"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Kajian dari Para Petinggi
Satu bulan telah berlalu sejak noda darah membasahi lantai joglo. Luka di bahu Rasyid telah menutup, menyisakan jaringan parut yang menjadi saksi bisu atas keberaniannya.
Namun, ketenangan yang ia bangun di pesantren kembali terusik oleh sebuah surat undangan berlapis emas dari pusat kota.
Sebuah Majelis Akbar yang dihadiri oleh para petinggi negara, diplomat asing, dan kaum elit yang haus akan siraman rohani dari “Sang Kyai Albino” yang fenomenal.
“Bawalah istrimu, Rasyid,” ucap Guru Besarnya dalam pertemuan tertutup di teras pesantren pagi itu.
“Fitnah hanya bisa dibungkam dengan kenyataan. Tunjukkan pada mereka bahwa Shanum adalah perhiasan yang pantas di sampingmu. Jangan biarkan lisan mereka liar karena kamu menyembunyikannya.”
Rasyid terdiam, jemari tangannya yang putih pucat—hampir transparan hingga gurat nadinya terlihat—mengusap janggut tipisnya.
Ia setuju. Bukan karena ingin pamer, tapi karena ia tahu, melindungi Shanum tidak bisa selamanya dilakukan dengan mengurungnya.
Malam acara itu tiba. Di dalam kamar yang hanya diterangi lampu redup, Shanum berdiri di depan cermin besar.
Ia mengenakan gamis syar’i berwarna biru midnight dari bahan sutra murni yang jatuh dengan sempurna di tubuhnya.
Cadar tipis berwarna senada menutupi wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata bulat yang kini dipertegas dengan garis kohl tipis.
Pintu terbuka. Rasyid melangkah masuk. Penampilannya malam itu benar-benar mematikan bagi siapa pun yang melihatnya.
Ia mengenakan jubah hitam dengan sulaman perak di bagian kerah, kontras dengan kulit albinonya yang seputih porselen.
Rambut dan alisnya yang pirang alami tampak bercahaya di bawah lampu, sementara sepasang mata birunya yang jernih menatap Shanum tanpa berkedip.
Rasyid berdiri tepat di belakang Shanum. Tinggi badannya yang 170 cm membuat ia hanya sedikit menunduk saat Shanum menggunakan sepatu berhak sedang, namun aura dominasinya tetap tak tergoyahkan.
Ia merapikan ujung khimar Shanum dengan gerakan lambat.
“Tolong, jangan terlalu cantik malam ini, Shanum,” gumam Rasyid. Suaranya rendah, bergetar di dekat telinga istrinya.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa fokus memberikan ceramah nanti, jika aku tahu di bawah sana, semua mata pria asing itu diam-diam mengagumi apa yang seharusnya hanya menjadi hak pandanganku.”
Shanum menatap pantulan mata biru Rasyid di cermin. “Aku hanya milikmu, Mas Kyai.”
Rasyid tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka yang membuat wajah pucatnya tampak jauh lebih hidup.
Ia meraih tangan Shanum, menggenggamnya erat sebelum mereka melangkah keluar menuju mobil mewah yang sudah menunggu.
Gedung pertemuan itu adalah mahakarya arsitektur modern di pusat kota. Barisan mobil antipeluru dan pengawal bersenjata berjaga di setiap sudut.
Di dalam, lampu kristal raksasa menggantung, memantulkan cahaya pada perhiasan para sosialita dan setelan jas para pejabat.
Di antara kerumunan tamu elit, Tuan Bajak Laut bergerak dengan sangat lihai.
Ia tidak menggunakan penutup mata hitamnya; ia mengenakan prostetik canggih yang membuat wajahnya tampak seperti atase keamanan dari kedutaan asing.
Di sampingnya, si pemilik rumah bordil menyamar sebagai tamu kehormatan dengan gaun modest yang sangat glamor.
“Target masuk,” bisik Tuan Bajak Laut ke dalam mik kecil di kerah jasnya.
Mereka telah merancang jebakan ini seperti sebuah simfoni. Tim mereka bukan lagi preman pasar, melainkan agen terlatih yang bergerak secara sinkron.
Mereka telah menyusup ke sistem kelistrikan gedung dan mengganti beberapa pelayan dengan personel mereka.
Acara dimulai. Rasyid naik ke atas mimbar yang megah. Cahaya spotlight menghantam tubuhnya, membuat sosok albinonya terlihat hampir mistis, seolah ia adalah entitas cahaya yang turun dari langit.
