NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengintaian

Bab 23

Dua hari berlalu sejak pertemuan dengan Dewi. Dua hari yang terasa seperti dua minggu bagi Bambang. Setiap pagi dia bangun dengan harapan bahwa hari ini Dewi akan datang membawa kabar baik. Setiap sore dia kecewa karena yang datang hanya Bang Anton dengan nasi bungkus dan kabar bahwa Dewi masih sibuk. Setiap malam dia tidur dengan kegelisahan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Ucok lebih sabar. Atau setidaknya dia lebih pandai menyembunyikan kegelisahannya. Dia menghabiskan waktu dengan merokok di teras mushola, berbincang dengan beberapa pria tua yang datang untuk salat, atau sekadar duduk diam sambil menatap jalanan. Sesekali dia bertanya pada Bambang, "Kamu sudah makan?" atau "Kaki kamu bagaimana?" Tapi tidak pernah dia bertanya, "Kapan Dewi datang?" Mungkin dia tahu pertanyaan itu tidak akan membuat segalanya lebih cepat.

Pada pagi hari ketiga, Bambang bangun dengan perasaan berbeda. Ada yang mengganjal di dadanya. Firasat. Firasat bahwa hari ini akan terjadi sesuatu. Baik atau buruk, dia tidak tahu. Tapi sesuatu pasti akan terjadi.

Dia mengambil air wudu di tempat wudu samping mushola. Airnya dingin, seperti biasa. Tapi kali ini dia merasakan dingin yang menusuk sampai ke tulang. Dia membasuh wajahnya lebih lama dari biasanya, berusaha menghilangkan rasa kantuk yang masih menyisa. Setelah salat subuh, dia duduk di teras menemani Ucok yang sudah lebih dulu di sana.

"Ucok, hari ini aku merasa aneh," kata Bambang.

"Aneh bagaimana?"

"Kayak ada yang mau terjadi. Aku tidak tahu. Firasat saja."

Ucok menghisap rokoknya dalam-dalam. Asap mengepul dari hidungnya. "Firasatmu biasanya tidak salah. Di pabrik dulu, kamu yang pertama curiga ada yang tidak beres dengan monitor nomor delapan."

"Tapi itu malah membuat masalah."

"Itu membuat kita sadar. Tanpa itu, mungkin kita masih tidur nyenyak di pabrik sambil perlahan berubah jadi makhluk."

Bambang tidak menjawab. Dia menatap jalanan yang mulai ramai. Anak-anak berangkat sekolah. Ibu-ibu pergi ke pasar. Seorang pria tua mengayuh sepeda dengan lambat. Kehidupan normal. Kehidupan yang tidak tahu tentang pabrik karet dan makhluk-makhluk di hutan.

Sekitar pukul sembilan pagi, sebuah mobil tua warna biru terparkir di depan mushola. Mobil yang sama dengan mobil Dewi. Bambang berdiri. Jantungnya berdebar cepat.

Dewi turun dari mobil. Wajahnya tegang. Rambutnya yang pendek itu sedikit berantakan, seperti orang yang tidak sempat menyisir rambut. Matanya sayu. Lingkar hitam di bawah matanya tebal. Dia terlihat seperti tidak tidur semalaman.

"Dewi, ada apa?" tanya Bambang.

Dewi tidak menjawab. Dia masuk ke dalam mushola, duduk di karpet, dan menghela napas panjang. Bambang dan Ucok mengikutinya. Mereka duduk di samping Dewi.

"Saya sudah ke pabrik," kata Dewi pelan.

Bambang terkejut. "Apa? Sendirian?"

"Bukan sendirian. Saya ajak dua teman. Satu fotografer, satu sopir. Kami pergi kemarin pagi. Sampai di sekitar pabrik malam hari."

"Kenapa malam hari? Itu berbahaya!"

"Karena di siang hari tidak ada yang bisa kami lihat. Semua yang penting terjadi di malam hari. Itu kata kalian."

Bambang tidak bisa membantah. Memang semua kejadian aneh di pabrik itu terjadi di malam hari. Makhluk-makhluk keluar di malam hari. Suara-suara terdengar di malam hari. Monitor CCTV menunjukkan keanehan di malam hari.

