Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.
“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”
Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.
Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi Memalukan
Malamnya, Riyani sudah tertidur pulas. Entah apa yang ada di pikirannya, tiba-tiba wanita itu terbangun. Sampai suaminya—Hanif ikut terbangun karenanya.
"Kenapa Sayang?" tanya Hanif bingung.
Hanif menautkan alisnya. Bukan rasa tegang yang tersirat pada wajah istrinya tetapi.... sepertinya ia sedang malu.
"Kamu habis mimpi apa?" tanya Hanif lagi.
Riyani terus mengatur napasnya.
(Riyaniiii.... Kenapa harus mimpi kayak begitu sih?)
(Malu banget)
Wanita itu menoleh pada suaminya.
Ingatan mimpi tentang Hanif kembali dia ingat.
(Sayang.... Aa masih kuat, pengen tambah sekali lagi. Boleh ya!!)
"Neng!?" panggil Hanif menyadarkannya.
"Neng mau ke kamar mandi dulu," jawab Riyani sembari cepat masuk ke kamar mandi.
Beberapa waktu berlalu, saat Riyani keluar dari kamar mandi. Hanif sudah berdiri di depannya.
"Loh Aa ngapain di sini?"
"Aa khawatir kamu kenapa-napa. Kamu tadi kayaknya gugup banget sampe langsung masuk ke kamar mandi."
"Neng gak apa-apa," jawab Riyani.
Hanif menghela napasnya.
"Ya udah kalau gitu. Yuk sambung bobo lagi!"
Riyani mengangguk mengiyakan.
Tapi kali ini wanita itu menyamping pada arah yang sama dengan Hanif. Pikirannya mulai bertanya beberapa hal.
(Ini aku gak menarik ya?)
(Kok dia gak minta?)
(Apa jangan-jangan dia beneran suka sama laki-laki lagi?)
(Dia ..... normal kan?)
(Astaghfirullah Riyani.... Dia suami kamu ihh!)
Tangan hanif tiba-tiba melingkar pada perutnya. Ia tarik tubuh mungil istrinya menuju dekapan.
Bukan tertidur lelap, tapi rasanya ada sesuatu yang mulai membuat Riyani sedikit tidak nyaman.
Iya, napas suaminya yang begitu terasa pada telinga.
"Sayang..... Malam ini boleh?" tanyanya.
Riyani terbelalak.
Wanita itu beralih menyamping ke depan suaminya. Tatapan suaminya begitu lekat, bahkan tanpa jawaban dari istrinya, Hanif melakukan hal itu.
Perlahan mereka melakukannya—melakukan hal yang sama-sama tidak pernah berpengalaman.
...----------------...
Keesokan paginya, Hanif sudah bangun lebih dulu. Ia pergi ke kamar mandi lalu berganti pakaian dan bersiap untuk pergi ke masjid bersama dengan kakek dayat.
Sebelumnya, ia membangunkan Riyani lebih dulu untuk segera bersih-bersih dan sholat subuh. Tidak lupa meminta izin akan pergi sholat berjamaah.
"Hmmmmm iya ...."
Wanita itu hanya mengangguk lalu sempat membuka matanya sebentar.
Hari sudah mulai terang, Hanif juga baru saja kembali bersama kakek dayat. Sembari mengobrol akan membawa istrinya pindah lusa nanti.
Sebelumnya, memang Hanif tidak pernah bercerita bahwa ia sudah memiliki rumah sendiri di dekat kontrakan Azka. Pasalnya, ia juga jarang menginap di sana dan memang tidak ada apapun di rumah itu. Hanya kotakan kosong yang baru dibelinya setahun yang lalu.
Belum ada barang-barang rumah tangga yang ia isi. Bahkan sekedar kasur.
Sebelum menikah kemarin, selain sibuk dengan pekerjaan dan urusan pernikahan—Hanif mulai mengisi beberapa barang di rumah itu dan akan diisi olehnya bersama Riyani.
Langkahnya terhenti saat ia membuka pintu kamar yang masih gelap itu. Helaan napasnya terdengar saat melihat Riyani masih meringkuk pada selimut dan seprei yang sudah berantakan.
"Sayang!?" panggil Hanif.
Tidak ada sahutan dari Riyani, sepertinya wanitanya itu masih terlelap selepas subuh tadi.
Hanif duduk pada tepian kasurnya, "Sayang!?" panggilnya lagi, "bangun yuk! Udah siang tuh."
Riyani menghela napasnya, merengek karena rasa kantuk yang masih mengerubungi matanya, serta rasa nyeri pada pinggang dan bagian bawah tubuhnya.
"Sebentar lagi boleh gak?"
Hanif terkekeh pelan.
"Sakit ya?"
