THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: MELAWAN BAYANGAN MASA LALU
Kegelapan itu tidak abadi.
Setelah hantaman dahsyat dari Monster Data, Raka membuka matanya. Dia masih berdiri. Tubuhnya tidak hancur berkeping-keping menjadi data sampah. Di sekelilingnya, debu digital berwarna abu-abu melayang perlahan, seperti salju di dunia yang mati.
Dia masih memeluk Kai Kecil erat-erat. Anak itu gemetar hebat, wajahnya tertanam di dada Raka, mencari perlindungan dari kehancuran yang baru saja terjadi. Tapi ketika Raka menatap ke depan, dia melihat sesuatu yang menakjubkan.
Cahaya keemasan dari tubuhnya—manifestasi dari tekad dan cintanya pada sahabatnya—telah membentuk kubah pelindung transparan di sekitar mereka. Monster Data, sosok raksasa mengerikan yang terbuat dari kabel kusut dan layar pecah, sedang menggeram frustrasi di luar kubah itu. Tangannya yang besar mencakar-cakar permukaan cahaya, menciptakan riak-riak statis, tapi tidak bisa menembusnya.
"TIDAK ADA YANG BISA LARI DARI MASA LALU!" guruh suara Monster itu, suaranya terdengar seperti ribuan hard disk yang bergesekan kasar. "KEBENARAN ITU MENYAKITKAN! KEMBALI KE DALAM KOTAK!"
Raka melepaskan pelukannya sedikit, menatap wajah pucat Kai Kecil. "Kai, dengar aku. Kita tidak bisa lari selamanya. Dan kita juga tidak bisa hanya bertahan. Kita harus melawan."
Kai Kecil menatap Raka dengan mata lebar, bingung. "Melawan? Dengan apa? Aku cuma anak kecil. Aku nggak punya senjata. Aku cuma... kode."
"Di sini," kata Raka sambil menunjuk kepala Kai, lalu dadanya sendiri, "imajinasi adalah senjata paling kuat. Dunia ini dibangun dari pikiranmu, Kai. Jika kamu percaya kamu lemah, kamu akan lemah. Tapi jika kamu percaya kamu kuat... jika kamu percaya kamu punya teman yang akan membantumu..."
Raka tersenyum, senyum penuh keyakinan yang menular. "...maka kamu akan menjadi tak terkalahkan."
Raka melepaskan tangan Kai sepenuhnya. Dia mundur selangkah, lalu mengangkat kedua tangannya ke udara. Dia memejamkan mata, membayangkan sesuatu. Bukan pedang laser atau meriam plasma, tapi sesuatu yang lebih personal. Sesuatu yang melambangkan persahabatan mereka.
Di telapak tangan kanannya, cahaya keemasan memadat, membentuk sebuah perisai bundar yang kokoh, bertuliskan lambang Squadron Aurora di tengahnya. Di tangan kirinya, cahaya itu memanjang, membentuk pedang pendek yang bersinar terang, bukan untuk membunuh, tapi untuk memotong belenggu.
"Ini kekuatan kita, Kai," kata Raka, melemparkan perisai itu ke arah Kai Kecil. "Ambil ini. Ini adalah kepercayaan kami padamu."
Kai Kecil menangkap perisai itu dengan ragu. Saat jari-jarinya menyentuh permukaan logam cahaya, sesuatu berubah. Rasa takut di hatinya mulai digantikan oleh rasa hangat. Dia ingat momen-momen bersama tim: Bimo yang tertawa saat masakannya gosong, Elara yang merawat lukanya dengan lembut, dan Raka yang selalu ada di sampingnya.
Perlahan, tubuh Kai Kecil mulai bersinar. Baju tahanan oranyenya pudar, berganti menjadi seragam hacker futuristik berwarna biru neon yang keren. Rambutnya yang acak-acakan menjadi rapi. Matanya yang kosong kini menyala dengan determinasi. Dia bukan lagi Subjek 7 yang pasif. Dia adalah Kai, anggota Squadron Aurora.
