NovelToon NovelToon
Bumi 6026

Bumi 6026

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Penyelamat / Time Travel / Fantasi Isekai / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: imafi

Bumi, anak SMA biasa yang cuma jago ML, terbangun pada tahun 6026 untuk menjadi penolong dunia. Ia harus mencari sebuah daerah yang paling aman di muka bumi, tapi ia malah terdampar di wilayah yang hanya diisi oleh perempuan muda dan cantik. Pemimpin mereka ingin Bumi menghamili semua yang ada di sana, padahal ternyata mereka adalah...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Bab 25

Matahari yang berwarna keunguan, berada di atas kepala mereka. Setelah empat jam berjalan kaki – kebanyakan merangkak – melewati reruntuhan dan segala macam rintangan, seperti sedang main game betulan, Bumi, Nuri, dan Pam tiba di sebuah bendungan besar. Bendungan yang tampak terabaikan. Suara air mengalir deras, tapi tidak terlalu jelas.

“Sejauh ini aman,” Bumi berbisik pada Pam yang berusaha membuka pintu depan gedung bendungan itu. “Nggak ada jet yang ngikutin. Nggak ada hewan aneh yang nyerang kita.”

“Jangan jinx!” Nuri memukul pelan punggung Bumi.

“Bener kan?” Bumi kesal selalu jadi disalahkan.

“Kita nggak bisa lewat sini. Kita harus cari ventilasi!” Pam melihat ke bagian kanan dan kiri kantor itu. Tidak ada cctv, tapi juga tidak ada terlihat sama sekali ventilasi udara di sana.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari dalam pintu.

“Ada orang!” Pam mengajak Bumi dan Nuri sembunyi di balik sebuah tiang.

Pintu besar itu terbuka. Empat orang penjaga memakai baju hitam dari bawah sampai kepala, dengan menggunakan helm, membawa senjata dan alat komunikasi di dada mereka. Mereka melihat sekeliling.

“Kita bunuh mereka?” Bumi berbisik.

“Kalau tidak, mereka akan menangkap kita,” kata Pam mengangguk.

“Apa bisa?” Nuri tahu dia bisa melakukannya dengan tangan kosong, tapi kedua penjaga itu membawa senjata. “Mereka bawa senjata, memakai baju yang sepertinya anti peluru, dan kita cuma berdua.”

“Kita bertiga!” kata Pam melihat ke Bumi.

“Aku udah kasih tahu kamu, Pam. Bumi itu kerjanya mabar, nggak suka olahraga. Jangankan bunuh orang, bunuh semut aja dia yang kegigit!” Nuri terkekeh.

“Kak, liat!” Bumi membuka bajunya dan menunjukkan perutnya yang kotak kotak.

“Iya, aku udah liat badan kamu emang beda dari badan yang biasanya. Tapi tetep aja kan, kamu nggak bisa berkelahi?” tanya Nuri heran. “Kamu dulu diajak latihan karate, nggak pernah mau.”

“Tapi aku udah liat dia membunuh pemimpin maya immortal, kak,” kata Pam membela Bumi. “Dan dia juga pernah melawan hewan mutan di hutan.”

“Oh, sekarang kamu ada orang yang bela?” tanya Nuri melihat Bumi tersenyum menang.

“Sst! Mereka ke sini. Siap-siap!” Pam mengeluarkan senjata yang sudah dipinjamkan Nash. Dengan sekali tembak, satu penjaga langsung mati.

Salah satu dari mereka mengangkat sesuatu ke dekat mulutnya—alat komunikasi.

“Kontak—” suaranya teredam oleh masker.

“Jangan biarin dia panggil bantuan!” bisik Pam, suaranya tajam seperti ujung pisau.

Segalanya terjadi dalam satu detik yang terasa memanjang.

Bumi bergerak lebih dulu.

Ia berlari.

Langkahnya menghantam tanah dengan keras, napasnya langsung memburu. Dalam kepalanya hanya ada satu hal: jangan sampai suara itu keluar.

Penjaga itu sempat menoleh.

Terlambat.

Duk!

Kaki Bumi menghantam tangan penjaga itu, membuat alat komunikasi terlempar ke udara, jatuh, dan pecah di antara batuan.

“Serang!” teriak Pam.

Dan dunia yang tadi sunyi… pecah.

Perkelahian itu kacau, cepat, dan berbahaya.

Bumi berhadapan langsung dengan penjaga yang tadi hendak memanggil bantuan. Pria itu cepat—terlalu cepat. Tangannya bergerak seperti mesin, mencoba menghantam Bumi dengan pukulan bertubi-tubi.

Bumi menangkis sebisanya. Tangannya bergetar setiap kali benturan terjadi.

“Ayolah…” gumamnya, setengah panik.

Penjaga itu mengayunkan pukulan lagi.

Bumi menghindar tipis, lalu membalas dengan tendangan ke perut.

Buk!

Penjaga itu mundur satu langkah.

Cukup.

Bumi menarik senjatanya. Tangannya sedikit gemetar, tapi matanya fokus.

