Dewo ceo berumur dua puluh sembilan tahun belum menikah sikapnya yang dingin di jodohkan dengan Ema wanita bar bar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa sangat cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Barang Barangnya Melambai
Setelah berkelana sekitar puluhan jam maksudnya puluhan menit sekarang Ane sudah ada di tempat tujuan yaitu tempat jas tempat berkumpulnya semut maksudnya tempat berkumpulnya tikus lebih tepatnya tempat berkumpulnya jas membuat Dewo menatap ke arah Ane dengan tatapan bingung
"Mama ngga pikun kan ?" tanya Dewo sambil memicingkan satu mata ke arah Ane sementara Ane yang sedang fokus menatap ke arah jas yang sedang berjejer jejer dibatas genteng maksudnya di depannya langsung menoleh ke arah Dewo
"Dewo mama itu masih muda dan belum berumur tua jadi mama ngga pikun buktinya mama ngga lupa sama namanya kamu dan statusnya kamu yang menjadi anak mama kalau orang pikun itu lupa" jelas Ane dengan nada ketus sedangkan Dewo langsung mengeluarkan senyuman lebar namun sedetik kemudian senyuman itu luntur di curi oleh semut maksudnya senyuman itu luntur entah kemana
"Iya tapi mama tetap sudah berumur karena sudah mempunyai anak yang umurnya matang kayak aku benar juga kata mama bukan cuma lupa tapi orang pikun ngga bakalan pergi jauh jauh takut di culik sama semut tapi kenapa mama malah mengajak aku ke sini katanya mama mau membelikan pakaian buat aku ? mama ngga niat minta tolong aku supaya mencarikan jas yang cocok buat papa kan ?" cerca Dewo bertubi tubi dengan penuh tanda tanya di kepalanya membuat Ane tersenyum menyeringai
"Dewo mama tahu kalau mama sudah punya anak yaitu kamu jadi ngga usah di jelaskan umurnya matang untuk buah itu cuma beberapa bulan ngga sampai puluhan tahun kayak kamu malah umurnya kamu hampir kepala tiga kamu itu seperti bangkotan kamu ada ada saja mama yakin ngga ada yang mau mencuri orang pikun soalnya bukannya mendapatkan uang malah mengeluarkan uang untuk memberi makan orang pikun tersebut lagian tuh orang pikun juga ngga bakalan bisa di suruh mengamen di jalan soalnya namanya dia saja lupa apalagi lirik lagunya di jamin ngga hafal semut sama orang pikun itu lebih besar orang pikun mama jamin semut di injak sama orang pikun juga bakalan mati iya mama mau membelikan pakaian buat kamu termasuk jas dan sepatu kamu papa bisa beli jas sendiri atau nanti mama pilihkan jas yang menurut mama suka buat papa ayo pilih jas sekarang" tegas Ane menatap ke Dewo sekilas lalu dirinya berselancar menuju ke jas untuk mencarikan jas buat suaminya sementara Dewo tersenyum masam mendengar kata bangkotan tapi senyuman itu berganti senyuman lebar lalu mengekori Ane sambil tersenyum lebar berniat memilih jas yang di inginkan
"Kirain mama belum ingat kalau aku anaknya mama makanya aku jelaskan apaan sih jadi membandingkan umur matangnya buah sama umur aku iya juga mah mungkin lebih baik mencuri anaknya ikan bisa menghasilkan uang orang pikun itu ngga bakat di suruh menyanyi tapi di suruh untuk tersenyum atau tertawa di jamin juara satu orang pikun sama semut lebih besar semut kalau semutnya nemplok dan menempel di pohon mangga atau pohon jambu semut ngga bakalan mati kalau di injak oleh orang pikun kalau semutnya di letakkan ke aquarium yang di letakkan di atas lantai wah tumben mama baik banget mau memborongkan semua pakaian buat aku termasuk sepatu sekalian beli supermarketnya mah biar kalau mau pakai apapun tinggal memilih ngga pakai belanja dulu iya kalau mama yang belikan jas buat papa di jamin papa ngga akan protes dan di jamin mau memakai jas tersebut iya ini aku mau pilih jas" tegas Dewo yang berada di belakang Ane sambil memegang beberapa jas di tangannya untuk di bolak balik memilih yang paling di sukai sementara Ane juga sibuk memilih jas untuk suaminya dengan kedua tangan yang penuh dengan jas karena sibuk membolak balikkan jas yang ada di gantungan
