⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia Tanpa Rasa Malu
Sementara Banyu mengutuk Rendi habis-habisan di dalam hati, Siska justru terjebak dalam dilema yang menyiksa. Logika dan harga dirinya berteriak keras menolak untuk kembali berurusan dengan pria brengsek itu. Namun, memikirkan kondisi Melati yang kritis, Siska tak berani langsung menutup pintu negosiasi.
Rendi benar; kondisi Melati sangat mengerikan. Jika prosedur transplantasi sumsum tulang tidak segera dilakukan, putrinya itu mungkin tidak akan bertahan hidup melewati musim panas ini. Jika Rendi menolak mendonorkan sumsumnya, proses mencari donor dengan tingkat kecocokan yang pas di bank sumsum tulang nasional akan memakan waktu terlalu lama. Waktu adalah sesuatu yang tidak dimiliki Melati saat ini. Sebagai seorang ibu yang menyayangi anaknya melebihi nyawanya sendiri, bagaimana mungkin Siska bisa berdiri diam melihat putrinya mati perlahan? Sebagai wanita karier yang tangguh, Siska biasanya selalu tampil dominan dan memegang kendali. Namun, saat ini ia menyadari betapa tak berdayanya ia di hadapan maut. Rasa putus asanya sama persis dengan ibu-ibu pada umumnya.
Melihat ekspresi wajah Siska yang berkerut menahan penderitaan, Rendi sangat tahu bahwa pertahanan wanita itu mulai goyah. Senyum kemenangan yang menjijikkan terukir di wajah pria itu. Memanfaatkan momen ini, ia sengaja menurunkan nada suaranya menjadi sangat lembut dan menggoda.
"Siska... sejujurnya, di lubuk hatiku yang terdalam, aku masih sangat mencintaimu. Asalkan kau bersedia rujuk dan menikah lagi denganku, aku berjanji akan menghabiskan sisa hidupku untuk menebus kesalahanku padamu dan Melati. Begitu kau mengangguk, Melati tidak hanya akan sembuh dari penyakitnya, tapi ia juga akan kembali memiliki sosok ayah yang sangat menyayanginya. Bukankah keluarga yang utuh dan bahagia adalah impian terbesarmu? Kenapa kau harus ragu?"
Siska sangat tahu bahwa semua kalimat romantis itu tak lebih dari sekadar omong kosong dan kebohongan belaka. Namun, bayangan tentang penderitaan Melati terus menghantui pikirannya. Setelah terdiam cukup lama dalam pergulatan batin yang sangat menyiksa, ia akhirnya buka suara dengan susah payah.
"Aku... aku bisa menyerahkan seluruh saham perusahaanku, semua uang di rekeningku, dan semua aset properti atas namaku padamu. Ambil semuanya! Tapi untuk rujuk... aku tidak bisa!"
Mendengar tawaran Siska yang rela menyerahkan seluruh kekayaannya, jantung Rendi seketika berdebar kencang karena serakah. Namun, insting liciknya segera menguasai akal sehatnya. Ia memperingatkan dirinya sendiri agar tidak dibutakan oleh keuntungan jangka pendek dan melepaskan 'ikan paus' yang lebih besar. Penyakit Melati adalah celah emas yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup untuk memeras keluarga Siska secara maksimal! Dibandingkan dengan aset perusahaan Siska, status sebagai 'Menantu Resmi Wakil Gubernur' jelas jauh lebih menggiurkan dan menguntungkan. Asalkan ia berhasil mengamankan status itu, kekuasaan dan koneksi yang bisa ia nikmati tidak ternilai harganya. Lagi pula, jika ia berhasil menikahi Siska, bukankah secara otomatis seluruh hartanya akan jatuh ke tangannya juga?
Memikirkan kalkulasi licik itu, Rendi menggelengkan kepalanya pelan dan berkata dengan nada yang sangat mutlak. "Jangan buang waktumu untuk tawar-menawar denganku. Syarat pernikahan ini tidak bisa diganggu gugat. Kalau kau tidak mau... ya sudah, bersiap-siaplah mengubur anak perempuan itu!"
"Rendi! Kau benar-benar bukan manusia!" Siska tak sanggup lagi menahan amarahnya. Wajahnya sedingin es saat ia membentak tertahan, "Bisa-bisanya kau membiarkan anak kandungmu sendiri mati hanya demi memuaskan ketamakanmu! Kau ini binatang!"