"Lalu? Apa yang kalian lihat?" tanya Ucok.

Dewi mengeluarkan kameranya dari tas selempang. Kamera digital dengan lensa panjang. Dia menyalakannya dan menunjukkan foto-foto di layar.

"Kami sampai di sekitar pabrik jam sembilan malam. Dari kejauhan, pabrik terlihat gelap. Tidak ada lampu. Tidak ada suara. Seperti bangunan mati. Tapi di gerbang utama, ada satu lampu menyala. Dan di dalam halaman, ada beberapa kamera CCTV yang berkedip."

Dewi menggulir foto-foto. Foto pertama menunjukkan pabrik dari kejauhan. Gelap. Sunyi. Menyeramkan. Foto kedua menunjukkan gerbang utama dengan lampu yang menyala redup. Foto ketiga menunjukkan kamera CCTV di tiang besi.

"Kami memutuskan untuk mendekat. Kami matikan lampu mobil. Kami jalan kaki. Saya dan fotografer. Sopir menunggu di mobil."

"Itu gila," potong Bambang. "Kalian bisa ketahuan."

"Kami hati-hati. Kami pakai jaket hitam. Tidak ada senter. Kami hanya mengandalkan cahaya bulan."

Dewi menggulir foto lagi. Foto keempat menunjukkan pagar belakang pabrik. Pagar besi dengan kawat berduri di atasnya. Di balik pagar, hutan gelap.

"Kami sampai di pagar belakang sekitar jam sebelas malam. Di sana, kami mulai mendengar suara. Suara seperti karet diregangkan. Awalnya saya pikir itu hanya imajinasi saya. Tapi fotografer saya juga mendengarnya."

"Suara itu," bisik Bambang. "Itu mereka."

"Saya tidak tahu waktu itu. Tapi saya semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres. Kami memutuskan untuk memanjat pagar. Fotografer saya lebih dulu. Saya menyusul."

Dewi berhenti. Tangannya yang memegang kamera gemetar. Matanya berkaca-kaca.

"Dewi, kamu tidak usah lanjutkan kalau tidak kuat," kata Ucok.

"Tidak. Saya harus lanjutkan. Kalian sudah mengalami yang lebih buruk. Saya hanya melihat. Kalian mengalaminya."

Dewi menarik napas panjang. Dia menggulir foto lagi. Foto kelima menunjukkan halaman belakang pabrik. Rumput tinggi. Genangan air. Bangunan-bangunan tua di kejauhan. Dan di tepi hutan, ada bayangan-bayangan. Hitam. Tinggi. Diam.

"Ini yang kami foto sekitar jam dua belas malam," kata Dewi. "Kami bersembunyi di balik drum kosong dekat pagar. Dari sana, kami bisa melihat halaman belakang. Dan di tepi hutan, kami melihat... mereka."

"Berapa banyak?" tanya Ucok.

"Tidak bisa hitung. Mungkin sepuluh. Mungkin dua belas. Mereka berdiri diam. Tidak bergerak. Seperti patung. Tapi mata mereka... mata mereka mengawasi. Saya tidak tahu ke mana arah pandangan mereka. Tapi saya merasa mereka melihat kami."

"Kalian harus pergi saat itu juga," kata Bambang.

"Kami mau pergi. Tapi fotografer saya ingin lebih dekat. Dia bilang foto dari jarak ini tidak cukup jelas. Dia merangkak mendekat. Saya bilang jangan. Tapi dia tidak dengar."

Dewi berhenti lagi. Air matanya jatuh. Dia menyeka pipinya dengan punggung tangan.

"Dia mendekati mereka. Sekitar lima puluh meter. Lalu dua puluh meter. Lalu sepuluh meter. Saya hanya bisa melihat dari belakang. Saya tidak berani bergerak. Tiba-tiba, salah satu makhluk itu bergerak. Cepat. Sangat cepat. Dalam sekejap, makhluk itu sudah di depan fotografer saya."

"Tuhan," bisik Bambang.

"Saya mendengar teriakan. Satu teriakan pendek. Lalu diam. Makhluk itu kembali ke tempatnya. Tapi fotografer saya... fotografer saya tidak ada."

