NovelToon NovelToon
Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Pembalasan Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Suami Tak Berguna / Trauma masa lalu
Popularitas:725
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sikumbang

Aini terpaku di ruang tamu kontrakannya yang kecil. Suara itu...suara Dimas yang sedang melakukan transaksi dengan seseorang telah menghancurkan seluruh hidupnya. Diusapnya perut yang sudah besar. Dia sudah hamil delapan bulan dan anak itu...!!! anak yang dia pertaruhkan dengan seluruh jiwa raganya.... kini...!!!! ayahnya sendiri sedang melakukan transaksi penjualan entah dengan siapa. Pandangan perempuan muda itu menggelap......!!!!
Aini meninggalkan rumah, suami...pergi dengan satu tujuan "Menyelamatkan sang Bayi". Menghadang hujan badai dan petir yang sambar menyambar. Ketika hidup mulai berpihak padanya, Aini dihadapkan lagi pada kenyataan...anak yang sudah dia besarkan bertemu Ayah kandungnya. Bisakah Aini meredam semua kebaikan yang sudah dia tanam tetap ada di dalam diri putra semata wayangnya itu??? Bagaimana akhir kisah yang menguras air mata ini? Ikuti saja di "Pembalasan Anak yang Kau Jual"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sikumbang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebahagiaan yang Berbumbu Rindu

Pagi itu, langit cerah tanpa awan.

Aini berjalan dengan langkah ringan menuju Sekolah Syafa. Hari ini pembagian rapor dan pengumuman peringkat kelas. Disampingnya berjalan Satria dengan gagah. Tingkahnya yang lucu membuat Aini tersenyum dan mengusap kepala anaknya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena cemas, melainkan karena harapan yang besar. Ia tahu betul seberapa giat putrinya belajar.

Di halaman sekolah yang luas dan terbuka, para orang tua dan murid berkumpul berdesak-desakan di lapangan utama. Suasana riuh dan gembira. Di atas panggung sederhana, Kepala Sekolah berdiri dengan selembar kertas di tangannya, bersiap mengumumkan peringkat kelas.

Aini berdiri di barisan depan, matanya mencari-cari sosok Syafa di antara kerumunan murid kelas satu yang berbaris rapi. Ia melihat putrinya berdiri tegak, wajahnya serius namun matanya sesekali melirik ke arah ibunya, seolah mencari kekuatan.

"Baiklah Bapak Ibu sekalian, dan anak-anakku semua," suara Kepala Sekolah memecah keributan.

"Tibalah saatnya kita mengumumkan siapa saja murid-murid berprestasi yang telah belajar dengan sangat rajin dan tekun selama satu tahun ini."

Suasana menjadi hening seketika. Aini menggenggam erat kedua tangannya di depan dada.

"Untuk kelas satu... juara ketiga diraih oleh Gita Anggini,". Seorang siswa kelas satu maju ke depan dibimbing seorang guru. Tepuk tangan bergemuruh.

"Juara kedua diraih oleh Angga Saputra...!!!"

Hati Aini makin berdebar. Tinggal satu lagi.

"Dan.....Juara Pertama, dengan nilai rata-rata tertinggi, dan nilai yang sangat memuaskan di semua mata pelajaran... diraih oleh... Syafa Ananda!"

Tepuk tangan meriah langsung bergema. Aini menutup mulutnya tak percaya, air mata bahagia langsung menggenang di matanya. Namun, kejutan belum berakhir. Setelah semua peringkat dibacakan. Kepala Sekolah mengangkat tangan meminta perhatian kembali.

"Dan bukan hanya itu... Berdasarkan perhitungan nilai tertinggi di seluruh tingkatan kelas satu sampai enam tahun ini... kami memutuskan bahwa Juara Umum Sekolah kita tahun ini adalah... Syafa Ananda dari Kelas Satu!"

Teriakan kagum dan tepuk tangan makin riuh. Syafa berlari kecil naik ke panggung, wajahnya bersinar cerah, campuran antara malu dan bangga. Ia menerima piagam penghargaan, sebuah buku tulis tebal, dan seperangkat alat tulis indah dari tangan Kepala Sekolah.

Aini menangis bahagia di bawah sana. Dadanya terasa bergemuruh karena bahagia. Rasa lelah, rasa susah, rasa perih, dan semua pengorbanan yang ia lakukan selama ini seolah terbayar lunas saat itu juga.

"Anakku... anakku hebat sekali. Dia membuktikan bahwa meski kami sederhana, meski kami tidak lengkap, kami bisa menjadi yang terbaik," batin Aini gemetar namun bangga.

Sepanjang jalan pulang, Syafa berjalan di samping ibunya dengan dada dibusungkan, memeluk erat piagam dan hadiahnya ke dada. Ia terus bercerita riang, menceritakan tepuk tangan teman-temannya, menceritakan pujian guru-gurunya. Aini mendengarkan sambil tersenyum lebar, sesekali mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.

Sesampainya di rumah, Syafa tidak langsung meletakkan hadiah-hadiah itu. Ia duduk di kursi teras, menatap piagam itu lekat-lekat, lalu mengelus sampul buku hadiahnya dengan tangan kecilnya. Wajahnya yang tadinya berseri-seri tiba-tiba berubah sedikit sendu. Ia menoleh ke arah rumah sebelah yang masih tertutup dan sunyi, lalu menatap ibunya.

