NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Bangkit.

Pagi itu, perbedaan suasana rumah terasa lebih tajam dari hari sebelumnya.

Rendra menuruni tangga menuju ruang makan dengan kemeja putih rapi seperti biasa. Jas hitamnya tersampir di satu tangan, sementara satu tangan lainnya memegang ponsel sambil membalas pesan yang baru saja ia terima.

Namun, saat ia mengangkat wajah usai membalas pesan, langkahnya terhenti saat melihat istrinya sudah duduk di kursi meja makan dengan pakaian rapi sedang menikmati sarapan tanpa menunggu dirinya seperti biasa.

Tadi malam, ia pulang terlalu larut setelah melakukan pertemuan di lounge hotel ditemani Clara -tentu saja pertemuan yang dilakukan setelah aktivitas panas mereka- hingga ia langsung tidur saat ia sudah berada di kamar. Dan pagi ini, lagi-lagi ia tidak menemukan Thalia di sampingnya saat ia bangun.

"Kamu tidur di kamar tamu lagi?" tanya Rendra melangkah mendekat.

Thalia tidak langsung memberikan jawaban, ia menyesap tehnya, lalu menjawab tanpa menoleh. "Ya."

Hening.

Rendra menatap lekat sosok istrinya, menelisik penampilan sang istri yang pagi ini terlihat sangat berbeda. Blouse biru terang yang dipadukan dengan celana kain putih sepanjang mata kaki dan stiletto cream yang Thalia pakai membuat penampilan Thalia terlihat elegan dan berkelas tanpa dipaksakan.

"Kamu mau ke mana?" tanya Rendra seraya menarik kursi untuk ia duduki, lalu meletakkan jasnya di sandaran kursi.

Thalia menoleh, menatap suaminya datar. "Ada janji dengan seseorang," jawabnya tenang.

Rendra menyipitkan mata. "Dengan siapa?"

"Nyonya Miranda," jawab Thalia singkat.

Dahi Rendra berkerut tipis, menggali ingatannya tentang nama yang baru saja Thalia sebutkan.

"Wanita di pesta itu?"

"Ya," jawab Thalia.

"Untuk apa kau bertemu dengannya? Dan bagaimana kalian bisa membuat janji?" cecar Rendra.

Thalia tidak segera memberikan jawaban, tangannya bergerak pelan menyuap potongan roti panggang ke mulutnya. "Membicarakan konsultasi."

"Konsultasi?" kerutan di dahi Rendra menajam. "Kau serius ingin bekerja lagi?"

"Sangat," jawab Thalia singkat.

"Kita belum selesai membahas soal kamu ingin bekerja lagi, Lia," tekan Rendra tidak terima.

Thalia kembali menyesap tehnya. "Kamu belum selesai menolak, aku sudah selesai membuat keputusan."

Rendra menatap tajam istrinya. Nada suara istrinya terdengar berbeda. Tidak ada kelembutan atapun tanda-tanda jika istrinya akan meminta maaf padanya setelah dua malam memilih pisah kamar.

"Kamu pikir dunia kerja akan langsung menerimamu setelah dua tahun hanya diam di rumah?" komentar Renda seraya menyesap kopinya.

"Tidak," jawab Thalia tetap tenang. "Tapi akan lebih baik memulai dari awal daripada terus berdiri diam menjadi pajangan. Setidaknya, aku tahu cara memulai tanpa menggunakan nama orang lain sebagai pijakan."

"Jaga ucapanmu!" bentak Rendra, suaranya memantul di dinding ruang makan yang biasanya sunyi setiap pagi.

Thalia akhirnya menoleh menatap wajah suaminya, tersenyum tanpa kehangatan. "Kalau ucapan ini menyinggungmu, berarti kamu sadar kalau selama ini aku hanya kamu jadikan pajangan di rumah ini."

"Aku yang memenuhi semua kebutuhanmu selama ini, Thalia, kau lupa?" tekan Rendra

"Aku tidak lupa." Thalia mengangguk. "Termasuk apa yang kamu lakukan hingga membuatku lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar."

Kalimat itu mendarat telak.

