NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISA BADAI

Keesokan paginya, Kota Valerion terbangun dalam gempar. Lembaran koran Valerion Post menampilkan foto halaman depan yang luar biasa mencolok: Tuan Surya yang menunduk dalam kawalan petugas, Tuan Bramanto yang mencoba menutupi wajah buncitnya dengan jaket, dan Juragan Jaya—dengan garis wajah tua yang tampak rapuh dan hancur—digelandang masuk ke dalam mobil tahanan. Di pojok bawah foto itu, tampak Adrian yang menangis dengan tangan terborgol.

​Judul utama berita pagi itu tertulis dengan huruf kapital yang tegas: SKANDAL LIMA MILYAR: KORUPSI JALUR BELAKANG DI DISTRIK UTARA DIBONGKAR.

​Di dalam kamar 303 The Velvet Rose, cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden yang terbuka separuh. Kirana duduk di tepi ranjang, menatap lembaran koran yang baru saja dibeli oleh Mbak Lastri dari loper koran di persimpangan jalan. Tidak ada guratan dendam lagi di wajahnya, tidak ada pula tawa kemenangan. Yang tersisa hanyalah sepasang mata yang tenang, seperti permukaan telaga setelah badai besar berlalu.

​Tok, tok, tok.

​Pintu kamar terbuka tanpa suara, dan Mami Rosa melangkah masuk. Perempuan paruh baya itu tidak lagi mengenakan gaun malamnya yang gemerlap; ia hanya memakai jubah sutra rumahan berwarna merah marun, memegang sebatang rokok yang belum dinyalakan. Wajah Mami Rosa yang biasanya dipenuhi riasan tebal kini tampak lebih guratan usianya, dan matanya menatap Kirana dengan pandangan yang sulit diartikan—perpaduan antara rasa takjub dan ngeri.

​Mami Rosa berjalan mendekat, lalu menjatuhkan selembar amplop cokelat tebal di atas meja rias Kirana.

​"Itu sisa uang kompensasi dan tebusan yang didepositokan Adrian atas namamu minggu lalu," kata Mami Rosa, suaranya terdengar agak serak. "Secara hukum kelab, masa kontrakmu di The Velvet Rose sudah lunas dibayar oleh pemuda bodoh itu sebelum dia berakhir di sel tahanan Polda."

​Kirana melirik amplop itu sekilas, lalu kembali menatap Mami Rosa. "Mami tidak marah?"

​Mami Rosa mengembuskan napas panjang, akhirnya menyalakan rokoknya. "Marah untuk apa, Rana? Di bisnis malam seperti ini, aturan nomor satu adalah mengikuti arah angin dan uang. Aliansi Surya dan Bramanto sudah runtuh. Jika aku mencoba membela mereka atau menahanmu, kelab ini justru akan ikut diseret oleh jaksa wilayah sebagai tempat pencucian uang."

​Perempuan itu melangkah mendekati jendela, menatap jalanan distrik yang mulai ramai oleh aktivitas pagi. "Kamu pintar, Kirana. Sangat pintar. Selama bertahun-tahun aku mengelola tempat ini, baru kali ini aku melihat seorang gadis desa menggunakan jerat asmara untuk meruntuhkan dinasti pejabat kota tanpa perlu mengotori tangannya sendiri dengan darah. Adrian benar-benar buta karena kebohonganmu."

​"Saya tidak berbohong tentang satu hal, Mami," sahut Kirana pelan, berdiri dari duduknya. "Saya memang mengkhawatirkan keselamatan keluarga Adrian sejak awal... karena saya tahu, jika mereka terus bersama Juragan Jaya, mereka akan masuk ke dalam lubang yang sama. Saya hanya mempercepat proses jalannya keadilan."

​Mami Rosa tersenyum tipis, sebuah senyuman penghormatan terakhir dari penguasa malam kepada sang primadona yang berhasil bebas. "Kemasi barang-barangmu, Kirana. Sebelum sore ini, pastikan kamu sudah keluar dari pintu belakang. Polisi mungkin akan datang ke sini untuk meminta keterangan tentang Adrian, dan aku tidak ingin namamu tercatat di berkas perkara mereka."

​"Terima kasih, Mami," tutur Kirana tulus, membungkuk hormat untuk terakhir kalinya.

​Dua jam kemudian, Kirana sudah berganti pakaian dengan baju kurung lamanya dan membawa sebuah tas kain sederhana. Mbak Lastri berdiri di ambang pintu kamar, matanya berkaca-kaca menatap gadis yang kini tampak jauh lebih dewasa dan matang itu.

​"Kamu benar-benar akan langsung kembali ke desa, Rana?" tanya Lastri, suaranya agak bindeng karena menahan tangis.

​"Iya, Mbak. Tugas saya di Valerion sudah selesai," Kirana menggenggam kedua tangan Lastri dengan erat. "Uang jaminan dari desa yang disita polisi semalam adalah akhir dari pabrik gilingan padi milik Juragan Jaya. Pengadilan negeri akan menyita seluruh sisa asetnya untuk menutupi kerugian negara. Sawah-sawah yang dahulu dia rampas dari keluarga kita akan dikembalikan oleh pemuka desa kepada warga yang berhak. Saya harus pulang untuk memastikan nama baik Bapak dipulihkan di depan makamnya."

​Lastri mengangguk perlahan, mengusap air mata yang menetes di pipinya. "Pergilah, Rana. Bawa kembali ketenangan yang sempat hilang dari hidupmu. Jangan pernah menoleh lagi ke belakang, jangan pernah kembali ke Distrik Amethyst ini."

​"Mbak Lastri juga... jika urusan di sini sudah tenang, menyusullah pulang ke desa. Kita bangun kembali hidup kita di sana," bisik Kirana, memeluk wanita yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandung sendiri selama bertahan hidup di dalam kelab.

​Sore hari, kereta api senja perlahan bergerak meninggalkan stasiun utama Kota Valerion. Di dalam gerbong kelas ekonomi yang riuh oleh suara penumpang, Kirana duduk di dekat jendela, menatap siluet gedung-gedung tinggi kota yang perlahan menjauh dan mengecil di balik cakrawala senja yang berwarna keemasan.

​Ia mengeluarkan sebuah kertas kecil dari dalam sakunya—surat pendek yang sempat ia tulis untuk Adrian namun tidak pernah ia kirimkan. Kirana meremas kertas itu hingga hancur, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah di bawah kursi. Hubungannya dengan dunia malam, dengan Adrian, dan dengan segala tipu daya sutra di Kota Valerion telah resmi berakhir.

​Saat kereta api melaju menembus batas kota dan mulai memasuki hamparan sawah hijau yang luas, Kirana menyandarkan kepalanya di dinding gerbong. Udara bersih pedesaan mulai terasa berembus masuk melalui celah ventilasi, menghapus sisa-sisa aroma parfum mahal dan asap cerutu yang selama ini memuakkan jiwanya.

​Mawar Hitam dari The Velvet Rose telah gugur di tengah badai kota, namun di tanah kelahirannya yang damai, sebutir benih mawar yang baru telah siap tumbuh kembali—kali ini tanpa dusta, tanpa jerat kebohongan, dan sepenuhnya mekar dalam pelukan keadilan yang murni.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!