Dewi menunduk. Tubuhnya berguncang. Dia menangis. Menangis dalam-dalam. Tangis yang tertahan selama dua hari kini meledak begitu saja.

Bambang tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa memegang pundak Dewi. Memberi tahu bahwa dia tidak sendirian. Bahwa dia mengerti rasa kehilangan.

Ucok duduk diam. Wajahnya keras. Tapi matanya merah. "Saya tahu rasanya," kata Ucok pelan. "Melihat teman diambil di depan mata. Tidak bisa berbuat apa-apa."

Dewi mengangkat wajahnya. Matanya bengkak. "Saya lari. Saya lari sekencang mungkin. Saya panjat pagar. Saya jatuh di sisi lain. Saya terus lari sampai ke mobil. Sopir saya kaget melihat saya sendirian. Saya suruh dia langsung pergi. Kami tinggalkan fotografer saya di sana."

"Kamu tidak bisa berbuat apa-apa," kata Bambang. "Kamu sudah lakukan yang terbaik."

"Tidak. Saya seharusnya tidak usah ke sana. Saya seharusnya dengar kata kalian. Kalian bilang itu berbahaya. Tapi saya tidak dengar. Sekarang teman saya hilang."

"Fotografer itu... namanya siapa?" tanya Ucok.

"Rudi. Namanya Rudi. Usianya baru dua puluh enam tahun. Baru punya anak. Bayi. Usia tiga bulan."

Bambang menutup matanya. Satu lagi. Satu lagi korban. Rudi. Nama baru yang akan menambah panjang daftar di dinding kantin.

"Kita tidak bisa biarkan ini terus terjadi," kata Bambang. "Kita harus hentikan pabrik itu."

"Dengan apa?" tanya Dewi pahit. "Dengan foto buram? Dengan kesaksian kita berempat? Perusahaan akan menyangkal. Polisi akan tutup mata. Dunia tidak akan percaya."

"Kita punya bukti," kata Ucok. "Buku harian Dul. Kontrak. Foto-foto yang sempat diambil Bambang sebelum baterainya habis. Itu cukup."

"Tidak cukup. Kita butuh bukti yang lebih kuat. Bukti yang tidak bisa disangkal. Video. Rekaman. Sampel. Atau seseorang dari dalam perusahaan yang mau bicara."

"Dari dalam perusahaan?" Bambang mengerutkan kening. "Maksudmu pekerja pabrik?"

"Bukan pekerja biasa. Manajer. Atasan. Orang yang tahu semua rahasia. Seperti Pak Toni."

"Pak Toni tidak akan bicara. Dia dalangnya."

"Semua orang punya harga, Bambang. Atau semua orang punya kelemahan. Kita cari kelemahan Pak Toni. Kita tekan. Kita paksa dia bicara."

Bambang tidak yakin. Pak Toni adalah orang yang licik. Wajahnya yang selalu tersenyum itu menyembunyikan sesuatu yang dingin. Sesuatu yang kejam. Mendorong orang seperti Pak Toni untuk bicara mungkin sama sulitnya dengan membunuh makhluk-makhluk itu.

Tapi Dewi punya poin. Tanpa bukti kuat, tidak ada yang akan bergerak. Polisi tidak akan bergerak. Pemerintah tidak akan bergerak. Jurnalis lain tidak akan berani. Pabrik itu akan terus beroperasi. Makhluk-makhluk itu akan terus lahir. Korban-korban baru akan terus berjatuhan.

"Baik," kata Bambang akhirnya. "Kita cari kelemahan Pak Toni. Tapi dari mana kita mulai?"

Dewi mengusap sisa air mata di wajahnya. Matanya yang tadinya redup kini mulai bersinar lagi. Ada api kecil di sana. Api yang hampir padam, tapi berhasil dinyalakan kembali.

"Saya punya sumber di kantor pusat PT. Nusantara Gelap. Sumber itu pernah bilang ada file rahasia tentang proyek manusia karet. File itu disimpan di komputer Pak Toni. Jika kita bisa mendapatkan file itu, kita bisa membongkar semuanya."

"Kita harus meretas komputer Pak Toni?" tanya Bambang.

