Di sudut kota Bogor yang basah oleh hujan, Farrel (22 tahun) hanyalah seorang supir angkot jurusan Baranangsiang–Bubulak yang hidupnya di ujung tanduk.
Setiap hari ia harus menahan lapar, dicaci maki oleh kernet lain, difitnah mencuri uang setoran oleh mandor pangkalan, dan puncaknya: diputuskan oleh kekasihnya karena tidak mampu membelikan kuota internet. Modal hidupnya setiap hari setelah setoran hanyalah sebungkus nasi rames karet dua dan sebatang rokok eceran.
Namun, sebuah insiden pengeroyokan oleh oknum ormas di Terminal Baranangsiang mengubah takdirnya. Saat sekarat, sebuah suara mekanis bergema di otaknya: [Sistem Afeksi Kekayaan Berhasil Diaktifkan].
Sistem ini memberikan Farrel saldo tak terbatas, namun dengan syarat gila: uang tersebut hanya bisa digunakan untuk membiayai atau membelikan barang untuk wanita yang memiliki potensi afeksi (rasa suka) terhadapnya. Setiap kali persentase Favorability (tingkat kesukaan) wanita tersebut naik, saldo pribadi Farrel akan berlipat g
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 7
Raungan mesin V12 Lamborghini Aventador SVJ milik Farrel membelah sunyinya malam di jalur pendakian Puncak.
Jalanan yang basah dan berkelok-kelok tajam yang biasanya menjadi tantangan berat bagi para pengemudi kini dilalui Farrel dengan sangat mudah.
Kecepatan refleks dan koordinasi matanya yang telah ditingkatkan oleh sistem hingga angka 18 membuatnya mampu bermanuver di tikungan tajam dalam kecepatan tinggi tanpa kehilangan kendali sedikit pun.
Sekitar pukul sebelas malam, navigasi virtual sistem mengarahkannya ke sebuah gerbang besi hitam menjulang tinggi yang dijaga oleh pos sekuriti swasta.
Di papan nama kuningan yang berkilat, tertulis "Ganesha Luxury Villa".
Begitu Lamborghini hitam matte itu mendekat, palang pintu otomatis langsung terangkat. Seorang petugas sekuriti bertubuh tegap keluar, memberikan hormat dengan sangat takzim setelah kamera pemindai mengenali pelat nomor khusus dan wajah Farrel sebagai pemilik mutlak yang baru.
Farrel memarkir Mobil mewahnya di garasi luas yang muat untuk lima mobil. Begitu pintu mobilnya terangkat, ia melangkah keluar dan menatap bangunan di hadapannya.
Villa itu adalah sebuah mahakarya arsitektur modern minimalis yang bertingkat tiga, didominasi oleh dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah tebing curam.
Dari posisinya berdiri, Farrel bisa melihat hamparan lampu kota Bogor dan sisa kabut malam yang melayang di bawahnya. Sebuah kolam renang infinity pool dengan air hangat tampak mengepul tipis di halaman belakang.
【 Ding! Pengguna telah berhasil menempati aset Mega Bonus pertama: Villa Ganesha Luxury. 】
【 Asisten Rumah Tangga, Koki Pribadi, dan tim keamanan elit sebanyak 10 orang telah disiapkan oleh sistem dan siap mematuhi seluruh perintah Anda. Mereka memiliki loyalitas 100% dan identitas legal yang bersih. 】
Tepat setelah notifikasi itu muncul, seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas pelayan rapi melangkah keluar dari pintu utama, diikuti oleh dua orang pelayan wanita muda berpakaian seragam pelayan Prancis yang bersih.
"Selamat datang di kediaman Anda, Tuan Besar Farrel. Nama saya Malik, kepala pelayan di sini. Segala kebutuhan Anda telah kami siapkan,"
ucap pria paruh baya itu sambil membungkuk hormat sembilan puluh derajat.
Dua pelayan wanita di belakangnya mencuri pandang ke arah Farrel. Mereka terkejut melihat pemilik baru tempat semewah ini ternyata adalah seorang pria muda yang sangat tampan, bertubuh tegap atletis, namun hanya mengenakan kaus oblong murahan yang sedikit basah dan celana jin robek.
Kendati pakaiannya sederhana, aura dominan dan tatapan mata Farrel yang tajam membuat kedua pelayan muda itu merona merah dan menundukkan kepala dengan malu-malu.
"Terima kasih, Malik. Siapkan air hangat untuk saya mandi, dan buatkan makanan ringan. Saya agak lapar," perintah Farrel tenang, mengadaptasi peran barunya sebagai orang kaya dengan sangat cepat.
"Baik, Tuan Besar. Segera dilaksanakan," jawab Malik patuh.
Setengah jam kemudian, Farrel sudah berendam di dalam bak mandi mewah berisi air hangat dengan aroma terapi yang menenangkan. Sambil menyandarkan kepalanya di bantalan empuk, ia membuka ponsel jadulnya yang tampak sangat kontras dengan kemewahan di sekelilingnya.
