NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Bunga Desa

Terjerat Pesona Bunga Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss DK

Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.

Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.

Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.

Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Kamar

Suara berisik dari luar daun pintu kamar, membuat Edward terbangun dari tidurnya. Awalnya Edward masih belum memahami situasi. Dari mana asal suara berisik itu.

Dengan langkah malas, Edward akhirnya memutuskan untuk turun dari kasurnya. Memakai sandal hotel dan berjalan perlahan ke arah pintu kamar. Ia harus memeriksa dari mana asal suara berisik yang sangat mengganggu ini.

Edward mengintip dari door viewer. Ada seorang pria membawa kamera. Pria itu seperti sedang sibuk mendokumentasikan aksi berisik di depan pintu kamar sebelah.

Juga ada seorang wanita berkacamata yang nampak gugup ketakutan hingga terus menggigiti kuku-kuku jarinya.

"Siapa mereka berdua?" Edward tidak mengenalnya jadi ia tidak membuka pintu untuk memeriksa lebih dalam.

Namun, Edward memilih untuk menajamkan pendengarannya. Perlahan telinganya menangkap suara seorang wanita sedang memaki-maki pacarnya yang diduga selingkuh di hotel.

"Nama pacarnya Edward?" Edward mundur selangkah menjauhi daun pintu kamarnya 1055. Wajah rupawannya sedikit bingung.

"Kenapa wanita itu memaki-maki namaku tapi di depan kamar 1057? Apakah tetangga sebelah juga bernama Edward? Hmm ... Bisa jadi sih. Nama Edward kan bisa dipakai siapa saja."

Edward kembali mengintip dari door viewer sekali lagi. Dan betapa kagetnya dia saat melihat wanita dengan rambut pelangi sedang membelakanginya.

Tanpa melihat wajah wanita itu, Edward langsung tahu siapa nama wanita berambut rainbow yang emosional itu.

"Sial, Sherena. Secepat itu, dia berhasil menemukanku." Edward langsung mundur. Hatinya tidak tenang. Ternyata peringatan yang dilontarkan kawan baiknya pagi tadi menjadi kenyataan malam ini.

"Lily! Lily, semoga dia tidak mendengar kegaduhan Sherena. Aku harus mencegahnya keluar dari kamar." Edward segera berlari ke arah connecting door. Sebuah pintu kayu bercat coklat yang tidak dikunci. Menghubungkan kamarnya dengan kamar Lyodra.

Edward menghambur masuk ke dalam kamar Lyodra tanpa permisi. Mata bulat Edward dengan cepat meradar isi kamar.

Kamar itu sunyi senyap. Kasur empuk masih terbungkus selimut demgan rapi. Batang hidung Lyodra juga tak nampak.

"Lily, Lily, di mana kamu?" Edward langsung panik berusaha mencari Lyodra. Ia tidak mau Lyodra keluar dari kamar dan bertemu Sherena.

Saat ini Sherena sedang hilang akal dan emosi tinggi. Sherena dapat mencelakai siapa saja. Dan Edward tak mau Lyodra dicelakai oleh Sherena yang bar-bar itu.

Edward segera mencari Lyodra di kamar mandi.

Pintu kamar mandi tertutup.

"Apakah Lyodra sedang mandi?" Edward berusaha membuka handle pintunya.

"Terkunci dari dalam."

Edward segera mengetuk pintu kamar mandi sembari memanggil nama Lyodra. Namun, Lyodra tidak kunjung membuka pintu, hingga membuat Edward makin panik.

Edward mengetuk pintu kamar mandi lebih keras dan cepat.

Syukurlah, tak berapa lama, Lyodra keluar dari kamar mandi dalam balutan kimono. Perasaan senang dan lega bercampur jadi satu saat melihat Lyodra baik-baik saja. Bahkan dia tidak tahu kalau ada keributan besar di koridor hotel. Edward langsung mendekapnya dengan hangat dan erat.

Memilih untuk merahasiakan apa yang baru saja terjadi. Agar Lyodra tidak panik dan berpikir macam-macam tentangnya dengan Sherena.

Karena hubungan Edward dan Sherena hanya sebatas rekan saja. Tidak kurang, tidak lebih.

***

Acrylic plastik bertulis nomer 1055 dan 1057 memang dilekatkan bersebelahan pada dinding hotel. Tamu hotel yang teliti tentu saja tidak akan salah membaca dan salah masuk kamar.

