REVISI...!!
Ketika ketiadaanku menjadi angin segar untuk mu maka aku bersedia pergi dari sisi kehidupanmu.
Dan
Ada cerita yang sejak detik itu harus berubah menjadi kenangan.
Nama nya Azura, wanita ini terpaksa menikah dengan laki-laki yang bernama Elvan. Elvan berjanji akan membiayai semua biaya perawatan ibu Azura selama dia menjadi istri nya.
Laki-laki yang awal nya di kenal sangat baik oleh Azura ternyata seorang yang kejam. Wanita ini memutuskan untuk pergi di saat diri nya tahu bahwa Elvan dan ketiga sahabat nya hanya menjadikan nya seorang wanita taruhan.
Jangan Lupa Like Rate Coment And Vote.
Selamat membaca😊😊
Follow👇🏻
IG:Riani.Vii
FB:Ni R
Tw:Ni R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25.Azura Pergi
Keesokan hari nya Elvan menyusul kembali Zura, pria itu langsung menuju ke rumah Zura yang sederhana. Elvan menatap sendu ke arah Zura yang sedang menangis di dalam kamar ibu nya. Wanita itu tak henti-henti nya meminta maaf pada yang telah tiada.
"Azura..." sapa Elvan.
Zura menoleh, lalu mengusap air mata nya, sorot mata tajam menusuk dalam menghujam hati Elvan.
"Mau apa kau?" tanya Zura datar "Pergilah, aku tidak ingin melihat mu." ujar Zura.
Bagai di hujan sejuta belati, hati Elvan sakit mana kala istri nya mengusir diri nya. "Maafkan aku, aku tidak pernah memberhentikan perawatan ibu mu, semua nya ulah tante Risma dan Ines." jelas Elvan.
"Lalu, bagaimana aku yang kau jadi kan taruhan? apa kah ulah ibu mu itu?"
"Maafkan aku, aku....." ucapan Elvan terpotong "Pergilah Van, aku tidak ingin mendengar apa pun dari mu." potong Zura.
"Zura, maafkan aku..."
"Kurang puas kau menghancurkan hidup ku Van? kau merenggut nya dengan kasar tanpa memikirkan perasaan ku."
"Sumpah demi apa pun, semua nya itu jebakan."
"Aku tidak peduli, tinggalkan aku sendiri." ujar Zura marah.
Bu Nani yang baru saja masuk langsung mengajak Elvan keluar, wanita paruh baya itu mengajak Elvan berbicara.
"Katakan apa yang sebenar nya terjadi?" tanya Nani, Elvan kemudian menjelaskan apa yang terjadi, jelas berat jika Zura menerima penjelasan Elvan, namun Nani bisa menangkap penyesalan dari mata Elvan.
Beberapa hari kebelakang adalah hari yang berat, satu-satunya keluarga yang ia punya kini telah tiada. Tak ada sanak saudara selain Bu Nani yang ia punya.
Elvan masih mencoba berbicara pada istri nya, namun wanita itu tetap menolak untuk bertemu Elvan.
"Makanlah Zura, kau butuh mengisi tubuh mu." ucap Elvan dari balik pintu, namun tak ada jawaban.
Tujuh hari berlalu, Elvan keluar sejenak untuk mengurus sedikit pekerjaan nya. Namun setelah Elvan kembali ia tak mendapati Zura. Elvan malah mendapati koper nya yang berada di depan pintu yang sudah terkunci. Elvan mencoba memanggil Zura, namun tak ada jawaban. Pria itu mulai gelisah lalu pergi ke rumah Nani yang berada tak jauh dari rumah Zura.
Mereka berdua akhir nya mencari Zura sama-sama, namun tiba-tiba ada seorang pria tua datang membuka pintu rumah Zura.
"Pak Jaya..." tegur Nani "Kok kunci rumah Azura ada pada pak Jaya?" tanya Nani bingung.
"Azura telah menjual rumah ini." jelas Jaya membuat Elvan dan Nani tidak percaya.
"Istri saya masih di rumah tadi pagi." ujar Elvan.
"Azura sudah mendatangi saya sebelum nya, setelah tujuh hari ibu nya ia ingin pergi dan menjual rumah ini." tutur Jaya.
Elvan duduk lemas, kali ini dia benar-benar kehilangan sesuatu yang telah ia sia-sia kan.
Nani mencoba menguatkan Elvan, wanita itu kemudian mengajak Elvan untuk pergi kerumah nya namun Elvan menolak.
"Aku akan mencari Zura bu.." ujar Elvan.
"Kemana kau akan mencari, sedangkan Zura tidak memberitahu kemana dia pergi."
"Entahlah, aku akan tetap mencari istri ku."
Elvan kemudian pamit pergi, pria itu mulai memutari kota tersebut untuk mencari Zura. Namun hasil nya nihil, Elvan tak menemukan Azura. Elvan kemudian memilih pergi ke bandara untuk pulang ke kota nya.