NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Kota yang Belum Berubah

Dua puluh delapan hari.

Itulah waktu yang dihabiskan Lin Chen di Gunung Cang Lei.

Dua puluh delapan hari yang mengubah hidupnya sepenuhnya.

Ia datang sebagai pemuda yang dibuang oleh klannya, dianggap tidak memiliki masa depan, dan dipandang sebagai beban yang memalukan.

Kini, ia meninggalkan gunung itu sebagai seseorang yang bahkan dunia kultivasi mungkin belum memiliki istilah yang tepat untuk menggambarkannya.

Lin Chen berdiri di batas hutan, di tempat pepohonan raksasa mulai berkurang dan jalan setapak berbatu menuju dunia luar kembali terlihat.

Pagi baru saja tiba.

Matahari perlahan muncul dari balik pegunungan, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut ke seluruh lembah. Udara masih menyimpan kesejukan malam, sementara embun pagi berkilau di atas dedaunan.

Di sampingnya, Huo Ling'er berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada.

Ekspresinya tetap tenang seperti biasa.

Sulit ditebak.

Sulit dibaca.

Seolah ia hanya menunjukkan apa yang memang ingin ia tunjukkan kepada dunia.

"Kau benar-benar ingin kembali ke sana dulu?"

Huo Ling'er memecah keheningan.

Nada suaranya tidak terdengar khawatir.

Lebih seperti seseorang yang ingin memastikan keputusan itu sudah dipikirkan dengan matang.

Lin Chen mengangguk pelan.

"Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan."

Huo Ling'er melirik ke arahnya. "Hal yang harus diselesaikan?"

Ia mengangkat alis. "Atau dendam yang belum terbayar?"

Lin Chen terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis.

"Kadang-kadang keduanya adalah hal yang sama."

Huo Ling'er tidak langsung menjawab. Namun sudut bibirnya bergerak sedikit.

Sangat tipis. Hampir tidak terlihat.

Lin Chen memilih untuk tidak membahasnya.

Mereka pun mulai menuruni gunung.

Perjalanan yang sebelumnya terasa panjang kini jauh lebih mudah.

Saat pertama kali memasuki Gunung Cang Lei, Lin Chen membutuhkan tiga hari penuh untuk mencapai bagian dalam hutan.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

Bukan karena jaraknya berubah.

Melainkan karena dirinya yang telah berubah.

Sebagai kultivator Tahap Pembentukan Inti Tingkat Menengah, tubuhnya jauh lebih kuat dan lebih responsif dibanding sebelumnya.

Setiap langkah terasa ringan.

Setiap gerakan berlangsung alami.

Tanah yang tidak rata, akar pohon yang menjulur, dan bebatuan yang dulu menghambat kini tidak lagi menjadi masalah.

Tubuhnya secara otomatis menyesuaikan diri dengan medan.

Seolah seluruh lingkungan berada dalam jangkauan indranya.

Di sisi lain, Huo Ling'er bergerak bahkan lebih efisien.

Setelah kekuatan Phoenix dalam dirinya mulai terbangun, cara ia bergerak berubah drastis.

Langkahnya ringan.

Cepat.

Dan nyaris tanpa suara.

Kadang-kadang Lin Chen merasa gadis itu lebih mirip nyala api daripada manusia.

Api yang melompat dari satu titik ke titik lain tanpa pernah benar-benar menyentuh tanah.

Ia memperhatikan hal itu beberapa kali.

Namun tidak mengatakannya.

Selama beberapa minggu bersama, ia sudah belajar satu hal penting.

Huo Ling'er tidak suka dikomentari tentang sesuatu yang sudah ia sadari sendiri.

Mereka terus berjalan.

Ketika melewati sebuah tebing yang menghadap ke arah selatan, Lin Chen tiba-tiba menghentikan langkahnya.

Huo Ling'er ikut berhenti.

Di hadapan mereka terbentang pemandangan luas yang menakjubkan.

Lembah hijau membentang sejauh mata memandang.

Kabut tipis pagi hari masih menggantung di beberapa bagian.

Dan jauh di kejauhan, Kota Langit Biru tampak berdiri dengan tenang di bawah cahaya matahari pagi.

Dari ketinggian ini, kota itu terlihat kecil.

Seperti miniatur yang dibuat dengan sangat detail.

Atap-atap bangunan memantulkan cahaya keemasan.

Asap tipis mulai naik dari rumah rumah warga.

