Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21: Retakan yang Terbawa Angin Malam
Sore hari di Jombang ditutup oleh langit kemerahan yang perlahan meredup menembus sela-sela pepohonan santri. Sepulangnya dari Tambakberas bersama Kiai Syamsuddin, Gus Arsalan tidak langsung masuk ke dalam *ndalem*. Jiwanya terasa diaduk-aduk. Kalimat mertuanya di sepanjang jalan tadi terus berdengung, menghantam ulu hatinya tanpa ampun. Setiap kata yang diucapkan sang kiai sepuh seolah menguliti dosa-dosanya satu per satu.
Setelah menunaikan salat Magrib dan isya berjamaah di masjid pondok yang dilaluinya dengan kekhusyukan penuh tangis dalam sujud Arsalan membulatkan tekad. Malam ini, ia harus meluruhkan seluruh keangkuhannya demi mendapatkan kembali rida dari wanita yang telah ia zalimi.
Ia mendapati Humaira sedang duduk menyendiri di taman kecil samping *ndalem*. Taman itu tampak sepi, hanya diterangi sebuah lampu taman bercahaya temaram dan ditemani gemercik air kolam pancuran kecil. Humaira duduk di bangku kayu panjang, mengenakan gamis hitam longgar dibalut khimar abu-abu. Tangannya menggenggam tasbih digital, sementara pandangannya lurus menatap kosong ke arah deretan tanaman pucuk merah.
Arsalan mengatur napasnya yang mendadak terasa berat, lalu melangkah perlahan mendekat. Suara alas sandalnya di atas jalan setapak membuat Humaira sedikit menoleh, sebelum akhirnya kembali membuang muka dengan datar.
"Humaira..." panggil Arsalan, suaranya sangat lirih, bergetar, dan jauh dari nada tegas nan angkuh yang biasa ia gunakan.
Humaira tidak menyahut. Ia hanya menghentikan ketukan jarinya di atas tasbih digital, menjadi tanda bahwa ia mendengarkan, meskipun kehadirannya tidak diinginkan.
Arsalan tidak mengambil posisi duduk di samping Humaira. Alih-alih duduk sejajar, pria itu justru memilih mengambil posisi berlutut di atas rumput taman tepat di hadapan istrinya. Kedua lututnya menyentuh tanah, merendahkan posisinya serendah mungkin, menatap wajah pucat Humaira dengan sepasang netra yang sudah berkaca-kaca.
"Gus, Njenengan sedang apa? Berdirilah, mboten elok dilihat santri kalau ada yang lewat," ucap Humaira, suaranya terdengar dingin namun ada sedikit nada panik karena terkejut melihat tindakan suaminya.
"Biar saja, Humaira. Saya tidak peduli," bisik Arsalan, setetes air mata pertamanya luruh melintasi pipinya yang tegap. Ia memberanikan diri meraih kedua belah tangan Humaira yang terasa sedingin es, menggenggamnya erat di antara kedua telapak tangannya.
"Saya ke sini... murni dari hati saya yang paling dalam, ingin meminta maaf kepadamu untuk kedua kalinya. Maafkan saya, Humaira. Maafkan semua kebiadaban saya, bentakan saya, dan tuduhan keji yang saya lontarkan semalam. Saya tahu saya laki-laki bodoh yang tertutup ego dan masa lalu. Saya tidak melihat bahwa perhiasan terindah yang Allah titipkan justru sedang saya injak-injak harganya," ucap Arsalan sesenggukan. Bahunya yang tegap kini berguncang hebat di hadapan istrinya sendiri.
Humaira menatap kepala Arsalan yang tertunduk di atas pangkuannya. Untuk pertama kalinya, ia melihat seorang Gus Arsalan—putra mahkota Al-Anwar yang selalu dipuja karena karismanya—menangis tersedu-sedu laksana anak kecil yang kehilangan arah.
Humaira menarik napas panjang, mencoba menahan sesak yang mendadak kembali bergemuruh di dadanya. Ia perlahan menarik tangannya dari genggaman Arsalan, membuat genggaman tangan suaminya terlepas di udara.