“Maaf…” bisiknya.

DOR!

Suara tembakan memecah udara.

Tubuh penjaga itu jatuh.

Bumi terdiam sesaat, napasnya tersengal. Ini bukan pertama kalinya ia menembak… tapi tetap saja, rasanya tidak pernah menjadi mudah.

Di sisi lain, Pam bergerak seperti bayangan yang tidak bisa ditangkap. Lawannya mencoba menyerang dengan senjata jarak dekat, tapi Pam selalu selangkah lebih cepat.

Ia berputar, meraih pergelangan tangan lawannya, memelintir—

Krek!

Suara patah terdengar.

Tanpa ragu, Pam merebut senjata itu dan menembak.

Singkat.

Tepat.

Efisien.

Penjaga kedua jatuh.

Pam langsung menoleh.

“Bumi—”

Tapi kata-katanya terhenti.

Karena di sisi lain…

Nuri terpojok.

Penjaga terakhir lebih besar, lebih kuat. Gerakannya kasar tapi bertenaga, seperti palu yang diayunkan tanpa henti.

Senjata Nuri sudah terlempar entah ke mana.

Ia menghindar ke kiri.

Ke kanan.

Napasnya mulai tidak teratur.

“Cepat… mikir…” gumamnya dalam hati.

Penjaga itu maju lagi, mencoba meraih lehernya.

Nuri menangkis, tapi tenaga mereka tidak seimbang. Ia terdorong ke belakang, punggungnya hampir menyentuh dinding beton yang retak.

Tidak ada ruang lagi.

Penjaga itu mengangkat senjatanya.

Matanya—atau apa pun yang tersembunyi di balik topeng itu—terlihat dingin.

Siap mengakhiri.

Untuk sepersekian detik, waktu melambat.

Nuri melihat semuanya.

Debu yang melayang.

Bayangan yang bergerak.

Dan… rasa takut yang jarang ia akui.

“Belum…” bisiknya pelan.

Di kejauhan, Bumi melihatnya.

Darahnya seperti berhenti mengalir.

“Kak…”

Tanpa berpikir, ia mengangkat senjatanya.

Tangannya gemetar.

Jaraknya tidak terlalu dekat.

Dan Nuri… terlalu dekat dengan target.

“Jangan salah… jangan salah…” gumamnya.

Jantungnya berdetak keras, seperti drum perang di dalam dadanya.

Penjaga itu mulai menekan pelatuk.

“Sekarang!” teriak Pam.

Bumi menarik napas.

Menahan.

Fokus.

Semua suara di sekitarnya menghilang.

Hanya ada garis lurus antara dirinya… dan target.

DOR!

Suara tembakan menggema.

Peluru melesat, memotong udara seperti garis tak terlihat.

Penjaga itu tersentak.

Tubuhnya kaku sesaat.

Lalu… jatuh.

Nuri terdiam.

Beberapa detik ia hanya berdiri, menatap tubuh di depannya, seperti belum sepenuhnya sadar bahwa ia masih hidup.

Lalu ia menoleh.

Bumi masih berdiri di sana, senjatanya sedikit turun, napasnya berat.

Mata mereka bertemu.

“Gila…” gumam Nuri pelan.

Bumi menelan ludah. “Kamu… nggak apa-apa?”

Nuri mengangguk, lalu tersenyum tipis.

“Masih hidup,” katanya.

Pam mendekat, matanya menyapu sekitar.

“Kita harus pergi,” katanya cepat. “Suara tadi pasti kedengeran.”

Bumi menurunkan senjatanya, tapi tangannya masih gemetar.

“Ya…” katanya pelan.

Nuri mengambil kembali napasnya, lalu menepuk bahu Bumi sekali.

“Kali ini… kamu nyelametin aku.”

Bumi tersenyum kecil, masih setengah tidak percaya.

“Iya… kayaknya.”

Nuri menggeser badan penjaga yang sudah terbunuh itu. Terdengar suara panggilan dari alat komunikasi mereka.

Pam mengambilnya lalu bicara dengan menggunakan suara pria, “Abort! Peringatan yang keliru. Hanya ada musang bertanduk di sini.”

Bumi tampak kagum dan menatap Pam terpesona. Nuri menyenggol Bumi agar berhenti menatap Pam. Bumi mengalihkan pandangannya.

Pam mengambil semua senjata milik penjaga. Nuri dan Bumi mengikutinya.

“Kamu tau cara pakai ini?” tanya Nuri.

Pam memberitahukannya, “Ini pelatuknya, ini tombol pengaman. Kamu bisa tekan ini untuk mengeluarkan bidikan. Pelurunya sepertinya tidak terbatas, karena menggunakan laser.”

Bumi dan Nuri sama-sama kagum melihat penjelasan Pam yang seperti seorang jagoan agen rahasia Mission Impossible.

“Ayo!” Pam masuk ke dalam gedung bendungan. “Kita harus cepat masuk ke dalam saluran pembuangan limbah.

1
Q. Adisti
seruu, lanjut kaaak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!