Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teh Hangat dan Rumah yang Sebenarnya
Suasana kontras yang luar biasa terjadi beberapa kilometer dari kediaman mewah Naira.
Motor bebek tua Rama membelah malam, memasuki gang sempit pemukiman padat penduduk, dan berhenti di depan sebuah rumah sederhana berdinding papan yang sebagian catnya sudah mengelupas. Rama mematikan mesin, melepas helmnya, lalu berjalan masuk sambil menenteng kantong plastik putih dari Indomaret menggunakan tangan kiri.
Begitu pintu depan yang sedikit berdecit itu dibuka, aroma tumis kangkung hangat dan bau minyak telon langsung menyambut indra penciumannya.
"Loh, Rama? Baru pulang, Nak?"
Ibu Rama yang sedang melipat kain di ruang tengah langsung berdiri. Namun, begitu Rama melangkah masuk di bawah pendar lampu bohlam kuning yang agak redup, langkah Ibu mendadak terhenti. Mata wanita paruh baya itu membelalak panik melihat perban putih yang melilit tebal di tangan kanan anak sulungnya, belum lagi lebam kebiruan di sudut bibirnya.
"Astagfirullah, Rama! Kamu kenapa?!" pekik Ibu histeris. Suaranya yang panik langsung memancing Bapak yang sedang memperbaiki kipas angin di dapur untuk berlari ke depan, diikuti oleh Dika, adik laki-laki Rama yang masih duduk di bangku SMP.
"Kak Rama! Itu tangannya kenapa?" Dika ikut heboh, matanya melotot menatap perban itu dengan ngeri.
Bapak langsung memegang bahu Rama, wajahnya yang penuh kerutan tampak sangat khawatir. "Kamu berantem, Ram? Atau jatuh dari motor? Ayo, duduk dulu, duduk!"
Rumah kecil itu mendadak heboh. Ibu dengan cekatan menuntun Rama untuk duduk di sofa ruang tamu yang busanya sudah agak kempes. Rama hanya bisa tersenyum tipis, mencoba menenangkan keluarganya yang tampak seperti melihat korban kecelakaan parah.
"Rama gak apa-apa, Bu, Pak. Ini cuma luka kecil," ucap Rama dengan nadanya yang lempeng seperti biasa.
"Kecil gimana?! Itu sampai diperban begitu, bibirmu juga biru!" omel Ibu, matanya sudah berkaca-kaca karena cemas. Beliau langsung mengelus rambut Rama dengan sayang. "Cerita sama Bapak sama Ibu, ada apa?"
Rama mengembusen napas pendek, lalu mulai bercerita dengan jujur tapi dengan nada yang santai agar tidak membuat orang tuanya makin jantungan. Dia menceritakan tentang temannya yang bannya bocor di jalan sepi, lalu ada tiga begal yang mencoba menyerang, dan bagaimana dia terpaksa menggunakan sedikit ilmu karatenya untuk melindungi temannya itu sampai akhirnya mereka ke klinik.
Mendengar cerita itu, raut wajah Ibu yang tadinya panik berubah menjadi penuh rasa khawatir yang lain. Beliau langsung memegang tangan Rama yang bebas. "Ya Allah, Ram... terus gimana keadaan temanmu itu? Dia gak apa-apa, kan? Gak terluka?"
"Naira gak apa-apa, Bu. Cuma syok aja tadi, makanya langsung Rama temenin sampai bannya selesai ditambal dan dia aman masuk mobil," jawab Rama menenangkan ibunya.
Ibu mengembuskan napas lega, lalu matanya beralih menatap kantong plastik Indomaret yang diletakkan Rama di atas meja. "Terus itu plastik apa yang kamu bawa, Ram? Kamu habis beli makanan?"
"Oh, ini dari Naira, Bu. Tadi dia maksa mampir ke Indomaret buat beliin Rama obat plester, roti, sama minuman isi ulang buat bekal besok," kata Rama sambil membuka sedikit plastik itu, memperlihatkan isinya.
Ibu tersenyum haru, matanya berbinar. "Alhamdulillah, temenmu baik sekali, Le. Berarti dia bener-bener berterima kasih sama kamu. Besok-besok kalau ketemu lagi, sampein salam dan terima kasih dari Ibu ya, udah urusin kamu ke klinik juga."
"Iya, Bu."
Di tengah obrolan itu, Dika tiba-tiba muncul dari arah dapur. Anak laki-laki itu berjalan hati-hati sambil membawa sebuah piring berisi nasi putih hangat, sepotong tempe goreng, dan tumis kangkung sisa makan malam mereka, lengkap dengan segelas teh manis hangat yang asapnya masih mengepul.
