Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.
Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.
Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.
Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.
Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Pelukan Arsen
Dokter Darwis mengerutkan kening. Merasa aneh dengan permintaan Rose.
“Rose, bukankah ini obat yang setiap hari kau minum?” Dokter Darwis sangat hapal karena ia yang memberi rekomendasi obat itu kepada Brighita.
“Kau benar.”
“Tapi kenapa kau ingin menyelidikinya?”
“Entahlah, aku merasa aneh dengan obat itu,” ujar Yvone. Dengan keahliannya meracik obat-obatan, Rose yakin itu bukanlah obat untuk kesuburan. Tetapi ia harus tetap melakukan penyelidikan untuk memberi bukti kepada Arsen.
Karena pria itu tidak akan percaya pada siapa pun kecuali ibunya.
“Tapi ini adalah vitamin untuk kesuburan, aku sendiri yang memberikan resep ini pada Nyonya Brighita,” ucap Dokter Darwis jujur.
Ia ingat sekali, bagaimana ia memberikan resep itu pada ibu Arsen. Saat itu Brighita dan meminta obat kesuburan untuk menantunya.
“Jadi begitu? Tapi aku merasa aneh dengan baunya. Aku khawatir seseorang telah menukarnya.”
Dokter Darwis terdiam, selama bertahun-tahun ia berhubungan baik dengan keluarga Reinhart. Menurutnya semua anggota keluarga itu adalah orang yang baik karena sangat dekat dengan keluarganya.
Tetapi jika yang dikatakan oleh Rose benar. Lalu siapa yang sudah melakukannya?
“Bagaimana, Darwis. Apa kau mau membantuku?”
Dokter Darwis terkesiap mendengar Rose memanggilnya tanpa embel-embel Dokter. Biasanya wanita itu selalu segan, dan memanggilnya dengan panggilan Dokter.
“Emm…tentu saja. Tapi membutuhkan waktu beberapa hari untuk mengetahui hasilnya,” ujar Dokter Darwis.
Yvone mengangguk. “Baiklah. Tapi, bisakah kau merahasiakan ini dari keluargaku?” pinta Yvone.
Mendengar itu, Dokter Darwis terkesiap. Dalam hati bertanya-tanya, ‘ada apa sebenarnya?’
Meski begitu, ia memilih untuk bungkam. “Tentu saja, Rose.”
Suasana menjadi hening. Baik Yvone dan Dokter Darwis tidak ada yang angkat bicara. Terlebih Sui yang tidak memiliki porsi untuk berbicara, memilih diam.
Dokter Darwis diam-diam mencuri pandang ke arah Yvone. Ia menangkap sesuatu yang berbeda dalam diri wanita itu, sesuatu yang mengarah pada hal yang positif.
“Emmm…karena kau sudah di sini, sebaiknya kau melakukan pemeriksaan juga,” ucap Dokter Darwis memecah keheningan.
Yvone yang mendengar itu tampak tidak tertarik. Kedatangannya kemari bukan untuk itu. Melainkan menyelidiki obat yang diberikan oleh mertua jahatnya itu.
“Benar, Nyonya. Sebaiknya Anda minta periksa saja, dan minta Vitamin daya tahan tubuh,” sahut Sui.
Yvone menoleh ke arah pelayan setianya itu. “Kau ingin membuatku jadi semakin gendut?” protes Yvone.
“Vitamin daya tahan tubuh tidak membuat gendut, Nyonya.”
“Sudahlah…kita pulang saja.” Yvone lantas bangkit dari tempat duduknya. Hendak mengayunkan langkah, saat tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia lantas menatap Dokter Darwis.
“Oh ya, Darwis, apa kau punya kenalan Dokter ahli bedah kecantikan?” tanya Yvone yang seketika menarik perhatian Dokter Darwis dan Sui.
Dokter Darwis tampak berpikir, sebelum akhirnya menjawab, “Ya, aku punya. Apa kau ingin melakukan bedah plastik?” tanya Dokter Darwis.
“Ya, aku punya rencana, tapi aku ingin melakukan diet terlebih dahulu,” ucap Yvone jujur. Untuk hal semacam ini, sepertinya ia tidak perlu menyembunyikannya dari Dokter Darwis.
“Itu bagus, Rose. Jika kau berkenan. Aku akan membantumu memberikan resep program diet sehat.”
“Tentu, aku mau.”
“Baiklah. Kalau begitu aku akan mengirimkannya lewat pesan,” kata Dokter Darwis.
“Baiklah. Terima kasih, Darwis. Kalau begitu aku pamit.”
“Hati-hati di jalan, Rose.”
Yvone dan Sui meninggalkan ruangan Dokter Darwis. Mereka melangkah santai melewati koridor.
