Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23.
Suara langkah kaki yang anggun dan suara panggilan yang hangat tiba-tiba memecah keheningan yang penuh emosi di dapur.
"Alana... Sayang, di mana kau?" seru Annabelle dari ambang pintu. Wanita itu berjalan masuk dengan senyum di wajahnya, namun senyum itu berubah menjadi ekspresi terkejut ketika matanya menangkap pemandangan di hadapannya. Aslan berdiri sangat dekat dengan Alana, tangan mereka masih saling menggenggam, dan wajah keduanya tampak memerah dengan napas yang belum sepenuhnya teratur.
Annabelle mengerjap beberapa kali, lalu secercah pemahaman dan juga kesenangan terselip di matanya. Namun, ia tidak menegur atau membuat suasana menjadi canggung. Sebaliknya, ia hanya tersenyum lembut seolah tidak melihat apa-apa.
"Wah, rupanya kau sudah dibantu oleh pemilik rumah ini," ucap Annabelle santai, berjalan mendekat. "Aku sedang mencarimu, Alana. Makan malam hampir siap disajikan."
Seolah baru saja terbangun dari mimpi, Alana segera menarik tangannya dari genggaman Aslan dan berbalik cepat kembali ke meja kerja, wajahnya kini merah padam. Sementara itu, Aslan dengan cepat menguasai dirinya kembali. Wajahnya kembali tenang dan berwibawa, seolah kejadian tadi hanyalah imajinasi belaka. Ia bahkan melangkah maju, mengambil nampan berisi piring-piring yang sudah disusun rapi oleh Alana.
"Biar aku yang bawa ini, Ma," ucap Aslan datar, seolah tidak ada hal luar biasa yang terjadi. "Alana sudah bekerja keras di sini. Ayo, Alana, kita ke ruang makan."
Alana melirik Aslan dengan tatapan yang campur aduk—antara kesal, malu, dan juga rasa syukur karena pria itu pandai bersikap. Ia mengangguk pelan dan mengikuti langkah Annabelle dan Aslan keluar dari dapur, berharap detak jantungnya segera kembali normal.
Di ruang makan yang megah namun hangat itu, semua orang sudah menanti. Meja panjang yang diukir dengan indah dipenuhi hidangan lezat yang menggugah selera. Ketika mereka duduk, percakapan segera mengalir dengan santai namun penuh makna.
Marcel, yang duduk di kepala meja, mengangkat gelasnya sedikit dan menatap Alana dengan pandangan bangga.
"Aku dengar, studi Alana sudah memasuki tahap akhir, ya?" ucap Marcel, suaranya lantang namun hangat. "Sebentar lagi kau akan diwisuda dan resmi menjadi dokter. Sungguh pencapaian yang luar biasa. Keluarga kita akan memiliki tenaga medis yang handal."
Samuel tertawa bangga, menepuk bahu putrinya yang duduk di sampingnya. "Benar sekali. Anakku ini memang keras kepala dalam hal belajar. Dia tidak mau hanya mengandalkan nama keluarga, dia ingin membuktikan kemampuannya sendiri. Aku dan Helena sangat bangga padanya. Begitu kembali ke Yogyakarta nanti, kami berencana mengadakan syukuran kecil-kecilan juga."
Pembicaraan kemudian beralih ke urusan bisnis. Marcel mengalihkan pandangannya ke arah putranya.
"Dan untukmu, Aslan," kata Marcel, nada suaranya menunjukkan kepuasan. "Laporan tentang proyek infrastruktur dan investasi besar yang kau tangani di Swiss sudah masuk. Semuanya berjalan jauh lebih baik dari perkiraan awal. Keuntungan yang didapat dan juga reputasi yang kau bangun di sana sangat luar biasa. Ayahmu ini benar-benar sudah menjadi pemimpin yang tangguh, Samuel. Aku tidak perlu khawatir lagi menyerahkan tanggung jawab kepadanya."
Samuel mengangguk setuju, menatap Aslan dengan hormat. "Aku selalu tahu Aslan punya bakat besar. Perubahan sikapnya dan keseriusannya dalam bekerja belakangan ini semakin membuktikan bahwa dia adalah orang yang tepat untuk menjaga masa depan, baik bagi perusahaan maupun bagi orang yang dicintainya."
Selama percakapan itu, Alana merasa tatapan seseorang tidak pernah lepas darinya. Ia tahu itu Aslan. Setiap kali ia berani mengangkat wajah, ia pasti bertemu dengan sepasang mata biru yang menatapnya dengan intensitas yang membuatnya sulit bernapas. Tatapan itu bukan hanya sekadar melihat; itu adalah tatapan kepemilikan, cinta, dan juga sesuatu yang lain yang sulit diartikan—seolah Aslan sedang merencanakan sesuatu di dalam kepalanya. Alana berusaha fokus makan dan menjawab pertanyaan keluarga, namun hatinya terus berdebar, merasakan ketegangan yang tak terucapkan yang dipancarkan oleh pria di seberangnya.
