NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Samudera

Pendekar Pedang Samudera

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?

"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."

Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 : SESUATU YANG BENAR

"Ini bukan Xuanyuan."

Haifeng mengucapkannya sambil berjongkok di atas tanah hutan semba menggenggam tanah cokelat gelap di telapak tangan kanannya. Menurut semua catatan yang pernah dibacanya mengenai tanah Pulau Xuanyuan, semua gulungan yang pernah dia salin dan setiap cerita yang pernah didengarnya dari ayahnya maupun para tetua, seharusnya berwarna kehitaman dengan urat biru dari qi laut yang sudah meresap selama ribuan tahun. Akan tetapi tanah ini hanya cokelat biasa, lembab karena semalam hujan, tidak ada yang istimewa.

Kompas Dao di tangan kirinya menunjuk ke arah yang sama seperti sebelumnya, ke depan, ke tempat yang berarti masih sangat jauh.

Hua Ling berdiri dua langkah di belakangnya, menatap punggung Haifeng dengan ekspresi yang tidak berusaha disembunyikan. "Bagaimana Kak Haifeng bisa tahu pasti?"

Haifeng menaburkan tanah itu dan menepuk telapak tangannya sampai bersih. "Xuanyuan berdiri di titik pertemuan empat arus besar. Arus-arus itu meresap ke dalam tanahnya selama ribuan tahun, mengubah warnanya dan mengisi setiap lapisan dengan qi laut yang berbeda dari qi biasa." Dia pun berdiri, mengarahkan kompas ke timur laut. "Kita masih butuh setidaknya beberapa hari untuk berlayar dari sana, asalkan kita punya kapal."

"Dari mana Kakak tahu semua itu?"

Haifeng berpikir sejenak sebelum menjawab. "Buku. Gulungan. Tetua yang mau bercerita." Jeda pendek. "Dan Ayah."

Sedangkan Hua Ling tidak berkata apa-apa selama beberapa detik. Kemudian, dengan nada yang sangat serius untuk seseorang yang wajahnya masih terlihat terlalu muda untuk ekspedisi seperti ini ia berkata, “Aku yakin Kak Haifeng pasti akan menemukan pulau itu.”

Bukan basa-basi atau penghibur semata. Ketulusan di suaranya terlalu sederhana untuk dipalsukan.

Lantas Haifeng terdiam mendengar itu. Setelah orang-orang selama ini bersorak untuk nama ayahnya, meragukan kompasnya, atau mengejek tingkatnya yang nol. Tidak banyak yang berbicara dengan nada seperti Hua Ling, nada yang tidak membutuhkan bukti terlebih dahulu untuk percaya.

"Kenapa kamu ikut pelayaran ini?" tanya pemuda itu sembari lanjut berjalan.

Hua Ling melirik ke arah kakeknya yang berjalan beberapa langkah di depan bersama Qinghan. "Kakekku pernah bilang, jika seorang tabib yang hanya tahu ramuan dari buku adalah tabib setengah jadi. Dunia ini sakit di banyak tempat yang tidak ada dalam catatan mana pun. Hukum langit yang rusak, manusia yang jatuh sakit dengan cara yang belum pernah ada namanya, dan aku ingin melihatnya sendiri." Bibirnya membentuk garis lengkung kecil yang agak malu-malu. "Mungkin, aku juga ingin melihat Pulau Xuanyuan. Tempat yang katanya menyimpan keseimbangan sejati Shenzhou. Seorang tabib pasti bisa belajar banyak dari tempat seperti itu."

Haifeng menatapnya sebentar. Kemudian tersenyum.

"Kalau kita sampai di sana," katanya, "kau boleh ambil sampel tanahnya sepuasnya."

Bersamaan dengan senyuman di wajah mereka berdua, suara itu datang dari arah timur hutan, samar-samar, tapi cukup jelas untuk membedakannya dari suara angin atau hewan.

Seseorang sedang berteriak minta tolong.

Qinghan mengangkat satu tangan dan semua orang berhenti seketika. "Berhenti," perintahnya, pendek, tidak ada nada yang mengundang diskusi. Mereka semua merunduk di antara semak-semak, dan Qinghan sendiri bergerak setengah jongkok ke arah suara itu dengan tangan di gagang pedangnya.