"Mama ngga amnesia dan ngga pikun jadi mama tahu kalau kamu anaknya mama yang belum menikah yang bahas matang itu kamu duluan bukan mama kata siapa anaknya ikan bisa menghasilkan uang kalau anaknya ikan masih kecil banget tuh penculik juga bakalan memberikan makan ikan ngga bakalan laku kalau di jual ikannya karena masih bayi orang pikun juga ngga bakalan bisa tertawa dan ngga bakalan bisa tersenyum kalau orang pikunnya tuli dan budeg ngga sekalian tuh semut nemplok di badan kamu supaya kamu di gigit sama semut mama dari dulu selalu baik hati kalau beli supermarket sekalian mama ngga belanja ke supermarket dong karena mama sudah punya supermarket soalnya papa cinta banget sama mama makanya ngga akan protes kalau papa di belikan jas apapun buruan kamu pilih jasnya" teriak Ane menggemparkan seisi dunia membuat Dewo ingin sekali menyumpal Ane dengan jas yang ada di tangannya namun takutnya Dewo akan mendapatkan serangan dari Ane berupa tendangan membuat Dewo hanya diam sambil menganggukkan kepalanya mantap sementara semua orang yang berlalu lalang langsung menatap ke arah Ane dengan tatapan heran soalnya di supermarket kenapa harus teriak teriak apakah yang di ajak bicara itu tuli dan budeg tatapan mereka semua mengarah ke Dewo dan Ane secara bergantian bahkan orang orang yang berlalu lalang mengira Dewo tuli dan budeg sehingga menyebabkan Ane teriak
Aya dan Ema telah sampai di supermarket tanpa komando Aya langsung menginjak rem di kakinya setelah mobilnya Aya berhenti Aya dan Ema kompak membuka sabuk pengaman lalu Aya dan Ema serentak membuka pintu mobil di sisi masing masing setelah itu kedua orang tersebut langsung turun dari mobil dengan ekspresi wajah berbeda Aya keluar dengan wajah yang tersenyum lebar sementara Ema turun dari mobil dalam keadaan bibir yang di manyunkan ke depan sampai ratusan juta centi
"Ema ayo kita berdua masuk sekarang" ajak Aya lalu menggandeng tangannya Ema sementara Ema dengan cepat menepis tangannya Aya yang tanpa permisi menggandeng tangannya
"Iya mah ayo masuk tapi ngga usah gandeng tangan aku soalnya aku bisa jalan sendiri tanpa bantuan mama karena aku bukan nenek nenek yang kalau jalan harus di gandeng" ketus Ema menatap nyalang ke Aya sedangkan Aya menganggukkan kepalanya mantap
"Terserah kamu Ema kalau kamu ngga mau di gandeng mama ngga maksa cuma mama takut kalau kamu ngga di gandeng kamu bakalan" perkataan Aya belum selesai sudah di potong oleh Ema
"Mama mau masuk ke supermarket sekarang atau mau ceramah dulu ?" tanya Ema sambil melipat kedua tangannya di dadanya sementara Aya menghela nafas sebentar lalu berkata
"Ayo Ema lebih baik kita berdua masuk ke supermarket sekarang tapi kamu hati hati jal" lagi dan lagi perkataan Aya belum selesai sudah di potong bukan karena celoteh Ema tapi karena Ema yang tiba tiba nungsep mencium harumnya lantai lebih tepatnya mencium batu
BRUK
Ema terjatuh di lantai membuat Ema meringis dan menatap tajam ke batu yang menyebabkan dirinya jatuh seperti ini sementara Aya berusaha menahan tawanya yang akan meledak seperti bom lalu dengan cepat Aya langsung berjalan mendekat ke Ema dan mengulurkan tangannya kepada Ema
