Di dunia kultivasi, kekuatan adalah segalanya.
Yang lemah diinjak. Yang gagal dibuang.
Ardan memahami itu sejak hari pertama ia terlempar ke dunia asing bersama satu-satunya orang yang selalu berada di sisinya—Revan.
Tidak memiliki bakat langit.
Tidak memiliki garis darah legendaris.
Bahkan tidak memiliki sekte untuk berlindung.
Namun Ardan memiliki sesuatu yang lebih berbahaya.
Cara berpikir seorang pemimpin.
Saat para kultivator mengejar kekuatan pribadi, Ardan mulai membangun sesuatu yang lebih besar—kekuasaan.
Ia mengumpulkan para buangan.
Orang-orang gagal.
Mereka yang dihancurkan dunia kultivasi.
Dan dari tangan orang-orang yang dianggap sampah itulah, sebuah kekuatan perlahan lahir.
Sebuah organisasi yang akan mengguncang sekte, kerajaan, bahkan seluruh dunia kultivasi.
Karena terkadang…
monster paling menakutkan bukanlah petarung terkuat.
Melainkan seseorang yang mampu membuat dunia bergerak sesuai keinginannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memulai perjalanan
saat ardan membuka mata, cahaya matahari pagi telah muncul dari cela cela daun.
suara langkah kaki terdengar.
"sepertinya kau sudah menyadari, kekuatan lebih di utamakan dari pada otak nak"
"anda benar, tuan han luo. pikiranku sebelumnya terlalu naif, aku berpikir dengan otakku saja aku sudah bisa bertahan di dunia ini"
han luo duduk di sebelah ardan.
ia memberikan sebuah cincin.
ardan menatap cincin di tangannya.
"apa ini?"
"ini adalah cincin penyimpanan, di dunia ini orang orang memakainya untuk menyimpan barang. kau bisa memasukkan beberapa barang, di dalamnya ada ruang sebesar 20 meter per segi"
ardan memasukkan persepsinya ke dalam cincin, di sana sudah ada satu set panah, dan pedang yang sudah tersusun rapi.
dengan lambaian tangan, muncul satu panah di tangannya.
ardan, tidak terkejut melihat ini. ia pernah mendengar hal ini juga dari revan.
"sudah, lebih baik kita makan dulu" ajak han luo.
ardan mengangguk, ia memasukkan panah tadi lalu mengikuti han luo masuk.
saat di meja makan, mereka makan dengan tenang.
tapi ardan menyadari sesuatu, ia melihat revan yang biasanya banyak bicara kini hanya diam.
ardan menoleh ke arah han luo.
tapi han luo hanya menggeleng.
ardan tidak banyak bicara, ia kembali memakan makanannya.
setelah makan, revan langsung pergi.
"sejak sadar, dia sudah seperti itu. bahkan dari tadi hanya beberapa patah kata yang keluar dari mulutnya" ucap han luo.
setelah selesai makan, ardan berdiri.
ia masuk ke kamarnya.
di sana sudah ada revan yang duduk merenung.
"dan, apa aku monster" ucap revan tanpa menoleh.
ardan mendekat, ia duduk di sebelah revan.
ia menepuk pundak revan, pelan.
"ngomong apa si van, kau tetaplah revan yang baik hati dan kau adalah saudaraku sehidup semati"
"baik hati?"
"aku bukan, saudaramu atau revan yang baik hati lagi dan. aku monster yang hampir membunuhmu"lanjut revan menutup matanya dengan lengan.
ardan menatap langit langit kamarnya.
"dengar van, walau kau hampir membunuhku tapi itu bukan kamu. itu monster yang ada di dalam tubuhmu"
"tapi dan. ini berbeda, monster itu bukan dari luar. bahkan ia mengatakan aku adalah wadahnya, sebenarnya dia sudah ada di dalam. diriku sejak kita pertama kali ke sini, aku baru menyadarinya saat aku berhasil membuka meredian. dia adalah naga besar yang terkurung dalam diriku, auranya sangat gelap"
ardan menatap revan, ia tersenyum.
"ada apa, kenapa kau malah tersenyum?"
"inget gak van, kamu dulu pernah bilang kalau kau menonton serial yang sama persis dengan kondisi mu saat ini. kau bilang pada akhirnya dia bisa mengendalikan monster itu dan memiliki kekuatannya kan, bukankah kau dulu mengatakan itu keren dan kau ingin memiliki itu. bukankah ini adalah keberuntungan"
"itu hanya kartun dan, hal itu mustahilku lakukan"
"apa bedanya, bukankah dulu kita menganggap kultivasi hanya kartun. tapi nyatanya sekarang kita memilikinya kan. ingat van, tidak ada yang mustahil di dunia ini, satu lagi aku akan selalu bersamamu. lagi pula kau kan sudah pernah mengendalikan-nya, aku percaya itu tidak hanya kebetulan, jadi jangan merenung seperti ini terus, mana revan yang selalu ceria"
"ingat, kau adalah tangan kananku. jangan mau kalah dengan monster bodoh itu, jika tidak bisa mengendalikannya kita akan mencari cara untuk memusnahkannya"
mendengar ini, revan tersenyum.
"kau benar, buat apa takut kepada naga bodoh ini. semakin merenung pasti imunku akan melemah, itu pasti tujuan monster bodoh itu"
"nah, ini baru temanku revan" ucap ardan sembari memberikan, cincin penyimpanan kepada revan.
"cincin?" revan mengalihkan tatapannya kepada ardan.
"jangan bilang kau mau melamarku, aku masih normal dan" ucap revan menyilangkan tangannya ke dada.
ardan menepuk kepala revan.
"sembarangan"
"aku juga masih suka lobang, ini cincin penyimpanan. tadi tuan han luo memberi dia kepadaku, jadi ini berarti ini punyamu"lanjut ardan.
"benarkah" ardan mengambil cincin itu.
ia memutarnya beberapa kali.
"apakah ini, cincin yang sama seperti di film"
"begitulah, kau bisa memasukkan persepsimu untuk melihat ruang di dalamnya"
revan, memakai cincin. ia memasukkan persepsi miliknya ke dalam cincin.
ia beberapa kali mengeluarkan dan memasukkan pedang.
"sudah, tidak usah seperti anak kecil. lebih baik siap siap, aku mau mengajakmu menjalankan misi kita di dunia ini"
revan berdiri, tanpa bertanya.
"siap yang mulia" ucap revan sembari memberi postur hormat kepada ardan.
Setelah revan melangkah pergi untuk bersiap, ardan tersenyum.
"benar benar, revan. cepat sekali merubah ekspresi seolah tidak ada yang terjadi"
ardan tidak lama duduk, ia juga mengikuti revan untuk bersiap.
setelah semuanya siap, mereka memutuskan untuk berpamitan kepada han luo dan han li.
"apa kamu sudah benar benar yakin untuk pergi sekarang?"tanya han luo.
" ya... jika terlalu lama di sini, rencanaku tidak akan berjalan maju. lagi pula mumpung ada kesempatan"jawab ardan.
revan yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, ia berjongkok di depan han li yang tengah menangis.
"sudah jangan menangis, han li kan lelaki kuat"
"ta... tapi... perjalanan kakak berbahaya" ucap han li sembari terisak.
ardan ikut berjongkok.
"sudah, nanti kita bertemu lagi. kami pergi paling beberapa bulan"ucap ardan sembari memegang kepala han li.
" janji ya"ujar han li sembari mengajukan jari kelingkingnya.
ardan dan revan menyambut jari kelingking han li sembari tersenyum.