NovelToon NovelToon
Lini Masa Dibalik Lensa

Lini Masa Dibalik Lensa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Anak Genius / Konflik etika / Murid Genius
Popularitas:433
Nilai: 5
Nama Author: Donny Kusuma Jaya

Arlan adalah seorang remaja SMA kelas 2 yang lebih suka mengamati dunia dari balik lensa kamera analognya daripada berinteraksi langsung. Baginya, cinta adalah konsep abstrak yang sulit difokuskan, sampai ia menemukan sebuah gulungan film tua di laboratorium sekolah yang tertukar dengan miliknya. Pencarian pemilik film itu membawanya pada perjalanan yang tidak hanya mengenalkannya pada cinta, tetapi juga pada keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Donny Kusuma Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Distorsi Fokus

Lampu panggung berkedip sekali, lalu padam, menyisakan aula teater dalam kegelapan yang pekat selama beberapa detik sebelum lampu kerja yang temaram menyala. Di sudut sayap panggung, Arlan berdiri mematung. Tangannya menggenggam erat badan kameranya yang terasa dingin. Hari ini, suasana latihan terasa berbeda. Bukan karena teknis pencahayaan yang sulit, melainkan karena ada elemen baru dalam "komposisi" hidupnya yang membuat Arlan merasa tidak nyaman.

Elemen itu bernama Bima, aktor utama pria yang akan memerankan sosok "Pencari Warna" dalam pementasan nanti.

Dari balik lensa 50mm-nya, Arlan melihat Maya sedang berdiri sangat dekat dengan Bima di tengah panggung. Maya sedang membenarkan letak syal merah di leher Bima, sambil sesekali tertawa lepas menanggapi candaan cowok itu. Bima adalah kebalikan dari Arlan; dia ekspresif, vokal, dan tampak sangat natural berada di bawah lampu sorot.

"Gue nggak suka kontrasnya," gumam Arlan pelan pada dirinya sendiri.

Ia mencoba mencari fokus. Jarinya memutar focus ring di lensa, namun bayangan Maya dan Bima di layar bidik tetap terasa distorsi. Arlan biasanya bisa memisahkan diri dari subjeknya, tetap menjadi pengamat yang dingin dan objektif. Namun sore ini, setiap kali Bima meletakkan tangannya di pundak Maya untuk mendiskusikan adegan, Arlan merasa ada butiran debu yang masuk ke dalam sensor kameranya—mengganggu, menyesakkan, dan sulit dibersihkan.

"Lan! Jangan bengong di situ! Ambil momen pas Bima narik Maya ke arah cahaya!" seru Maya dari tengah panggung.

Arlan tersentak. Ia mengangkat kameranya, membidik ke arah mereka. Di layar intip, ia melihat Bima meraih tangan Maya dengan gerakan yang sangat meyakinkan. Cahaya lampu sorot kuning menghujani mereka, menciptakan suasana romantis yang sempurna. Arlan menekan tombol rana. Klik.

Namun, saat ia memeriksa hasilnya, ia merasa benci pada foto itu. Foto itu terlalu bagus. Terlalu nyata. Ia membenci betapa serasinya Maya bersanding dengan seseorang yang berani "dilihat", sementara ia sendiri masih betah bersembunyi di balik tudung jaket denimnya.

"Bagus nggak, Lan?" Maya menghampirinya saat latihan istirahat sejenak. Bima mengekor di belakangnya, menyeka keringat dengan handuk kecil sambil tersenyum ramah pada Arlan.

"Lumayan," jawab Arlan singkat. Ia sengaja tidak menunjukkan layar LCD-nya pada Maya.

"Gue liat dong," Bima mencoba mengintip. "Gue denger lo fotografer paling jago di sekolah ini. Maya sering banget ceritain lo."

Mendengar itu, Arlan justru merasa semakin tersudut. "Cuma masalah teknis aja. Siapa pun bisa kalau punya alatnya."

Maya mengernyitkan dahi. Ia merasakan ada nada dingin yang tidak biasa dari suara Arlan. "Ada yang salah sama pencahayaannya, Lan? Lo kelihatan... nggak fokus."

"Pencahayaannya oke. Gue cuma capek," Arlan mulai membereskan tas kameranya. "Gue balik duluan. Masih ada film yang harus gue cuci."

Arlan tidak menunggu jawaban. Ia menyampirkan tasnya dan berjalan cepat keluar dari aula teater. Ia bisa merasakan tatapan bingung Maya di punggungnya, namun ia tidak peduli. Ia hanya ingin pergi. Ia ingin kembali ke ruang gelapnya, tempat di mana ia bisa mengatur segala sesuatunya sendirian tanpa ada "gangguan" dari luar.

Sesampainya di rumah, Arlan tidak langsung masuk ke kamar. Ia duduk di teras, menatap kamera di pangkuannya. Ia meraba saku jaketnya dan mengeluarkan tutup lensa "A.R." yang diberikan Maya tempo hari. Benda itu sekarang terasa berat.

