NovelToon NovelToon
Mr And Mrs Adiputra

Mr And Mrs Adiputra

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Obsesi
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Sore itu, suasana lobi kantor terasa jauh lebih berat bagi Arunika. Ia berjalan setengah berlari, mendahului langkah Thomas yang lebar. Tas kerjanya didekap erat di depan dada, seolah benda itu bisa melindunginya dari tatapan penuh arti para staf yang mungkin saja sudah mendengar gosip tentang "insiden" di ruang CEO tadi.

Wajah Arunika masih menyisakan rona kemerahan yang tidak kunjung pudar. Bayangan saat ia duduk di pangkuan Thomas dan deru napas pria itu di lehernya terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

"Arunika, tunggu!" panggil Thomas dari belakang, namun Arunika justru mempercepat langkahnya menuju lift parkiran.

Di belakang Thomas, Ardi mengekor dengan langkah santai, tangan dimasukkan ke saku celana, dan senyum jenaka yang tidak lepas dari bibirnya. Ia seolah tidak merasa bersalah sedikit pun setelah merusak momen krusial sahabatnya.

"Jadi..." Ardi menyenggol bahu Thomas saat mereka masuk ke dalam lift yang kebetulan kosong. "Gimana, Tom? Udah pecah telor belom lo?"

Thomas langsung memberikan tatapan mematikan. Rahangnya mengeras. "Diem lo."

Ardi justru tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memantul di dinding lift yang sempit. "Galak amat, Pak CEO! Lagian gue bingung sama lo berdua. Di apartemen lo ngapain aja sih? Masa sampai curi-curi waktu di kantor gitu? Hahaha! Kayak anak SMA lagi backstreet aja."

"Ardi, sekali lagi lo berisik, beneran gue pecat lo hari ini juga! Gue nggak bercanda," desis Thomas tajam.

"Waduh, ancamannya ngeri! Tapi serius, Tom, muka Arunika tadi itu priceless banget. Kayak kepiting rebus yang baru diangkat dari panci," Ardi terus mengoceh tanpa rasa takut. "Tapi saran gue ya, kalau mau lanjut, pintu itu dikunci. Dan pasang papan 'Jangan Diganggu: Sedang Rapat Internal'."

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai P3. Arunika sudah berdiri di depan mobil Thomas, membelakangi mereka berdua. Bahunya tampak kaku. Begitu melihat Thomas dan Ardi keluar, ia segera menarik pintu mobil dan masuk ke kursi penumpang tanpa menoleh sedikit pun.

Ardi mendekati kaca mobil sisi Thomas, memberikan jempol. "Semangat ya, 'latihannya' di apartemen. Jangan lupa, Mochi suruh tidur di luar kamar dulu!"

Thomas tidak menanggapi. Ia masuk ke mobil dan membanting pintu sedikit lebih keras dari biasanya. Begitu mesin menyala, ia langsung melesat keluar dari area parkir, meninggalkan Ardi yang masih melambai-lambai sambil tertawa puas.

Hening.

Suasana di dalam mobil benar-benar canggung. Hanya ada suara mesin mobil yang halus dan bunyi AC yang berembus. Arunika menatap lurus ke jendela samping, pura-pura sangat tertarik melihat kemacetan Jakarta sore itu. Ia meremas tali tasnya kuat-kuat.

Thomas berdehem, mencoba memecah kebekuan yang sudah berlangsung selama sepuluh menit. "Nika..."

"Ya, Mas?" jawab Arunika cepat, terlalu cepat sampai suaranya sedikit melengking.

"Soal tadi... di kantor..."

"Nggak apa-apa, Mas! Lupain aja! Itu kan... itu kan cuma kelanjutan akting yang Mas bilang tadi," potong Arunika dengan kalimat yang berantakan. "Tadi aku juga cuma kebawa suasana karena kasihan liat luka Mas. Jadi, ya... kita anggap aja itu nggak pernah terjadi."

Thomas mengerem mobilnya sedikit mendadak karena lampu merah. Ia menoleh ke arah Arunika, menatap profil samping wajah istrinya yang masih merah padam. "Nggak pernah terjadi? Kamu yakin bisa lupain sesimpel itu?"

Arunika menelan ludah. "Ya... ya harus bisa. Kan kontrak poin nomor empat—"

"Kontrak itu sudah hangus di kepalaku sejak kita pulang dari panti asuhan, Arunika," potong Thomas dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Arunika meremang.

Arunika memberanikan diri menoleh. "Maksud Mas?"