Ia membuka aplikasi m-banking BCA miliknya untuk memastikan saldo pribadinya.
[BCA Mobile - Informasi Saldo]
Nomor Rekening: 174-xxxx-xxx
Nama Pemilik: Farrel Aditama
Saldo Efektif: Rp 320.000.000,00
Tiga ratus dua puluh juta rupiah uang tunai pribadi murni. Dua ratus juta dari kenaikan afeksi Nisa ke fase 65%, tujuh puluh juta dari adegan mesra di warung (72%), dan lima puluh juta dari bonus menghajar anak buah Hardi.
Farrel tersenyum sinis.
"Hardi... Ketua Cabang Ormas Pemuda Loreng. Lu bilang mau seret gua besok pagi, kan?"
Farrel menekan layar ponselnya, mencari kontak nomor telepon yang baru saja mengirimkan pesan singkat beberapa menit lalu.
Pesan itu berasal dari salah satu nomor rahasia sistem.
[Laporan Intelijen Sistem: PT Bogor Transportasi Utama kini telah sepenuhnya beralih ke tangan Anda.
Direktur Operasional perusahaan, Gunawan, adalah orang kiriman sistem yang loyal.
Beliau melaporkan bahwa Ormas Pemuda Loreng di bawah pimpinan Hardi selama ini memeras 20% pendapatan harian dari seluruh supir angkot dan bus yang bernaung di bawah PT Bogor Transportasi Utama dengan dalih uang keamanan.]
Membaca laporan itu, rahang Farrel mengeras. Ternyata akar dari penderitaannya dan teman-teman sesama supir angkot selama ini bermuara pada Hardi dan pejabat korup yang melindunginya.
PT Bogor Transportasi Utama adalah perusahaan raksasa, dan jika Hardi memotong 20% secara ilegal, nilai pemerasan itu bisa mencapai miliaran rupiah per bulan.
Farrel bangkit dari Bak mandinya, mengeringkan tubuhnya dengan jubah mandi beludru hitam yang lembut, lalu berjalan ke balkon kamar utamanya. Ia memanggil Malik melalui interkom di dinding.
"Malik, ke kamar saya sekarang."
Dalam hitungan detik, Malik sudah mengetuk pintu dan masuk dengan kepala tertunduk hormat.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Sistem bilang saya punya sepuluh orang tim keamanan elit di villa ini. Siapa pemimpin mereka?" tanya Farrel to the point.
"Pemimpin mereka bernama Tiger, Tuan. Dia adalah mantan komandan pasukan khusus tentara bayaran internasional."
"Dia dan sembilan anak buahnya memiliki keahlian taktis tingkat tinggi, intelijen, dan berafiliasi dengan jaringan persenjataan bawah tanah," jelas Malik tanpa ragu.
"Panggil Tiger untuk menghadap saya di ruang kerja sekarang."
"Ada tugas pertama yang harus dia selesaikan sebelum matahari terbit," ucap Farrel, matanya memancarkan kilat sedingin es.
Di ruang kerja yang berlapis kayu mahoni mewah, seorang pria bertubuh raksasa dengan tinggi hampir 190 sentimeter, berkulit legam, dan memiliki tatapan mata sebuas serigala masuk.
Dia mengenakan pakaian taktis hitam tanpa atribut. Begitu melihat Farrel, pria bernama Tiger itu langsung berlutut dengan satu kaki.
"Hadir, Tuan Besar Farrel! Nyawa dan kesetiaan kami adalah milik Anda," ucap Tiger, suaranya berat dan menggetarkan ruangan.
Farrel duduk di kursi kebesarannya, melipat kedua tangannya di atas meja.
"Tiger, besok pagi seorang ketua ormas bernama Hardi berniat menyerang sebuah warung soto di dekat Terminal Baranangsiang."
"Aku ingin kamu dan timmu mengawasi tempat itu sejak subuh."
Farrel menjeda kalimatnya, senyum licik terukir di wajahnya.
"Jangan habisi mereka di sana. Biarkan mereka datang dan pamer kekuatan. Begitu mereka mulai bertindak bodoh... tangkap Hardi hidup-hidup, kunci seluruh akses komunikasi anak buahnya, dan bawa dia ke gudang logistik tua di pinggiran terminal."
"Aku sendiri yang akan mengesekusinya untuk menjadi fondasi pertama dari faksi mafia kita: Grup Garuda Hitam."
"Dimengerti, Tuan Besar! Perintah Anda adalah hukum bagi kami!"
Tiger berdiri, memberi hormat militer dengan tegas, lalu mundur menghilang ke dalam kegelapan malam.
Farrel berjalan kembali ke arah jendela kaca besar, menatap kota Bogor di kejauhan yang masih diguyur sisa hujan.
"Hardi, nikmati malam terakhirmu sebagai penguasa jalanan. Besok pagi, fajar baru di Bogor adalah awal dari mimpi burukmu."