Fradella Gauta terpaksa menikah dengan Dayaksa Herlos, Tuan Muda keluarga Herlos yang dikenal sebagai orang gila setelah kematian ayah dan ibunya akibat kecelakaan. Ratu Mayesa, kakak tirinya yang merupakan tunangan Dayaksa (Aksa) merebut tunangannya Fradella, Adryan Juardi karena tidak mau berakhir menjadi mayat. Tak banyak yang tahu Fradella (Della) dirawat di rumah sakit jiwa selama lima tahun setelah ayahnya menikahi ibu Ratu. Kini Della harus tinggal dan bertahan di "Rumah Sakit Jiwa" yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TWENTY FOUR
Della berjalan dengan langkah gontai, lalu mendudukkan tubuhnya di atas kursi anyaman di dalam gazebo putih yang menghadap langsung ke arah air kolam yang tampak tenang dan jernih. Di atas meja kayu kecil di sampingnya, terdapat segelas jus jeruk dingin yang baru saja diantarkan oleh seorang pelayan pelaksana beberapa saat lalu.
Della meraih gelas tersebut, meminumnya sedikit demi sedikit secara perlahan. Rasa asam manis yang dingin mengalir di tenggorokannya, namun sama sekali tidak mampu mengusir rasa hambar yang menguasai hatinya. Hatinya merasa sangat kosong. Entah sejak kapan, ia mendapati dirinya mulai merindukan sosok Dayaksa yang manja, sosok pria bertubuh besar yang akan merengek perih saat lukanya diobati, atau pria yang akan mengigau ketakutan mencarinya di tengah malam. Aksa yang dingin saat ini terasa begitu jauh, seolah-olah ada dinding kaca tebal tak kasat mata yang memisahkan mereka.
"Jangan menangis, Della..." bisik Della pada dirinya sendiri, menahan genangan air mata yang mulai menumpuk di sudut kelopak matanya. Ia mengerjapkan matanya cepat, menolak untuk terlihat lemah.
Della menarik kedua kakinya ke atas kursi, menekuknya di depan dada lalu memeluk kedua lututnya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di sana. "Bukankah kamu sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini? Kamu sudah bertahun-tahun tidak dihiraukan oleh keluargamu sendiri, dikurung di tempat gelap, dan merasa kesepian sepanjang hidupmu. Ini bukan hal baru untukmu, Della. Sadarlah..."
Ia mencoba menghibur dirinya sendiri dengan kenyataan fisik yang ia miliki sekarang. "Yang penting sekarang kamu bisa makan makanan yang enak setiap hari, perutmu kenyang, dan kamu bisa tidur di atas ranjang yang nyaman tanpa perlu mengkhawatirkan hari esok. Tidak ada lagi suntikan obat-obatan busuk dari pihak rumah sakit jiwa, dan tidak ada lagi penyiksaan fisik dari keluarga Gauta. Itu sudah lebih dari cukup, Della. Jangan serakah untuk meminta hatinya..."
Meskipun logika di kepalanya terus menolak, namun sekujur tubuh dan perasaannya tidak bisa berbohong bahwa ia merasa kesepian tanpa adanya interaksi hangat dari suaminya.
"Nyonya Muda? Mengapa Anda berada di sini sendirian?"
Sebuah suara bariton yang familiar tiba-tiba memecah keheningan di sekitar gazebo. Della tersentak kecil, lalu perlahan mengangkat kepalanya dari atas lutut.
Zacky telah berdiri di dekat anak tangga gazebo. Pria itu masih mengenakan kemeja kerja formalnya namun tanpa jas, memegang sebuah map tipis di tangan kirinya. Tatapan mata sekretaris utama itu tampak dipenuhi oleh rasa hormat, namun juga terselip rasa simpati yang mendalam saat melihat posisi meringkuk Della yang tampak begitu rapuh.
Della buru-buru menurunkan kedua kakinya kembali ke lantai gazebo, mencoba memperbaiki posisi duduknya agar terlihat lebih tegar sebagai Nyonya Muda. "Zacky? Mengapa kamu ada di luar? Apakah... apakah Aksa sudah selesai dengan urusannya di dalam?"
Zacky menghela napas pendek, lalu melangkah naik ke dalam gazebo setelah mendapat isyarat anggukan dari Della. "Maaf, belum, Nyonya Muda. Tuan Muda saat ini masih harus menyelesaikan penyusunan rencana kerja makro dan proposal strategi komparatif untuk diserahkan ke dewan direksi sebelum sesi voting minggu depan."
Zacky berhenti sejenak, matanya menatap jus jeruk Della yang baru berkurang sedikit. Sebagai orang yang telah mendampingi keluarga Herlos selama belasan tahun, Zacky tahu benar apa yang sedang dirasakan oleh gadis di depannya. Ia tahu Della merasa kesepian dan terabaikan dalam tiga hari terakhir ini.