Namun, berbeda dengan Sherena, ia terlalu bersemangat hingga salah mengetuk, memukul dan menendang daun pintu kamar nomer 1057 yang ada kanan. Padahal kamar yang ditinggali Edward adalah kamar nomer 1055. Di sebelah kiri.

"Mas, siapa itu, Mas? Istri Mas ya? Suaranya berisik banget, Mas. Penghuni kamar lain jadi keluar semua dari kamar. Ah... Mas sih, ajak aku ke sini, tidak bilang-bilang ke istri. Jadi runyam kan sekarang!" tanya wanita berambut keriting panjang setelah mengintip dari door viewer. Tubuhnya yang langsing masih polos tanpa sehelai benang pun, tak gemetar sedikitpun.

Sementara pria tambun dengan kepala plontos tidak menghiraukan pertanyaan wanita malam yang baru disewanya itu.

Pria tambun itu terlalu sibuk berpakaian. Namun, kancing kemeja lengan panjangnya belum berhasil terkait. Jemari tangannya bergetar terlalu keras, seakan tak bisa dikontrol untuk memasukkan kancing ke dalam lubangnya satu persatu.

"Sial, kenapa dia bisa tahu kalau aku ada di sini? Eits ... Bukankah hotel bintang lima itu aman? Susah ditembus istri yang mau cari bukti perselingkuhan? Kenapa hotel bintang lima yang satu ini bisa kecolongan ya? Payah! Payah! Udah bayar hotel mahal-mahal, eh ketahuan juga. Apes! Apes!" ucap pria tambun itu sambil terus mencoba mengancingkan kemejanya.

"Mas namanya Edward ya? Namanya bagus banget, Mas. Modern." Perempuan itu malah duduk di ranjang dengan menyilangkan kakinya yang jenjang. Memasukkan jari telunjuknya ke bibir, memainkannya dengan begitu menggoda. Membuat pria tambun itu menghentikan aktivitasnya yang tidak selesai-selesai dari tadi.

"Edward? Namaku bukan Edward." Pria tambun itu terlihat bingung. "Namaku Aris bukan Edward."

Perempuan itu tertawa. "Oh, Aris, pantes saja suka selingkuh. Kan nama Aris adalah nama pria tukang selingkuh yang sering dipakai di film-film bioskop."

"Kurang ajar kamu. Kalau pria beristri di dunia ini tidak selingkuh, mau makan apa kamu?" sahut pria itu sembari merenggut dagu lancip perempuan malam. Menariknya dengan keras hingga posisi duduk perempuan itu goyah. Tubuhnya ikut tertarik ke depan dengan cepat.

"Perempuan yang ada di depan kamar kita mencari orang bernama Edward. Bukan Aris. Sepertinya dia salah kamar." Perempuan itu berusaha mengalihkan topik pembicaraan agar pria tambun melepaskan cengkeraman pada dagunya yang kemarin baru saja difiller dagu (suntik gel untuk membentuk rahang).

Pria tambun itu mendengus keras, memelototkan matanya lalu pergi meninggalkan perempuan berambut keriting. Pergi ke depan pintu untuk mengintip dari door viewer.

Perempuan itu segera berdiri ke depan cermin, mengusap dagunya sambil berharap dagunya tidak berubah bentuk karena baru saja ditarik dengan keras. "Syukurlah daguku baik-baik saja. Awas ya kalau sampai daguku peyok, aku suruh bayar double. Karena aku harus balik ke klinik kecantikan lagi."

Pria tambun itu tersenyum lebar setelah melihat penampakan yang ada di depan pintu kamarnya. "Aman, ternyata dia bukan istriku."

Pria tambun itu kembali melepas celana panjang dan kemeja yang belum dikancing rapi.

"Kita lanjut lagi yuk!" ajak pria tambun itu karena suara berisik sudah membuatnya terinterupsi sejenak. Belum tuntas melampias hasrat.

"Boleh, tapi aku minta bayaran double. Buat ongkos jantungku yang kaget karena ada perempuan sinting ingin menggerebek kita," balas perempuan berambut keriting.

"Double? Enak aja, bayaranmu sudah mahal, tahu! Aku kasih bonus aja, buat beli obat jantung di apotik," sahut pria tambun sembari mengambil dompet tebal berwarna hitam yang tersimpan di laci nakas.

Pria itu mengeluarkan lima lembar uang berwarna merah dan melemparnya ke wajah cantik perempuan berambut keriting.

Tangan perempuan berambut keriting terbuka lebar, wajahnya dihiasi senyuman dan langsung lari mendekap pria tambun berkepala plontos. "Terima kasih untuk bonusnya, Om Aris."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!