Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takhta yang Terguncang dan Sumpah di Koridor Terakhir
Langkah kaki Arkan dan Ziva yang bersahutan di lantai marmer koridor utama SMA Garuda terdengar seperti detak jantung yang berpacu kencang. Meskipun Arkan menggenggam tangan Ziva dengan erat—sebuah pernyataan visual yang tak terbantahkan—Ziva bisa merasakan getaran kecil di jemari suaminya.
Arkan sedang berjuang menjaga topeng ketenangannya di bawah ribuan pasang mata yang menghujam mereka seperti anak panah.
Riuh rendah bisikan di koridor mendadak senyap saat mereka lewat. Ada tatapan jijik dari beberapa siswi pengikut Clarissa, ada tatapan kagum dari siswa yang menganggap keberanian Arkan adalah aksi heroik, namun mayoritas adalah tatapan bingung. Bagi mereka, Arkan adalah dewa aturan, dan kenyataan bahwa sang dewa telah "melanggar" norma tak tertulis tentang masa muda adalah sebuah anomali yang sulit dicerna.
"Arkan! Ziva! Ke ruang Kepala Sekolah. Sekarang!" Suara menggelegar Pak Danu memecah keheningan. Guru kesiswaan itu berdiri di depan pintu kantornya dengan wajah yang merah padam, memegang map besar yang berisi petisi.
POV Revan: Sisa-Sisa Harga Diri
Revan masih berdiri di dekat gerbang, mengawasi kerumunan wartawan yang mulai dibubarkan oleh pihak kepolisian yang dipanggil Pak Wijaya. Napasnya berat, matanya perih karena kurang tidur. Ia melihat punggung Arkan dan Ziva yang menghilang di balik pintu gedung utama.
Lo menang, Ar, batin Revan sambil menyalakan mesin motornya.
Ia merasa ada kekosongan yang aneh di dadanya. Selama ini, ia mengira Arkan hanyalah cowok kaya yang penakut dan berlindung di balik jabatan. Tapi melihat bagaimana Arkan pasang badan di depan kamera tadi, mengakui Ziva sebagai istrinya tanpa keraguan sedikit pun, Revan sadar bahwa ia telah kalah dari pria yang tepat.
"Gue nggak akan ganggu lo lagi, Ziv," gumam Revan pelan. Ia menarik gas motornya, melesat meninggalkan sekolah. Baginya, tugasnya sebagai "penjaga bayangan" sudah usai. Jika Arkan sanggup menghadapi dunia demi Ziva, maka Ziva tidak butuh perlindungan dari pecundang sepertinya lagi.
Ruang Eksekusi: Petisi dan Harga Diri
Di dalam ruang Kepala Sekolah, suasananya jauh lebih panas daripada di koridor. Di atas meja jati yang besar, tertumpuk lembaran kertas dengan ratusan tanda tangan.
"Ini adalah petisi dari persatuan orang tua murid," ujar Pak Danu, suaranya bergetar karena emosi. "Mereka menuntut Arkan dicopot dari jabatan Ketua OSIS dan kalian berdua dikeluarkan.
Mereka menganggap kalian memberikan contoh buruk tentang pernikahan dini kepada siswa lain."
Pak Wijaya, yang duduk di sofa sudut ruangan, menyilangkan kakinya dengan tenang.
"Contoh buruk? Putra saya menikah secara sah. Tidak ada satu pun pasal di buku saku sekolah ini yang melarang siswa menikah selama tidak ada pelanggaran asusila atau kehamilan di luar nikah. Benar begitu, Pak Kepala Sekolah?"
Kepala Sekolah berkeringat dingin. Di satu sisi, ia takut pada
kekuasaan Pak Wijaya. Di sisi lain, ia ditekan oleh opini publik.
"Memang tidak ada aturan eksplisit, Pak Wijaya. Tapi secara etika..."