"Nih, Kak, makan dulu. Pasti capek habis berantem sama penjahat," ucap Dika polos, meletakkan piring itu di atas meja kayu di depan Rama. "Keren banget sih, bisa menang lawan tiga orang. Besok-besok ajarin Dika ya!"
"Huss! Malah minta diajarin berantem," tegur Ibu sambil menjewer pelan telinga Dika, membuat anak itu meringis tapi tetap cengengesan.
Rama terkekeh pelan. Dia menatap sepiring makanan sederhana di depannya, lalu menatap wajah Ibu, Bapak, dan adiknya yang kini memandangnya dengan penuh kasih sayang dan rasa aman. Tidak ada cacian, tidak ada tuntutan seperti di rumah mewah Naira yang ada hanyalah pelukan hangat dan kekhawatiran yang tulus karena mereka takut kehilangan dirinya.
Rama meraih sendok dengan tangan kirinya yang bebas, lalu mulai menyuap nasi hangat itu ke dalam mulutnya. Rasanya luar biasa nikmat, jauh lebih mengenyangkan daripada makanan mahal apa pun.
Sambil mengunyah, Rama meraba kantong jaketnya, merasakan ponselnya bergetar pelan. Dia tahu itu pasti notifikasi dari Naira yang mengabarkan apakah dia sudah sampai rumah atau belum. Di tengah kesederhanaan rumahnya yang sempit, Rama menyadari satu hal, dia adalah cowok paling beruntung di dunia karena memiliki tempat pulang yang sesungguhnya.
Di kamar kofor yang luas namun terasa dingin itu, Naira masih duduk bersandar di balik pintu. Air matanya perlahan mulai mengering, menyisakan jejak tipis di pipinya. Dia menatap layar ponsel yang menyala terang, menampilkan pesan singkat dari Rama yang terasa begitu kontras dengan bentakan orang tuanya di lantai bawah.
Jemari Naira yang masih sedikit bergetar mulai mengetik balasan di atas papan ketik virtual. Dia menghapus dan menulis ulang kalimatnya beberapa kali, mendadak merasa gugup hanya untuk membalas sebuah pesan teks.
Setelah menimbang-nimbang dengan detak jantung yang kembali kejar-kejaran, Naira akhirnya menekan tombol kirim.
> Naira: Iya Ram, kamu juga ya istirahat yang cukup, jangan lupa diminum obatnya. Good night and sweet dreams, Rama..
Naira buru-buru membalikkan layar ponselnya ke atas kasur, seolah-olah jika dia menatapnya lebih lama, Rama bisa melihat wajahnya yang kembali memerah padam. Kalimat "Good night and sweet dreams" itu adalah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh Naira akan dia ucapkan kepada seorang cowok, apalagi cowok sekaku Rama.
Dia memeluk lututnya, menatap ke arah jendela kamar yang menampilkan kerlip lampu kota di kejauhan. Di dalam hatinya, ada perasaan hangat baru yang perlahan mengalir, mengusir rasa sepi dan dingin yang selama ini mengungkungnya di rumah mewah ini.
Sementara itu, di rumah sederhananya, Rama baru saja menyelesaikan suapan terakhir nasi goreng buatan ibunya. Dia meletakkan piring kosong itu ke meja, lalu meraba saku
celananya saat merasakan getaran pendek.
Rama membuka pesan dari Naira. Cowok lempeng itu membaca baris demi baris tulisan di layarnya. Begitu matanya menangkap kalimat terakhir, gerakan tangan Rama langsung terkunci.
"Good night and sweet dreams, Rama.."
Rama mengerjapkan matanya, menatap kata 'sweet dreams' itu selama beberapa detik seolah sedang membaca kode pemrograman yang rumit. Sudut bibirnya yang lebam mendadak menyudut, memaksanya untuk tersenyum kecil meski rasanya agak perih.
"Kak Rama kenapa senyum-senyum sendiri liat HP?" celetuk Dika yang sedang membereskan gelas teh di meja, membuat Rama langsung mematikan layar ponselnya dengan gerakan kilat.
"Enggak, bukan apa-apa. Udah sana tidur, udah malam," sahut Rama, kembali ke mode lempeng andalannya untuk menutupi rasa salah tingkah di depan adiknya.
Malam itu, di dua sudut kota yang berbeda kasta, dua remaja ini tertidur dengan isi kepala yang sama. Naira yang akhirnya bisa memejamkan mata dengan senyuman tipis tanpa merasa kesepian lagi, dan Rama yang berbaring sambil menatap langit-langit kamar, menyadari kalau hari Minggunya besok tidak akan pernah sama lagi.