NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23 : Rencana Sabrina dan Dion

Malam terakhir mereka di Surabaya berlangsung jauh lebih meriah dari yang dibayangkan para staf. Setelah beberapa jam bermain di pantai, seluruh rombongan kembali ke hotel untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Namun malam itu tidak ada yang langsung masuk kamar.

Karena Alexander sudah menyiapkan sesuatu untuk mereka. Area taman outdoor hotel yang menghadap laut disulap menjadi tempat barbeque pribadi. Lampu-lampu gantung berwarna keemasan menghiasi pepohonan. Musik akustik mengalun pelan dari sudut taman.

Di tengah area tersebut, beberapa chef hotel sedang melakukan live cooking. Aroma daging panggang langsung memenuhi udara.

"Waaah!"

"Ini keren banget!"

"Tuan Alexander serius niat banget!"

Tawa para staf memenuhi suasana.

Rina dan beberapa staf wanita sibuk menyiapkan meja makan. Sedangkan Pak Ganjar terlihat sedang mengobrol dengan beberapa supervisor.

Aldi tentu saja menjadi orang paling berisik malam itu. Pria itu berpindah dari satu meja ke meja lain sambil bercanda dengan semua orang. Namun di tengah suasana santai tersebut.

Ada dua orang yang masih terlihat sibuk bekerja. Di salah satu sudut taman. Alexander dan Dara duduk berdampingan di meja panjang.

Dua laptop terbuka di depan mereka. Tatapan mereka sama-sama tertuju pada layar. Klien dari Naga Buana masih membutuhkan beberapa data tambahan sebelum esok pagi.

"Kirim revisi yang bagian ketiga."

"Baik, Tuan."

Dara segera mengetik.

Beberapa menit berlalu, tidak ada percakapan lain. Hanya suara ketikan keyboard. Sesekali Dara melirik pria di sampingnya. Namun Alexander tetap fokus pada pekerjaannya. Tidak ada yang berani mengganggu mereka, kecuali satu orang... Aldi. Pria itu datang sambil membawa dua tusuk sate.

"Bos."

Tidak ada jawaban.

"Bos."

Alexander tetap menatap layar laptopnya.

"Bos."

"Apa?"

Aldi tersenyum puas. "Udahan lah kerjanya."

"Hm."

"Kita lagi senang-senang loh."

Alexander tidak menggubrisnya lagi.

Aldi langsung menghela napas panjang. "Kebiasaan." Lalu ia menoleh ke Dara. "Kasihan Dara."

Dara yang sedang mengetik langsung mengangkat kepala. "Kenapa, Pak Aldi?"

Eh... Aldi dong."

Dara terkekeh kecil. "Iya, Aldi."

"Si Bos yang satu ini nyebelin."

Dara spontan menahan senyum. Alexander tetap tidak bereaksi.

Aldi menunjuk pria di sampingnya. "Lihat tuh. Liburan tetap kerja."

Dara hanya tersenyum kecil. Karena jujur saja, ia mulai terbiasa melihat Alexander seperti itu.

Aldi lalu membungkuk sedikit mendekat. "Dara."

"Iya?"

"Nanti setelah selesai kerja..." Ia menunjuk sebuah sudut taman hotel yang dihiasi lampu-lampu cantik dan bunga-bunga. "Kita ngobrol berdua ya di sana."

Deg.

Jari Dara langsung berhenti mengetik. Beberapa detik ia tidak menjawab. Entah kenapa, tatapannya justru melirik ke arah Alexander. Berharap pria itu mengatakan sesuatu. Apa saja, namun Dara salah. Alexander tetap fokus pada layar laptopnya. Seolah tidak mendengar apa pun, hati Dara terasa sedikit aneh.

Akhirnya ia tersenyum tipis kepada Aldi. Oke."

Senyum Aldi langsung melebar. "Nah gitu dong." Ia mundur beberapa langkah. "Oke deh. Aku ke sana dulu ya." Lalu ia menunjuk Alexander. "Hati-hati ngobrol sama Bos."

Dara tertawa kecil.

"Nanti ditelan hidup-hidup." Aldi langsung terkekeh. Kemudian pergi meninggalkan mereka.

Dara menggelengkan kepala sambil tersenyum. Lalu kembali menatap layar laptopnya.

Namun beberapa detik kemudian...

Sebuah suara pelan terdengar dari sampingnya. "Ingat."

Jari Dara berhenti mengetik.

Alexander masih menatap layar laptop. "Kamu masih karyawan baru. Jangan terlalu percaya pada pria mana pun."

Deg.

Dada Dara langsung berdebar. Beberapa detik ia hanya menatap pria itu. Lalu menjawab pelan. "Termasuk pada Tuan juga?"

Keheningan langsung turun.

