian dewasa."
Langkah kaki itu mendekati pintu ruang bawah tanah. Alea mendengar bunyi logam bergesekan—kunci, mungkin. Atau gembok. Sesuatu yang berat.
"Kak, aku takut."
"Tidak usah takut. Aku di sini."
"Dia marah. Dia selalu marah kalau aku keluar."
"Biarkan dia marah."
"Kak..."
Pintu besi terbuka dengan bunyi gerinda panjang. Cahaya senter menyorot masuk, menyilaukan mata Alea yang sudah terlalu lama di gelap. Dia mengernyit, mengangkat tangan untuk melindungi mata.
Dan di balik cahaya itu, dia melihat siluet seorang pria.
Tinggi. Bahu lebar. Setelan hitam yang tidak pernah kusut meski tengah malam buta.
Damian Adhiratria.
---
"Kau di sini."
Suara Damian datar. Tidak marah. Tidak terkejut. Hanya datar, seperti es yang tidak pernah mencair.
Alea masih memeluk Damian Kecil—atau dia pikir dia memeluk Damian Kecil. Tapi saat matanya menyesuaikan dengan cahaya, dia menyadari sesuatu yang mengerikan:
Tidak ada siapa-siapa di pelukannya.
Tangannya melingkar di udara kosong.
Damian Kecil hilang.
Alea menurunkan tangannya perlahan. Dia menatap Damian yang berdiri di ambang pintu, senter di tangan kiri, dan di tangan kanan... sebuah pisau lipat. Kecil. Tapi cukup tajam untuk memotong sesuatu yang tidak terlihat.
"Aku jatuh," kata Alea. Alasan paling konyol yang bisa dia pikirkan. "Aku nyari kamar mandi, terus jatuh ke sini."
Damian tidak menjawab. Dia masuk ke ruang bawah tanah. Cahaya senter menyapu dinding, menyoroti coretan-coretan kapur yang Alea lihat tadi. Coretan anak kecil. Gambar matahari. Gambar rumah. Gambar seorang wanita dengan rambut panjang yang mungkin adalah ibu.
Senter itu berhenti di pojok ruangan.
Alea mengikuti arah cahaya. Dan dia melihat sesuatu yang membuat perutnya mual.
Selimut biru.
Di pojok ruangan, ada selimut biru tua, terlipat rapi seperti baru saja diletakkan. Dan di atas selimut itu, ada foto. Foto seorang wanita muda dengan rambut panjang, tersenyum, memegang seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun.
Ibu Damian.
"Kau bertemu dengannya," kata Damian. Bukan pertanyaan.
Alea mengangguk. Tidak ada gunanya berbohong.
"Apa yang dia katakan?"
Alea menatap Damian. Di bawah cahaya senter, wajah pria itu terlihat seperti patung marmer—cantik, sempurna, tapi kosong. Tidak ada emosi di sana. Tidak ada ketakutan, tidak ada kemarahan, tidak ada kesedihan. Kosong. Seperti orang yang sudah mati dari dalam.
"Dia bilang," Alea memilih kata-katanya dengan hati-hati, "dia adalah Damian yang asli."
Tidak ada reaksi.
"Dia bilang, kamu diciptakan untuk melindungi dia."
Tidak ada reaksi.
"Dia bilang, dia bunuh diri biar kamu bisa hidup."
Damian menutup pisau lipat itu dengan bunyi klik yang nyaring. Dia menyimpannya di saku celana. Lalu dia mendekati Alea. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Kini mereka berhadapan, hanya setengah lengan jaraknya.
Alea bisa mencium aroma khas Damian: kayu cendana, tembakau, dan sesuatu yang lebih dalam—seperti tanah basah setelah hujan. Aroma yang seharusnya maskulin dan menyenangkan. Tapi di ruang bawah tanah ini, aromanya seperti... kuburan.
"Apa kau percaya?" tanya Damian.
Alea menatap mata hitam itu. Mata yang tidak pernah berkedip. Mata yang membuat banyak orang merasa seperti sedang dihakimi.
"Aku percaya," kata Alea jujur. "Aku psikiater forensik. Aku tahu trauma masa kecil bisa memecah kepribadian. Aku tahu anak-anak yang mengalami kekerasan berat sering menciptakan alter untuk bertahan hidup. Aku tahu..."
"Bukan itu yang kutanya."
Damian mendekat. Kini jarak mereka hanya sejengkal. Alea bisa merasakan hangat tubuhnya—aneh, karena di ruang sedingin ini, Damian terasa seperti api.
"Yang kutanya," bisik Damian, "apa kau percaya bahwa aku yang membunuhnya?"