"Terima kasih atas pujiannya," Rendi mengangkat bahu dengan raut tak peduli. "Sebenarnya kau dan aku tidak ada bedanya, Siska. Bukankah kau juga sama egoisnya? Kau rela membiarkan anakmu mati perlahan karena kau menolak mengorbankan dirimu sendiri untuk menikahiku, kan?"
Kalimat pamungkas Rendi itu sukses membungkam Siska. Pertahanan mentalnya runtuh seketika. Ia menundukkan kepalanya, kembali terperosok ke dalam pergumulan batin yang luar biasa menyiksa. Cukup lama ia terdiam, sebelum akhirnya ia mendongak. Kabut kebingungan di matanya telah sirna, digantikan oleh sorot kepasrahan yang hampa. Menatap Rendi, ia berkata pelan dari sela-sela giginya, "Baik... aku setu..."
Belum sempat Siska merampungkan kalimat "setuju", pintu kamar rawat isolasi Melati mendadak didorong terbuka dengan sangat kasar hingga menghantam dinding.
Brak!
Sesosok pria berjas putih dokter dengan masker menutupi wajah menerjang keluar, membuat Siska dan Rendi terlonjak kaget.
Pria berjas putih itu tentu saja adalah Banyu! Mendengar Siska yang putus asa nyaris saja menyerah pada tuntutan iblis itu, Banyu tak bisa lagi duduk diam dan bersembunyi. Mengabaikan risiko ketahuan telah menguping, ia menerobos keluar.
Awalnya Siska dan Rendi mengira pria itu adalah dokter spesialis yang sedang berjaga, sehingga mereka refleks melangkah mundur untuk memberinya jalan. Namun anehnya, dokter itu justru berhenti tepat di hadapan Rendi. Tanpa peringatan apa pun, kaki dokter itu melesat secepat kilat dan mendarat telak di perut Rendi!
BUAGH!
Tendangan Banyu kali ini dilandasi oleh amarah yang membara, tentu saja kekuatannya tidak main-main. Rendi yang sama sekali tak menduga serangan itu langsung terpental mundur. Karena lantai lorong rumah sakit itu terbuat dari marmer yang licin, tubuh Rendi terseret mundur sejauh beberapa meter hingga akhirnya menghantam keras dinding di ujung lorong dengan suara berdebum.
Melihat seorang "dokter" mendadak melepaskan serangan brutal pada keluarga pasien tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Siska berdiri mematung. Otaknya blank, tak mampu merespons adegan absurd tersebut.
Karena sudah terlanjur beraksi, Banyu tidak punya alasan lagi untuk menyembunyikan identitasnya. Ia merenggut masker medis dari wajahnya, menatap Rendi dengan sorot mata sedingin es, dan mendesis penuh ancaman. "Kau masih ingat apa yang pernah kukatakan padamu saat kita bertemu dulu? Kuperingatkan, setiap kali aku melihat wajah brengsekmu, aku akan menghajarmu sampai babak belur!"
Tepat saat Banyu melayangkan tendangannya pada Rendi, perawat muda yang sebelumnya menegur Banyu kebetulan sedang melintas. Melihat adegan "dokter" menganiaya keluarga pasien secara brutal, suster itu terbelalak ngeri. Seumur hidupnya bekerja di rumah sakit, ia belum pernah melihat ada tenaga medis yang begitu beringas menghajar orang! Namun, saat Banyu melepaskan maskernya, keterkejutan suster itu berubah menjadi kengerian absolut. Pria brutal ini ternyata adalah pemuda ramah yang tadi sempat berdebat dengannya! Teringat bahwa ia sempat menghardik dan memarahi pria psikopat ini, wajah si perawat seketika pucat pasi. Ia memutar tubuhnya dan berlari terbirit-birit kembali ke pos jaga.
Siska akhirnya tersadar dan mengenali wajah pria di balik jas dokter itu. Melihat Banyu tanpa ragu maju membela dan melindunginya, hati Siska dipenuhi oleh rasa haru yang mendalam sekaligus kecemasan. Ia buru-buru meraih lengan Banyu dan menahannya, "Banyu, jangan pukuli dia lagi! Penyakit Melati..."