Sementara Haifeng mendengarkan. Suara itu terdengar lagi, lebih keras kali ini, dan ada sesuatu di timbre suaranya yang sangat familiar.

"Aku kenal suara itu." Haifeng berdiri, mengabaikan isyarat tangan Qinghan yang menyuruhnya tetap di bawah. "Itu Tianbao. Li Tianbao."

Qinghan menatapnya sedetik. "Kau yakin?"

"Sangat yakin."

Alhasil mereka bergegas.

Jurang itu tidak terlalu dalam, sekitar lima meter, tapi cukup dalam untuk membuat seseorang tidak bisa keluar sendiri kalau tidak punya qi yang cukup. Benar saja, Li Tianbao berdiri di dasar jurang dengan punggung menempel di dinding batu, wajahnya pucat, matanya terpaku pada sesuatu yang berdiri tiga langkah di depannya.

Harimau itu besar, lebih besar dari harimau yang seharusnya bisa ada, dan tubuhnya memancarkan qi yang keluar seperti uap panas di pagi yang dingin. Adapun bulunya oranye gelap dengan loreng hitam yang bergerak seperti tinta yang belum kering. Hewan itu mendengkur geram, kepala diturunkan yang berarti siap menerkam.

Tanpa pikir lama Haifeng menarik Pedang Samudera dari punggungnya, namun tangan sang kakak mendarat di bahunya sebelum bilah itu sepenuhnya keluar.

"Itu bukan hewan biasa," kata Qinghan. Matanya tidak bergerak dari harimau itu. "Qi-nya sudah meresap sampai ke lapisan dalam. Pedang itu tidak akan banyak berguna tanpa pengendali yang punya tingkatan cukup."

Haifeng melepaskan gagang pedang itu. Sementara Qinghan melompat turun ke dalam jurang.

Apa yang terjadi sesudahnya berlangsung dalam waktu yang sangat singkat untuk diikuti secara detail. Harimau itu menerkam, dan Qinghan bergerak ke samping dengan cara yang membuat terkaman itu terasa seperti hewan itu salah memperkirakan di mana dinding berada. Satu tangan Qinghan terangkat, dan dari telapak tangannya mengalir dingin yang bukan sekadar suhu, melainkan es yang terbentuk dalam hitungan detik, melingkupi kaki depan harimau itu, membeku ke lantai jurang sebelum hewan itu sempat mendaratkan kaki.

Harimau itu berjuang selama beberapa detik. Tapi Qinghan menunggu dengan tangan terlipat.

Kemudian hewan itu berhenti, tidak mati, hanya berhenti, qi-nya seperti dipadamkan oleh kedinginan yang lebih tua dan lebih dalam dari qi hewan mana pun. Harimau itu berbaring dengan nafas yang masih ada tapi mata yang tidak lagi menyala.

Langsung saja Tianbao merosot ke tanah dengan lutut yang tidak mau diajak berdiri.

Qinghan berbalik ke arahnya. "Apa kau terluka?"

"Ti, tidak," kata Tianbao, dan suaranya bergetar dengan cara yang sangat berbeda dari suara cemprengnya saat teriak minta tolong tadi. "Terima kasih. Sungguh, terima kasih, Nona Wei. Saya kira saya sudah—"

"Bagus." Qinghan mendahului rasa syukurnya dengan efisien yang khas. "Yang lain, di mana?"

Tianbao menceritakan semuanya sambil dipapah keluar dari jurang menggunakan tali yang diturunkan Hua Yuan dari atas. Kapalnya hancur diterjang gelombang petir kemerahan, sama seperti kapal utama. Dia melihat dua kapal lain mengalami nasib yang tidak berbeda sebelum dia sendiri terlempar ke laut dan terdampar di pulau ini bersama beberapa orang. Mereka berpencar ketika mencoba mencari makanan, dan dia malah terperosok ke dalam jurang itu ketika tanah di tepinya longsor di bawah kakinya.

"Lalu di mana rekanmu sekarang?" tanya Qinghan.

Ekspresi Tianbao berubah menjadi sesuatu yang lebih berat. "Terpisah dariku waktu aku jatuh. Mereka mungkin masih di sekitar sini, tapi hutannya luas sekali."

Qinghan sudah menatap gunung api di tengah pulau bahkan sebelum Tianbao selesai bicara. Puncaknya tidak mengepul, gunung itu sudah lama tidak aktif, tapi posisinya yang tinggi di tengah pulau menjadikannya titik pandang yang tidak bisa diabaikan.