"Aku..." gumam Kai, suaranya semakin tegas. "Aku bukan alat. Aku bukan angka."
Monster Data mengamuk melihat perubahan itu. "BOHONG! KAMU HANYA SAMPAH DIGITAL! AKAN KUHAncurkan KAMU!"
Monster itu menarik napas dalam-dalam—atau setidaknya, simulasi tarikan napas—lalu menyemburkan gelombang data korup berwarna ungu gelap. Gelombang itu berbentuk naga digital yang meraung, menerjang ke arah mereka dengan kecepatan kilat.
"Kai! Sekarang!" teriak Raka.
Kai tidak mundur. Dia mengangkat perisai Aurora yang diberikan Raka. "FIREWALL DELTA!" serunya.
Dari perisai itu, tembok energi biru transparan meledak keluar, membentuk barikade raksasa di depan mereka. Naga data itu menghantam tembok tersebut dengan kekuatan dahsyat. BRAKK!
Suara benturan itu mengguncang seluruh dimensi. Lantai kaca retak lebih parah, langit biner berkedip liar. Tapi tembok Kai tidak jebol. Itu menahan serangan itu, menyerap energinya, mengubah rasa sakit menjadi kekuatan.
"Itu dia!" seru Raka bangga. "Sekarang, serang balik! Gunakan logikamu! Cari celahnya!"
Kai mengangguk. Matanya bergerak cepat, menganalisis struktur Monster Data. Di dunia fisik, Kai butuh keyboard dan layar. Di dunia mental ini, pikirannya adalah keyboardnya. Dia melihat pola aliran data di tubuh monster itu—ada satu titik lemah di dada monster, di mana inti memori traumanya berada. Sebuah simpul kabel merah yang berdenyut kencang.
"Aku lihat itu," bisik Kai. Dia menurunkan perisainya sedikit, lalu mengangkat tangan kanannya. Jari-jarinya menari di udara, seolah mengetik kode tak terlihat. "ACCESS GRANTED. DELETE PROTOCOL: ACTIVATED."
Sebuah meriam energi berukuran besar muncul di bahu Kai, terbentuk dari piksel-piksel cahaya biru. Meriam itu mengunci target ke dada Monster Data.
"Tapi aku butuh waktu untuk charge!" teriak Kai. "Lindungi aku, Rak!"
Monster Data menyadari ancamannya. Ia mengabaikan naga datanya dan langsung menerjang fisik, tinju raksasanya ayunkan ke arah Kai yang sedang fokus mengisi daya meriamnya.
Raka tidak berpikir dua kali. Dia menerjang ke depan, pedang cahaya di tangannya berputar.
"TIDAK ADA YANG BOLEH MENYENTUH TEMANKU!"
Raka melompat tinggi, tubuhnya bersinar seperti meteor. Dia menebas tinju raksasa Monster itu dengan pedangnya. ZING!
Potongan kabel dan pecahan layar berhamburan. Monster itu mengaum kesakitan, tapi pukulannya tetap berlanjut, meski melambat. Raka mendarat di depan Kai, menahan sisa dampak pukulan itu dengan perisai kecil yang dia ciptakan di lengan kirinya.
"Cepat, Kai!" geram Raka, keringat digital menetes dari dahinya. Beban menahan serangan monster sebesar itu membuatnya terasa berat, seolah gravitasi di dunia ini meningkat sepuluh kali lipat.
"Lima detik lagi..." hitung Kai, matanya fokus total pada target. "Empat... tiga..."
Monster Data marah besar. Ia membuka mulutnya, siap mengeluarkan serangan final: Virus Total Wipe. Bola energi hitam pekat mulai terbentuk di tenggorokannya, energi yang cukup untuk menghapus seluruh kesadaran Kai dari keberadaan.
"Dua... satu... FIRE!"
Kai menekan tombol imajiner di udara.
DORRRR!