"Jangan dengerin omongan Ardi soal 'pecah telor' atau apa pun itu. Dia memang mulutnya sampah," ujar Thomas sambil kembali menjalankan mobilnya. "Tapi dia benar soal satu hal. Aku nggak seharusnya melakukan itu di kantor. Seharusnya aku menunggu sampai kita di rumah."

Arunika semakin salah tingkah. Ia membuang muka kembali ke jendela. "Mas Thomas jangan ikutan mesum kayak Kak Ardi deh!"

"Aku tidak mesum, aku realistis. Aku suamimu," sahut Thomas tenang, namun ada nada posesif yang nyata di sana. "Dan soal akting... berhenti bilang itu akting. Aku tidak pernah se-serius itu saat berakting."

Arunika terdiam. Jantungnya kembali berdegup kencang. Kalimat Thomas barusan seolah menegaskan bahwa ciuman tadi adalah sebuah pernyataan perasaan, bukan sekadar sandiwara untuk Marcell.

Sesampainya di depan gedung apartemen, kecanggungan itu bukannya hilang malah semakin menjadi-jadi. Saat berjalan di lobi apartemen menuju lift, mereka menjaga jarak sekitar satu meter. Biasanya Arunika akan bergelayut manja di lengan Thomas, tapi kali ini ia berjalan dengan kaku seperti robot.

Di dalam lift apartemen, mereka berdiri di sudut yang berbeda. Thomas menatap angka lantai yang naik, sementara Arunika sibuk memainkan ujung kemejanya.

"Mas..." panggil Arunika pelan.

"Ya?"

"Nanti... Mas masak makan malem kan?"

"Iya. Kenapa?"

"Masak yang banyak ya. Aku laper banget. Tadi di kantor energinya habis buat... itu," ucap Arunika sambil menunduk.

Thomas tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Energi habis buat akting, atau energi habis karena kaget?"

"Mas Thomas!" Arunika menyenggol lengan Thomas dengan sikutnya.

Thomas menangkap sikut Arunika, lalu menarik tangan gadis itu dan menggandengnya erat. "Iya, aku masak yang banyak. Supaya kamu punya tenaga buat dengerin penjelasanku nanti malam. Tanpa gangguan Ardi, tanpa gangguan Marcell."

Pintu lift terbuka di lantai unit mereka. Mereka berjalan menuju pintu apartemen dengan tangan yang saling bertautan. Kecanggungan itu masih ada, namun kini ada sesuatu yang lain yang ikut hadir; sebuah antisipasi akan apa yang akan terjadi di balik pintu tertutup itu.

Begitu masuk ke apartemen, si Mochi langsung menyambut mereka dengan suara ngeong yang nyaring, seolah tahu bahwa suasana hati majikannya sedang sangat tidak karuan.

"Mochi! Sini!" Arunika langsung menggendong kucing itu, menjadikannya tameng agar ia tidak perlu menatap Thomas.

Thomas hanya memperhatikan tingkah istrinya dari belakang sambil melepas jam tangannya. "Mandi duluan, Nika. Aku siapkan makan malam."

Arunika mengangguk cepat dan lari masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, ia bersandar di balik pintu sambil memegangi dadanya.

"Aduh, gila! Gimana cara ngadepin Mas Thomas pas makan malem nanti?!" rutuknya pada diri sendiri. Ia tahu, setelah gangguan berkali-kali dari pihak luar, malam ini mungkin adalah malam di mana "kontrak" itu benar-benar akan kehilangan kekuatannya di hadapan perasaan yang sudah tidak bisa lagi dibendung.

***

Malam itu, meja makan di apartemen Thomas terlihat jauh lebih tenang, namun suasananya terasa sangat ganjil. Thomas, yang sudah berganti pakaian santai, mengerutkan keningnya dalam-dalam saat melihat Arunika muncul dari arah kamar.

Gadis itu tidak memakai piyama satin tipis yang biasanya. Kali ini, Arunika tenggelam dalam piyama oversized berbahan flanel super tebal dengan motif beruang kecil. Bajunya begitu panjang sampai menutupi telapak tangannya, dan celananya terseret di lantai marmer. Ia terlihat seperti gumpalan kain berjalan.

Arunika menarik kursi dengan susah payah karena kain piyamanya tersangkut, lalu duduk dengan kaku.

"Kamu... ngapain pakai baju begitu?" tanya Thomas sambil meletakkan sepiring nasi goreng hangat di depan istrinya. "Ini Jakarta, Arunika. Kita tidak sedang di puncak, apalagi musim winter."

Arunika menghindari kontak mata, sibuk memainkan sendoknya. "Em... ya emang pengen aja, Mas. Ini lagi tren di TikTok tahu, namanya comfy style. Biar... biar hangat aja."

