Kevin Argantara, pewaris tunggal Argantara group. Namanya terkenal di dunia bisnis sebagai pengusaha muda ternama
Pertemuannya dengan seorang gadis cantik bernama Alanna Kalila, seorang pelayan disebuah Night Club membuatnya jatuh dalam pesona gadis tangguh itu
Keluarga besar jelas menolak seorang gadis dengan latar belakang yang jauh dibawah keluarga Argantara
Pernikahan Kevin dan seorang penulis cantik bernama Raina Soesatyo, putri keluarga Soesatyo akhirnya ditetapkan dan Kevin tak bisa lari dari perjodohan dua keluarga besar itu
Lalu akan seperti apa kisah cinta Kevin dan Alanna? Akankah pernikahan bersama gadis berhijab itu membawanya pada kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertengkar 'lagi'
"Gimana bang?"
"Ini harus dibawa ke bengkel mbak, kerusakannya cukup parah" Ujar seorang pria seusia Raina
"Ya udah, Abang yang urus aja! Nanti tagihannya kirim kesaya ya bang!"
Pria itu mengangguk "Mau kita cariin ojek atau gimana?"
"Saya biar pesan taksi online aja!"
Raina mencoba beberapa kali tapi ia tak kunjung mendapatkan taksi dari aplikasi. Hingga sebuah motor berhenti tepat didepannya
"Mbak Raina?"
Raina mengerutkan keningnya "Mas Bara"
Pria itu tersenyum lalu turun dari motornya "Ada apa mbak? Mobilnya mogok?" Tanya Bara
"Iya mas"
"Mau saya anterin aja?" Bara menawarkan
"Gak perlu mas, saya udah pesen taksi online kok!" Raina menolak dengan halus sambil menampilkan senyum manisnya
"Udah pesen taksinya? Saya temenin aja di sini, jalanannya sepi, takutnya ada orang jahat"
Raina berpikir, ucapan Bara ada benarnya. Bahkan sejak tadi tidak ada kendaraan yang lewat, dua orang bengkel tadi juga telah pergi
"Sebenarnya dari tadi juga taksinya gak dapet!" Ujar Raina pelan
Bara tersenyum, wanita didepannya ini begitu menggemaskan. Ia salut karena Raina berusaha menjaga marwahnya sebagai seorang istri
"Gak pa-pa mbak, saya anterin aja! Nanti saya bantu jelasin ke suaminya!" Bara berusaha meyakinkan
Raina tampak berpikir "Saya gak mau ngerepotin, mas. Gak pa-pa, nanti saya coba lagi pesen taksinya"
Bara diam sejenak "Gimana kalau saya anterin sampe jalan besar didepan sana! Nanti mbak Raina bisa naik taksi dari sana!"
Raina melihat kiri dan kanannya. Bara benar, jalanan ini sangat sepi, ketakutan mulai menghampirinya, menelepon suaminya juga tidak mungkin karena perusahaan Kevin sangat jauh dari sini
"Ya udah, kalau gak ngerepotin"
Bara tersenyum "Ya enggak lah mbak, saya malah seneng!"
Pria tinggi itu menyerahkan satu helm yang ia bawa kepada Raina dan wanita cantik itu menyambutnya
Bara naik lebih dulu, lalu Raina setelahnya. Motor sport itu berlalu. Bara tak henti-hentinya tersenyum, entah mimpi apa ia semalam hingga motornya dinaiki seorang bidadari
Matanya melirik kesamping, dimana tangan Raina menggenggam ujung jaket jeans yang ia kenakan "Ya Allah, jaketnya gak bakal gue cuci!"
Bara terkikik, rasanya ia ingin waktu berhenti saat ini juga. Motor ini baru, dan Raina adalah wanita pertama yang duduk di jok belakang, sungguh sebuah keberuntungan
Motor sport itu telah masuk ke jalanan besar, Bara tinggal menuju jalan yang diperbolehkan untuk berhenti
Lampu merah memaksa Bara menghentikan motornya, ia ingin waktu yang lebih lama untuk bisa bersama wanita pujaannya
"Raina?"
Dari dalam sebuah mobil mewah, seorang pria terbelalak saat melihat sang istri tengah duduk diatas motor bersama seorang pria
Evan yang duduk dibalik kemudi menoleh, ia melihat jika sang nyonya memang berada disamping mereka
Kevin hendak membuka pintu, namun lampu keburu berubah warna hingga motor sport itu melaju
"Kejar Evan!"