Arlan menyadari sesuatu yang menakutkan. Selama ini, ia merasa aman karena ia adalah orang yang memegang kendali atas "bingkai" hidupnya. Namun Maya telah mengacaukan semuanya. Maya telah masuk ke dalam bingkainya, membawa warna-warna yang tidak bisa ia kontrol, dan sekarang, ia juga membawa orang lain masuk ke sana.

Rasa cemburu—sebuah emosi yang selama ini Arlan anggap hanya ada dalam drama picisan—ternyata terasa sangat fisik. Rasanya seperti kehilangan fokus di tengah pemotretan penting. Segalanya menjadi kabur, tidak pasti, dan menyakitkan.

Ia membuka folder foto di kameranya. Hampir seluruh isinya adalah foto Maya. Maya yang sedang serius, Maya yang sedang marah, Maya yang sedang tertawa. Dan kini, ada foto Maya bersama Bima. Arlan menekan tombol delete pada foto terakhir itu. Ia tidak ingin menyimpannya.

Besoknya di sekolah, Arlan sengaja menghindari mading dan ruang teater. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di atap sekolah, tempat paling sepi di mana ia bisa melihat seluruh isi sekolah dari kejauhan tanpa harus terlibat di dalamnya. Ia kembali menjadi pengamat.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

"Lo kekanak-kanakan, Lan."

Suara itu datang dari balik pintu atap. Maya berdiri di sana, masih dengan seragam sekolahnya yang berantakan. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya memancarkan kemarahan yang tertahan.

"Maksud lo?" Arlan berdiri, mencoba menjaga jarak.

"Lo pergi gitu aja kemarin. Terus hari ini lo ngumpet di sini. Kenapa? Karena Bima?" Maya melangkah maju. "Bima itu cuma rekan kerja, Arlan. Dia aktor utama, gue penata artistik. Itu bagian dari profesionalitas."

Arlan tertawa kecut. "Gue nggak peduli lo sama siapa, May. Gue cuma fotografer proyek ini. Kalau lo ngerasa gue nggak profesional, lo bisa cari orang lain. Banyak yang lebih jago dari gue."

Maya terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan emosinya. "Gue nggak butuh orang yang lebih jago, Lan. Gue butuh orang yang bisa 'melihat' lewat jiwanya. Dan orang itu cuma lo."

Maya mendekati Arlan, lalu meraih tangan cowok itu. Ia meletakkan sesuatu di telapak tangan Arlan. Itu adalah tutup lensa milik Arlan yang ia temukan di kafe dulu.

"Kenapa lo balikin ini?" tanya Arlan lirih.

"Karena gue mau lo berhenti berpura-pura kehilangan, Arlan Rayyan," kata Maya dengan suara bergetar. "Lo pura-pura kehilangan tutup lensa lo supaya lo punya alasan buat lari. Lo takut kalau lo jujur, lo bakal kehilangan kendali atas diri lo sendiri. Tapi tau nggak apa yang lebih nakutin? Kehilangan momen karena lo terlalu sibuk takut."

Maya menatap mata Arlan dengan tajam. "Bima berani dilihat orang banyak karena dia jujur sama emosinya. Sementara lo? Lo sembunyi di balik jaket denim ini seolah-olah dunia bakal hancur kalau lo nunjukin apa yang lo rasain."

Arlan tertegun. Kata-kata Maya seperti cahaya flash yang meledak tepat di depan matanya—menyilaukan, tapi sekaligus memperlihatkan segala sesuatu yang selama ini tersembunyi dalam bayangan.

"Gue... gue cuma takut hasilnya blur, May," bisik Arlan akhirnya. Itulah pengakuan pertamanya yang paling jujur.

"Hidup itu emang blur, Lan. Nggak ada yang pernah bener-bener tajam fokusnya," Maya meremas tangan Arlan pelan. "Tapi justru di bagian yang blur itu ceritanya ada. Jangan lari lagi. Balik ke teater. Gue butuh lo. Bukan cuma buat panggung, tapi buat gue."

Maya berbalik dan meninggalkan atap sekolah, meninggalkan Arlan dalam keheningan sore yang mulai jingga. Arlan menatap tutup lensa di tangannya. Ia meraba ukiran "A.R." itu. Kali ini, ia tidak memasukkannya ke saku. Ia memasangnya kembali ke kameranya dengan bunyi klik yang mantap.

Ia menyadari bahwa distorsi fokus yang ia rasakan bukan karena kehadiran Bima atau orang lain. Itu terjadi karena ia sendiri yang sengaja mengaburkan kenyataan agar ia tidak perlu merasa terluka.

Sore itu, Arlan turun dari atap sekolah dengan langkah yang lebih pasti. Ia akan kembali ke aula teater. Bukan untuk bersaing dengan Bima, tapi untuk menyelesaikan komposisi hidupnya sendiri yang selama ini terbengkalai. Ia menyadari bahwa cinta memang merepotkan, seperti mengatur shutter speed di bawah terik matahari, tapi tanpa kerumitan itu, foto hidupnya tidak akan pernah memiliki makna yang mendalam.

Lini masanya kini tidak lagi hitam putih. Meskipun ada sedikit "noise" dan distorsi, Arlan siap untuk menekan tombol rananya sekali lagi—kali ini dengan mata dan hati yang terbuka lebar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!