Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Melihat kakek Chandresh kesulitan berbicara, Kartini langsung menekan telepon. Ia tahu betul bahwa kakek tidak suka berada di rumah sakit karena merasa terkurung, dan berdasarkan pengalaman merawatnya sebelumnya, kondisi ini bisa diperiksa terlebih dahulu oleh dokter pribadi.
"Kamu ini perawat macam apa? Melihat Kakek begini malah main handphone. Jadi begini pekerjaan kamu setiap hari!" Arga merampas hp Kartini.
"Saya akan segera hubungi Dokter Prasetyo, Bos!" Ketus Kartini, tatapan yang dulu lembut kepada cucu sang majikan kini tidak ada lagi. Selama ini ia yang lebih tahu keadaan Kakek, tapi pria itu seolah-olah menjadi cucu yang peduli. Kartini menarik cepat handphone miliknya dari tangan Arga tanpa rasa takut, tapi belum sempat menghubungi dokter, Arga angkat bicara.
"Tidak bisa begitu, Kartini! Stroke kambuh itu berbahaya, harus langsung ke rumah sakit untuk perawatan intensif!" Arga semakin kesal karena Kartini yang dulu selalu bersikap hormat, lembut dan sopan kepadanya kini berani membantah.
Keduanya saling berselisih pendapat, suara mereka sedikit meninggi hingga membuat kakek Chandresh mengerang kesakitan. Melihat hal itu, Kartini tidak mau berdebat lagi kemudian telepon dokter pribadi kakek.
Arga tidak lagi bicara selain menunggu dokter tiba, ia hendak membantu Kartini mendorong kursi roda kakek ke kamar, tapi Kartini bergerak lebih cepat hingga tiba di kamar, Arga hanya mengikuti.
"Kamu!" Arga terperangah, tidak menduga bahwa Kartini yang gemuk itu mengangkat tubuh kakek ke tempat tidur seperti mengangkat bayi.
Kartini hanya merespon ucapan Arga dengan menoleh sekilas lalu membetulkan posisi tidur kakek agar nyaman. Selanjutnya ambil handuk kecil membersihkan dahi kakek yang berkeringat.
Arga hanya diam tapi bola matanya bergerak ke sana ke mari mengikuti pergerakan Kartini yang sangat lincah.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar ke arah kamar, muncul dokter pria bersama Mbok.
"Pak Chandresh kenapa Mbak?" Tanya dokter Santoso ketika sedang memeriksa kakek, karena tempo hari terakhir periksa kondisi kakek cukup stabil. Dokter Santoso pun memeriksa kakek dan tekanan darahnya sangat tinggi.
"Kakek tiba-tiba saja pingsan Dok," lirih Kartini tentu saja tidak mungkin jujur penyebab kambuhnya kakek, Kartini pun membantu dokter memasang infus.
"Apa tidak ada Suster yang ahlinya Dok, kenapa art ini dibiarkan memasang infus!" Arga tampak marah melihat Kartini menusuk jarum di pangkal jempol kakek.
"Jangan khawatir Mas Arga, Kartini ini sekolah jurusan perawat loh," dokter Santoso geleng-geleng kepala. Kartini bekerja di sini sejak lama, apa iya? Arga tidak tahu ketrampilan Kartini.
Sementara Kartini sepertinya tidak terpengaruh dengan kata-kata Arga. Seorang perawat harus bisa mengendalikan emosinya. Dia memang tidak mempunyai ijazah perawat, tapi memasang infus sering kali ia lakukan bila kakek sedang drop.
Seandainya kedua orang tuanya tidak meninggal karena tragedi gempa, tentu saja saat ini Kartini masih melanjutkan kuliah. Selesai memasang infus, Kartini menutup tubuh kakek dengan selimut.
"Mbak Tini...," panggil dokter Santoso yang sedang menulis resep di atas meja.
"Saya, Dok," Sekar mendekat.
"Ini obat yang harus kamu tebus," ucap dokter memberikan secarik kertas.
"Biar saya yang tebus, Dok," Arga yang sejak tadi hanya memperhatikan dokter dan Tini memeriksa kakek, kali ini mendekat.
"Baiklah, tapi sebelum berangkat ada yang ingin saya bicarakan," Dokter Prasetyo mengajak Arga dan Kartini keluar kamar untuk membicarakan tentang kakek.
"Bagaimana kondisi kakek saya, Dok?" Tanya Arga ketika mereka sudah duduk di ruang tamu. Dadanya berdebar kencang takut terjadi sesuatu dengan kakek karena ia penyebab beliau pingsan.
"Kondisi Pak Chandresh saat ini sedang tidak stabil, risiko komplikasi masih tinggi jika beliau terus mengalami stres," ujar dokter Santoso serius.
Sepi di ruang tamu, semua larut dalam pikiran masing-masing.
Kartini sedih, baru kemarin kakek mulai bisa makan sendiri, bicara lancar, tapi sekarang kambuh lagi dan entah bagaimana keadaannya setelah sadar nanti. Niatnya untuk pergi dari rumah ini pun sirna, tidak mungkin meninggalkan kakek dalam keadaan seperti ini.