Thomas menopang dagu, menatap Arunika dengan tatapan menyelidik. "Tren TikTok atau kamu sengaja pakai baju setebal itu supaya aku tidak bisa 'macem-macem' setelah kejadian di kantor tadi?"

Uhuk!

Arunika tersedak butiran nasi pertama yang masuk ke mulutnya. Ia buru-buru meminum air putih hingga setengah gelas. "Mas Thomas jangan ge-er deh! Siapa juga yang mikir gitu. Aku beneran kedinginan kok, AC apartemen Mas kan kayak di kutub utara!"

Thomas hanya tersenyum miring, tidak berniat mendebat lebih jauh. Mereka makan dalam keheningan yang canggung, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Sesekali Mochi mengeong di bawah meja, meminta bagian, namun Arunika terlalu fokus menunduk seolah nasinya mengandung jawaban ujian skripsi.

Setelah suapan terakhir selesai, Arunika buru-buru berdiri. Ia berniat membawa piringnya ke tempat cuci piring lalu lari ke kamar sebelum Thomas sempat membuka suara.

"Dah, Mas! Makasih makan malemnya, enak banget! Aku... aku duluan ya, udah ngantuk banget, tiba-tiba matanya berat," ucap Arunika dengan nada bicara yang dipercepat dua kali lipat.

Namun, baru dua langkah Arunika beranjak, sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangan piyamanya yang panjang.

"Duduk dulu," perintah Thomas. Suaranya tidak keras, tapi penuh otoritas yang membuat langkah kaki Arunika terpaku di lantai. "Aku mau jelasin soal yang tadi."

Arunika perlahan berbalik, wajahnya tampak seperti orang yang tertangkap basah mencuri mangga. Ia duduk kembali di tepi kursi dengan sangat hati-hati. "Jelasin apa, Mas? Tadi kan sudah jelas. Mas bilang Mas nggak sengaja, Ardi ganggu, terus... ya udah, selesai kan?"

"Belum selesai," potong Thomas. Ia mendorong piring kosongnya ke samping, lalu memajukan tubuhnya, menatap lekat mata cokelat Arunika. "Tadi di mobil kamu tanya kenapa aku melakukannya. Dan aku bilang itu bukan akting."

"Mas..."

"Dengar dulu, Nika. Aku bukan pria yang pintar merangkai kata-kata seperti Marcell. Aku lebih terbiasa dengan angka dan fakta," Thomas menarik napas panjang. "Faktanya, aku menikahimu karena aku ingin melindungimu. Tapi fakta lainnya adalah, aku mulai tidak suka saat kamu menyebut ini cuma 'kontrak' setiap kali kita mulai merasa dekat."

Arunika meremas ujung piyamanya. "Tapi kan emang kontrak, Mas. Mas sendiri yang bikin aturannya. Mas yang bilang kita cuma perlu sandiwara depan keluarga."

"Aturan itu dibuat untuk menjagamu, supaya kamu tidak merasa tertekan setelah patah hati karena adikku," sahut Thomas, suaranya melembut. "Tapi kejadian di kantor tadi... saat kamu berdiri di depan Marcell dan bilang aku suamimu, itu membuatku sadar satu hal. Aku tidak mau lagi menjadi 'suami kontrak'. Aku mau jadi suamimu yang sebenarnya."

Arunika terdiam seribu bahasa. Jantungnya berdetak begitu kencang sampai ia takut suaranya akan terdengar oleh Thomas. "Mas Thomas... Mas sadar kan kalau Mas ngomong begini, artinya kita melanggar semua janji awal kita?"

"Persetan dengan janji itu, Arunika. Aku yang buat, aku yang bisa hapus," Thomas berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja, dan berdiri tepat di samping Arunika. Ia menarik lembut tangan Arunika agar gadis itu berdiri menghadapnya.

"Aku sayang sama kamu. Bukan sebagai partner, bukan sebagai asisten, tapi sebagai wanita yang membuat rumah ini terasa seperti rumah," bisik Thomas. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga kening mereka bersentuhan. "Sekarang aku tanya... kamu masih mau bilang kalau pembelaanmu di depan Marcell tadi cuma akting?"

Arunika menelan ludah. Di bawah tatapan Thomas yang seolah bisa menelanjangi jiwanya, pertahanan Arunika runtuh. Piyama tebal yang ia pakai sebagai perisai terasa tidak berguna sama sekali.

"Nggak..." suara Arunika serak. "Tadi itu... aku beneran marah pas dia pukul Mas. Aku beneran nggak suka dia jelek-jelekin Mas. Aku... aku kayaknya juga udah mulai 'jatuh', Mas."

