NovelToon NovelToon
Glow Up Kontrak : Formula Rahasia Sang CEO

Glow Up Kontrak : Formula Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Syawal Musa

Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 Permainan Level Tinggi

Pintu ruangan tertutup rapat. Suasana di dalam kantor pribadi Arkan saat ini terasa sangat hening, namun ketegangan di udara terasa begitu padat. Arkan berdiri membelakangi Kiara, menatap pemandangan kota dari kaca setinggi langit-langit. Punggungnya tampak tegap, namun bahunya terlihat menahan beban yang sangat berat.

Kiara duduk di sofa tunggu, jemarinya mengetuk-ngetuk pelan permukaan meja kopi di hadapannya. Pikirannya bekerja keras menyusun semua potongan teka-teki yang semakin rumit.

"Jadi, intinya Rian mengancam akan menjual sahamnya ke Black Lotus kalau kita tidak memberinya posisi penting?" tanya Kiara memastikan, suaranya memecah keheningan.

Arkan berbalik perlahan. Wajahnya dingin, tatapannya tajam.

"Persis. Dia tahu kita sedang dalam posisi lemah karena masalah hukum dan keamanan yang menimpa perusahaan belakangan ini. Dia tahu kalau saham itu jatuh ke tangan organisasi Kakek, kendali kita atas perusahaan ini akan hilang total. Rian memainkan kartu yang sangat berbahaya."

Arkan berjalan mendekat, lalu duduk di sofa tepat di hadapan Kiara.

"Tapi dia satu hal yang salah dia pikirkan," lanjut Arkan dengan seringai tipis. "Dia pikir kita akan panik dan menerima syaratnya begitu saja."

"Lalu rencana apa yang sudah kau siapkan?" tanya Kiara, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu. Ia tahu suaminya ini tidak akan tinggal diam.

Arkan menyandarkan punggungnya, menyilangkan kedua kakinya dengan santai, namun otaknya bekerja sangat cepat.

"Kita tidak bisa menolak mentah-mentah, karena secara hukum dia memang berhak. Tapi kita juga tidak bisa membiarkan serigala masuk ke dalam kandang."

Arkan mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, suaranya merendah menjadi bisik yang penuh strategi.

"Rencana kita sederhana: Kita terima dia masuk. Beri dia jabatan, beri dia akses, biarkan dia merasa menang dan merasa hebat."

Kiara mengerutkan kening. "Kau gila? Biarkan dia masuk? Dia mata-mata Kakek, Arkan! Dia bisa menghancurkan segalanya dari dalam!"

"Justru karena itu kita biarkan dia masuk," potong Arkan tenang. "Kalau dia di luar, dia akan menjadi musuh tak terlihat yang terus menusuk dari belakang. Tapi kalau dia di dalam, di bawah pengawasan mata kita... setiap gerak-geriknya akan kita catat. Kita biarkan dia mencuri data palsu, kita biarkan dia berpikir dia sudah mengakali kita."

Mata Kiara perlahan membelalak, mulai mengerti arah pembicaraan suaminya.

"Jadi... kita akan menjadikannya umpan?"

"Tepat sekali," Arkan tersenyum puas. "Kita biarkan dia mengirim laporan ke Kakek. Dan lewat dia, kita akan melacak di mana persisnya Kakek bersembunyi sekarang. Satu per satu kita tarik benangnya sampai sarang mereka terbongkar total."

Kiara menghela napas panjang, mencoba mencerna rencana berisiko namun brilian itu.

"Berbahaya. Tapi masuk akal," gumam Kiara. "Tapi kita harus ekstra hati-hati. Rian itu licik, dan dia sangat pandai berpura-pura baik."

"Aku tahu. Makanya aku butuh bantuanmu, Kiara," Arkan menggenggam tangan istrinya itu erat-erat. "Di departemen riset dan formulasi, kau yang berkuasa. Jangan pernah beri dia akses ke laboratorium utama atau data asli. Buat proyek tiruan yang terlihat sangat meyakinkan tapi sebenarnya tidak berguna. Buat dia sibuk dengan hal-hal yang tidak penting."

Kiara mengangguk mantap. "Siap, Bos. Urusan bikin rumus palsu yang rumit, serahkan padaku. Aku akan buatkan formula yang terlihat sempurna tapi nantinya akan membuat produksi mereka mandek total."

"Itu dia cewekku," Arkan tersenyum bangga, tatapannya melemah melihat ketegasan di mata Kiara. "Kita adalah tim terbaik, Kiara. Tidak ada yang bisa mengalahkan kita selama kita tetap satu."

