Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan yang Mengacaukan Prinsip
Suasana di sekitar kompleks apartemen Arini malam itu benar-benar mirip lautan manusia yang kacau balau. Tiga armada mobil pemadam kebakaran ukuran besar terparkir gagah di tengah jalan dengan lampu rotator merah yang berputar-putar statis, memantulkan cahaya magis ke dinding-dinding beton bangunan.
Beruntung, petugas pemadam bertindak sigap sehingga api yang sempat menyala di lantai bawah berhasil dipadamkan dengan cepat sebelum merembet ke unit-unit hunian di atasnya. Meski demikian, sisa kepulan asap abu-abu yang pekat dan kepanikan massal masih menyisakan ketegangan yang kentara di area lobi luar. Orang-orang saling berbisik dengan raut wajah cemas yang belum sepenuhnya hilang.
Mobil milik Dian baru saja berhenti dengan rem sedikit mendecit di seberang jalan kompleks. Belum sempat Dian mematikan mesin mobilnya secara sempurna atau menarik rem tangan dengan benar, Arini sudah membuka pintu penumpang depan dan melesat keluar begitu saja. Jantungnya berdegup liar seperti genderang perang. Matanya bergerak cepat dan tidak tenang, membelah kerumunan ratusan penghuni apartemen yang sebagian besar hanya mengenakan baju tidur, daster, dan sandal jepit seadanya.
"Rian... di mana sih kamu... jangan bikin khawatir kenapa," gumam Arini panik, suaranya hampir tenggelam oleh sisa-sisa kebisingan di sekitar lobi. Di tengah pusaran ratusan orang yang panik ini, mencari satu cowok jangkung berkaus santai rasanya benar-benar seperti mencari sebatang jarum di tumpukan jerami. Arini mengabaikan beberapa tetangga yang menyapanya, fokusnya hanya satu.
Sampai akhirnya, mata tajam Arini menangkap sosok yang sangat ia kenal. Cowok itu sedang berdiri di dekat pembatas jalan beralas semen, membelakangi kerumunan massa sambil memegang satu botol air mineral yang sudah kosong setengahnya. Bahu lebar cowok itu naik turun secara teratur, tampaknya dia masih sangat kelelahan setelah aksi heroik nekatnya berlari naik-turun tangga darurat untuk memastikan unit apartemennya aman tadi.
"Rian!" panggil Arini setengah berteriak sambil mengabaikan tatapan heran orang-orang di sekitarnya. Ia setengah berlari menerobos kerumunan kecil demi menghampiri cowok itu.
Rian menoleh dengan cepat. Sepasang matanya langsung membulat sempurna, terkejut melihat Arini yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di depannya dengan napas yang memburu dan rambut yang sedikit acak-acakan akibat angin malam. "Bu Arini? Kok Ibu sudah di sini? Bukannya kata Mbak Dian tadi Ibu lagi ada acara di—"
Kalimat Rian terputus di udara. Tanpa aba-aba atau peringatan apa pun, Arini melangkah maju satu tapak besar. Ia langsung mencengkeram kedua lengan atas Rian dengan kuat, seolah ingin memastikan cowok itu nyata dan tidak terluka. Tak lama kemudian, cengkeraman Arini melonggar, namun telapak tangannya justru turun ke bawah dan memegang erat kedua belah tangan Rian. Sentuhan kulit itu terasa begitu hangat, erat, sedikit gemetar, dan sarat akan rasa khawatir yang teramat luar biasa yang tidak bisa lagi disembunyikan oleh topeng formalitasnya.
"Kamu gak apa-apa kan, Rian? Jawab saya jujur, ada yang luka gak tubuh kamu? Kamu tadi sempat hirup asap tebalnya gak pas di dalam?" tanya Arini bertubi-tubi tanpa memberikan jeda bagi Rian untuk menjawab. Matanya bergerak gelisah, menatap Rian secara detail dari ujung rambut, ke wajahnya yang sedikit terkena noda jelaga, hingga ke ujung kaki, memastikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa cowok di depannya ini utuh tanpa lecet sedikit pun.
"Saya gak apa-apa, Bu. Sumpah, saya aman," jawab Rian pelan, suaranya mendadak parau.
Digenggam seerat itu secara tiba-tiba oleh Sang Kepala Staf di tengah keramaian lautan manusia, tubuh Rian mendadak kaku dan membeku seperti patung lilin di museum. Botol air mineral di tangan kirinya nyaris merosot jatuh ke aspal jika dia tidak refleks menahannya dengan sisa jari. Sentuhan telapak tangan Arini yang halus namun mencengkeram kuat itu mengirimkan sejenis sengatan listrik yang instan, menjalar cepat lewat pembuluh darahnya dan langsung menghantam tepat di bagian dada kiri.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Rian berdentum sangat keras dengan ritme yang berantakan, hingga ia merasa takut kalau-kalau suara detak jantungnya sendiri bisa mengalahkan bisingnya sirine mobil pemadam kebakaran yang masih meraung-raung rendah. Wajah Rian mendadak terasa panas terbakar oleh rona merah.
“Aduh... tangan Bu Arini halus banget, tapi kenapa tenaganya bisa sekuat ini kalau lagi panik? Terus... wangi parfum vanilla-nya kok bisa tetap sewangi ini sih, padahal di sekitar sini bau asap kebakaran kencang banget?” batin Rian menjerit histeris di dalam kepalanya. Sifat polosnya berontak, membuatnya mendadak salah tingkah tingkat dewa di depan sang atasan.