Alea mengerjap.
"Dia bilang dia bunuh diri. Tapi dia juga bilang aku yang membunuhnya. Mana yang kau percaya?"
Alea menatap Damian lama. Lalu dia melakukan sesuatu yang mungkin bodoh: dia mengangkat tangannya, dan menyentuh dada Damian.
Bukan untuk menggoda. Bukan untuk mengintimidasi.
Untuk melihat.
Dia ingin tahu apakah kemampuannya—melihat kematian seseorang saat menyentuh kulit mereka—akan bekerja saat menyentuh Damian melalui setelan. Biasanya tidak. Tapi kali ini, Alea butuh sesuatu. Petunjuk. Kebenaran. Apa pun.
Tangannya menyentuh kemeja Damian. Lalu otot di bawahnya. Lalu detak jantung yang cepat—terlalu cepat untuk pria yang tampak setenang es.
Dan Alea melihat.
---
Visi itu datang seperti gelombang tsunami.
Bukan gambar diam. Bukan potret. Tapi film pendek yang berputar dengan kecepatan luar biasa, dengan detail yang menyiksa.
Alea melihat seorang anak laki-laki—Damian kecil, delapan tahun—berdiri di depan wastafel kamar mandi. Air keran mengalir deras. Cermin di depannya mulai berkabut.
Anak itu menatap pantulannya sendiri.
Dan di cermin, ada sosok lain.
Bukan anak kecil. Tapi seorang remaja. Remaja dengan wajah yang sama, tapi lebih tajam, lebih dingin, lebih kosong. Remaja itu tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke mata.
"Kau takut?" suara dari cermin.
Anak kecil itu menggeleng. Tapi tangannya gemetar.
"Kau takut ayah akan bunuh ibu?"
Anak kecil itu mengangguk.
"Kalau begitu, kau harus mati."
"Tapi aku..."
"Kau bukan siapa-siapa. Kau lemah. Kau penakut. Ibu akan mati karena kau."
"Aku nggak mau ibu mati!"
"Maka kau harus mati. Biar aku yang hidup. Aku akan lindungi ibu."
Anak kecil itu menatap pantulan remaja di cermin. Lalu, perlahan, dia mengangguk.
Dia meraih gagang keran. Memutarnya ke kiri. Air yang tadinya mengalir deras berubah menjadi tetesan kecil. Lalu berhenti.
Anak kecil itu menatap cermin sekali lagi.
Remaja itu tersenyum lebar.
"Selamat tinggal, Damian."
"Selamat tinggal."
Anak kecil itu menutup mata. Tubuhnya goyah. Lalu jatuh. Bukan pingsan. Tapi sesuatu yang lebih dalam—seperti jiwa yang benar-benar keluar dari tubuh.
Dan saat dia jatuh, remaja di cermin melangkah keluar.
Bukan dari pintu. Tapi dari cermin itu sendiri. Seperti kaca adalah air, dan dia berenang keluar ke dunia nyata.
Remaja itu melihat tubuh anak kecil yang tergeletak di lantai kamar mandi. Dia membungkuk. Membalikkan tubuh itu. Menatap wajah yang persis sama dengannya.
"Makasih udah mati."
Dia berdiri. Berjalan keluar kamar mandi. Menutup pintu. Dan sejak saat itu, yang ada hanya Damian dewasa.
Alea tersentak.
Visi itu berakhir. Tangannya masih menempel di dada Damian. Detak jantung pria itu masih cepat—tapi sekarang Alea tahu alasannya. Bukan karena gugup. Bukan karena marah.
Tapi karena di balik dada itu, ada dua jantung yang berdetak.
Satu untuk Damian dewasa. Satu untuk Damian kecil yang mati suri.
"Kau lihat sesuatu," kata Damian. Masih datar. Tapi ada sedikit getaran di ujung kata terakhir.
Alea menelan ludah. Air matanya jatuh lagi—dia tidak tahu kapan mulai menangis.
"Aku lihat," katanya. "Kamu... kamu lahir dari cermin."
Damian tidak bergerak.
"Damian kecil memanggilmu. Dia memintamu untuk melindungi ibunya. Dan kamu... kamu membunuhnya."
"Aku tidak membunuhnya." Suara Damian tiba-tiba berubah. Lebih dalam. Lebih berat. "Dia memilih mati. Aku hanya mengambil alih."
"Tapi dia masih ada di sini." Alea menekan telapak tangannya ke dada Damian. "Dia masih hidup. Dia takut. Dia butuh pertolongan."