Suasana menjadi hening lagi, tapi kali ini hening yang nyaman. Jarak wajah mereka sangat dekat. Arkan tidak melepaskan genggaman tangan Kiara. Justru jemarinya perlahan bergerak, mengusap punggung tangan wanita itu dengan lembut.

"Kiara..." panggil Arkan pelan, suaranya berubah lebih serak dan lembut. "Maaf ya. Sejak kita menikah, hidupmu jadi penuh masalah, bahaya, dan pertengkaran. Kau harus menghadapi kakekmu sendiri yang jahat, dan sekarang keluargaku yang gila kekuasaan."

Kiara menggeleng pelan, dadanya terasa hangat mendengar perhatian itu.

"Jangan minta maaf, Arkan. Awalnya memang aku pikir ini hanya pernikahan kontrak, jalan keluar dari masalah keluargaku..." Kiara berhenti sejenak, memberanikan diri menatap mata dalam suaminya. "...tapi sekarang aku sadar, kalau bukan karena kau, mungkin aku sudah hancur berkeping-keping sejak lama. Kau bukan beban, Arkan. Kau adalah rumah tempatku pulang."

Wajah Arkan tampak terharu. Perlahan, pria itu mengangkat tangan, menyentuh pipi Kiara dengan sangat lembut, seolah menyentuh benda paling berharga di dunia.

"Kata-katamu itu... lebih berharga bagiku daripada seluruh perusahaan ini," bisik Arkan. Ia mendekatkan wajahnya, jarak mereka tinggal beberapa sentimeter lagi. "Aku janji, Kiara. Suatu hari nanti, aku akan pastikan tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi ketakutan. Kita akan hidup tenang seperti pasangan biasa."

"Janji?" bisik Kiara, matanya mulai berkaca-kaca.

"Janji," tegas Arkan.

Tanpa sadar, keduanya semakin mendekat. Napas mereka saling bersahutan. Di tengah dunia yang begitu kejam dan berbahaya di luar sana, di ruangan ini mereka menemukan kedamaian satu sama lain.

Namun, momen manis itu harus terhenti saat pintu kantor tiba-tiba terbuka tanpa diketuk.

"Maaf mengganggu kemesraan kalian..."

Suara itu membuat mereka berdua tersentak dan segera menjauh. Arkan langsung kembali ke mode dingin dan protektif, sementara Kiara buru-buru merapikan penampilannya, wajahnya memerah padam.

Di ambang pintu, Rian berdiri dengan senyum menyeringai, tangan di saku celana, menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara iri dan licik.

"Kak Rian!" seru Arkan ketus. "Tidakkah kau belajar mengetuk pintu?"

"Biasalah, aku orangnya bebas," jawab Rian santai, berjalan masuk seolah dia pemilik tempat itu. "Aku cuma mau bilang, aku sudah terima surat penunjukannya. Besok aku mulai masuk kerja. Wakil Presiden Direktur... kedengarannya bagus ya?"

Rian berhenti tepat di depan meja Arkan, menatap tajam.

"Jangan berpikir kalian bisa mempermainkanku, Adikku sayang. Aku tahu apa yang kalian bicarakan. Dan ingat... di perusahaan ini, dinding punya telinga. Jadi hati-hati dengan apa yang kalian ucapkan."

Rian menoleh ke arah Kiara, mengedipkan sebelah matanya secara tidak sopan.

"Sampai jumpa besok, Kakak Ipar cantik. Aku tak sabar ingin melihat-lihat laboratorium canggihmu itu."

Pria itu berbalik dan pergi meninggalkan mereka, membawa aura tidak menyenangkan yang tertinggal lama di ruangan itu.

Arkan mengepalkan tangannya kuat-kuat, urat lehernya menonjol menahan amarah.

"Brengsek... dia benar-benar ingin mati," desis Arkan pelan.

Kiara menepuk bahu suaminya pelan, mencoba menenangkan.

"Biar saja dia bicara. Biarkan dia merasa menang sekarang," kata Kiara dingin, tatapannya berubah tajam. "Tapi ingat kata-kataku, Arkan... Besok, permainan level tinggi yang sesungguhnya akan dimulai. Dan kali ini, kitalah yang akan memegang kendali."

Mata keduanya bertemu, menyepakati satu hal yang sama: Perang ini belum berakhir, dan mereka siap melahap musuh-musuh mereka hidup-hidup.

1
Syawal Musa
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!