Kali ini Alexander menoleh kepadanya. Tatapan mereka bertemu. Dara langsung menahan napas, karena ada sesuatu yang berbeda di mata pria itu. Sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Alexander menatapnya beberapa saat. Lalu berkata dengan suara rendah. "Saya akan bertanggung jawab atas apa yang sudah saya lakukan padamu."

Deg.

Tubuh Dara langsung menegang.

Alexander melanjutkan. "Setelah urusan perceraian saya selesai..." Tangannya perlahan menutup laptop. Tatapannya tidak pernah lepas dari Dara. "Saya pastikan kita akan segera menikah."

Deg!

Jantung Dara seolah berhenti berdetak? Seluruh suara di sekitar mereka mendadak menghilang, semuanya terasa jauh. Yang tersisa hanya kalimat itu, kita akan segera menikah.

Dara menatap Alexander dengan mata membesar. Tubuhnya gemetar. Bahkan napasnya terasa sulit keluar.

"T-Tuan..."

Namun Alexander terlihat sangat tenang. Seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sederhana. Padahal bagi Dara, kalimat itu telah menghancurkan seluruh pertahanan yang susah payah ia bangun selama ini.

Dan yang paling membuatnya takut, ia menyadari satu hal. Sebagian dari dirinya ternyata sangat ingin mempercayai pria itu.

***

Di sisi lain kota Surabaya...

Sebuah kamar hotel mewah di lantai atas tampak remang-remang. Lampu tidur berwarna keemasan menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu.

Seorang wanita cantik duduk di tepi ranjang dengan wajah tegang. Rambutnya tergerai berantakan, sementara sebuah selimut menutupi tubuhnya. Wanita itu adalah Sabrina.

Di dekat jendela, seorang pria tinggi berdiri sambil memegang gelas berisi minuman. Kancing atas kemejanya terbuka, memperlihatkan sebagian dadanya.

Dion, pria itu menatap lampu-lampu kota di luar sebelum akhirnya berbicara. "Aku nggak mau tahu."

Sabrina mengangkat kepala.

"Pokoknya kamu jangan sampai cerai dulu sama Alexander, sebelum kamu dapat bagian dari keluarga Dirgantara." Nada suara Dion terdengar tegas.

Sabrina menggigit bibirnya pelan. "Tapi Alexander sudah menggugat aku."

"Aku tahu."

"Dion, kali ini dia serius," jelas Sabrina.

Dion tertawa kecil. "Alexander memang selalu serius.

"Tapi dia sudah berubah," lanjut Sabrina.

Kalimat itu membuat Dion menoleh.

Sabrina menatap kosong ke arah lantai. "Dulu aku masih bisa mempengaruhi dia. Tapi sekarang..." Sabrina mengepalkan tangannya. "Dia bahkan tidak lagi ingin bertemu denganku."

Keheningan beberapa detik memenuhi ruangan. Dion lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi depan ranjang.

"Sabrina."

Wanita itu menatapnya.

"Kamu masih punya satu kartu yang sangat kuat."

Sabrina mengernyit. "Maksud kamu apa?"

Dion tersenyum tipis. "Tante Sandra."

Deg.

Mata Sabrina langsung membesar.

Dion melanjutkan. "Kamu itu menantu kesayangannya."

"Tapi..."

"Selama bertahun-tahun Tante Sandra selalu membela kamu," sambung Dion penuh keyakinan.

Sabrina terdiam, karena itu memang benar. Bahkan ketika dirinya melakukan berbagai kesalahan, Ibu Sandra selalu berusaha memahami dan melindunginya.

Dion menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalau Alexander mau melanjutkan perceraian." Tatapannya berubah tajam. "Pastikan Tante Sandra berada di pihakmu."

Sabrina terlihat berpikir. "Kamu yakin?"

Dion mengangguk santai. "Alexander bisa melawan siapa saja. Tapi? Qku yakin, dia tidak akan membantah ucapan Ibunya sendiri."

Keheningan kembali turun.

Perlahan-lahan sesuatu mulai muncul di mata Sabrina. Harapan, karena selama beberapa minggu terakhir, ia merasa semua jalan telah tertutup.

Namun ucapan Dion membuatnya sadar bahwa masih ada satu orang yang mungkin bisa menghentikan Alexander. "Aku harus bicara dengan Mommy Sandra..."

Dion tersenyum puas. "Bagus."

"Tapi bagaimana kalau Alexander tetap bersikeras?"

Senyum Dion perlahan menghilang. "Kalau begitu..." Pria itu menatap Sabrina lekat. "Kita cari cara lain."

Deg.

Entah kenapa, kalimat itu membuat Sabrina merasakan firasat yang tidak nyaman. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, ponselnya tiba-tiba bergetar.

Nama yang muncul di layar membuat wajahnya langsung berubah... Mommy Sandra.

Sabrina dan Dion saling berpandangan. Beberapa detik kemudian, Sabrina menjawab panggilan itu.

"Halo, Mom..."

1
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍
It's me Sky: siap ka
total 1 replies
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!