Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 Kota Chang'an atau HangZhou
Wei Ying memasak banyak makanan, lebih tepatnya menyajikan banyak makanan yang ia ambil dari kemampuan space hole atau ruang hampa miliknya.
Uap panas yang mengepul dari makanan itu menyebarkan aroma wangi lezat yang menggugah selera. Yulang tanpa sadar menelan ludahnya sendiri saat bebek bakar tersaji di depan matanya.
Kini semua orang berkumpul, begitu pun dengan anak-anak yang cukup terkejut dengan keberadaan dua pria itu.
"Ibu.. mereka siapa?" tanya Lu Xue.
"Mereka kultivator muda dari sekte Gunung Mua."
Yulang yang merasa ia di perhatikan segera memperkenalkan diri dengan sopan, "Kami murid dari sekte Gunung Mua, Cheon Yulang dan ini rekan saya Li Jinyi."
Lu Shu dan kedua adiknya membalas dengan menyebutkan nama masing-masing.
"Nona Wei, apa mereka adik-adik mu?" tanya Yulang.
Wei Ying menggeleng sambil tersenyum kecil. "Bukan, mereka anak-anak ku."
Yulang terlihat sedikit terkejut, ia berulang kali melirik anak-anak itu lalu kembali melihat ke arah Wei Ying. Ibu Wei yang menyadari itu tertawa kecil, merasa tingkah pria muda itu sedikit lucu.
"Mereka anak tiriku.."
Yulang menganggukkan kepalanya, di sisi lain Li Jinyi melihat temannya itu dengan alis berkerut dalam. Lalu saat suasana mulai kembali tenang saat makan, Jinyi berbisik sangat pelan ke arah Yulang.
"Oi, kamu terlihat sangat dekat dengan wanita itu. Bahkan sampai berbicara informal, padahal kalian baru saja kenal tadi malam." bisik Jinyi.
"Ya, dia yang meminta untuk jangan bicara formal padanya, lagipula dia yang memberi mu obat tadi malam dan bahkan menjamu kita makan." balas Yulang dengan berbisik juga.
.
.
Wei Ying sudah membereskan semua barang-barangnya, Yulang membantu menaikan barang-barang itu ke dalam gerobak kecil yang di tarik satu ekor kuda yang di tambatkan tak jauh dari tenda itu di bangun tadi malam.
"Terima kasih.." ujar Wei Ying saat Yulang meletakan barang terakhir di gerobak.
"Harusnya kami yang berterima kasih, kamu sudah merawat temanku tadi malam bahkan memberinya obat juga menjamu kami makan." balas Yulang.
"Oh, kami tidak sempat menanyakan kamu hendak kemana karena kondisi temen ku tadi malam."
"Kami sebenarnya belum punya tujuan pasti, tapi sepertinya Ibukota bukan pilihan yang buruk. Seperti yang kamu tau, belakangan ini banyak orang gagal panen, kami termasuk petani yang gagal panen dan memutuskan untuk pergi ke kota lain mencari peruntungan." jelas Wei Ying.
Yulang terlihat berpikir, "Jika ibu kota berarti ke Cang'an. Tapi setau ku, kota Cang'an sedikit tidak ramah untuk seorang ibu yang membawa tiga orang anak.." ujar Yulang saat melirik ke arah Lu Shu dan dua adiknya.
Wei Ying yang tak mengerti spontan membuat alisnya menekuk ke bawah. "Tidak ramah? Kenapa?"
"Sudah jadi rahasia umum, ibukota saat ini menjadi sarang prostitusi dan judi. Meski ibu kota terlihat sangat gemerlap, kehidupan disana sangat sulit apalagi untuk seorang wanita yang mengurus anaknya sendirian. Apalagi..." Yulang menjeda ucapannya saat matanya menatap ke arah Wei Ying.
"Kamu sangat cantik.. itu akan sangat merepotkan.." timpalnya dengan suara yang lumayan pelan.
Wei Ying tertawa kecil saat melihat Yulang tersipu malu setelah mengucapkan dua kalimat terakhirnya.
"Jika kamu belum memutuskan tujuan pasti, kenapa tidak ke Kota HangZhou." saran Yuang.
Wei Ying tampak memikirkan saran itu dengan serius.
Sedangkan di sisi lain, Jinyi menatap temannya semakin aneh. Tatapannya menyipit dengan ekspresi yang rumit.
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