Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.
"Aku pergi, Mas!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
"Loh, tertinggal ya?"
Aska melirik buket bunga yang teronggok di jog.
"Iya. Di jog mobil ada nggak? Tadi waktu ke rumah, emang sengaja nggak kubawa keluar takut kelupaan. Malah beneran lupa nggak dibawa pulang."
Senyum di wajah Aska sektika merekah. "Oh, ada kok. Aku anter ya?"
"Jangan repot-repot kali, Ko," suara Celsi terdengar malu-malu dari seberang telepon.
"Enggak apa-apa. Aku udah muter balik kok. Tunggu di depan ya," jawab Aska cepat. Wajahnya berseri-seri, semua rasa sedih dan pesimisme tadi lenyap tak berbekas digantikan oleh semangat yang membara.
Tak lama kemudian, mobil hitam itu kembali terparkir di depan kontrakan Celsi. Celsi keluar dengan langkah pelan. Aska turun dan menyerahkan buket bunga itu dengan hati-hati.
"Nah, ini. jangan lupa lagi," ucap Aska jujur sambil tersenyum. "Jangan bikin aku mengira kamu nggak suka," sambungnya dalam hati
Celsi menerima bunga itu, lalu menunduk malu. "Maaf... Cuma... tadi lagi banyak pikiran jadi lupa. Makasih ya, Ko. Bunganya cantik."
"Iya... Eh?"
Saat itu, langit yang tadi mendung tiba-tiba menurunkan hujan. Rintik air jatuh semakin deras, menciptakan suara gemericik yang menenangkan namun memisahkan keduanya di bawah atap teras sempit.
"Ya ampun! Hujan! Masuk sini, Ko!"
Aska masuk, lalu duduk di ruang tamu dengan tetap membiarkan pintu terbuka lebar. Ia menatap langit, entah kenapa, dia jadi suka hujan.
"Maaf ya, Ko. Malah jadi kejebak hujan di sini."
"Enggak papa, Kok."
Waktu terus berjalan, malam semakin larut. Mereka mengobrol banyak hal random sampai tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 9 malam.
"Udah lumayan reda nih, Ko."
"Iya. Ummm... aku pamit pulang ya," ucap Aska perlahan. "Enggak enak kalau kemalaman di sini, takut digrebek," kekehnya.
Celsi tersenyum kecil, "Iya, Ko. Makasih banyak ya," balas Celsi lembut.
Aska mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Ia melambaikan tangan sebelum akhirnya kendaraan itu menghilang ditelan gulungan rintik hujan dan kegelapan malam.
.
.
"Jam berapa ini? Kok udah pulang?!" omel Bu Ayu tapi nadanya penuh perhatian."Nggak nginep skalian?"
"Ya ampun, Ma. Hujan tadi," jawab Aska sambil meletakkan kunci mobil.
"Kamu bawa motor?"
"Enggak. Pake mobil."
Bu Ayu mencebik,"Bawa mobil takut hujan."
Aska berdeham kecil, tak menjawab. Menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Duduk sini."
Aska duduk di sofa single.
"Mama suka banget sama Celsi," ucap Bu Ayu tiba-tiba dengan nada serius namun lembut. "Mama udah kasih restu. Kalian juga kelihatan cocok."
Aska terdiam, jantungnya berdegup kencang mendengar pujian itu.
"Terus kapan kamu mau nikahin dia?" tanya Bu Ayu blak-blakan.
Aska langsung terbatuk kecil, kaget dengan pertanyaan langsung itu. "A-apaan sih, Ma? Udah nanya kapan nikah aja."
"Ingat umur, Ka," desak Bu Ayu lagi. "Kamu udah 28 tahun. Mama lihat juga Celsi itu udah siap nikah."
Aska hanya bisa menghela napas lalu tersenyum tipis. Sebenarnya di dalam hati, ia juga ingin secepatnya. Ia ingin menjaga Celsi, ingin melindungi wanita itu dari segala luka. Tapi ia sadar, ia belum tahu pasti apa yang dirasakan Celsi. Apakah wanita itu juga punya rasa yang sama, atau hanya menganggapnya sebagai teman biasa. Masih banyak tembok yang harus ia hancurkan pelan-pelan.
.
.
.
Hari-hari berganti dengan cepat. Celsi kembali disibukkan oleh usahanya. Ayam Geprek Cinta semakin ramai, cabang barunya mulai dikenal orang. Bu Ayu ternyata benar-benar penggemar berat masakan Celsi. Sering kali wanita itu mampir sendiri atau menyuruh asisten rumah tangganya untuk membeli.
