NovelToon NovelToon
Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
​Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
​Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22.Cahaya Bulan dan Janji

Taman kota Kuoh di bawah siraman cahaya bulan yang pucat terasa mencekam. Air mancur yang biasanya menjadi tempat berkumpulnya pasangan muda kini hanya menyisakan keheningan yang menyesakkan, sesekali pecah oleh suara gemericik air yang dingin. Di tengah alun-alun itu, Issei Hyodo tersungkur di atas aspal. Napasnya terputus-putus, sementara noda merah yang kental mulai menyebar luas di bagian perutnya. Lubang akibat tombak cahaya itu masih menyisakan sisa-isisa energi panas yang membakar dagingnya.

"Kenapa... Yuuma-chan..." gumam Issei dengan sisa tenaganya, matanya yang mulai kabur menatap sosok gadis yang baru saja ia ajak kencan.

Gadis itu—Amano Yuuma, atau kini lebih dikenal sebagai Raynare—berdiri dengan sayap hitam legam yang mengepak pelan. Wajahnya yang semula manis kini terdistorsi oleh senyuman yang mengerikan, penuh dengan kepuasan yang sadis. Di tangannya, sebatang tombak cahaya ungu kembali berpendar, siap untuk memberikan serangan penutup.

"Salahkan Tuhan yang memberimu barang berbahaya di dalam tubuhmu itu, Issei-kun," ucap Raynare dengan nada mengejek yang melengking. "Kau hanya manusia biasa yang tidak berguna. Kematianmu adalah kontribusi terbaik bagi rencana kami."

Namun, tepat sebelum ia melayangkan tombaknya, udara di sekitar air mancur itu mendadak membeku. Raynare tersentak, sayap hitamnya menegang secara instingtif. Ia merasakan sebuah tekanan yang sangat berat, seolah-olah atmosfer di taman itu tiba-tiba berubah menjadi cairan logam yang menghimpit paru-parunya.

Dari kegelapan pepohonan sakura yang mulai berguguran, sebuah langkah kaki terdengar. Bukan langkah yang terburu-buru, melainkan ketukan tumit sepatu yang berirama konstan, anggun, dan penuh kedaulatan.

"Bau yang sangat menjijikkan," suara wanita yang dingin namun jernih mengalun di udara. "Bau keputusasaan dari makhluk rendah yang mencoba merasa kuat dengan menyiksa yang lebih lemah."

Bibi Dong melangkah keluar dari bayangan, membiarkan cahaya bulan menerangi gaun seragamnya yang berkilau seolah-olah terbuat dari sutra surgawi. Di belakangnya, Ren berdiri dengan menyandarkan punggung pada sebuah tiang lampu jalan yang mati, kacamata hitamnya tetap terpasang, memberikan kesan bahwa ia hanyalah seorang penonton di barisan depan sebuah panggung teater.

Raynare memutar tubuhnya, matanya membelalak lebar. "Siapa kalian?! Beraninya manusia mengganggu urusan Malaikat Jatuh!"

Bibi Dong tidak menjawab. Ia hanya terus berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa sepuluh meter. Ia menatap Issei yang sedang sekarat dengan pandangan sekilas, lalu beralih menatap Raynare dengan tatapan yang penuh dengan penghinaan mutlak.

"Manusia?" Bibi Dong terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat merdu namun mampu membuat bulu kuduk berdiri. "Kau bahkan tidak memiliki kualifikasi untuk menyebut statusku. Sayap hitam yang kusam, energi yang tidak stabil... kau hanyalah burung gagak yang kehilangan arah, bukan?"

"Kau... jalang!" Raynare berteriak histeris. Ia tidak tahan dengan tatapan meremehkan itu. Dengan gerakan cepat, ia melemparkan tombak cahayanya ke arah dada Bibi Dong.

Tombak itu melesat membelah udara dengan kecepatan tinggi, menciptakan suara desingan yang tajam. Issei, yang masih setengah sadar, memejamkan matanya, mengira wanita cantik itu akan berakhir seperti dirinya. Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru menentang hukum alam.

Bibi Dong tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, jemarinya terbuka seolah-olah sedang menyambut sehelai daun yang jatuh.

TING!

Tombak cahaya itu berhenti tepat di depan telapak tangan Bibi Dong. Bukan tertahan oleh perisai, melainkan seolah-olah ruang di depan tangannya telah mengeras. Bibi Dong hanya meremas udara sedikit, dan tombak cahaya milik Raynare hancur berkeping-keping menjadi partikel ungu yang tidak berbahaya.

[SISTEM: Tekanan Roh diaktifkan. Radius 20 meter di bawah kendali mutlak Permaisuri.]

[SISTEM: Status Raynare—Ketakutan Akut. Efek samping: Kelumpuhan otot sayap.]

Raynare gemetar hebat. Ia mencoba terbang menjauh, namun kakinya terasa tertanam di atas aspal. Sayap hitamnya menolak untuk mengepak, seolah-olah gravitasi di tempat itu hanya berlaku sepuluh kali lipat padanya.

"Ini... tidak mungkin! Energi apa ini?!" teriak Raynare dengan suara parau.

"Itu adalah berat dari sebuah kedaulatan," Ren berbicara dari kegelapan, suaranya tenang namun memiliki otoritas yang dalam. "Kau baru saja menyentuh wilayah yang bahkan pemimpinmu, Azazel, tidak akan berani masuk tanpa izin."

Bibi Dong melangkah maju satu langkah lagi, membuat Raynare jatuh terduduk di atas aspal. "Ren, apakah kau ingin aku menyiksanya sedikit? Rasanya sangat tidak sopan jika aku membiarkan makhluk ini mati dengan cepat setelah dia berani menyerangku."

Bibi Dong menatap Raynare, dan di balik punggung sang permaisuri, sebuah bayangan raksasa berbentuk laba-laba ungu mulai bermanifestasi secara samar—sebuah proyeksi dari Martial Spirit miliknya yang telah berevolusi melalui energi ruang-waktu milik Ren.

"T-tolong... ampuni aku..." Raynare merangkak mundur, air mata ketakutan mulai membasahi pipinya yang tadi penuh dengan kesombongan.

Bibi Dong berdiri tepat di atas Raynare, menatapnya dari ketinggian yang seolah-olah melampaui langit. "Ampunan adalah milik mereka yang berharga. Sedangkan kau... kau hanyalah bahan uji coba untuk melihat seberapa cepat racun rohku bekerja pada makhluk jenis kalian."

Udara di taman itu mendadak menjadi sangat ungu dan berat. Jeritan Raynare yang memilukan mulai bergema di malam yang sunyi itu, menandai dimulainya "pelajaran" pertama dari sang Permaisuri kepada para penghuni dunia baru ini.

1
Chandra
lanjut lagi lebih banyak lagi
Chandra
lanjut mana sih
Chandra
lanjut mana
Chandra
lanjut lagi
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut lagi seru ini
Chandra
lanjut lagi
Chandra
lanjut
Chandra
mana lanjutnya 😭
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!