Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.
Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.
Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.
Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**
Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEPASKAN SEPUASNYA
Adi tidak menunggu jawaban dari Ana. Ia hanya menatap lekat ke dalam mata Ana yang masih sayu, lalu perlahan tangannya kembali menelusuri lekuk tubuh wanita di bawahnya. Sentuhannya kali ini tidak lagi ragu-ragu, melainkan penuh kepemilikan.
"Lagi, sayang... kali ini Saya nggak akan kasih ampun," bisik Adi. Suaranya kini lebih berat, serak oleh gairah yang kembali menguasai logika.
Sambil terus menciumi ceruk leher Ana, Adi mulai membisikkan pengakuan yang selama ini tersimpan rapi di balik kewibawaannya sebagai seorang dosen.
"Kamu nggak tahu kan seberapa besar usahaku untuk nggak menerkammu setiap kali kita bimbingan di kampus atau di perpus. Cara kamu mendebat argumen saya, caramu menatap saya dengan menantang, saat sayamengkritik skripsimu... itu sangat menjengkelkan, Ana. Tapi di saat yang sama, itu membuat saya gila karena saya hanya ingin membungkam bibirmu dan membawamu ke tempat seperti ini."
Ana hanya bisa mendesah, jarinya meremas rambut Adi yang mulai berantakan. Ia bisa merasakan milik Adi kembali memposisikan diri, menegang sempurna dan terasa lebih panas dari sebelumnya. Tanpa aba-aba, Adi mengangkat kedua kaki Ana tinggi-tinggi, melipatnya hingga posisi Ana benar-benar terbuka lebar, mengekspos segala kerentanannya.
Bless!
Dengan satu sentakan pinggul yang penuh tenaga, Adi menghujamkan miliknya kembali ke dalam kehangatan Ana.
"Akhhh! Mas...!" Ana memekik, punggungnya melengkung seketika. Penetrasi kali ini terasa jauh lebih dalam, seolah Adi ingin menyentuh bagian terdalam dari jiwa Ana, melampaui sekadar sentuhan fisik.
Bagi Adi, momen saat miliknya yang besar itu meluncur masuk kembali ke dalam Ana adalah puncak dari segala fantasinya yang paling gelap. Adi merasa seperti seorang raja yang baru saja menaklukkan wilayah paling berharga; ia merasa berkuasa, namun di saat yang sama, ia menyerah sepenuhnya pada kenikmatan yang diberikan Ana.
Bagi Ana, setiap kali Adi melakukan gerakan keluar-masuk, ia merasa dunianya dijungkirbalikkan. Hujaman Adi terasa tajam, dan sangat memabukkan. Setiap inci "terong" besar itu masuk memenuhi dirinya, Ana merasa seolah ada kembang api yang meledak di perut bawahnya. Rasanya penuh, panas, dan mendesak. Gerakan Adi yang konsisten dan bertenaga membuatnya merasa sangat diinginkan—bukan sebagai mahasiswa yang butuh bimbingan, tapi sebagai wanita yang dipuja.
Ia tidak lagi peduli pada status mereka. Ia hanya ingin Adi terus menghujamnya, menghancurkan sisa-sisa kewarasannya dengan kenikmatan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Adi mulai memacu ritme dengan lebih brutal. Ia tidak lagi bermain lembut. Setiap kali ia menarik keluar hingga nyaris terlepas, ia langsung menghujam balik dengan kecepatan yang membuat suara benturan kulit mereka bergema di ruangan itu.
"Kamu... benar-benar... luar biasa, Ana..." erang Adi di sela-sela kegiatannya.
Ia menanamkan wajahnya di dada Ana, menghisap ujungnya dengan liar sambil terus memacu bagian bawahnya. Ana hanya bisa menggelinjang, matanya terpejam rapat dengan air mata nikmat yang mengalir di sudut matanya. Ia merasa seolah sedang terbang, lalu dihempaskan kembali ke kasur oleh kekuatan pria yang selama ini ia anggap dingin itu.
_
_
Setelah ronde kedua yang menguras seluruh tenaga itu berakhir, mereka berdua terkapar di atas kasur dengan napas yang saling memburu. Kamar tamu itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara detak jantung yang masih berpacu. Adi memeluk Ana dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Ana yang masih hangat.
Di tengah keintiman yang luar biasa itu, sebuah pikiran hinggap di kepala Ana. Pikiran tentang hari esok. Tentang gedung kampus yang kaku, tentang ruang bimbingan, dan tentang mata-mata mahasiswa lain yang selalu mengawasi sang dosen killer.
"Mas..." panggil Ana lirih, suaranya masih sedikit serak.
"Hmm?" Adi mengecup bahu Ana.
"Setelah semua ini... besok di kampus, aku harus gimana kalo ketemu mas? Kita... harus bersikap seperti apa kalo ketemu di kampus?" tanya Ana. Ada nada kecemasan yang terselip di sana. Ia takut segalanya akan menjadi canggung, atau lebih buruk lagi, ia tidak akan bisa menahan diri saat melihat Adi berdiri di depan kelas.
Adi terdiam sejenak. Ia membalikkan tubuh Ana agar mereka bisa saling berhadapan. Tatapannya kembali tenang, namun ada kehangatan yang tidak akan ia tunjukkan pada orang lain selain Ana.
"Bersikaplah seperti biasa aja, An," jawab Adi dengan nada datar khas dosennya, namun tangannya mengusap pipi Ana dengan lembut.
"Seperti biasa? Kamu bakalan tetap memarahi aku jika revisiku salah, mas?" tanya Ana sambil tersenyum kecut.
"Tentu aja," Adi terkekeh pelan. "Saya nggak akan ngasih nilai A secara cuma-cuma hanya karena malam ini. Di kampus, Saya adalah dosenmu. Saya akan tetap tegas, tetap perfeksionis, dan mungkin tetap akan membuatmu kesal di depan mahasiswa lain."
Adi mendekatkan wajahnya, membisikkan sesuatu tepat di bibir Ana. "Tapi rahasianya adalah, setiap kali Saya marahin kamu atau menatapmu dengan tajam di kelas, itu adalah cara saya untuk menahan diri supaya nggak nyeret kamu keluar dari ruangan dan mengulangi apa yang kita lakukan malam ini."
Ana menatap mata Adi, mencari kepastian di sana. Jawaban Adi terdengar sangat logis, namun juga sangat menggoda. Menjalani peran ganda—mahasiswi teladan di siang hari dan pemuas dahaga sang dosen di malam hari—terasa seperti tantangan yang mendebarkan.
"Jadi, aku tetap harus panggil 'Pak Adi'?" goda Ana.
"Di depan orang lain, ya. Tapi di sini..." Adi kembali mencium Ana, kali ini lebih lembut. "Kamu tahu sendiri siapa yang memegang kendali."
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
lanjut kak....🤭🙏👍