Sui yang berjalan di belakang Yvone, mempercepat langkahnya, untuk lebih sejajar dengan majikannya itu.
“Nyonya,” panggil Sui.
“Ada apa, Sui.”
“Apa Anda sungguh berniat untuk melakukan operasi plastik?” Pertanyaan Sui menarik atensi Yvone.
“Hmmmm…” Yvone mengangguk. “Aku perlu melakukannya untuk menghilangkan kulit bergelambir pasca diet. Memangnya kenapa?”
“Apa Tuan akan memberi izin? Lagi pula operasi plastik membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ujar Sui tampak berpikir.
“Lalu?”
Sui menghela napas panjang. Selama ini ia telah mengikuti Rose selama bertahun-tahun. Jadi ia tahu segalanya tentang wanita itu.
“Nyonya, selama ini keuangan keluarga Anda diatur oleh Nyonya Besar. Jadi Anda hanya diberi jatah secukupnya.”
“Apa?” Yvone membulatkan matanya. Ia jelas kaget. Ia sampai menghentikan langkahnya. “Dan aku patuh begitu saja?”
Sui mengangguk. Keduanya lantas melanjutkan langkah dengan pelan.
“Nyonya Besar yang menginginkannya. Jika tidak dituruti, dia akan marah, merajuk dan tidak mau makan. Jika sudah begitu, Tuan akan meminta Nyonya untuk menyetujuinya.”
Langkah kaki mereka terus mengayun. Seiring dengan cerita dari mulut Sui terus mengalun.
“Lalu aku setuju begitu saja?”
“Nyonya Anda sungguh lupa? Anda hanya tidak ingin membuat Tuan sedih, jadi setuju saja.”
Yvone menepuk kening. “Kenapa wanita ini bodoh sekali!” rutuk Yvone. Ia sungguh tidak mengerti cara berpikir wanita bernama Rose ini. Dia seorang model, sudah pasti wanita yang cerdas, tetapi kenapa jadi bodoh saat berhadapan dengan laki-laki?
Jawabannya hanyalah satu, yaitu cinta.
Lalu apa bedanya dengan Yvone yang mempercayai seorang pengkhianat. Yvone menghela napas panjang.
‘Cinta memang buta,’ batin Yvone.
“Jadi sekarang aku tidak memiliki uang sepeser pun?” tanya Yvone memperjelas kesimpulan dari pembicaraan ini.
“Nyonya, sebenarnya Anda memiliki banyak perhiasan. Anda bisa menjualnya jika Anda mau. Tapi…” Ucapan Sui terhenti, gadis berusia 28 tahun itu tampak ragu untuk melanjutkannya.
“Tapi apa, Sui?” Yvone sangat penasaran.
“Perhiasan itu ada pada Nyonya Besar!”
“Apa?” Satu kali lagi, Yvone merasa terkejut. Sebenarnya Rose terlibat dengan keluarga macam apa selama ini? Kenapa semua aturan dipegang oleh ibu mertuanya? Bahkan hanya diberi jatah secukupnya.
‘Rose yang malang,’ batin Yvone.
Rose tampak berpikir, bagaimana cara mendapatkan uang. Kemudian ia terpikirkan sesuatu.
“Sui, kau pernah berkata padaku jika aku masih memiliki orang tua ‘kan?”
“Nyonya, Anda memang masih punya.”
“Kalau begitu, kita temui mereka sekarang,” ucap Yvone semangat.
Sementara Sui tampak kebingungan. “Untuk apa menemui mereka?”
“Minta uang.”
Di sisi lain, Arsen baru saja tiba di tempat tujuan. Saat Renata menelponnya, wanita itu berkata bahwa mobilnya mogok secara tiba-tiba. Sedangkan hari ini, ada rapat penting dengan para aliansi. Untuk menghindari keterlambatan, Arsen memutuskan untuk menjemputnya.
“Masuklah,” titah Arsen.
“Terima kasih, Arsen,” ucap Renata segera memasuki kendaraan Arsen dan duduk di dekat pria itu.
Kendaraan melaju dengan cepat, acara rapat setengah jam lagi. Tetapi fokus Arsen malah terpecah. Ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Saat Renata masuk, ia melihat luka lebam di wajah wanita itu.
“Apa ayahmu memukulimu lagi?” tanya Arsen memecah keheningan.
Renata tidak menjawab, namun kedua tangannya saling menggenggam dan meremas. Kepalanya tertunduk dalam, detik selanjutnya suara isak tangis terdengar.
“Semua salahku karena melawannya, Arsen.”
Arsen menepuk punggung Renata. Tetapi wanita itu justru menjatuhkan diri ke pelukan Arsen.