"Menurut Aa?" tanya balik Riyani dengan bibirnya yang mengerucut.
"Maaf ya!" ucap Hanif hanya dapat anggukan dari istrinya.
"Ya udah sekarang bangun ayo! Aa bantu."
Hanif membantu istrinya untuk pergi ke kamar mandi. Ia bereskan semuanya termasuk seprei yang harus diganti dan gorden yang harus segera dibuka.
Riyani sholat subuh lebih dulu, lalu pergi ke dapur untuk memasak sarapan.
Nenek dan Bi Wati yang sudah ada di dapur itu menoleh dengan kompak.
"Neng padahal gak apa-apa, kamu istirahat aja sana di ruang tengah," ucap nenek.
"Enggak ah. Lagian Neng gak apa-apa, kenapa harus istirahat?" tanya Riyani dengan polosnya.
Nenek terkekeh pelan.
"Kita berdua udah berpengalaman, Neng. Masa gak tau sih kamu kenapa."
Seketika pipi riyani memerah.
"Ih nenek!!
...----------------...
Hari ini, Riyani akan menginap di rumah mertua sekaligus dulu adalah orang tua dari sahabatnya. Ia mengemas beberapa pakaian setelah sarapan bersama kakek dan neneknya.
"Sudah semua bajunya? Lagian kalaupun kurang nanti tinggal balik lagi ke sini, Sayang. Kan cuman beberapa menit aja," ucap Hanif.
Riyani mengangguk.
"Udah semua kok kayaknya."
Hanif duduk pada tepian kasurnya.
"Sini deh, Aa mau ngobrol dulu sama kamu."
Riyani ikut duduk bersama suaminya.
Hanif membicarakan rencana ia akan membawa Riyani pindah ke rumah pribadinya.
"Kok Aa gak pernah cerita kalau udah punya rumah?" tanya Riyani, "takut aku cinta karena matre ya?"
Hanif terkekeh mendengarnya.
"Ya enggak, Sayang. Lagipula Aa punya rumah sebelum dekat sama kamu."
"Aa gak kasih tau karena kemarin-kemarin kamu sibuk. Terus sebelumnya, Aa juga belum pernah isi rumah itu. Cuman beli aja."
(Pesona pria matang begini kah?)
"Aa rencana lusa. Kamu gak apa-apa kalau pindah dari sini? Gak jauh kok, deket kontrakan Azka. Kamu juga kalau mau ke sini kan gampang, bisa ikut sama Aa kalau berangkat kerja, nanti pulangnya jemput lagi."
Riyani tersenyum tipis.
Cup...
Hanif mengernyitkan keningnya.
"Suami aku kalau udah punya rencana pasti udah dipikirkan matang banget. Sampe kalau aku bosen aja, kamu udah pikirin caranya."
Lelaki itu tersenyum. Ia kecup balik istrinya, hingga Riyani sedikit merasa malu.
...----------------...
Sore hari itu, Riyani berangkat untuk menginap bersama dengan suaminya. Kedatangannya bahkan disambut senyuman manis dari mertuanya.
Diajak makan malam dengan makanan kesukaan Riyani. Riyani merasa memiliki rumah baru yang begitu hangat dan nyaman ditempatinya.
Dan untuk pertama kalinya, Riyani masuk ke kamar yang selama ini hanya beberapa orang yang bisa masuk. Bahkan mungkin hanya orang rumahnya saja, itupun tidak boleh lama-lama di sana.
Hanif yang membersihkan kamarnya sendirian. Bahkan sekedar Seyila yang meminjam buku pun, hanya boleh masuk sebentar.
Kamar nuansa abu tua itu sedikit terlihat gelap. Tapi Riyani bisa melihat, banyak sisi hanif yang belum ia tahu lebih dalam. Termasuk koleksi kartun yang terpajang pada lemari kaca dekat meja kerjanya, tumpukan buku di meja kerja dengan laptopnya. Lalu, gantungan tas dinosaurus kecil di sampingnya.
"Ini...."
Riyani menoleh padanya.
Hanif tersenyum.
"Kamu ingat sesuatu?"
"Sejak kapan Aa kenal sama aku?" tanya Riyani sembari menggenggam gantungan tas itu.
Hanif merangkul pinggangnya.
"Pelan-pelan, Sayang. Aa bakal kasih tau semuanya."
"Sekarang ganti baju dulu sana!" pintanya.
Riyani masuk ke kamar mandi. Sedangkan Hanif keluar dari kamarnya.
Ibu yang baru saja akan masuk kamar itu sempat menoleh pada Hanif yang menghangatkan susu untuk istrinya.
"Ibu tidur di kamar belakang kok sama Ayah. Seyila juga udah pergi ke rumah sakit."
"HAH?" tanya Hanif bingung.