Sinar laser biru murni, tebal dan intens, melesat dari meriam bahu Kai. Sinar itu menembus dada Monster Data, tepat mengenai simpul kabel merah di intinya.
Untuk sesaat, semuanya hening.
Monster Data membeku. Mata hitamnya berkedip-kedip. Cahaya ungu gelap di tubuhnya mulai retak, digantikan oleh cahaya putih bersih yang menyebar dari dalam.
"Tidak... mungkin..." desis Monster itu, suaranya kehilangan keganasannya, berubah menjadi suara anak-anak yang sedih. "Kami... hanya ingin... ditemani..."
Lalu, dengan ledakan cahaya yang indah namun menyedihkan, tubuh raksasa Monster Data hancur berantakan. Tidak ada darah, tidak ada kotoran. Hanya jutaan partikel cahaya putih yang beterbangan ke udara, seperti kunang-kunang digital. Partikel-partikel itu tidak jahat. Mereka membawa perasaan lega, perasaan sedih, dan akhirnya, perasaan damai.
Langit kode biner yang kacau mulai stabil. Warna merah error menghilang, digantikan oleh biru langit yang tenang. Lantai kaca yang retak mulai menyambung kembali, menjadi permukaan cermin yang jernih.
Raka terjatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal. Pedang dan perisainya lenyap, kembali menjadi cahaya biasa.
Kai, yang kini telah kembali ke wujud aslinya (remaja, bukan anak kecil), berjalan mendekati Raka. Wajahnya lelah, matanya merah bekas menangis, tapi ada senyum tipis di bibirnya. Senyum pertama yang tulus sejak insiden dimulai.
Dia berjongkok di depan Raka, mengulurkan tangannya.
"Lo oke, Rak?" tanya Kai, suaranya serak.
Raka menatap tangan itu, lalu menatap wajah sahabatnya. Dia tertawa kecil, tawa lega yang melepaskan semua ketegangan.
"Aku oke. Lo gimana?"
Kai menunduk, air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini, dia tidak mencoba menyembunyikannya.
"Aku... aku merasa ringan. Seperti beban tonase data yang selama ini numpuk di otakku akhirnya di-format ulang."
Raka meraih tangan Kai, menariknya berdiri, lalu memeluknya erat. Pelukan persaudaraan yang nyata, bahkan di dalam dunia virtual.
"Kamu nggak sendirian lagi, Kai. Ingat itu. Nggak pernah lagi."
Kai membalas pelukan itu, menggenggam punggung seragam Raka erat-erat. "Terima kasih, Rak. Terima kasih udah masuk ke neraka ini buat nyelamatin aku."
"Sudah janji kan?" bisik Raka. "Nggak ada anggota Aurora yang tertinggal. Bahkan di dalam mimpi buruk sekalipun."
Di sekeliling mereka, partikel cahaya putih dari hancurnya Monster Data terus beterbangan, menciptakan pemandangan yang indah dan magis. Dunia mental Kai, yang dulunya adalah penjara gelap dan menyakitkan, kini telah berubah menjadi ruang yang terbuka, cerah, dan penuh harapan.
Namun, Raka tahu mereka belum selesai. Mereka masih harus bangun. Masih harus kembali ke dunia nyata di mana tubuh mereka terbaring lemah. Tapi sekarang, mereka punya kekuatan baru. Kekuatan yang lahir dari kepercayaan bahwa mereka bisa menghadapi hantu masa lalu, asalkan mereka melakukannya bersama.
"Yuk," kata Raka, melepaskan pelukan dan menepuk bahu Kai. "Waktunya pulang. Bimo pasti sudah nggak sabar mau marah-marah karena kita lama banget."
Kai tertawa kecil, mengusap air matanya. "Iya. Aku pengen makan mie gorengnya."
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju pintu cahaya di ujung koridor, meninggalkan reruntuhan trauma di belakang mereka, melangkah menuju fajar baru.
Bersambung...