Jalan-jalan utama perlahan dipenuhi aktivitas pagi.

Kehidupan berjalan seperti biasa.

Seolah tidak ada yang berubah.

Padahal bagi Lin Chen, segalanya sudah berbeda.

Di salah satu sudut kota itu berdiri kediaman Klan Lin.

Meski tidak bisa melihatnya dengan jelas dari jarak sejauh ini, Lin Chen tahu persis letaknya.

Ia pernah menghabiskan seluruh hidupnya di sana.

Pernah menganggap tempat itu sebagai rumah.

Dan pernah dibuang olehnya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Suara Huo Ling'er terdengar dari samping.

Lin Chen tetap menatap ke arah kota.

Beberapa saat berlalu sebelum ia menjawab.

"Aku hanya menyadari satu hal."

"Apa?"

Lin Chen tersenyum tipis.

"Kota yang sama bisa terlihat sangat berbeda, tergantung dari mana kita memandangnya."

Huo Ling'er mengikuti arah pandangannya.

Matanya tertuju pada Kota Langit Biru yang tampak kecil di kejauhan.

Ia tidak berkata apa-apa.

Namun kali ini ia juga tidak segera mengalihkan pandangan.

Keduanya berdiri dalam diam selama beberapa saat.

Memandang kota yang menjadi tujuan mereka berikutnya.

Memandang masa lalu yang sedang menunggu di bawah sana.

Kemudian Lin Chen menarik napas panjang.

"Sudah waktunya."

Huo Ling'er mengangguk.

***

Kota Langit Biru tidak banyak berubah selama dua puluh delapan hari terakhir.

Memang seharusnya begitu.

Dua puluh delapan hari mungkin cukup untuk mengubah hidup seseorang secara drastis, tetapi tidak cukup lama untuk mengubah sebuah kota.

Warung bakpao yang sama masih berdiri di sudut jalan masuk.

Aroma adonan kukus yang hangat masih memenuhi udara pagi.

Para pedagang masih meneriakkan dagangan mereka dari tempat yang sama.

Pasar pagi tetap ramai seperti biasanya.

Orang-orang tetap menjalani kehidupan mereka tanpa mengetahui bahwa dunia seseorang bisa berubah hanya dalam hitungan minggu.

Yang berubah hanyalah Lin Chen.

Dan cara ia berjalan di kota itu.

Dahulu, ia selalu berjalan dengan tenang dan tidak mencolok.

Tidak menundukkan kepala, tetapi juga tidak mengangkatnya terlalu tinggi.

Cara berjalan seseorang yang telah terbiasa diabaikan.

Bukan karena takut pada orang lain, melainkan karena ia sudah memahami bahwa semakin sedikit perhatian yang diterimanya, semakin sedikit pula hinaan yang harus didengarnya.

Namun sekarang berbeda.

Langkahnya masih tenang.

Masih sederhana.

Tetapi ada sesuatu yang tidak terlihat yang menyertainya.

Sebuah aura kepercayaan diri yang lahir dari kekuatan dan keyakinan.

Beberapa pejalan kaki tanpa sadar memberi jalan ketika ia lewat.

Seorang penjaga gerbang kota yang biasanya memeriksa setiap pendatang hanya melirik sekilas sebelum mengalihkan pandangannya.

Tidak ada yang menyadari alasannya.

Mereka hanya merasakan bahwa pemuda itu bukan orang biasa.

Di belakangnya, Huo Ling'er berjalan dengan tenang.

Tatapannya terus mengamati lingkungan sekitar.

Tidak mencolok, tetapi tidak ada satu sudut pun yang luput dari perhatiannya.

"Kota yang cukup kecil." Komentarnya singkat.

Lin Chen tersenyum tipis. "Itu tergantung dibandingkan dengan apa."

Huo Ling'er melirik ke sekeliling. "Bagi sekte besar, tempat ini bahkan tidak akan dianggap kota penting."

"Itu benar." Lin Chen mengangguk.

"Tapi bagi klan-klan kultivasi tingkat menengah dan rendah, Kota Langit Biru sudah termasuk cukup berkembang."

Huo Ling'er kembali mengamati jalanan. "Lalu Klan Lin berada di mana?"

"Di bagian timur laut kota." Lin Chen menunjuk ke kejauhan. "Sekitar seperempat jam berjalan kaki dari sini."

Huo Ling'er mengira mereka akan langsung menuju ke sana.