"Bukan meretas. Kita cari salinannya. Di tempat lain. Mungkin di rumahnya. Mungkin di kantor cabang. Mungkin di tempat yang tidak terduga."

"Kita tidak tahu rumahnya. Tidak tahu kantor cabangnya. Tidak tahu apa-apa."

"Tapi saya tahu seseorang yang mungkin tahu."

"Siapa?"

"Sekretaris Pak Toni. Namanya Maya. Dia bekerja di kantor pusat. Dia sudah tiga tahun menjadi sekretaris Pak Toni. Dia pasti tahu banyak hal. Mungkin dia juga punya salinan file-file rahasia."

"Kamu kenal Maya?"

"Tidak. Tapi saya punya cara untuk mendekatinya. Saya akan menyamar. Saya akan berpura-pura menjadi nasabah bank. Saya akan minta data Pak Toni untuk keperluan kredit. Maya yang akan melayani."

"Itu berbahaya. Kalau Maya curiga, dia bisa lapor ke Pak Toni."

"Maka kita harus meyakinkan Maya bahwa kita tidak berbahaya. Atau... kita harus membuat Maya takut. Takut pada Pak Toni. Takut pada perusahaan. Sehingga dia mau membantu kita."

Bambang tidak suka dengan rencana ini. Terlalu banyak risiko. Tapi dia tidak punya rencana lain. Ucok juga tidak. Dewi juga tidak.

"Kapan kita mulai?" tanya Ucok.

"Sekarang. Saya sudah punya semua yang saya butuhkan. Saya hanya perlu kalian berdua sebagai cadangan. Kalau ada yang tidak beres, kalian masuk."

"Masuk ke mana?"

"Ke kantor pusat. Jalan masuknya ada dua. Depan dan belakang. Saya masuk lewat depan. Kalian jaga di belakang. Kalau saya kirim SMS dengan kata 'bantuan', kalian masuk lewat belakang dan cari saya."

"Kita tidak punya ponsel," kata Bambang.

Dewi mengeluarkan dua ponsel dari tasnya. Ponsel murah. Jenis yang bisa dibeli di mana saja dengan kartu prabayar.

"Ini untuk kalian. Nomor saya sudah tersimpan. Jangan hilang. Jangan matikan. Jangan pakai untuk telepon siapa pun kecuali darurat."

Bambang menerima ponsel itu. Tangannya gemetar. Ini pertama kalinya dia memegang ponsel yang berfungsi sejak meninggalkan pabrik. Dia ingin segera menelepon Ibu. Ingin mendengar suara Ibu. Tapi dia tahu ini bukan waktunya.

"Kita berangkat sekarang," kata Dewi.

Mereka bertiga naik ke mobil tua warna biru. Dewi di belakang kemudi. Bambang di sampingnya. Ucok di kursi belakang. Mesin mobil menyala dengan suara yang sedikit kasar.

"Kantor pusat PT. Nusantara Gelap berada di kota," kata Dewi. "Perjalanan sekitar dua jam. Kita akan sampai sebelum siang. Saya akan parkir di dekat kantor. Kalian turun di belakang. Jangan menarik perhatian."

Mobil melaju meninggalkan mushola. Bambang menatap ke belakang. Bang Anton berdiri di depan bengkel, melambai. Wajahnya cemas. Dia tahu rencana ini gila. Tapi dia juga tahu tidak ada pilihan lain.

"Ucok," panggil Bambang tanpa menoleh.

"Iya."

"Kamu takut?"

"Takut."

"Aku juga."

Tapi mereka tetap melaju. Menuju kantor pusat. Menuju Pak Toni. Menuju bahaya yang mungkin lebih besar dari pabrik itu sendiri.

Di dalam mobil, tidak ada yang bicara. Hanya suara mesin dan suara napas mereka sendiri.

Bambang berdoa dalam hati. Doa untuk Dewi. Doa untuk Ucok. Doa untuk Rudi yang hilang di hutan. Doa untuk semua korban.

Dan doa untuk dirinya sendiri. Agar dia kuat. Agar dia bisa melalui ini semua. Agar dia bisa pulang.

Doa yang sama. Setiap hari. Setiap malam. Sejak dia meninggalkan pabrik itu.

Doa yang tidak pernah berhenti.

1
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!