"Kulo sampun memaafkan Njenengan, Gus," ucap Humaira dengan nada yang teramat tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat Arsalan merasa kian tersayat. "Sejak semalam, saat Njenengan meminta maaf untuk pertama kali, kulo sampun memaafkan. Sebagai seorang muslim, kulo mboten berhak menahan maaf untuk sesama."
Arsalan mendongak, matanya yang memerah menatap penuh harap. "Benarkah, Humaira? Kamu mau memaafkan saya?"
"Enggeh, kulo memaafkan," lanjut Humaira, matanya kini mulai berkaca-kaca, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya. "Tapi... maaf kulo mboten saget menghapus bekas luka yang sampun terlanjur tertanam di dalam dada niki, Gus. Memaafkan itu mudah, tapi menyembuhkan hati yang hancur karena semua perbuatan Njenengan... kulo mboten tahu butuh waktu berapa lama lagi."
Humaira mengembus napas berat, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga. "Njenengan membawa dinginnya angin London ke kamar pernikahan kita. Njenengan menafkahi lahir kulo, tapi batin kulo Njenengan biarkan mati kelaparan. Di depan keluarga kita bersandiwara, tapi di balik pintu, Njenengan memperlakukan kulo seolah kulo niki adalah parasit yang mengganggu hidup Njenengan."
Setiap patah kata dari bibir Humaira terasa laksana bilah belati yang menusuk tepat di jantung Arsalan. Pria itu hanya bisa menggeleng lemah penuh penyesalan, tidak mampu membantah karena semua yang dikatakan istrinya adalah sebuah kebenaran yang mutlak.
"Gus... kulo mboten main-main dengan pernikahan niki. Kemarin, setelah Njenengan tidur di lantai, sepertiga malam kulo bangun. Kulo sampun salat istikharah," bisik Humaira, suaranya melemah namun terdengar sangat tegas.
Jantung Arsalan seketika mencos mendengar kata 'istikharah' keluar dari mulut istrinya. Ketakutan terbesar yang sempat diucapkan Kiai Syamsuddin di dalam mobil siang tadi seolah kini benar-benar berdiri nyata di depannya.
"Humaira... apa hasil istikharahmu, Humaira? Tolong jangan katakan hal yang buruk..." pinta Arsalan dengan suara yang teramat serak, memohon dengan sangat.
Humaira memalingkan wajahnya ke arah pancuran air, membiarkan air matanya mengalir bebas. "Rasa-rasanya... kulo taksih mboten sanggup lagi menahan beban hubungan niki, Gus. Hubungan yang diawali dengan kebohongan, paksaan, dan keterpaksaan. Jiwa kulo lelah. Setiap kali melihat wajah Njenengan, yang kulo ingat hanyalah kalimat kejam di malam pertama kita, dan bentakan Njenengan semalam. Kulo takut... jika kulo paksakan kembali ke Al-Anwar sekarang, kulo justru akan menjadi istri yang durhaka karena mboten saget mengabdi dengan hati yang ikhlas."
Mendengar keputusan istrinya, Arsalan merasa dunianya runtuh seketika. Seluruh pasokan udara di paru-parunya seolah lenyap ditelan kegelapan malam. Ia mencengkeram ujung gamis abu-abu Humaira, menempelkan keningnya di atas jemari kaki istrinya dengan penuh keputusasaan yang teramat dalam.
"Jangan, Humaira... kulo mohon jangan tinggalkan saya," tangis Arsalan pecah sepenuhnya di taman sepi itu. "Saya tahu saya salah. Saya tahu saya tidak pantas menjadi imammu. Tapi tolong... beri saya satu kali lagi kesempatan. Jangan hancurkan perahu kita sekarang. Beri saya waktu untuk merubah diri saya, Humaira. Beri saya waktu untuk membuktikan bahwa saya bisa menjadi suami yang memperlakukanmu laksana ratu."