Namun Lin Chen justru mengubah arah langkahnya.

"Bukan ke sana?" tanyanya.

Lin Chen menggelengkan kepalanya. "Aku perlu mengetahui situasi terkini."

"Aku sudah hampir sebulan meninggalkan kota ini."

"Lebih baik mencari informasi sebelum mengambil langkah berikutnya."

Huo Ling'er mempertimbangkan jawabannya sejenak.

Kemudian mengangguk.

Pendekatan yang hati-hati selalu lebih baik daripada bertindak berdasarkan asumsi.

Tak lama kemudian, mereka memasuki sebuah kedai teh di pinggir jalan.

Bangunannya sederhana.

Hanya terdiri dari beberapa meja kayu tua yang sudah mengilap karena usia dan penggunaan bertahun-tahun.

Dua tungku kecil di sudut ruangan menghangatkan udara pagi yang masih dingin.

Di balik meja kasir berdiri seorang pria setengah baya bertubuh gemuk dengan kumis tipis yang melengkung ke atas.

Lin Chen memilih meja di sudut ruangan.

Posisi yang membelakangi dinding dan menghadap langsung ke pintu masuk.

Kebiasaan lama yang kini sudah menjadi naluri.

Dari tempat itu, ia bisa melihat seluruh ruangan tanpa menarik perhatian.

Mereka memesan dua cangkir teh hangat.

Setelah itu, Lin Chen tidak lagi berbicara. Ia hanya duduk dan mendengarkan.

Kedai teh selalu menjadi tempat terbaik untuk mencari kabar.

Orang-orang datang membawa cerita.

Dan sebagian besar dari mereka tidak sadar bahwa mereka sedang membagikan informasi berharga.

Tidak sampai sepuluh menit, Lin Chen sudah mendapatkan apa yang ia cari.

Klan Lin ternyata sedang berada dalam situasi yang kurang baik.

Turnamen Sekte Bulan Perak yang berlangsung dua minggu lalu berakhir dengan hasil mengecewakan.

Perwakilan Klan Lin tersingkir pada babak kedua.

Kekalahan itu cukup memalukan karena mereka dikalahkan oleh klan yang selama ini dianggap setara.

Akibatnya, reputasi Klan Lin kembali menurun.

Lin Chen juga mendengar nama yang sudah lama tidak ia dengar.

Wei Hao.

Sepupunya itu dikirim sebagai salah satu wakil utama klan.

Namun penampilannya jauh dari harapan.

Beberapa orang bahkan berbisik bahwa tekanan besar yang dipikulnya membuat performanya tidak stabil selama turnamen berlangsung.

Lin Chen tidak terlalu peduli dengan hal itu.

Namun informasi berikutnya menarik perhatiannya.

Paman Lin Hai ternyata sedang melakukan negosiasi dengan Sekte Fajar Besi.

Sebuah sekte tingkat menengah yang sudah lama ingin memperluas pengaruhnya di wilayah Kota Langit Biru

Jika kerja sama itu terjadi, posisi Klan Lin kemungkinan besar akan berada di bawah kendali sekte tersebut.

Bagi sebagian orang, itu mungkin terlihat seperti peluang.

Namun bagi Lin Chen, itu lebih mirip awal dari ketergantungan yang berbahaya.

Ia mengangkat cangkir tehnya.

Minuman itu sudah mulai dingin.

Namun pikirannya justru semakin jernih.

Kini ia memahami kondisi Klan Lin jauh lebih baik dibanding sebelum memasuki kedai ini.

"Sudah mendapatkan jawaban yang kau cari?" tanya Huo Ling'er pelan.

Lin Chen meletakkan cangkirnya. "Cukup."

Ia berdiri dari kursinya.

Beberapa keping koin ditinggalkan di atas meja sebagai pembayaran.

Tatapannya mengarah ke luar jendela, ke arah timur laut kota.

Ke arah tempat yang pernah ia sebut rumah.

"Kalau begitu," kata Huo Ling'er sambil ikut berdiri, "sekarang kita ke Klan Lin?"

Lin Chen terdiam sejenak. Kemudian senyum tipis muncul di wajahnya.

Senyum yang tenang. Namun mengandung makna yang dalam.

"Ya."

"Kini saatnya kembali."

Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Gunung Cang Lei, langkah Lin Chen tidak lagi menuju masa depan yang belum jelas.

Melainkan menuju masa lalu yang sedang menunggunya.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!