"Oh... jadi dia masih sangat sibuk, ya," gumam Della dengan nada suara yang sengaja dibuat seringan mungkin, meskipun helaan napas pendek yang mengikutinya tidak bisa berbohong.
Zacky memutuskan untuk duduk di kursi seberang meja, menaruh map dokumennya di atas meja kaca. Ia merasa perlu memberikan penjelasan yang benderang agar Della tidak salah paham terhadap perubahan sikap suaminya.
"Nyonya Muda, tolong jangan salah mengerti dengan sikap dingin Tuan Muda selama tiga hari ini," ucap Zacky dengan nada suara yang lembut namun penuh penekanan serius. "Saya tahu ini pasti terasa sangat tidak nyaman bagi Anda yang terbiasa mendampinginya dalam fase emosional."
Della menoleh, menatap Zacky dengan binar mata yang meredup. "Apakah dia... selalu berubah seperti ini setiap kali kondisinya membaik, Zacky? Dia bahkan tidak menatapku saat kami makan malam bersama kemarin."
"Ini bukan karena Tuan Muda tidak menghargai Anda, atau... atau sudah tidak menginginkan kehadiran Anda lagi di rumah ini," jelas Zacky, mencoba menenangkan badai pikiran di kepala Della. "Tuan Muda sedang berada dalam mode proteksi tingkat tinggi. Sesi voting minggu depan melawan Emily dan faksi Tuan Hendrik bukan sekadar masalah mempertahankan jabatan Direktur Utama. Itu adalah masalah hidup dan mati bagi legitimasi seluruh garis keturunan Herlos."
Zacky memajukan tubuhnya sedikit, membiarkan suaranya terdengar lebih intim sebagai bentuk berbagi beban. "Tuan Muda harus memastikan bahwa proposal strategi kerja yang ia susun benar-benar sempurna tanpa ada satu pun celah hukum yang bisa dipatahkan oleh Fabio atau pengacara mereka. Otak Tuan Muda saat ini sedang dipaksa bekerja di atas kapasitas normal manusia untuk mengingat kembali data-data korporasi selama tiga tahun terakhir yang sempat terlewatkan olehnya. Tekanan mental yang ia hadapi saat ini di balik pintu kerja itu... sangat luar biasa besar, Nyonya Muda."
Della terdiam, mendengarkan penjelasan Zacky dengan saksama. Rasa bersalah mendadak merayap di dadanya karena sempat berpikiran egois tentang perasaannya sendiri. "Lalu... apakah kondisi mentalnya aman dengan tekanan sebesar itu, Zacky? Aku takut dia... dia tiba-tiba tumbang lagi seperti waktu itu."
"Itulah alasan mengapa Tuan Muda sengaja menarik jarak dari Anda untuk sementara waktu," jawab Zacky, sebuah senyum tipis yang sarat akan rasa hormat muncul di wajahnya. "Tuan Muda tahu bahwa Anda adalah titik lemah sekaligus satu-satunya penenang jiwanya. Jika dia terlalu sering berada di dekat Anda saat otaknya sedang dipenuhi oleh strategi bisnis yang kotor dan penuh intrik, dia takut energi negatif dari pikirannya akan meluap dan tanpa sengaja menyakiti Anda kembali. Dia sedang menahan seluruh monster di dalam dirinya di dalam ruang kerja itu sendirian, demi memastikan Anda tetap aman di rumah ini."
Mendengar fakta tersebut, dada Della terasa seperti dihantam oleh ombak kehangatan yang luar biasa. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes satu titik di pipinya. Aksa tidak mengabaikannya karena cuek atau bosan, melainkan karena pria itu sedang berdarah-darah di medan perangnya sendiri untuk melindunginya.
Della menghapus air matanya dengan cepat, lalu menatap Zacky dengan binar mata yang kembali hidup. "Zacky... maukah kamu menceritakan lebih banyak tentang Aksa? Maksudku... bagaimana sosoknya saat dia pertama kali masuk ke perusahaan di usia lima belas tahun? Aku ingin tahu banyak hal tentang suamiku."
Zacky tertegun sejenak, lalu senyumnya melebar. "Tentu saja, Nyonya Muda. Jika Anda memiliki waktu, ini akan menjadi cerita yang sangat panjang."
...****************...
Di bawah langit halaman samping kediaman Herlos yang perlahan mulai berubah warna dari jingga menjadi keunguan, menandakan malam akan segera tiba, Della dan Zacky terus duduk di gazebo tersebut. Zacky mulai mengalirkan cerita demi cerita tentang masa muda Dayaksa, tentang bagaimana kejeniusannya yang dingin sempat menggoncang lantai bursa saham, dan bagaimana perlahan-lahan trauma masa lalu merenggut senyumnya.