Suara baritonnya mulai menggema, membicarakan tentang kemuliaan wanita di hadapan Tuhan.
“Setiap wanita adalah permata yang dijaga oleh Arsy...” ucap Rasyid, mata birunya sesekali melirik ke kursi barisan depan tempat Shanum duduk.
Saat itulah, serangan dimulai. Sangat halus. Sangat efisien.
Seorang pelayan wanita mendekati Shanum, membisikkan sesuatu dengan wajah panik.
“Maaf, Nyai Shanum... Nyai Salamah pingsan di ruang tunggu VIP. Beliau memanggil nama Anda.”
Shanum tersentak. Rasa bersalahnya pada mertuanya membuatnya kehilangan kewaspadaan. Ia segera berdiri dan mengikuti pelayan itu melewati koridor samping yang sepi.
Begitu pintu ruang tunggu tertutup, suasana mendadak berubah. Lampu koridor berkedip-kedip ritmis—sebuah sinyal pengacak komunikasi (jamming).
Shanum menyadari ada yang salah saat ia melihat pelayan di depannya tiba-tiba berhenti dan berbalik dengan tatapan dingin.
Shanum mencoba berbalik, namun pintu di belakangnya sudah terkunci secara otomatis. Ia terjebak dalam koridor panjang yang sunyi.
Dari balik bayangan pilar besar, Tuan Bajak Laut muncul. Langkah kakinya tidak bersuara, gerakannya secepat bayangan.
“Waktunya pulang, permataku,” ucap Tuan Bajak Laut dengan nada yang mengerikan.
Ia bergerak maju dengan kecepatan yang tak masuk akal.
Shanum mencoba berteriak, namun tangan besar Tuan Bajak Laut sudah membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah dibasahi cairan bius berdosis tinggi. Dunia di mata Shanum mulai berputar.
Tepat saat Tuan Bajak Laut hendak membopong tubuh Shanum menuju pintu kargo belakang, sebuah suara sapu lidi yang menyapu lantai terdengar dari ujung lorong.
Srak... srak... srak...
Seorang kakek tua pembersih lantai, bertubuh bungkuk dengan topi kain yang menutupi wajahnya, berjalan perlahan mendekat.
Tuan Bajak Laut mendengus. “Pergi, Kakek tua! Jangan cari mati!”
Kakek itu berhenti. Ia tidak pergi. Sebaliknya, ia menegakkan punggungnya yang tadinya bungkuk.
Dalam satu gerakan yang sangat cepat dan eksplosif, kakek itu melemparkan gagang sapunya secara horizontal, tepat mengganjal pintu kargo agar tidak bisa tertutup.
“Lepaskan wanita itu,” suara sang kakek terdengar sangat tenang, namun memiliki tekanan tenaga dalam yang kuat.
Tuan Bajak Laut tertawa meremehkan, ia meletakkan tubuh Shanum yang lemas di lantai dan menerjang sang kakek dengan pukulan tinju yang mampu memecahkan beton.
Namun, kakek itu bergerak seperti air. Ia meliuk, menangkap pergelangan tangan Tuan Bajak Laut, dan menggunakan berat tubuh pria besar itu untuk mengirimnya terlempar ke dinding dengan satu tendangan melingkar yang presisi.
BUM!
Tuan Bajak Laut terkejut. “Siapa kamu?! Teknik ini... tidak mungkin ada di sini!”
Sang kakek tidak menjawab. Ia hanya menarik Shanum ke belakang tubuhnya, bersiap dengan kuda-kuda bela diri yang sangat kuno.
Di atas mimbar, Rasyid mendadak berhenti bicara di tengah kalimatnya.
Jantungnya berdenyut nyeri. Mata birunya yang tajam langsung menyapu barisan kursi VIP.
Kursi istrinya kosong.
Rasyid langsung turun dari mimbar tanpa mempedulikan protokol acara atau tatapan bingung ribuan orang.
Ia berlari menuju koridor samping, instingnya sebagai pelindung berteriak keras bahwa Shanum dalam bahaya maut.
Sementara itu, di ujung lorong kargo, Tuan Bajak Laut mengeluarkan belati besarnya, menyadari bahwa kakek tua di depannya adalah lawan yang selama ini ia takuti dalam sejarah gelapnya.
Dunia elit yang tenang itu, kini berubah menjadi medan perang berdarah di balik pintu-pintu tertutup.