"Aku bisa menyembuhkan penyakit Melati! Kau tak perlu mengemis pada bajingan ini!" Banyu memotong ucapan Siska. Ia menatap wanita itu dengan tatapan kesal namun penuh kepedulian. "Dan kau... hebat sekali ya! Bisa-bisanya kau menyembunyikan masalah sebesar ini dariku?! Hmph, awas saja! Begitu Melati sembuh, aku akan menagih perhitungan denganmu!"
Meskipun nada bicara Banyu terdengar kasar dan mengomel, anehnya, kalimat itu justru membuat suasana hati Siska berubah secerah langit tak berawan. Ia memiliki kepercayaan absolut pada Banyu. Karena pria ini sudah menggaransi bahwa ia bisa menyembuhkan Melati, maka putrinya pasti akan selamat. Fakta itu tak perlu diragukan lagi!
Dengan perasaan lega yang luar biasa, Siska tersenyum manis dan menjawab dengan nada manja penuh rasa bersalah, "Maafkan aku karena tidak langsung memberitahumu. Habisnya... aku tidak tahu kalau kemampuan medismu sehebat ini sampai-sampai bisa mengobati Leukemia!"
Sementara itu, Rendi yang tadi terkapar di sudut lorong perlahan mulai bisa merangkak bangun sambil memegangi perutnya yang mulas. Melihat Siska yang biasanya sedingin gunung es kini justru tersenyum manis dan berbicara dengan nada manja pada Banyu, mata Rendi membelalak lebar tak percaya. Seingatnya, selama bertahun-tahun pernikahan mereka, tak sekalipun Siska pernah menunjukkan sikap selemah lembut dan se-submisif itu padanya! Rasa iri, cemburu, dan kebencian seketika menggerogoti hati Rendi.
Menyadari bahwa rencana pemerasan sempurnanya kembali dihancurkan oleh Banyu, dan harapannya untuk rujuk dengan Siska kini benar-benar musnah, akal sehat Rendi diliputi oleh kemarahan buta. Ia memutuskan untuk melancarkan serangan terakhirnya yang paling nekat.
Berpegangan pada dinding, Rendi berdiri tertatih-tatih. Ia menatap Banyu dan Siska dengan pandangan penuh dendam kesumat, lalu berdesis tajam, "Oh... ternyata pria selingkuhan ini lagi! Tak kusangka kalian berdua masih terus berhubungan! Hei, anak muda! Apakah kau tidak tahu kalau wanita ini adalah istri orang?! Benar-benar sepasang bajingan tak tahu malu!"
Banyu, yang sudah tahu seluruh borok masa lalu pernikahan Siska dan Rendi, mendengus sinis menanggapi fitnah murahan itu. "Siska sudah lama resmi bercerai denganmu. Jadi tak usah repot-repot memutarbalikkan fakta untuk mengadu domba kami. Percuma! Oh ya, kalau kau masih belum mau pergi dari sini... kau mau kulempar keluar lewat jendela, hah?!"
Gertakan Banyu yang sarat akan niat membunuh sukses membuat nyali Rendi ciut. Ia mundur selangkah, lalu menaikkan volume suaranya dan berteriak menantang ke arah Siska, "Kuberikan satu kesempatan terakhir! Kau mau rujuk denganku atau tidak?!"
Karena Banyu sudah menggaransi kesembuhan putrinya, Siska tentu tak sudi berurusan dengan mantan suami iblis ini lagi. Ia menggelengkan kepalanya dengan sangat tegas.
"Bagus! Kalau begitu jangan salahkan aku kalau aku bertindak kejam!" Wajah Rendi berkerut penuh kebencian. "Kalaupun kalian berhasil menyembuhkan anak sialan itu, aku pastikan kau akan kehilangan dia untuk selamanya! Besok pagi aku akan mengajukan gugatan ke pengadilan untuk merebut hak asuh anak! Kita lihat saja siapa yang akan menang!"
Mendengar ancaman itu, raut wajah Siska berubah drastis. Dengan suara gemetar menahan amarah, ia membentak, "Kau berani mencobanya?!"
"Kenapa tidak berani?!" Rendi tertawa mengerikan. "Akan kusulut skandal ini dan kusebarkan ke seluruh media massa! Mari kita lihat, apakah opini publik akan membela ayah kandung yang mencari keadilan, atau malah membela putri Wakil Gubernur yang arogan!"
