NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 Malaikat Kecil Pengisi Hati

Hari-hari pertama setelah kelahiran sang buah hati membawa perubahan besar dalam rumah tangga Arga dan Kirana. Rumah besar yang dulu sunyi dan dingin, kini selalu terdengar suara tangisan bayi yang lucu, suara tawa, dan suasana yang sangat hidup dan hangat.

Mereka memberikan nama untuk putra semata wayang mereka itu dengan sangat indah: Arka Ganendra Wijaya.

Arka berarti "Matahari", persis seperti julukan yang Arga berikan pada Kirana dulu. Dan Ganendra berarti "Pemimpin yang bijaksana". Nama itu melambangkan bahwa anak ini adalah penerang hidup mereka dan diharapkan menjadi anak yang sukses dan berbudi luhur.

Sejak Arka lahir, Arga benar-benar berubah menjadi "Ayah kece" yang super duper penyayang. Sifat galak dan dinginnya di kantor seakan lenyap begitu saja saat ia melangkahkan kaki masuk ke rumah dan melihat wajah putranya.

"Huuu... siapa ini yang ganteng banget?" goda Arga sambil menggendong Arka dengan sangat hati-hati. Tangan besar dan kekar itu mampu menopang tubuh mungil itu dengan sempurna. "Ini Ayah lho, Nak. Ayah sayang banget sama kamu."

Arka yang baru berusia beberapa minggu itu hanya mengedip-ngedipkan matanya yang bulat dan indah, lalu tersenyum tipis dalam tidurnya.

"Dasar gombal. Ayahnya aja yang ganteng, anaknya ikutan ganteng deh," celetuk Kirana dari ranjang sambil tersenyum lebar melihat pemandangan indah di depannya itu.

Sejak punya anak, Arga bahkan rela pulang lebih awal dari kantor. Semua rapat yang tidak terlalu penting ia tunda atau serahkan pada asistennya. Baginya, tidak ada harta atau jabatan yang lebih berharga daripada melihat tumbuh kembang anak dan istri tercinta.

Malam-malam saat Arka rewel dan menangis minta susu atau ganti popok, Arga lah yang paling sigap bangun.

"Udah udah... kamu tidur aja lagi, Sayang. Kamu kan habis melahirkan masih butuh istirahat. Biar Ayah yang gantiin popoknya," kata Arga dengan sabar meski matanya sendiri masih mengantuk.

Arga bahkan dengan senang hati mencuci botol susu, menyiapkan air hangat, dan menimang Arka sampai tertidur kembali. Pemandangan CEO muda yang biasanya disegani dan ditakuti karyawannya kini sibuk mengurus popok bayi dan menyanyikan lagu pengantar tidur sungguh sangat kontras namun sangat menggemaskan.

"Arga..." panggil Kirana pelan suatu malam saat melihat suaminya sedang asyik mengajak bicara bayi mereka.

"Ya, Kenapa Sayang?"

"Kamu nggak kewalahan gitu? Dulu kan kamu hidup bebas, sekarang harus bangun tengah malam terus, bau popok, denger tangisan..." tanya Kirana penasaran.

Arga tertawa kecil, lalu mencium kening putranya dan berjalan mendekati istrinya.

"Kewalahan sih iya, capek juga iya. Tapi bahagianya itu... luar biasa, Ran. Nggak bisa dijelaskan pake kata-kata," jawab Arga tulus. "Rasanya setiap kali dia senyum atau manggil 'eh' kecil gitu, capeknya langsung hilang. Aku bersyukur banget Tuhan kasih aku kesempatan jadi kepala keluarga yang utuh begini."

Arga duduk di tepi ranjang, memegang tangan istrinya.

"Dulu aku pikir hidup paling sempurna itu waktu aku sukses dan kaya. Tapi ternyata... hidup paling sempurna itu pas aku pulang, ada kamu yang nyambut, ada anak yang nungguin. Itu surga dunia, Sayang."

Kirana tersenyum bahagia, matanya berkaca-kaca. "Aku juga bersyukur banget, Ar. Kita dapet kebahagiaan ini setelah lewati banyak rintangan berat kan? Jadi sekarang kita harus lebih syukuri semuanya."

 

Tiga bulan berlalu dengan sangat cepat. Arka tumbuh menjadi bayi yang sangat sehat, lucu, dan sangat aktif. Wajahnya semakin jelas menampilkan perpaduan sempurna antara Arga dan Kirana. Matanya besar dan berbinar seperti Kirana, tapi rahang dan hidungnya jelas sekali menurunkan genetika tampan sang Ayah.

Suatu hari, Mama Ratu datang berkunjung dengan membawa banyak oleh-oleh dan mainan untuk cucu kesayangannya itu.

"Waahhh... cucu kesayangan Mama udah makin gembil aja nih!" seru Ratu antusias saat mengambil Arka dari gendongan Arga. "Gemoy banget sih ini anak. Mirip banget sama Arga waktu bayi dulu ya."

"Iya kan Ma? Dibilang mirip Ayah terus sih ini anak," jawab Kirana tertawa.

Mereka pun berkumpul di ruang keluarga, berbincang hangat. Tiba-tiba Ratu menatap wajah Kirana dengan tatapan serius namun lembut.