Arsalan mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap Humaira dengan tatapan memohon yang teramat sangat. "Tiga bulan... kulo mohon beri kulo waktu tiga bulan saja, Humaira. Selama tiga bulan niki, kamu boleh tetap tinggal di mriki, di ndalem Jombang untuk menata hatimu. Kulo mboten badhe memaksamu pulang ke Kediri sampai hatimu benar-benar siap. Tapi kulo mohon... izinkan kulo untuk tetap datang ke sini, menjengukmu, mengabdi padamu, dan merubah diri kulo menjadi lebih baik lagi di matamu. Jangan ceraikan saya, Humaira..."
Humaira tertegun menatap kedalaman penderitaan dan penyesalan di mata Arsalan. Di dalam benaknya, mendadak terngiang kembali wejangan luhur dari Ummi Fatimah saat mereka berbicara berdua di dapur siang tadi.
"Nduk, pernikahan itu bukan hanya soal cinta yang membara, tapi tentang sabar yang tak bertepi dan rida yang dicari. Jika suamimu benar-benar datang dengan penyesalan yang jujur, jangan langsung menutup pintu rapat-rapat. Berilah ruang untuk melihat sejauh mana dia menghargai sebuah ikatan suci di atas kalimat Allah."
Perkataan umminya itu laksana air es yang mendinginkan amarah di kepala Humaira. Sebagai seorang anak kiai yang dididik dengan adab pesantren sejak kecil, ia tahu bahwa memutus sebuah ikatan pernikahan tanpa memberikan kesempatan untuk islah (perbaikan) adalah hal yang dibenci oleh Allah.
Humaira menarik napasnya dalam-dalam, mengembuskannya perlahan demi menguasai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
"Tiga bulan, Gus," ucap Humaira akhirnya, memecah keheningan yang sempat mencekam di antara mereka.
Arsalan langsung mendongak, menghentikan tangisnya dengan binar mata yang penuh harap. "Tiga bulan...?"
"Enggeh. Kulo menyetujui tawaran Njenengan. Tiga bulan ke depan, kulo badhe tetap tinggal di sini, menemani Abah dan Ummi Fatimah membantu persiapan pondok sepuh. Selama waktu itu, Njenengan bebas merubah diri Njenengan di Al-Anwar," tutur Humaira dengan nada yang tenang namun mengikat janji.
"Tapi ingat, Gus... jika dalam waktu tiga bulan niki hati kulo tetap merasa asing saat berada di dekat Njenengan, dan jika Njenengan mboten saget membuktikan perubahan itu... kulo mohon dengan sangat, kembalikan kulo kepada Abah dan Ummi dengan cara yang baik, seperti saat Njenengan menjemput kulo dulu."
Meskipun syarat yang diajukan Humaira terasa teramat berat dan penuh risiko, Gus Arsalan tidak memiliki pilihan lain. Baginya, waktu tiga bulan ini adalah mukjizat dan tali penyelamat terakhir yang diberikan Allah untuk mempertahankan rumah tangganya.
"Maturnuwun, Humaira... maturnuwun sanget," ucap Arsalan dengan rasa syukur yang luar biasa, berulang kali mencium ujung jari tangan Humaira dengan takzim dan penuh hormat. "Saya berjanji, demi Allah dan demi kehormatan ndalem Al-Anwar, saya akan menggunakan waktu tiga bulan ini dengan sebaik-baiknya untuk menjemput kembali hatimu yang telah saya patahkan."
Malam itu, kesepakatan baru telah tertulis di antara dua insan yang sempat terasing dalam ikatan yang halal. Ketika malam kian larut dan dinginnya Jombang kian menusuk tulang, mereka berdua kembali ke dalam kamar hijau muda dengan perasaan yang sedikit berbeda dari malam sebelumnya.
Tidak ada lagi benteng keangkuhan di diri Arsalan, yang ada hanyalah seorang suami yang siap berjuang mati-matian dari titik nol demi menebus seluruh air mata istrinya. Sementara bagi Humaira, tiga bulan ini adalah waktu yang ia sediakan bagi hatinya sendiri apakah luka di dadanya akan perlahan mengering, atau justru retakan itu akan semakin melebar terbawa oleh angin malam.