"Ema ayo berdiri" ucap Aya sambil mengulurkan tangannya di depan Ema sementara Ema mendelik ke Aya
"Mama tahu siapa yang meletakkan batu di sini ?" tanya Ema dengan nada ketus sementara Aya menggelengkan kepalanya samar sambil mengeluarkan senyum tipis yang tak bisa di tahan
"Mama ngga tahu Ema yang meletakkan batu itu siapa ayo buruan berdiri biar mama bantu soalnya malu di lihatin banyak orang ntar di kira dengan sengaja kamu duduk di situ" jelas Aya sambil menatap ke arah orang yahg berlalu lalang sedangkan Ema mengikuti jejak matanya Aya yang menatap ke arah orang orang yang lewat di sekitar mereka berdua
"Aku heran kenapa batunya diam saja harusnya aku mau lewat itu batunya minggir dulu aku duduk di sini ngga sengaja gara gara batu yang ngga menghindar" jawab Ema sambil menendang batu yang menyebabkan dirinya jatuh dengan sangat keras membuat Aya menepuk jidatnya sendiri sambil tersenyum kikuk ke orang orang yang lewat
"Ema batu itu bisanya cuma diam di tempat ngga bisa minggir harusnya kamu yang menghindari batu tadi supaya ngga menginjak bukan batunya yang ngga mau menghindar tapi kamu yang ngga menghindar makanya tadi mama menggandeng tangan kamu supaya kamu ngga jatuh gara gara batu dan cara jalan kamu yang bar bar" jelas Aya sambil menatap ke Ema sementara Ema membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga
"Batu juga bisa terbang mah ngga cuma bisa diam di tempat menghindari batu gimana batunya saja ngga bilang ke aku supaya aku menghindar ngga menginjak batu kalau batunya tadi ngomong aku juga bakalan menghindari batu itu aku ngga mengindar dari batu karena batunya ngga ngomong ke aku mama bilang dong tujuan mama menggandeng aku supaya aku mau di gandeng sama mama kalau tujuannya cuma supaya aku ngga jatuh aku kira mama menggandeng tangannya aku karena mama mengira aku nenek nenek dan jalannya di tuntun" jelas Ema panjang lebar melebihi panjangnya rel kereta api sementara Aya memutar bola matanya malas sambil setia mengulurkan tangannya di depan Ema
"Buruan Ema berdiri soalnya mama sudah ngga sabar pengin belanja di supermarket" ketus Aya membuat Ema langsung menerima uluran tangannya Aya
"Mama masih mikirin mau belanja di supermarket setelah melihat aku jatuh gara gara batu" dengus kesal Ema sambil memalingkan wajahnya dari Aya dengan posisi yang sudah berdiri sementara Aya tersenyum licik
"Iya dong Ema mama tetap harus belanja di supermarket soalnya mama yakin semua barang yang ada di supermarket sudah melambai lambai ingin di borong oleh mama ayo masuk ke dalam supermarket" ajak Aya sambil menggandeng tangannya Ema lalu berjalan melangkah menuju ke dalam supermarket sementara Ema mengikuti jejak kakinya Aya
"Bilang saja mama mau belanja ke supermarket pakai alasan barang barangnya melambai segala kayak nyiur yang melambai lambai atau kayak pohon kelapa yang melambai lambai" cibir Ema sambil melajukan kakinya ke dalam supermarket sementara Aya tersenyum menyeringai
"Iya Ema kamu tahu saja kamu tenang saja kamu bakalan mama belikan pakaian yang terkeren di sini" tawar Aya membuat Ema mengeluarkan senyuman licik
"Tapi aku penginnya beli camilan dan makanan yang banyak bukan cuma pakaian doang" tegas Ema tak luntur mengembangkan senyuman lebar sedangkan Aya menganggukkan kepalanya mantap
"Iya Ema nanti beli camilan dan makanan yang banyak sekalian" sahut Aya mengeluarkan senyum tipis sementara Ema tak henti hentinya mengeluarkan senyuman lebar