"Kita akan naik ke sana," katanya. "Dari atas, kita bisa lihat seluruh pulau. Lebih mudah mencari dari ketinggian." Matanya menyapu sekeliling. "Ini juga sudah waktunya untuk berburu."

Tianbao pulih dari ketakutannya dengan kecepatan yang hanya mungkin dimiliki oleh orang yang pada dasarnya tidak bisa murung terlalu lama. Sepuluh menit setelah hampir dimakan harimau, dia sudah merangkul bahu Haifeng sambil berjalan.

"Haifeng aku senang bisa bertemu denganmu lagi, mari kita berlomba," katanya dengan nada yang sama seperti saat mereka masih kanak-kanak berlomba memanjat pohon di Long Yuan. "Siapa yang dapat buruan paling banyak sebelum sampai ke puncak, adalah pemenangnya."

"Hey Tianbao, kau baru saja hampir mati."

"Justru itu. Aku perlu makan yang banyak untuk memulihkan diri."

Hua Ling yang berjalan di sisi lain Haifeng mengangkat tangan. "A-aku ikut."

Tianbao menatapnya dengan ekspresi yang mempertimbangkan apakah seorang gadis tabib bisa berburu, kemudian memutuskan bahwa pertanyaan itu tidak perlu diucapkan. "Semakin banyak semakin bagus."

Hutan itu ternyata lebih mudah dilalui ketika tidak sedang mengejar suara darurat dari kejauhan. Pohon-pohon di sini berbeda dari hutan di daratan Shenzhou, daunnya lebih lebar, batangnya melingkar seperti spiral dari bawah ke atas, dan di antara akar-akarnya ada jamur bercahaya yang mungkin sangat menarik bagi Hua Ling karena dia berhenti beberapa kali untuk mengambil sampel kecil.

Tianbao sendiri memang pandai berburu sejak kecil. Dia berhasil menjatuhkan tiga ekor unggas hutan dengan batu-batu kecil yang dilempar dengan qi yang tidak besar tapi sangat tepat sasaran. Sedangkan Haifeng berhasil menangkap dua, dengan cara yang lebih ribet dari yang seharusnya tapi tetap berhasil, dan Hua Ling menemukan sarang telur ayam di antara akar pohon yang melingkar, dihitung, dan menyatakan dirinya menang dengan cara yang sangat tenang tapi tidak bisa disanggah.

Kendati demikian, Haifeng tidak sepenuhnya fokus pada buruannya.

Karena di antara semak-semak di tepi jalur yang mereka ikuti, ada sesuatu yang berkilat, sangat kecil, di bawah lapisan daun yang sudah lama jatuh dan mulai membusuk. Itu seperti kilatan dari logam tua yang permukaannya masih cukup bersih untuk memantulkan cahaya yang masuk di antara celah dedaunan.

Lantas Haifeng berhenti sebelum membungkuk dan menyibak daun-daun itu dengan tangan.

Benda itu tidak besar, seukuran telapak tangannya, berbentuk seperti potongan bilah pedang yang patah dari ujungnya. Sementara logamnya biru gelap, hampir hitam, dan di satu sisinya ada ukiran ombak yang sudah aus tapi masih bisa dibaca.

Haifeng sampai tidak bergerak selama beberapa saat.

"Ini..." Suaranya keluar lebih pelan dari yang dia niatkan. "Ini jelas milik Ayah... Dia pernah berada di sini sebelumnya, dan itu berarti Pulau Xuanyuan tidak akan terlalu jauh dari sini."

1
Ilham Akbar
Mantap thor, apalagi kalo cerita ini sampai finish💪👍
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Ilham Akbar
Mampus lu,, dasar betina rakus🤭
DanaBrekker: /Smirk/
total 1 replies
GFR31
top 👍
DanaBrekker: terima kasih. sangat disarankan juga buat ikutin kisah Ji Zhen di novelku yang berjudul Lahirnya Kultivator Naga Keabadian 🙏
total 1 replies
DanaBrekker
Selamat datang di karya baru author semoga kalian suka.. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Bisa terus kasih dukungan demi kelanjutan karya-karya author, dan kalau tidak suka jangan dipaksa 🤭🙏🤣
DanaBrekker: semoga cocok 🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!