Thomas tersenyum, kali ini senyum yang sangat tulus dan hangat. Ia membawa Arunika ke dalam pelukannya. Piyama flanel yang tebal itu membuat pelukan mereka terasa sangat empuk.

"Jadi, kita bisa berhenti sandiwara?" tanya Thomas di sela rambut Arunika.

"Boleh... tapi Mas janji nggak bakal bikin aku nangis kayak Marcell dulu?"

"Kalau aku bikin kamu nangis, kamu boleh suruh Mochi nyakar semua jas kerjaku," janji Thomas yang membuat Arunika tertawa kecil di dadanya.

Thomas merenggangkan pelukannya sedikit, tangannya beralih mengusap pipi Arunika yang merah merona. Suasana di ruang makan itu mendadak menjadi sangat sunyi dan penuh listrik statis. Thomas perlahan menundukkan kepalanya, mencari bibir Arunika dengan penuh kepastian.

Arunika memejamkan mata, menyambut ciuman itu dengan tangan yang melingkar di leher Thomas. Ciuman kali ini terasa sangat berbeda—tidak ada keterkejutan, tidak ada ketakutan akan diganggu Ardi, hanya ada rasa manis dan pengakuan yang mendalam.

Namun, di tengah momen yang sangat emosional dan mulai memanas itu...

Meong!!!

Mochi tiba-tiba melompat ke atas meja makan, menjatuhkan gelas plastik kosong milik Arunika hingga menimbulkan bunyi klontang yang nyaring.

Arunika tersentak dan melepaskan tautan mereka, napasnya memburu. "Mochi! Kamu ganggu aja deh!"

Thomas hanya bisa mengembuskan napas frustrasi untuk yang kesekian kalinya hari ini. Ia menatap kucing gembul itu yang sekarang dengan santainya menjilati sisa kuah semur di piring.

"Sepertinya aku salah membelikanmu kucing, Nika," gerutu Thomas sambil memijat pelipisnya. "Dia belajar banyak dari Ardi dan Mami soal cara merusak suasana."

Arunika tertawa renyah, ia memeluk lengan Thomas sambil menyandarkan kepalanya di sana. "Mungkin dia cuma mau bilang kalau kita harus istirahat, Mas. Besok kan aku ada kelas pagi."

Thomas menatap istrinya, lalu mengecup keningnya lama. "Ya sudah, tidur sana. Tapi besok pagi, jangan harap kamu bisa lari lagi pakai piyama beruang ini. Aku akan minta Ardi buang semua baju-baju tebalmu."

"Mas Thomas ih!" Arunika mencubit perut Thomas, lalu lari menuju kamar dengan tawa yang menghiasi malam itu.

Malam itu, meskipun piyama flanel tebal masih melekat di tubuhnya, hati Arunika merasa jauh lebih ringan. Kontrak dua tahun itu mungkin masih ada di laci meja kerja Thomas, namun bagi mereka berdua, kertas itu kini tak lebih dari sekadar dokumen sejarah yang sudah kehilangan kekuatannya di hadapan perasaan yang baru saja mereka akui.

***

Nggak sabaran banget si om Thomas ini 😭🤣🤣

Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😍😘

1
Alex
ku tunggu thor🤭
merry
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/nungu dh lm tu ank org Ardi 🤣🤣🤣 dh lm bljr juga jdi bisa bkin ank perwan org baper🤣🤣🤣
merry
klo dh cinta diksh hal kcil pun dh bhgia y tom 🤭🤭🤭🤭
merry
moga aj nika gk terpengaruh lg sm Marcel biar Marcel nyesel dan Aleta nyesel yg di incar bukn CEO🤣🤣🤣
merry
msh polos 🤣🤣🤣mklum blm pnh pcran trs yg di kejar mn cuek Bebek
merry
jgn hrpin mercel lg nika,, trs jjur aj sm pernikahan mu sm orgtua mu
Alex
wkwkwkwkwkwkwk
gagal
coba lagi dong 🤭
Alex
sweet bgts pak CEO ini
Alex
suka bgtss ceritanya
Nasya
selamat pegantin baru
Dyou Tatik
lanjut kak
Nasya
diihh marsel 🙄
Nasya
🤣
bunga citra
sabar ya mas Thomas
bunga citra
bagus
bunga citra
lanjut
Nasya
aaawww so cutee 🥰
English Lesson
Kak, nggak update?
Nasya
co cuit mas thomas, smngat 😁💪🏻💪🏻
English Lesson
Sweet💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!