"Kau psikiater. Kau tahu apa yang harus dilakukan pada kepribadian yang tidak berguna."
Alea menatap Damian dengan mata merah.
"Kepribadian yang tidak berguna? Dia adalah kamu! Dia Damian yang asli! Kamu hanya..."
"Aku hanya apa?" Damian mendekat. Kini wajahnya hanya beberapa sentimeter dari Alea. Napasnya hangat di bibir Alea. Tapi matanya tetap kosong. "Aku hanya kepribadian palsu? Aku hanya pelindung yang tidak diperlukan? Aku hanya monster yang diciptakan untuk melakukan pekerjaan kotor?"
Alea tidak menjawab.
"Kau tahu apa yang terjadi kalau Damian kecil hidup?" Damian melanjutkan. Suaranya makin rendah, makin berbahaya. "Dia akan menangis. Dia akan takut. Dia akan lari setiap kali melihat bayangan ayahnya. Dan ayahnya akan membunuh ibunya. Ayahnya akan membunuhnya. Dan tidak akan ada yang tersisa. Tidak ada Damian dewasa. Tidak ada Damian kecil. Hanya mayat anak laki-laki yang terlalu lemah untuk hidup."
Damian meraih tangan Alea yang masih menempel di dadanya. Perlahan, dia melepaskan genggaman Alea. Tapi dia tidak melepaskan tangan itu. Dia memegangnya, membalikkannya, lalu menekan telapak tangan Alea ke pipinya.
Kulit Damian panas. Sangat panas. Seperti demam yang tidak pernah sembuh.
"Aku tidak memintanya mati," bisik Damian. "Tapi dia memilih. Dan aku akan menghormati pilihannya. Karena tanpa pilihannya, aku tidak akan ada. Dan tanpa aku, tidak ada yang bisa melindungi siapa pun."
"Tapi..."
"Kau ingin menyelamatkan dia?" potong Damian. "Maka kau harus membunuh aku."
Alea membeku.
"Karena aku dan dia tidak bisa hidup bersama. Tubuh ini hanya cukup untuk satu jiwa. Dia hidup, aku mati. Aku hidup, dia mati. Tidak ada jalan tengah."
Damian melepaskan tangan Alea. Dia mundur selangkah. Dua langkah. Kini dia berdiri di ambang pintu, cahaya senter dari luar membuat siluetnya tampak seperti malaikat jatuh.
"Kau bilang kau psikiater forensik. Kau bilang kau bisa menyembuhkan orang. Kalau begitu, sembuhkan aku. Bunuh aku. Biarkan Damian kecil hidup."
Alea menggigit bibir. Darah menetes. Tapi dia tidak merasakan sakit.
"Tapi kau harus tahu," Damian melanjutkan, "setiap malam, saat aku tidur, dia bangun. Dan setiap malam, dia mencari ibunya. Di pojok ruang bawah tanah ini. Di bawah selimut biru itu. Meski dia tahu ibunya sudah mati."
Damian menatap Alea untuk terakhir kalinya.
"Jadi, pilih. Aku. Atau dia. Karena aku lelah berbagi tubuh dengan hantu."
Dia berbalik. Melangkah keluar. Pintu besi tertutup dengan bunyi bam yang memekakkan telinga.
Dan Alea tertinggal di ruang bawah tanah yang gelap, dengan selimut biru di pojok, dengan foto seorang wanita yang tersenyum, dan dengan pertanyaan yang tidak pernah dia duga akan dia hadapi:
Haruskah dia menyelamatkan Damian kecil dengan membunuh Damian dewasa?
Atau membiarkan Damian dewasa hidup, dan selamanya menjadi penjaga penjara bagi jiwa anak kecil yang sudah mati?
Dia tidak tahu.
Tapi di gelap itu, Alea merasakan sesuatu yang baru: tangan kecil meremas jari-jarinya lagi.
"Kak, jangan bunuh Damian dewasa. Dia kakak aku."
Alea menutup mata. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia berdoa agar kemampuannya melihat kematian bisa berubah menjadi kemampuan melihat jalan keluar.
Tapi tidak ada yang menjawab.
Hanya gelap. Hanya dingin. Hanya Damian kecil yang menggenggam tangannya, menunggu keputusan yang tidak pernah bisa dia buat.
---BERSAMBUNG ---
Pernikahan ini tidak pernah tentang cinta. Tentang balas dendam. Tentang kekuasaan.
Tapi malam ini, Alea tahu: pernikahan ini adalah tentang memilih antara menyelamatkan monster atau membunuh anak kecil.
Dan tidak ada pilihan yang benar.