Melihat Rian yang malah terdiam melamun dengan tatapan kosong dan wajah yang berangsur memerah seperti kepiting rebus, Arini tersadar dari luapan emosinya sendiri. Binar panik di matanya mereda, digantikan oleh keterkejutan. Ia melirik ke bawah, ke arah kedua tangan mereka yang masih saling bertautan erat di depan dada. Kesadaran sebagai seorang wanita milenial yang mandiri dan rasional langsung menampar logikanya dengan telak.
“Arini! Sadar! Lo ngapain megang-megang tangan staf bawahan lo seerat ini di tempat umum? Di mana harga diri lo sebagai bos?!” jerit batin Arini panik setengah mati.
Dengan gerakan yang terkesan canggung dan buru-buru, Arini langsung menarik kembali kedua tangannya dari genggaman Rian. Ia mundur setengah langkah, lalu berpura-pura sibuk merapikan anak rambutnya yang berantakan tertiup angin malam untuk mengalihkan rasa malunya yang membuncah.
"Ehem... m-maksud saya, terima kasih banyak kamu sudah repot-repot datang jauh-jauh ke sini hanya untuk memastikan keadaan unit saya," ucap Arini dengan nada suara yang sengaja dibuat seformal mungkin. Ia berusaha sekuat tenaga mengembalikan wibawa agung Kepala Stafnya yang baru saja lenyap tak berbekas, walaupun ia tahu suaranya masih sedikit bergetar menahan sisa rasa gugup.
Rian ikut berdehem beberapa kali secara beruntun, berbalik sedikit untuk membuang muka demi menormalkan detak jantungnya yang sudah bergejolak layaknya anak karang taruna sedang rapat perdana. Ia buru-buru memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana kargonya, mencoba menyembunyikan sisa-sisa getaran fisik yang tertinggal akibat sentuhan intim yang tak terduga tadi.
"Ah, iya, sama-sama,Bu.saya pikir ibu lagi di apartemen ibu,makanya saya langsung kesini" sahut Rian, mencoba mencairkan kekakuan yang kembali merayap di antara mereka.
Sambil melemparkan pandangannya lurus ke arah kerumunan petugas pemadam yang mulai menggulung selang air, Rian menarik napas dalam-dalam. Ia membiarkan oksigen malam mendinginkan isi kepalanya yang sempat kacau. Perlahan namun pasti, pikiran jernih dan logika realistisnya mulai mengambil alih kendali emosinya. Rasa berdebar yang menyenangkan dan manis yang sempat ia rasakan beberapa detik lalu langsung ia tepis jauh-jauh tanpa ampun.
Rian mengingatkan dirinya sendiri pada satu prinsip hidup fundamental yang selalu ia pegang teguh sejak pertama kali melangkahkan kaki ke dunia kerja profesional: Jangan pernah sekali-kali terlibat hubungan asmara atau perasaan personal dengan teman satu kantor. Apalagi... wanita cantik berkepala tiga yang berdiri di sampingnya saat ini adalah Arini. Dia adalah Kepala Staf langsung di divisinya, sosok yang memegang kendali penuh atas penilaian kinerja dan masa depan kariernya di perusahaan.
Bagi Rian, melanggar batasan profesional itu sama saja dengan melakukan tindakan bunuh diri karier secara sukarela. Dia sadar betul posisinya; dia hanyalah seorang staf biasa yang masih piyik, sedangkan Arini berada di level sosial dan karier yang jauh di atasnya. Menganggap Arini sebagai "kakak perempuan" dalam obrolan mereka kemarin sebenarnya adalah cara bawah sadar Rian untuk membangun barikade, membentengi hatinya sendiri agar tidak jatuh terlalu dalam ke dalam zona terlarang yang penuh risiko itu.
"Sama-sama, Bu. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai... salah satu staf Ibu untuk ikut memastikan keselamatan dan kenyamanan atasan di luar jam kerja," jawab Rian kemudian dengan sebuah senyuman yang dipaksakan senormal dan seramah mungkin. Ia sengaja memberikan penekanan yang jelas pada kata 'staf' dan 'atasan' sebagai alarm pengingat keras bagi dirinya sendiri agar tidak melunjak. "Lagipula, untunglah Ibu tadi sedang pergi bersama... teman dekat Ibu, jadi Ibu gak perlu sendirian pas pertama kali dengar kabar buruk ini."
Arini yang memiliki kepekaan tinggi langsung menangkap perubahan nada bicara Rian. Suara cowok itu kembali memancarkan jarak formal yang tegas, seolah-olah ada dinding kaca tebal yang mendadak muncul membatasi mereka berdua. Ada rasa sesak kecil yang aneh dan tidak nyaman di sudut dada Arini saat mendengar jawaban yang kelewat sopan dan penuh batasan itu.
Di tengah sisa kepulan asap tipis yang menyelimuti malam itu, keduanya kini hanya bisa berdiri berdampingan secara fisik. Jarak mereka sangat dekat, namun pikiran dan hati masing-masing sibuk bekerja keras, menyusun kembali batu demi batu benteng pembatas profesionalitas yang sempat runtuh akibat kepanikan sesaat tadi.