"Ibu... Syafa senang sekali, Ibu. Syafa juara satu, juara umum lagi," ucap Syafa pelan, namun suaranya terdengar ada yang kurang.

"Tapi...!!!! andai saja Paman Jaja ada di sini. Pasti Paman senang sekali melihat ini. Pasti Paman tepuk tangan paman yang paling keras."

Syafa memeluk bukunya makin erat, matanya menerawang jauh.

"Ibu tahu tidak? Banyak pelajaran yang Syafa pahami karena dulu Paman Jaja yang ajari. Dulu pas Paman masih di sini, setiap sore Paman selalu bertanya.

"Sudah belajar apa hari ini, Kakak?"

" Ayo ajari Paman, siapa tahu Paman lupa.'"

"Terus Paman yang bantu Syafa kalau ada tulisan yang susah. Kalau saja Paman ada... Syafa pasti langsung kasih lihat hadiah ini ke Paman."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut polos anak itu, namun seperti pisau tajam yang langsung menancap tepat di jantung Aini.

Di dalam hati Aini, semuanya hancur lebur. Kebahagiaan besar yang baru saja ia rasakan seketika bercampur dengan rasa sakit yang mendalam. Kenangan akan sosok Jaja, kebaikan Jaja, kepergian Jaja, dan rasa rindu yang ditahannya mati-matian selama ini... semuanya meledak bersamaan. Ia teringat betapa sabarnya laki-laki itu mengajari Syafa, betapa bangganya tatapan mata itu saat melihat kemajuan anak-anaknya. Jaja memang berperan besar dalam keberhasilan ini.

Rasa rindu itu begitu kuat, begitu menyakitkan, membuatnya ingin sekali berteriak, menangis, dan memanggil nama laki-laki itu agar kembali.

Tapi... Aini adalah Aini. Wanita yang sudah ditempa oleh ribuan kesusahan, wanita yang belajar menjadi kokoh di tengah badai.

Di luar, di depan putrinya, wajahnya tetap tenang. Tidak ada kerutan sedih, tidak ada air mata yang jatuh, tidak ada suara bergetar. Ia hanya tersenyum lembut, mendekat lalu duduk di samping Syafa, memeluk bahu anak itu.

"Syafa anak pintar... Syafa anak hebat," ucap Aini dengan suara yang sangat tenang, lembut dan meyakinkan, seolah hatinya tidak sedang hancur berkeping-keping.

"Ibu yakin, di mana pun Paman Jaja berada sekarang, Paman pasti tahu. Paman pasti bangga sekali sama Syafa. Paman pasti tersenyum lebar dari sana. Karena Paman kan selalu bilang, Syafa itu anak pintar, anak rajin."

Aini mencium kening putrinya.

"Paman Jaja sudah pergi jauh untuk urusan penting, Sayang. Tapi semua ajaran Paman, semua nasihat Paman, itu sudah ada di dalam diri Syafa. Itu yang bikin Syafa jadi pintar dan juara. Jadi... keberhasilan ini juga milik Paman Jaja. Syafa sudah membanggakan Ibu, sudah membanggakan Nenek Lilis, dan sudah membanggakan Paman Jaja juga. Sudah ya, jangan sedih lagi. Nanti kalau Paman pulang, pasti Ibu yang pertama panggil Paman buat lihat piagam ini."

Syafa mengangguk puas, tersenyum dan kembali cerah.

"Iya ya... Paman pasti tahu. Terima kasih Ibu... terima kasih sudah ajari Syafa, sudah kerja keras buat Syafa. Syafa sayang Ibu.....orang yang paling disayang di dunia ini."

Aini mengangguk, menahan rasa sakit yang makin dalam di dadanya. Ia mengajak anak-anaknya masuk ke dalam, berniat memasak makanan istimewa untuk merayakan kemenangan itu.

Di dalam, di balik senyum itu, di balik ketenangan itu, Aini kembali menyadari satu hal pahit.....betapa besarnya peran Jaja dalam hidup mereka, dan betapa kosongnya dunia ini tanpa kehadiran laki-laki itu.

Ia tersadar, sekarang ia benar-benar menjadi wanita yang hancur di dalam namun tetap tegar dan tenang di luar.

Dirinya orang tua tunggal. Harus menjadi tempat sandaran bagi anak-anaknya, tempat di mana tidak ada badai yang boleh terlihat, tidak ada kesedihan yang boleh terasa. Meski hatinya berdarah dan rindu itu menggerogoti setiap detik, Aini tahu ia harus tetap berdiri tegak. Demi Syafa, demi Satria, dan demi janjinya untuk membesarkan mereka menjadi orang hebat, meski hanya bertiga, meski dengan luka yang dipendam sendiri selamanya.

******

1
Ariany Sudjana
makanya kamu jangan egois Arini, kamu menyesal kan ?
Ariany Sudjana
menyesal kan kamu Aini? kamu egois dan bodohnya kebangetan
Putri Sikumbang: 😭 iya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!