Bertemu kembali dengan Althan Alaric, mantan pacarnya yang sekarang menjadi aktor terkenal, bukanlah kabar baik bagi Vivi. Ia berusaha menjauh, tapi pria itu seolah sengaja mendekatinya untuk membalas dendam.
Vivi bisa memahami alasan Althan bersikap demikian. Namun masalahnya bukan itu. Jika Althan terus berada di dekatnya, Vivi takut pria itu akan mengetahui keberadaan Mikaila, anak yang dirahasiakan Vivi selama ini. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sanggupkah Vivi terus menyembunyikan anak itu dari sang superstar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Gelang Putus
Vivi terbelalak.
Saking kagetnya, ponsel yang ada di tangannya jatuh begitu saja ke lantai. Jantungnya berpacu cepat, seolah ia sedang lari marathon. Sementara di depannya, tatapan Althan tajam menusuk.
Gelang berbenang merah terayun di tangan Althan, dan senyuman tipis muncul di bibir pria itu. "Kenapa kamu mencari ini, Vivi?" tanyanya dengan suara rendah.
Vivi menelan ludah gugup.
Beberapa skenario muncul di kepalanya. Satu, dia lari saja dari sana secepatnya, tapi langsung dibatalkan karena kakinya terasa lemas. Kedua, mengelak sebisa mungkin. Terserah jika dibilang tidak tau malu.
"Aku tidak tau maksud Anda Pak," ucapnya dengan suara yang dibuat setenang mungkin. "Saya kesini mencari barang saya yang hilang. Tapi bukan gelang yang ada di tangan bapak,"
"Oh, ya?" Alis Althan terangkat sebelah. "Lantas, apa yang kamu cari?"
Otak Vivi berpikir cepat. Apa yang harus ia cari? Otakku, berpikirlah!
"Cincin," jawabnya asal. "Cincin kawin saya,"
Suasana mendadak hening.
Baik Althan maupun Vivi sama-sama kagetnya. Althan kaget mendengar ucapan Vivi, pun Vivi kaget mendengar ucapannya sendiri.
Lah, kenapa aku malah ngomong begitu?
"Cincin kawin?" Althan melangkah maju tiga kali, mendekati Vivi. "Tapi, yang aku lihat kamu tidak pernah memakai cincin itu Vivi,"
"Ya saya memang sengaja menyimpannya supaya nggak hilang," Vivi meneruskan kebohongannya. Perlahan ia melangkah mundur. "Makanya sekarang saya mencarinya,"
"Lalu," Satu langkah Althan saja sudah setara dengan tiga langkah Vivi, sehingga mudah saja pria itu mencapai Vivi. "Kenapa kamu mencarinya diam diam seperti maling? kenapa nggak langsung tanyakan saja padaku?"
"Karena..." Bola mata Vivi bergerak ke kanan dan ke kiri. Mencari celah kiranya ia bisa lolos dari posisi itu. Tapi tiba-tiba saja Althan sudah mendorong tubuhnya, memaksa punggung Vivi menempel ke dinding.
"Althan, lepas!" Vivi berusaha memberontak, tapi sepertinya Althan tidak mau memberikannya kesempatan. Kedua tangannya menumpu di sisi dinding. Seperti posisi mengurung. Membuat Vivi tak punya pilihan selain tetap di tempatnya.
“Karena apa?” suaranya rendah, hampir berbisik, tapi cukup untuk membuat jantung Vivi berdetak tidak karuan.
Vivi memalingkan wajah, berusaha menghindari tatapan itu. Namun Althan lebih cepat. Dengan lembut namun tegas, ia menahan dagu Vivi agar kembali menghadapnya.
Sekarang, jarak mereka nyaris tak ada.
“Katakan Vivi,” ucap Althan pelan. "Katakan kebohongan itu sambil menatap mataku,"
Vivi bisa merasakan jantungnya sudah melompat jauh dari tempatnya. Posisi ini benar benar berbahaya, dan wajah Althan terlihat benar-benar marah. Belum pernah seumur hidupnya Vivi melihat Althan semarah ini kepadanya.
"Gelang ini," Althan kembali mengangkat gelang di tangannya, kali ini tepat di depan mata Vivi. "Adalah gelang yang pernah aku berikan padamu, kan?"
Vivi terdiam. Tapi ia tak mau terlihat kalah. Ia berbalik menantang mata Althan. "Gelang apa maksudmu? Aku tidak ingat apa yang kamu bicarakan,"
"VIVI!" Tangan Althan terkepal, meninju tembok di belakang Vivi. Vivi terbelalak kaget.