Ancaman Rendi bagaikan palu godam yang menghantam jantung Siska. Ia sangat sadar bahwa pria tak tahu malu ini sanggup melakukan apa pun demi memuaskan egonya. Jika masalah ini sampai menjadi konsumsi publik, dampaknya tidak hanya akan menghancurkan reputasi dan kariernya, tapi juga akan menyeret nama baik ayahnya, Pak Wijaya, ke dalam lumpur skandal! Namun, yang paling mengerikan dari semua itu adalah... skandal publik ini pasti akan meninggalkan luka trauma psikologis yang sangat mendalam bagi Melati. Siska tak sanggup membayangkan seberapa hancurnya hati putrinya nanti.
Melihat Siska pucat pasi ketakutan, Rendi tahu ia telah menekan tombol kelemahan yang tepat. Ia melanjutkan ancamannya dengan nada lambat yang menyiksa, "Setelah pengadilan mengabulkan hak asuhnya padaku, aku berjanji akan 'merawat' anak itu dengan sangat baik! Selama ini dia sudah terbiasa hidup mewah bak putri raja. Sudah saatnya dia merasakan penderitaan dan siksaan hidup sebagai anak miskin! Tapi tenang saja, aku pastikan dia tidak akan mati kelaparan!"
Meskipun Rendi mengucapkan ancaman itu dengan nada pelan dan santai, di telinga Siska, kalimat itu jauh lebih mengerikan dari kutukan iblis mana pun. Dunianya serasa berputar cepat, pandangannya menggelap, dan kakinya melemas. Jika Banyu tidak sigap menangkap pinggangnya, Siska pasti sudah ambruk ke lantai.
Melihat Siska nyaris pingsan akibat ancamannya, Rendi merasa sangat puas dan bersiap melontarkan hinaan selanjutnya.
Namun, mana mungkin Banyu membiarkan binatang ini berbuat sesukanya? Banyu menerjang maju bagai kilat, mencengkeram kerah kemeja Rendi dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya langsung menampar wajah pria itu bolak-balik tanpa ampun!
PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!
Suara tamparan nyaring bergema berturut-turut di lorong rumah sakit itu. Dalam sekejap mata, pipi Rendi membengkak mengerikan seperti disengat kawanan lebah.
Banyu benar-benar muak melihat kelakuan tak tahu malu Rendi. Ia bertekad untuk memberinya pelajaran fisik yang tak akan bisa ia lupakan. Meski Banyu tidak mengerahkan seluruh tenaga supernya, tamparan itu sudah cukup membuat Rendi babak belur. Mulutnya penuh dengan darah, dan beberapa buah gigi geraham belakangnya sampai copot terlempar ke lantai.
Rendi pada dasarnya hanyalah pengecut yang beraninya menindas wanita dan bermain intrik licik. Menghadapi lawan yang murni mengandalkan kekerasan fisik mematikan seperti Banyu, ia sama sekali tak berkutik. Setelah menerima rentetan tamparan brutal itu, nyalinya hancur lebur. Dengan mulut penuh darah dan suara yang tak jelas, ia meratap memohon ampun, "Ampun! Tolong jangan pukul lagi! Aku janji nggak akan berani lagi! Lepaskan aku!"
Tentu saja Banyu tidak mungkin membunuh pria itu di tengah lorong rumah sakit. Setelah merasa cukup memberikan "pelajaran", ia melepaskan cengkeramannya dan membiarkan Rendi kabur.
Namun, sifat licik dan busuk Rendi memang sudah mendarah daging. Begitu ia berhasil lari menjauh dan melompat masuk ke dalam lift, tepat sedetik sebelum pintu lift tertutup rapat, ia kembali berteriak menantang dari dalam sana, "Siska! Ingat kata-kataku! Aku pasti akan menuntut hak asuh anak! Tunggu saja tanggal mainnya!"
Melihat bajingan itu masih belum jera, Banyu berpura-pura hendak menerjang ke arah lift. Rendi yang panik ketakutan langsung menekan tombol tutup berulang kali, lalu kabur dengan pengecut layaknya anjing pecundang.
"Cih, dasar sampah!" Banyu meludah ke arah lift dengan jijik. Namun, saat ia menoleh kembali ke arah Siska, ia menyadari ada yang salah. Raut wajah Siska terlihat sangat hancur dan diselimuti keputusasaan absolut, seolah-olah hari kiamat baru saja tiba.