Tujuannya tidak hanya untuk makan, tapi juga berharap bisa bertemu dengan Celsi. Namun seringkali kecewa, karena saat Bu Ayu datang ke cabang tertentu, Celsi justru sedang bertugas atau memantau di gerai utama.
"Celsi-nya nggak ada ya," gumam Bu Ayu sedikit kecewa saat bertanya pada pegawai.
"Iya Bu, Teh Celsi tadi pagi di sini. Tapi, sekarang udah di gerai utama," jawab pegawai itu sopan.
"Oh ya, makasih ya, Mbak kalau gitu." Bu Ayu hanya mengangguk pasrah, membeli makanan lalu pulang.
Sore harinya...
"Teh!"
"Iya?"
"Tadi ada ibu-ibu nyariin Teteh loh."
"Ibu-ibu?"
"Dari PKK atau pengajian ya?"
"Eh, bukan, Teh. Bukan ibu-ibu. Maksudnya, seorang ibu gitu. Aduh, gimana sih Teteh."
Celsi tertawa kecil. Dia tau maksudnya, tapi lagi suka bercanda saja. Tapi dia jadi kepikiran, siapa ibu itu? Kenapa mencarinya?
Hari berikutnya.
"Teh!"
"Iya!"
"Aku udah tau, Teh yang nyariin Teteh itu."
"Siapa?"
"Itu, kayaknya mamanya Koh Aska deh. Tadi datang ke sini sama Koh Aska soalnya. Tapi, tadi nggak nanyain Teteh."
"Mamanya Koh Aska?"
"Iya. Kayaknya Koh Aska nih suka banget deh ajak teman atau saudaranya makan di sini."
Celsi terdiam. Ads apa mamanya Aska sampai nyariin? Apa ada hal penting? Atau apa? Ia pun mengambil ponselnya dan menelpon nomor wanita itu.
"Halo? Assalamualaikum Tante Ayu," sapa Celsi ramah. Dulu mereka memang sempat saling tukar nomor ponsel.
"Waalaikumsalam. Celsi! Apa kabar, Nak? Lama nggak dengar kabar," suara Bu Ayu terdengar sangat senang mendengar suara Celsi.
"Alhamdulillah baik Tante. Tante juga baik kan?"
"Iya, Tante sehat banget, Si."
"Maaf ya Tante... Celsi dengar Tante sering mampir tapi Celsi lagi nggak ada di situ, ya?" ucap Celsi memohon maaf.
"Ah enggak apa-apa kok Nak. Mama cuma iseng aja kok. Lagian emang mama suka banget sama ayam celup kamu. Jadi walaupun kamu nggak ada, mama tetap beli," canda Bu Ayu membuat Celsi tertawa lega. Mereka mengobrol cukup lama, semakin terasa akrab seperti ibu dan anak sendiri.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, Celsi mendapat penawaran menarik. Ada pemasok yang menawarkan sayur lalapan segar langsung dari desa. Lokasinya memang agak jauh di pinggiran kota, tapi kualitasnya sangat bagus dan harganya jauh di bawah harga pasar. Tentu saja Celsi tertarik dan bersedia untuk datang melihat langsung.
"Maaf Teteh... hari ini kan jadwalnya tahlilan di rumah saya. Sudah janji sama orang-orang juga. Jadi nggak bisa nemenin Teteh," jelas Joko.
Celsi mengangguk mengerti. "Oh iya ya. Yaudah nggak apa-apa Jok."
"Teh! Teteh ajak Koh Aska saja gimana? Pasti dia mau kok," usul Joko santai.
Celsi terdiam. Pipinya sedikit memanas. "Iya ya... tapi segan ah. Dia kan pasti sibuk juga."
"Yakin mau kok, Teh. Koh Aska itu mah kalau sama Teteh mah pasti siap kapanpun," timpal Joko yakin.
Akhirnya dengan rasa ragu dan segan yang besar, Celsi memberanikan diri menelpon Aska.
"Assalamualaikum, Koh Aska."
"Wa'alaikum salam. Ada apa, Si?"
"Mmm, Kokoh lagi longgar nggak? Siang ini bisa anterin Celsi nggak?"
"Ke mana? Bisa kok."
"Aku mau lihat sayur di daerah Suko Makmur. Ada petani yang nawarin harga bagus. Mau lihat barangnya dulu, kalau bagus mau kuambil."
"Bisa. Bisa. Nanti kujemput di geprek Cinta ya."
"Makasih, Ko."
"Iya, sama-sama."
begitu sambungan terputus, senyum Aska melebar. Dia bahkan masih menatap ponselnya yang mulai gelap.
"Hayo! Kenapa tuh, senyum-senyum?"
Aska terjengit mendengar suara seorang wanita di belakangnya...