Rendra terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat Thalia bukan sebagai istri penurut yang selalu menerima semua pelakuan yang ia berikan, tetapi sebagai wanita asing yang tidak bisa ia jangkau.

Thalia mendorong kursinya pelan, lalu berdiri. Stiletto cream-nya yang beradu dengan lantai marmer menggemakan bunyi tegas. "Aku berangkat."

Rendra ikut berdiri. "Batalkan janjimu, Lia."

Thalia menoleh, kembali menatap suaminya dengan tatapan datar. "Kenapa? Karena kamu belum selesai melarang? Atau karena kamu takut aku punya dunia sendiri di luar namamu?"

"Karena kamu istriku!"

"Ya, Istri. Bukan properti yang bisa kamu kunci kalau kamu tidak suka caraku berjalan."

Selesai dengan kalimat itu, Thalia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi.

Pintu utama tertutup dengan suara pelan beberapa saat setelahnya, meninggalkan aroma parfum samar yang Thalia gunakan yang menyelinap masuk ke indra penciuman Rendra.

Rendra berdiri kaku di ruang makan, semua kata yang biasa sangat lancar ia keluarkan, pagi ini entah kenapa tertahan di tenggorokannya. Kopi di depannya masih mengepulkan uap tipis, tetapi terasa dingin bagi Rendra, sedingin tatapan istrinya yang baru saja lihat.

.

.

.

Gedung Dirgantara Group tampak sibuk saat Thalia tiba. ia masuk ke lobi utama dan menyebutkan nama Miranda pada resepsionis sesuai intruksi yang Miranda berikan di pertemuan kemarin.

"Bu Miranda masih dalam pertemuan dengan Pak Arkana," ujar resepsionis setelah selesai mengecek komputernya. "Anda bisa menunggu di area tamu." lanjutnya sembari menyerahkan kartu tamu pada Thalia.

"Terima kasih."

Resepsionis itu mengangguk ramah, menunjuk arah di mana area tamu berada dan kembali melanjutkan pekerjaannya setelah Thalia menjauh.

Thalia duduk di sofa yang tersedia, memeriksa ponselnya sekali lagi, lalu menggulir layar untuk melihat daftar yang sudah ia tulis kemarin terkait konsultasi bisnis bersama Miranda.

Namun, ketenangan yang baru Thalia nikmati tak berlangsung lama saat Rendra muncul dari arah lobi. Langkah pria itu melambat saat netranya menangkap sosok istrinya.

Selama beberapa detik, Rendra terpaku di tempatnya berdiri, mengamati istrinya yang masih menunduk menatap layar ponsel, lalu berjalan mendekat.

"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?"

Pertanyaan itu membuat Thalia mengangkat wajah dan pandangan mereka bertemu. "Aku sudah mengatakannya di rumah."

"Di kantorku?"

"Di gedung tempatmu bekerja," koreksi Thalia.

"Kamu-"

Sebelum Rendra sempat membalas, lift eksekutif terbuka. Miranda keluar bersama Arkana diikuti Saka di belakang mereka. Satu alasan yang membuat Rendra memilih pergi meninggalkan istrinya karena tidak ingin perdebatannya bersama sang istri terlihat oleh atasannya sendiri.

"Nyonya Thalia, maaf sudah membuat Anda menunggu," ucap Miranda begitu ia berdiri tiga langkah dari Thalia.

Thalia berdiri dengan senyum tersungging di bibirnya. "Tidak apa-apa, saya juga baru saja tiba."

"Kita berbicara di kafe saja?" tawar Miranda.

Thalia mengangguk. "Tentu."

Miranda beralih ke Arkana, menjabat tangan pria itu sambil mengucapkan terima kasih. Namun, fokus Arkana justru jatuh pada Thalia, memberikan senyum samar penuh arti yang hanya bisa ditangkap oleh Thalia sendiri.

. . .

. . .

To be continued....

Maaf yaaa sahabat pembaca semua... Author cut sampai di sini...😭😭😭 real menunggu🥹🥹

moga aja, nanti malam bisa up lagi...

1
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
Dewi Payang
Berkilah mulu, binimu lebih pintar Ren....
Dewi Payang
Jangan ngelak...
Dewi Payang
Gue yang oanas hati dah jadinya😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!