Arhan si tukang panggul harus menelan pahitnya hidup, rumahnya terbakar, ia mengalami luka bakar, anaknya pincang karena tertimpa kayu dan istrinya menceraikannya.
Naasnya ia mati di lindas 3 mobil sekaligus. Tapi siapa sangka jika hidupnya berubah saat ia mendapat sistem.
Sistem mengubah hidupnya dan membuat mantan istrinya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️1...
Beberapa menit kemudian, Arhan sampai di sebuah bangunan tua yang tampak menyeramkan di pinggiran kota. Dari layar sistem yang aktif di kacamatanya, terlihat titik merah bergerak-gerak di dalam, itu adalah para penjaga dan target yang harus diselamatkan.
"Target berada di lantai dua. Ada 5 orang penjaga bersenjata tajam," batin Arhan mencerna informasi dengan cepat.
Dengan gerakan secepat kilat, Arhan memanjat dinding beton itu tanpa menggunakan alat bantu sama sekali. Ia naik ke atap, lalu turun perlahan melalui ventilasi udara di lantai dua.
Srett!
Satu penjaga yang sedang berjaga belum sempat berteriak, lehernya sudah ditepuk tepat di titik saraf, membuat pria itu langsung lemas dan pingsan sebelum menyentuh lantai.
Satu demi satu penjaga dilumpuhkan dengan sangat mudah dan hening. Tidak ada suara tembakan, tidak ada keributan. Arhan bergerak seperti bayangan yang mematikan.
Akhirnya ia sampai di sebuah ruangan besar di bagian dalam.
Di sana, terlihat seorang wanita cantik yang sedang terikat erat di kursi. Wajahnya tertutup keringat dan air mata, namun tetap terlihat anggun dan memiliki aura bangsawan yang kuat.
"Siapa kau?!" tanya wanita itu gemetar saat melihat sosok gelap muncul.
"Saya datang untuk menyelamatkan Anda, Nona," jawab Arhan tenang. Ia langsung menghampiri dan dengan mudah memutuskan tali pengikat itu hanya dengan satu tarikan tangan.
"Ayo kita pergi dari sini sebelum bantuan mereka datang," ajak Arhan.
Namun saat mereka baru saja akan keluar pintu, tiba-tiba lampu ruangan menyala terang benderang!
"HAHAHA! Sudah terlambat!"
Seorang pria bertubuh besar dengan beberapa anak buahnya muncul memblokir jalan keluar.
"Kau pikir mudah sekali mencuri buruan kami, bocah?! Kau tidak tahu siapa yang baru saja kau lawan!" teriak ketua penjahat itu sambil mengacungkan pisau besar.
Arhan menempatkan wanita itu di belakang punggungnya dengan aman. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, justru tersenyum miring penuh percaya diri.
"Aku tidak peduli siapa kalian. Yang jelas... kalian sudah menghalangi misiku," kata Arhan dingin.
"HAHAHA! Sudah terlambat kau menyadarinya, bocah!" teriak ketua penjahat itu dengan suara garang. Wajahnya penuh bekas luka yang membuatnya tampak semakin menyeramkan.
Ia melambaikan tangan, dan seketika belasan orang preman bersenjata besi tumpul dan pisau bermunculan dari segala penjuru ruangan, memblokir semua jalan keluar.
"Kau pikir dengan gerakan lincahmu tadi kau bisa menang? Ini bukan satu atau dua orang, ini pasukan penuh!" ketua itu tertawa puas.
"Lepaskan wanita itu, mungkin aku bisa membiarkanmu hidup dengan mematahkan kedua tangan dan kakimu saja!"
Arhan tetap berdiri tenang, tubuhnya melindungi Celine di belakang punggungnya. Wajahnya tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun, justru sebaliknya, ia justru tersenyum miring penuh tantangan.
"Kalau begitu... cobalah jika kalian mampu," jawab Arhan dingin.
"SERANG DIA BUNUH DIA!!" teriak ketua penjahat memberi komando.
Wush! Bugh! Jleb!
Semua penjahat menyerang secara bersamaan dengan liar.
"Sistem, gunakan poin untuk menambah kelincahan dan kekuatan," kata Arhan.
[Poin di gunakan 1000 poin]
[Sisa poin 2000 poin]
kekuatan dan kelincahan siap di gunakan. Siap di gunakan
Namun, apa yang terjadi selanjutnya di luar dugaan mereka semua.
Arhan bergerak. Bukan sekadar bergerak, tapi seolah menghilang dan muncul di tempat lain dalam sekejap mata.
Setiap kali ada tangan yang mencoba memukul, tangan itu langsung dipelintir hingga terdengar bunyi krek memekakkan telinga.
Setiap kali ada yang mengayunkan senjata, senjata itu terlempar jauh dan pemiliknya langsung terpelanting tak sadarkan diri.
Arhan tidak menggunakan senjata, hanya tangan kosong. Namun setiap pukulannya sangat akurat dan mematikan. Ia menepuk pundak, menyikut kaki, dan memukul ulu hati dengan presisi sempurna.
Dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh anak buah yang jumlahnya belasan orang itu sudah bergelimpangan di lantai, meringis kesakitan dan tidak bisa bangun lagi. Hanya tersisa si ketua penjahat yang berdiri terpaku, kakinya gemetar hebat.
"I-ini... monster... kau ini monster apa?!" bisiknya ketakutan.
Tanpa banyak bicara, Arhan melangkah maju selangkah. Tatapan matanya yang tajam membuat si ketua penjahat itu langsung jatuh terduduk dan kencing di celana karena terlalu takut.
"Minta maaf atau hancur?" tanya Arhan singkat.
"AMPUN! AMPUN TUAN! SAYA SEDAR! SAYA TIDAK AKAN MENGULANGINYA LAGI!" teriaknya histeris memohon ampun.