Arga menunduk, kedua tangannya mencengkeram rambut sendiri. Dia benar-benar sakit kepala memikirkan semua ini.
"Tolong bahagiakan Pak Chandresh, beliu tidak boleh berpikir terlalu berat," Dokter mengingatkan. Santoso menatap kedua muda mudi itu dengan tatapan memohon. Sebenarnya sebagai dokter ia bisa membaca pikiran Arga dan Kartini. Tampak ada sesuatu yang mereka sembunyikan hingga menyebabkan sakit kakek kambuh, tetapi dokter tidak punya hak untuk mencampuri urusan pribadi mereka.
"Baik Dok," jawab Arga dan Kartini bersamaan.
"Kalau begitu Saya permisi dulu," pamit dokter lalu keluar.
Hanya tinggal Arga dan Kartini di tempat itu, tapi pandangan mereka tertuju ke arah dokter yang ke luar. Tidak ada sepatah katapun Kartini memilih pergi menuju kamar kakek karena sudah beberapa menit ia tinggalkan.
Arga termenung sendiri di ruang tamu, ia bingung entah apa yang akan ia lakukan. Menikahi Kartini? Rasanya mustahil, tapi jika tidak, bagaimana dengan kesehatan kakek?
Saat Arga masih terjebak dalam keraguan, pintu depan terbuka. Ternyata Prabu papa Arga yang datang.
"Bagaimana keadaan Kakek kamu Ar?" Tanya Prabu yang berjalan tergesa-gesa, karena Arga hanya diam, ia langsung menyatakan sendiri ke kamar ayahnya. Tetapi di luar pintu ia mendengar kakek sudah berbicara dengan Kartini, hati Prabu sedikit tenang kemudian masuk.
"Ayah sudah lebih baik?" Prabu segera duduk di tepi ranjang. Sementara Kartini membungkuk keluar kamar memberi ruang pria paruh baya itu. Dia merasa lega ternyata Kakek masih bisa bicara.
"Mana istri kamu?" Tanya kakek, ia sudah mau sekarat menantunya itu tidak juga datang.
"Dia sedang ada acara Yah."
Kakek kecewa karena menurutnya tidak anak, tidak menantu, semua tidak ada yang peduli. "Kebetulan kamu datang Prabu, nasehati Arga, agar anakmu menikahi Kartini," lirih Kakek.
Prabu terkejut mendengar kata-kata ayahnya. "Ayah ini ada-ada saja," Prabu mengerutkan kening mana mau Arga menerimanya.
"Ayah serius Prabu, hanya Kartini satu-satunya orang yang peduli pada Ayah."
"Jelas Kartini perhatian Ayah, karena dia Ayah bayar mahal."
"Ayah bukan orang bodoh Prabu! Tahu mana yang tulus dan tidak, jika Arga tidak mau menurut, jabatan Ceo akan Ayah berikan kepada Kenzo!"
Kali ini gantian ayah dan anak itu yang berdebat, hingga beberapa saat, Prabu menemui Arga yang masih juga termenung.
"Arga, sebaiknya kamu turuti permintaan Kakek," ucap Prabu ketika sudah duduk di sebelah Arga. "Kamu kan sudah tahu sifat Kakek, lebih baik kamu nikahi Kartini," Prabu akhirnya sependapat.
"Tapi, kenapa harus Kartini? Dan kenapa posisi saya bisa terancam hanya karena saya tidak mau menikah dengan orang yang tidak saya cintai?" tanya Arga kesal, kenapa pula papanya ikut-ikutan.
"Kakek melihat Kartini sebagai sosok yang bisa menjadi pendamping yang tepat untukmu dalam menjalankan perusahaan, menurutnya dia cerdas, bertanggung jawab, dan telah membuktikan keseriusannya kepada Kakek," jelas Prabu.
Arga rasanya malas untuk berdebat.
"Arga, selain perjanjian kerja sama penting dengan beberapa mitra bisnis kita juga terkait dengan kebijakan Kakek. Jika kamu tidak menuruti, bukan hanya posisi CEO yang akan hilang, tapi juga beberapa kerja sama penting yang bisa mempengaruhi masa depan perusahaan."
Arga merasa semakin tertekan. Di satu sisi, ia tidak ingin mengecewakan kakek dan melihat perusahaan keluarga yang telah dibangun dengan susah payah jatuh ke tangan orang anak berandalan seperti Kenzo. Di sisi lain, ia merasa tidak adil jika harus meninggalkan Nadine.
"Sudahlah Ar, tidak banyak waktu untuk kamu berpikir," pungkas Prabu lalu pulang akan menjemput istrinya agar datang menjenguk kakek.
Arga masih juga termenung, begitu melihat Kartini hendak ke kamar kakek, ia beranjak.
"Tunggu Tini, ada yang ingin saya bicarakan kepadamu."
lnjut kk👍
siapa.tuh yg datang jangan bilang itu Nadine yah
atau....gundik mu Arga...🤣🤣🤭🤭🤭 entahlah hy emak yg tau
kenzo?
nadine?
siapa sih thorr bikin penasaran aja 🤭
dia bisa...msk mobil kmu aj GK bisa...🤣🤣🤭