"Tidak usah pura-pura lagi! Jujurlah padaku!" Suara Althan terdengar frustasi.
"Sebenarnya ini yang kamu cari, kan? Kamu masuk ke apartemen ini diam-diam karena takut ketahuan aku, kan? Kalau tidak, kenapa.." Althan memutus ucapannya sejenak, memberi jeda untuknya mengambil napas. "Kenapa kamu masih menyimpan ini? Kenapa Vivi?"
Vivi memalingkan wajah. "Aku nggak tau maksud kamu apa,"
"Astaga Vivi!" Althan merasa dirinya sekarang sudah sangat frustasi. "Oke kalau kamu nggak mau jujur,"
Althan mundur beberapa langkah. "Nggak masalah kan kalau aku putus saja gelang ini sekarang?"
Vivi sontak menoleh cepat. Matanya langsung tertuju pada gelang di tangan Althan.
Gelang itu adalah satu-satunya kenangan bersama Althan yang ia miliki. Kalau itu putus, berarti sudah tidak ada lagi sisa kenangan akan kebahagiaan mereka.
"Kenapa kamu masih diam? Kamu benar-benar mau aku memutusnya?"
Vivi mengepalkan tangan. Tentu saja ia tidak rela. Gelang itu sudah menemaninya selama ini. Ia selalu memakainya kemanapun ia pergi.
Ada suatu hari saat dirinya sedang bekerja di salon, tak sengaja gelangnya putus dan manik-maniknya jatuh berhamburan. Vivi rela menghabiskan waktu seharian penuh di dalam salon untuk mengumpulkan manik manik itu, membuat rekan kerjanya, bahkan bosnya sendiri heran.
"Itu cuma gelang murahan, Vivi? Kenapa mencarinya segitunya sih? Sudahlah, besok aku belikan yang baru, sepuluh kalau perlu,"
Tapi Vivi tak peduli. Baginya gelang itu bukan sekedar benda, tapi kenangan yang tak ternilai harganya. Lalu setelah ketemu, ia menyatukan manik manik dan benangnya lagi, dan memilih menyimpannya baik baik.
Dan sekarang, pria yang pernah memberikan gelang itu, hendak memutusnya. Sungguh ironis.
Vivi menahan air matanya sebisa mungkin. Tapi ia tak mau terlihat goyah sama sekali. Ia tak mau semua pengorbanannya sia sia.
"Lakukan saja," tantangnya. "Aku tak peduli,"
Althan merasa dadanya sangat sesak mendengarnya. Tadi, saat ia menemukan benda itu, hatinya sempat merasa gembira. Ia pikir, Vivi masih memiliki perasaan padanya, buktinya gelang pemberiannya bertahun-tahun yang lalu masih ia simpan. Ia pikir, ia bisa memperbaiki hubungan mereka. Ia pikir, mungkin Vivi punya alasan nya sendiri kenapa meninggalkannya waktu itu. Ia pikir, ia bisa memaafkan semua yang pernah terjadi jika Vivi mengakuinya.
Tapi, semua pikirannya salah.
Althan menatap Vivi beberapa saat, seolah masih menunggu ia berubah pikiran. Tapi tidak ada reaksi.
Wajahnya mengeras. Tanpa berkata apa-apa Lagi, ia menurunkan pandangannya ke gelang di tangannya.
Jarinya mulai menarik ujung benang itu perlahan. Benangnya menegang, terlihat jelas bekas sambungan yang pernah diperbaiki.
Ia berhenti sebentar, lalu menariknya lagi, kali ini lebih kuat.
Benang itu akhirnya tak mampu menahan.
Tasss.
Manik-manik kecil langsung terlepas dan jatuh ke lantai. Beberapa memantul pelan, bergulir menjauh dari kaki mereka, menyebar tanpa arah.
Althan membuka genggamannya, membiarkan sisa benang itu terjatuh begitu saja.
Bersamaan dengan berhamburannya manik-manik di gelang kesayangannya itu, berhamburan pula perasaan Vivi sekarang.
kalau kamu g membuat mereka berpisah juga g bakalan mereka pisah😡
/Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Chuckle/
sebenarnya vivi juga pengin ngaku kalau Mikaila anak althan, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.
harusnya Vivi terus terang kenapa dia dulu ninggalin althan, biar althan kasih pelajaran sama wanita serakah itu kalau kebahagiaan althan sama Vivi g bakalan menghambat karirnya.
yang bukan dari harga, tapi dari nilainya siapa yang memberi dan kenanganny😭😭😭😭
sabar vi semua pasti akan terungkap tanpa harus kamu bicara