.......
Makan malam berakhir dengan suasana yang sangat hangat. Mereka semua pindah ke ruang tamu yang luas, menyeruput kopi dan hidangan penutup sambil berbagi cerita masa kecil, kenangan tentang persahabatan mereka, dan rencana-rencana masa depan. Hingga larut malam, barulah rasa kantuk mulai menyapa, dan satu per satu anggota keluarga memutuskan untuk istirahat.
Ketika kesempatan itu datang, ketika Samuel dan Helena sudah naik ke kamar tamu yang disediakan, dan Marcel serta Annabelle juga sudah menuju sayap rumah mereka sendiri, Aslan segera bertindak. Ia mendekati Alana yang sedang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke taman, dan tanpa banyak bicara, ia dengan lembut namun tegas menggenggam pergelangan tangan gadis itu.
"Ikuti aku," bisiknya, suaranya rendah dan mendesak.
"Aslan, mau ke mana? Ini sudah malam, aku harus ke kamarku juga..." protes Alana pelan, namun kakinya ikut melangkah karena tarikan tangan pria itu.
Aslan tidak menjawab, hanya terus berjalan membawa Alana menaiki tangga marmer yang megah menuju lantai dua, lalu berjalan menyusuri lorong panjang hingga sampai di sebuah pintu kayu berukir yang besar. Itu adalah kamar pribadi Aslan—wilayah yang paling pribadi dan tertutup bagi siapa pun.
Aslan memutar kenop pintu dan menarik Alana masuk, lalu segera menutup dan menguncinya kembali dengan gerakan cepat. Begitu pintu tertutup, suara dunia luar hilang sepenuhnya, menyisakan suara napas mereka berdua yang terdengar jelas di ruangan yang luas dan mewah itu.
"Aslan! Apa yang kau lakukan? Lepaskan, ini kamar mu!" Alana mulai meronta, tangannya berusaha melepaskan cengkeraman pria itu, suaranya keluar sebagai rintihan halus yang bercampur ketakutan dan kegugupan. "Jika ada orang yang tahu aku di sini, apa yang akan mereka pikirkan? Kita belum menikah!"
Aslan tidak melepaskan, malah ia melangkah maju, mendesak Alana mundur hingga punggung gadis itu menyentuh meja yang berdiri kokoh di sana. Ia menatap mata Alana lekat-lekat, wajahnya tampak serius dan penuh tekad yang membara.
"Tepat! Itulah Alasan kenapa aku membawamu kemari, Alana," ucap Aslan tegas, suaranya berat. "Aku tidak tahan lagi menunggu. Aku tidak tahan berpura-pura hanya sebagai calon yang masih dalam masa pengenalan. Aku ingin segalanya resmi. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kau milikku."
Ia menggenggam kedua bahu Alana, menatapnya tajam.
"Aku ingin kita melakukan pertunangan sesegera mungkin. Sebelum Ayah dan Ibumu kembali ke Yogyakarta. Sebelum kau lulus dan pulang ke Indonesia. Aku ingin mengikatmu secara resmi agar tidak ada jarak atau alasan apa pun yang bisa memisahkan kita. Aku ingin kau kembali ke Indonesia sebagai tunanganku, dan jika kau mau, aku akan ikut atau membawamu kemana pun, tapi statusmu harus jelas."
Alana membelalakkan mata, terkejut dan bingung dengan permintaan yang tiba-tiba dan mendesak itu. "Pertunangan... sekarang? Aslan, ini terlalu cepat. Kita belum siap, acaranya belum direncanakan, semuanya mendadak..."
"Aku yang akan mengurus segalanya," potong Aslan cepat. "Yang aku butuh hanyalah persetujuan qqmu dan persetujuan orang tua kita. Dan aku yakin mereka akan setuju."
Malam itu juga, meskipun sudah larut, Aslan tidak mau menunda. Ia membuka pintu kamar dan membawa Alana—yang masih tampak linglung dan gemetar—kembali ke lantai bawah, lalu langsung menuju ruang kerja Marcel di mana ayahnya masih disana membaca dokumen, dan kebetulan Samuel juga ada di sana sedang mengobrol.
Melihat kedua muda itu masuk dengan wajah Alana yang pucat dan Aslan yang berwajah tegas, Marcel dan Samuel saling bertukar pandang.