Della mendengarkan setiap detail dengan mata yang tidak pernah lepas, merekam setiap jengkal kisah hidup pria yang kini telah menjadi pusat dari dunianya, membiarkan rasa sepi yang tadi mencekiknya menguap digantikan oleh sebuah tekad baru untuk terus berdiri di samping sang Tuan Muda Herlos, apa pun yang akan terjadi di masa depan nanti.
Semalam, entah jam berapa tepatnya Della akhirnya menyerah pada rasa kantuknya. Ia sempat bersandar di kepala ranjang besar mereka, memeluk kedua lututnya sembari menatap ke arah pintu penghubung ruang kerja kecil Aksa yang masih memancarkan seberkas cahaya lampu dari sela bawahnya. Di dalam kesunyian malam, ia menunggu dan terus menunggu suaminya, berharap Aksa akan keluar, memeluknya gembira, atau setidaknya mengucapkan selamat malam seperti biasanya. Namun, hingga kelopak matanya yang lelah terasa teramat berat dan pandangannya mengabur, pintu itu tak kunjung terbuka. Della pun tertidur dalam kesendirian.
Suara kicau burung dari arah taman luar perlahan menembus kesadaran Della. Ia mengerjapkan matanya yang terasa sepet, menyesuaikan diri dengan bias cahaya matahari pagi yang menyelinap dari balik gorden sutra. Hal pertama yang dilakukan oleh jemarinya secara refleks adalah meraba sisi ranjang di sampingnya.
Kosong.
Della menggeser telapak tangan telanjangnya di atas seprai abu-abu tua itu. Dingin. Benar-benar dingin, tanpa ada sisa kehangatan tubuh sedikit pun. Berarti, semalaman penuh Aksa sama sekali tidak menginjakkan kakinya ke dalam kamar tidur mereka. Pria itu menghabiskan seluruh waktunya terkunci di dalam ruang kerja, tenggelam bersama ambisi dan tekanan dokumen korporasi Herlos Grup.
Rasa sedih yang akrab kembali melanda ulu hati Della. Hari-hari sepi yang ia takuti sejak tiga hari lalu kini benar-benar mulai nyata dirasakannya. Dada Della terasa sesak. Namun, sedetik kemudian ia menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan dengusan kecil. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba mengusir kabut kelabu yang mulai menyelimuti hatinya.
"Tidak, Della. Kamu tidak boleh terbawa perasaan," gumamnya pada diri sendiri, menatap langit-langit kamar yang tinggi. "Sudah sejak awal menjadi risiko yang harus kamu tanggung jika menikah tanpa atas dasar cinta. Kamu di sini untuk menyelamatkannya, dan dia menyediakan tempat bernaung untukmu. Jangan meminta lebih."
Della membalikkan tubuhnya hendak turun dari ranjang, namun gerakannya terhenti seketika. Di atas meja nakas di samping tempat tidur, telah tersaji segelas susu putih hangat yang masih mengeluarkan uap tipis. Dan di bawah dasar gelas kristal tersebut, terselip selembar kertas memo kecil berwarna putih.
Della mengambil kertas itu dengan dahi berkerut. Di sana, tertera tulisan tangan dengan guratan yang tegas, rapi, namun tampak ditulis dengan terburu-buru.
Della, maafkan aku. Beberapa hari ini aku terpaksa menelantarkanmu karena situasi di kantor yang sangat kritis. Aku tidak ingin energi negatifku mengganggumu. Di dalam laci nakas, aku meninggalkan sesuatu untukmu. Bersenang-senanglah hari ini di luar, belilah apa pun yang kau inginkan, dan ingat... jangan pulang sebelum limit kartunya habis.
— Dayaksa.
Della mengerjapkan matanya, lalu perlahan membuka laci nakas yang dimaksud. Di dalam sana, terletak tiga buah kartu kredit unlimited berkilau yang memantulkan cahaya lampu; masing-masing berwarna perak (platinum), hitam (black card), dan emas (gold).
Seketika itu juga, gurat mendung di wajah Della mencair. Wajahnya mulai cerah, merebakkan senyuman manis bagai pelangi indah yang terbit setelah hujan badai yang lebat. Rasa terabaikan yang sempat menyesakkan dadanya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa hangat yang menggelitik. Aksa ternyata tidak melupakannya; pria itu hanya mengekspresikan perhatiannya dengan cara seorang miliarder yang kaku.
"Dasar orang gila yang pamer kekayaan," kekeh Della, memeluk memo kecil itu di dadanya sebelum bergegas bangkit dari ranjang.
Kau harus kuatt Aska jgn sampai terpengaruh
Lucu deh kalian berdua