Kevin terlihat kesal, ia tak tahu jika istrinya ini keras kepala. Kemarin bersama pria bernama Syafiq, lalu hari ini dengan pria yang berbeda
Bara mengerem motornya dengan cepat saat sebuah mobil mewah berhenti didepan mereka. Pemuda itu cepat menoleh kebelakang dimana Raina berada
"Mbak Raina gak pa-pa?" Tanyanya dengan cemas
"Saya gak pa-pa!" Raina lalu turun dari atas motor itu, mata indah itu membulat sempurna. Bagaimana tidak, ia jelas mengenali mobil yang menghentikan motor mereka
"Biar saya tegur!" Bara sudah mengangkat lengan jaketnya, bersiap untuk adu jotos dengan pengendara didepannya
"Jangan mas!" Cegah wanita itu, bahkan Raina reflek menyentuh lengan pemuda itu "Itu suami saya"
Mendengar itu membuat Bara mengurungkan niatnya, sementara itu Kevin sudah keluar dari mobilnya dan melangkah ke arah sang istri
"Ngapain kalian?" Tanyanya dengan dingin
"Aku minta tolong sama mas Bara untuk nganterin!" Jawab Raina
"Kemana mobil kamu?"
"Mogok"
"Maaf mas, tadi" Ucapan Bara terhenti saat pria didepannya mengangkat tangannya
"Saya sedang bicara dengan istri saya!" Kevin melayangkan tatapan tajam "Ayo kita pulang!"
Kevin sudah menggenggam tangan istrinya namun Raina menghentikan langkahnya membuat sang suami mengerutkan kening
"Ada apa lagi? Kamu masih mau naik motor?"
"Bukan itu, aku belum lepas helm nya!" Jawab Raina, Kevin melihat kepala sang istri yang memang masih terpasang helm milik Bara
Melihat Raina yang kesulitan, Bara hendak membantu melepas pengaitnya namun Kevin dengan cepat mengambil alih
"Biar aku bukain!" Kevin melepas helm tersebut dari kepala sang istri lalu memberikannya pada pemuda yang sepertinya tertarik pada istrinya
"Ayo!"
"Makasih ya mas Bara!" Raina tersenyum saat mengatakannya, namun Kevin jelas tidak menyukainya
"Sama-sama mbak"
Bara hanya dapat melihat jika wanita pujaannya dibawa masuk oleh suaminya. Harusnya ia sadar jika wanita itu sudah menjadi milik pria lain
Didalam mobil, kesunyian terjadi. Kevin masih dengan kekesalannya, pria itu tidak menoleh pada wanita disampingnya, sementara Evan memilih fokus pada jalanan didepannya
"Siapa lagi dia?" Tanya Kevin yang membuat Raina menoleh kearahnya
"Mas Bara" Jawab Raina "Dia fotografer yang kerjasama dengan toko aku untuk pemasaran produk baru kita"
"Apa harus dengan bonceng-boncengan?" Raina tahu jika suaminya ini tengah kesal, tapi dirinya enggan untuk meladeni
"Tadi gak sengaja ketemu, mobil aku mogok dijalanan sepi. Bara mau bantu sampai aku bisa naik taksi"
"Kamu punya hp kan? Di hp kamu juga ada nomor aku! Kenapa kamu gak hubungin aku?"
Menurut Kevin istrinya ini terlalu banyak membangkang. Apa dirinya tidak layak menjadi suami hingga Raina sepertinya enggan menjadikannya tempat berlindung
"Aku cuma gak mau ganggu, mungkin mas lagi sibuk"
"Kamu gak pernah coba kan?"
"Udahlah mas, aku capek! Aku gak mau pertengkaran kita berpengaruh pada kandungan aku" Raina tidak ingin masalah terjadi, pertengkaran ini tidak baik bagi emosinya
"Kamu yang selalu mancing keributan, harusnya kamu gak ngelakuin apa yang bikin aku kesel!"
"Maaf" Ucap Raina pada akhirnya
Kevin mengepal, berdebat dengan Raina memang membuat kesal. Tapi tidak mungkin berbuat kasar karena wanita ini tengah hamil
"Aku mau makan permen kapas!" Suara itu membuat Kevin menoleh
"Berhenti didepan Evan!" Yang diperintah segera menurut, Evan berhenti dipinggir jalan yang menjual beberapa jajanan termasuk permen kapas yang wanita hamil itu inginkan
Raina hendak membuka pintu, namun Kevin mencegahnya "Biar Evan saja yang belikan!"
"Aku bisa sendiri!"
"Jangan membantah!" Kevin memandang sang asisten "Kamu beli permennya!"
"Baik tuan!"
Evan turun, pria itu membeli beberapa karena Raina tidak menyebut ingin berapa. Daripada mereka bertengkar lebih baik berjaga-jaga
Pria itu datang dengan beberapa bungkus makanan berwarna merah muda itu. Raina menyambutnya dengan wajah berbinar