"Ada apa ini, Nak?" tanya Marcel.
Dengan langkah tegap, Aslan berdiri di depan mereka, lalu menarik tangan Alana agar berdiri di sampingnya, menggenggamnya erat sebagai tanda kesatuan.
"Papa, Paman Samuel," ucap Aslan, suaranya lantang dan jelas. "Saya datang untuk meminta izin secara resmi. Saya ingin melaksanakan upacara pertunangan saya dengan Alana sesegera mungkin. Besok atau lusa, sebelum kalian kembali ke Yogyakarta. Saya tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Saya ingin menjamin masa depan kami berdua."
Marcel dan Samuel terdiam sejenak, lalu saling memandang dan kemudian tertawa kecil lega. Mereka sudah melihat tanda-tandanya, dan sebenarnya inilah yang mereka harapkan.
"Kalau itu keinginanmu, dan kalau Alana juga setuju..." Samuel menatap putrinya lembut. "Maka kami tidak keberatan. Justru kami senang segalanya berjalan lancar."
Marcel mengangguk mantap. "Tentu saja. Kita akan selenggarakan ini dengan layak, meskipun dilakukan secara mendadak. Besok sore, kita adakan di halaman belakang rumah ini. Cukup undang keluarga dekat dan sahabat-sahabat terdekat."
Alana hanya bisa mengangguk lemah di samping Aslan, jantungnya masih berdebar kencang, menyadari bahwa hidupnya berubah arah sekali lagi dengan begitu cepat.
Keesokan harinya, halaman belakang kediaman Lenoir di Neuilly-sur-Seine berubah menjadi tempat yang indah dan meriah. Taman yang luas itu dihiasi dengan bunga-bunga segar, kain-kain hiasan, dan meja-meja yang disusun rapi. Meskipun persiapannya dilakukan dalam waktu singkat, kemewahan dan ketelitian keluarga Lenoir membuat acara itu terlihat megah dan penuh selera.
Upacara pertunangan berjalan dengan khidmat dan hangat. Menggabungkan sedikit unsur tradisi dari keluarga Hadinata dan juga adat Eropa yang dianut keluarga Lenoir, Aslan dan Alana saling bertukar cincin—sebuah cincin berlian yang indah yang melingkar sempurna di jari manis Alana, menjadi bukti ikatan resmi mereka. Annabelle dan Helena bahkan menitikkan air mata haru melihat anak-anak yang sudah mereka jodohkan dalam doa kini benar-benar bersatu dalam janji.
Selesai upacara resmi, suasana berubah menjadi perayaan yang riuh. Di antara tamu undangan, tiga sosok pria tampan dan berkarisma datang berjalan bersamaan. Mereka adalah sahabat-sahabat terdekat Aslan: Argon Leonard, Zayn Abdullah, dan Steven Argan.
Mereka langsung menghampiri pasangan muda itu. Zayn dan Steven langsung berjabat tangan erat dengan Aslan dan menyalami Alana dengan sopan serta memberikan ucapan selamat yang tulus.
"Selamat, Kawan. Akhirnya kau temukan tempatmu berlabuh," ucap Steven sambil tersenyum lebar.
"Alana, selamat ya. Aslan banyak bercerita tentangmu, dan melihat langsung, kami paham kenapa dia berubah menjadi orang lain," tambah Zayn ramah.
Namun Argon Leonard—yang masih dengan gaya santainya dan senyum jahil—langsung menepuk punggung Aslan cukup keras, matanya berkilat menggoda.
"Wah, wah, wah... Siapa yang bilang dia tidak mau terikat dan masih ingin bebas?" seru Argon dengan suara keras yang membuat beberapa orang menoleh. "Dulu kau yang paling keras menolak perjodohan ini, Aslan. Dan sekarang? Kau mengadakan pertunangan secara mendadak seolah takut gadis ini akan terbang pergi kapan saja! Dasar munafik, ya!"
Aslan hanya tertawa, tidak marah sama sekali. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Alana, menarik gadis itu sedikit ke sampingnya sebagai tanda kepemilikan yang bangga.
"Kau tidak akan mengerti, Argon, sampai kau merasakannya sendiri," jawab Aslan bangga, matanya tidak lepas dari wajah Alana yang kini tersipu malu namun tersenyum bahagia. "Dulu aku buta, tapi sekarang aku melihat segalanya dengan jelas."
Dan di tengah tawa sahabat-sahabatnya dan kehangatan keluarga, Aslan tahu bahwa semua perjuangannya, semua perubahannya, dan semua penantiannya telah terbayar lunas. Alana kini adalah tunangannya, dan masa depan yang cerah sudah terbentang di depan mata mereka.