"Etika siapa?" Arkan memotong bicara, suaranya tenang namun tajam. "Apakah etika berarti berbohong dan bersembunyi? Saya sudah mengakui semuanya. Saya tidak meminta siswa lain mengikuti jejak saya. Saya hanya meminta hak saya untuk tetap belajar. Nilai akademik saya tetap yang tertinggi di angkatan ini, dan laporan OSIS saya tidak pernah cacat."
Arkan menatap Pak Danu lurus-lurus. "Kalau Bapak mau mencopot jabatan saya, silakan. Saya tidak gila takhta. Tapi jangan pernah sentuh hak belajar Ziva. Dia tidak salah apa pun dalam hal ini."
Ziva terenyuh. Di tengah tekanan sehebat ini, Arkan masih memikirkan keselamatannya. Ziva pun memberanikan diri untuk bicara. "Pak, sebagai jurnalis sekolah, saya selalu diajarkan untuk mengungkap kebenaran. Hari ini kebenaran itu sudah terungkap. Bukankah sekolah harusnya menjadi tempat yang paling menghargai kejujuran daripada kemunafikan?"
Ruangan itu hening. Argumen Ziva menusuk nurani mereka yang paling dalam.
Demo di Lapangan: Suara Siswa
Tiba-tiba, terdengar suara riuh dari arah lapangan sekolah. Mereka semua bergegas menuju jendela. Di bawah sana, ratusan siswa berkumpul. Bukan untuk menghujat, melainkan untuk memberikan dukungan.
Gibran berdiri di tengah lapangan dengan pengeras suara.
"Teman-teman! Arkan mungkin sudah menikah, tapi dia tetap Ketua OSIS yang paling peduli sama kita! Siapa yang bantu kalian pas anggaran ekskul dipotong?! Arkan! Siapa yang belain Ziva pas dia dipalak Clarissa?! Arkan! Kita nggak butuh pemimpin yang sempurna, kita butuh pemimpin yang jujur!"
Sisil berdiri di samping Gibran, mengangkat poster bertuliskan: "MARRIED BUT STILL OUR LEADER! #TeamArkanZiva".
Melihat dukungan dari teman-temannya, air mata Ziva akhirnya tumpah. Ternyata dunia tidak sekejam yang ia bayangkan. Kebaikan Arkan selama ini berbuah manis di saat paling kritis.
Malam Terakhir di Bawah Bayang-Bayang
Setelah perdebatan panjang, sekolah akhirnya memutuskan: Arkan diizinkan menyelesaikan jabatannya hingga pelantikan pengurus baru minggu depan, dan keduanya tetap diperbolehkan bersekolah hingga ujian akhir. Namun, mereka dilarang menunjukkan kemesraan di lingkungan sekolah.
Malam itu, mereka kembali ke rumah utama keluarga Wijaya. Arkan mengajak Ziva ke balkon kamarnya yang menghadap ke arah taman yang luas.
"Ziva, maaf ya," ucap Arkan sambil menatap bintang-bintang. "Masa remaja kamu jadi seperti ini."
Ziva menyandarkan kepalanya di bahu Arkan, merasakan kehangatan yang kini bisa ia nikmati tanpa rasa takut. "Nggak apa-apa, Ar. Malah gue ngerasa lega. Nggak ada lagi rahasia, nggak ada lagi Clarissa, dan sekarang gue tahu kalau gue punya suami yang bener-bener berani."
Arkan menoleh, menatap Ziva dengan tatapan yang sangat dalam. "Setelah lulus nanti, kita benar-benar mulai dari awal ya? Di tempat yang nggak ada yang kenal kita sebagai
'Ketua OSIS' atau 'Siswi Jurnalis'. Cuma Arkan dan Ziva."
"Janji?" tanya Ziva sambil mengaitkan jari kelingkingnya.
"Janji," jawab Arkan, lalu ia mengecup dahi Ziva dengan lembut.
Di kegelapan malam, mereka menyadari bahwa badai mungkin telah berlalu, namun perjalanan mereka baru saja dimulai. Mereka bukan lagi dua remaja yang dipaksa menikah, melainkan dua orang dewasa yang memilih untuk saling mencintai di tengah gempuran dunia yang mencoba memisahkan mereka.