"Ran, gimana perasaan kamu sekarang? Udah nggak ada rasa sakit hati atau curiga lagi kan soal masa lalu Arga dan soal Alya?" tanya Ratu pelan memastikan.

Kirana tersenyum lebar dan mengangguk mantap.

"Enggak sama sekali, Ma. Sekarang mah udah plong dan lega banget. Justru aku malah bersyukur. Kalau nggak karena kemiripan itu mungkin aku nggak bakal dijodohin sama Arga, dan aku nggak bakal sebahagia ini, nggak punya Arka yang lucu begini."

"Syukurlah dengarnya," Ratu menghela napas lega. "Mama mau bilang sesuatu nih sama kalian berdua."

"Apa tuh Ma?" tanya Arga ikut penasaran.

"Mama sudah tua, dan Papa juga sudah mulai ingin pensiun total dari bisnis," ucap Ratu pelan. "Rencana kami, kami ingin menyerahkan seluruh manajemen dan kepemilikan perusahaan grup Wijaya sepenuhnya ke tangan Arga. Dan kamu Kirana, Mama mau kamu ikut terjun membantu mengurus perusahaan juga. Jadi nanti kalian berdua yang memegang kendali penuh."

Arga dan Kirana terbelalak kaget.

"Ta... benar apa tidak, Ma? Itu kan warisan turun-temurun," kata Arga kaget.

"Benar dong. Kamu anak satu-satunya, ya pasti buat kamu. Dan Mama yakin banget sama kalian. Arga itu pintar dan tegas, Kirana itu lembut tapi cerdas dan bijaksana. Kalian berdua gabung pasti perusahaan bakal makin maju pesat," kata Ratu bangga.

"Wah... berarti nanti aku dan Ayah Arka jadi bos besar berdua dong?" goda Kirana sambil menatap suaminya.

Arga tersenyum lebar, lalu menggenggam tangan istrinya dan menatap putranya.

"Berarti nanti kita kerja sama sekeluarga ya, Sayang. Kita bangun kerajaan bisnis ini buat masa depan Arka dan adik-adiknya nanti."

"Adik-adiknya?!" Kirana melongo. "Maksud kamu... kita mau punya anak lagi?!"

"Pasti dong! Arka kan butuh teman main!" Arga tertawa lebar jahil. "Anak satu kurang lah, minimal tiga atau empat biar rame!"

"HUH?! ARGAAAA!!!" Kirana memukul pelan lengan suami, wajahnya memerah padam karena malu. Ratu pun tertawa lebar melihat keromantisan dan kebahagiaan anak dan menantunya itu.

Namun, di tengah kesuksesan dan kebahagiaan yang mulai menumpuk ini, sebuah tantangan baru mulai muncul. Tantangan yang bukan berupa musuh atau orang jahat, melainkan tantangan waktu dan kesibukan.

Beberapa bulan kemudian, saat Arga mulai resmi memegang penuh kendali perusahaan yang jauh lebih besar dan kompleks, ia mulai sangat sibuk. Rapat demi rapat, perjalanan dinas ke luar kota dan luar negeri mulai sering dilakukan.

Awalnya Kirana mengerti dan mendukung penuh. Tapi lama-kelamaan, rasa sepi mulai menyelinap kembali. Arga pulang selalu larut malam, saat Arka sudah tidur, dan pergi pagi-pagi sekali saat anaknya belum bangun.

Malam itu, Kirana duduk menunggu suaminya sampai jam 11 malam. Saat Arga pulang dengan wajah lelah dan kacamata di hidung, Kirana mencoba menyapa dengan lembut.

"Sayang, makan dulu yuk? Aku masakin sop ayam kesukaan kamu."

"Nanti aja deh, Sayang. Aku capek banget. Kepala aku pusing mikirin laporan keuangan sama proyek baru," jawab Arga singkat dan datar, lalu ia melempar dasi dan duduk di sofa sambil memijat pelipisnya.

Wajah Kirana langsung mendung. Rasanya sedih sekali. Suaminya seolah punya temen baru yang namanya "Pekerjaan" yang mencuri perhatian suaminya sepenuhnya.

"Arga... kita jarang ngobrol lagi. Kamu juga jarang main sama Arka," kata Kirana pelan menyuarakan isi hati.

"Kan aku kerja keras buat kalian! Buat masa depan kalian! Kamu maunya apa sih? Aku kerja keras malah dimarahin!" sahut Arga sedikit kesal karena memang sedang lelah dan stres.

Hening seketika.

Kata-kata itu melukai hati Kirana. Ia tidak menuntut harta, ia hanya menuntut waktu dan perhatian.

"Oke... kalau kamu capek, istirahat aja. Aku masuk kamar dulu," jawab Kirana dingin, berbalik badan dan meninggalkan Arga sendirian di ruang tamu yang gelap.

Arga menepuk jidatnya sendiri. "Aduh... kenapa sih aku ngomong gitu..."

Masalah baru pun mulai muncul. Cinta mereka memang sudah kuat, tapi apakah cukup kuat menghadapi ujian kesibukan dan rasa bosan yang perlahan menghampiri?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!