Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 21
TIDAK TERTAHANKAN
Aria melangkah cepat melewati taman kecil yang memisahkan sayap kedua dengan mansion utama de Santis. Langit sudah jingga, bayangan pohon cemara jatuh panjang di jalur batu. Wajahnya masih merah, kesal setelah adu mulut dengan Lorenzo di basecamp tadi. Bibirnya merapat, tangannya mengepal di sisi tubuh.
Dia tidak sadar, dari balkon lantai dua mansion utama, sepasang mata mengamatinya.
Matteo bersandar di pagar besi, jas hitamnya dibuka kancingnya. Segelas bourbon di tangan, tapi belum diminum. Dia menatap punggung Aria yang menghilang di balik pintu sayap kedua. Senyum kecil terbit di sudut bibirnya. Tipis. Hampir tidak terlihat.
“Wanita yang berani, hampir mustahil jika aku mendekati nya apalagi menghamilinya,” gumamnya pelan ke udara kosong. “Tapi aku suka dengannya!”
Dia meneguk bourbonnya sekali, lalu berbalik masuk. Urusan keluarga bos bukan ranahnya. Belum.
Sementara itu, Aria membanting tubuhnya ke sofa ruang tamu. Sofa empuk itu berderit pelan, tidak sanggup meredam emosinya. Dia menyilang kaki, tangan terlipat di dada. Nafasnya masih memburu.
Diam-diam dikurung. Dibilang jangan kasar demi bayi. Disuruh ke kamar seperti anak kecil. Sialan.
“Teresa!” panggilnya. Suaranya tinggi, menggema di ruangan yang terlalu luas untuk satu orang.
Tidak sampai semenit, Teresa muncul dari arah dapur. Kepalanya menunduk sopan, tapi matanya menyiratkan khawatir. “Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?”
Aria menunjuk kursi di hadapannya. “Duduk di sini dan temani aku.”
Teresa ragu sejenak. Tidak biasa pelayan duduk di depan nyonya rumah. Tapi melihat raut Aria yang gelap, dia menurut. Duduk di ujung kursi, punggung tegak.
Aria menghela napas. Menatap langit-langit tinggi dengan lampu kristal yang menyala temaram. “Menurutmu aku salah?”
Teresa mengerjap. “Maksud Nyonya?”
“Aku cuma mau ke toko rotiku. Toko ibuku. Toko nenekku.” Suara Aria turun, tapi amarahnya masih ada. “Tapi pria itu bilang tidak boleh. Katanya aku akan di sini sampai anak ini lahir. Itu... itu seperti penjara, Teresa.”
Teresa meremas rok seragamnya. Dia melirik ke pintu, memastikan tidak ada anak buah Tuan Lorenzo yang lewat. “Tuan Lorenzo itu... caranya memang begitu, Nyonya. Kasar. Dingin. Tapi sejak Nyonya hamil, dia selalu bertanya ke dapur apa Nyonya sudah makan. Dia menyuruh mengganti semua tangga yang licin di sayap ini. Dia bahkan terkadang menyempatkan membaca buku ibu hamil.”
Teresa tersenyum malu-malu saat menceritakan betapa romantisnya tuan Lorenzo yang terkenal angkuh itu.
Tentu saja, mendengar hal itu, Aria terkejut dan hampir tak percaya.
Ia menatap ragu. “Apa dia memang seperti itu?”
“Tidak Nyonya. Ini pertama kali tuan Lorenzo bersikap seperti itu.”
Tak bisa berkata-kata, Aria terdiam seolah dia mencoba untuk mengelak kebaikan Lorenzo karena bagaimanapun pria itu sudah memperkosanya secara paksa. Dan menghancurkan masa depannya.
“Tapi dia menyebalkan,” potong Aria. Matanya berkaca, karena sedih, marah dan teringat akan kejadian itu. “Tidak seharusnya dia semena-mena.”
Hening sebentar. Hanya suara jam dinding yang berdetak.
Teresa menggigit bibir. “Nyonya sayang sama toko itu, ya?”
Aria mengangguk. “Lebih dari sayang. Itu satu-satunya yang aku punya dari mereka. Kalau aku diam di sini terus, aku takut lupa baunya. Lupa suaranya.”
Teresa menunduk. Tidak punya jawaban. Di rumah ini, perintah Lorenzo de Santis adalah hukum. Bahkan Emilio de Santis pun jarang membantah.
Dari luar menuju ke ruang tamu, suara langkah kaki terdengar samar. Pria itu masuk dan melihat keberadaan Aria yang masih duduk disamping Teresa.
Mimik wajahnya terlihat marah, namun ia memperhatikan wajah istrinya hingga ke perut Aria yang masih belum lahir. Rasanya tidak sudi menemui wanita yang barusan mengumpat ke mukanya.
Aria memejamkan mata. Dadanya sesak. Marah pada Lorenzo, kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa melawan lebih keras.
“Teresa,” panggilnya pelan yang menoleh hingga pelayan itu ikut menatapnya.
“Iya, Nyonya?”
“Besok pagi, bangunkan aku jam lima.”
Teresa mendongak. Panik. “Jam lima, Nyonya? Untuk apa?”
Aria membuka mata. Menatap Teresa lurus kembali. “Aku mau melihat toko rotiku. Dari jauh juga tidak masalah. Aku tidak percaya dengan pria itu. Temani aku besok.”
Napas Teresa tercekat. Dia mau melarang, tapi melihat sorot mata Aria, dia tahu percuma. Nyonya mudanya ini keras kepala. Sama kerasnya dengan tuannya.
“Ba-baik, Nyonya,” jawabnya akhirnya, lirih.
Namun mereka tak sadar kalau Lorenzo sejak tadi mendengar perbincangan tersebut, hingga pria itu langsung pergi ke kamarnya.
Selang beberapa menit, Aria masuk ke kamarnya sendiri. Ia mengantuk dan berharap tak ingin melihat wajah Lorenzo yang selalu membuatnya kesal, namun dia suka aromanya.
Saat masuk ke kamarnya. Aria langsung menyentuh dadanya yang berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Mengingat kebaikan pria itu dan kejengkelannya juga.
“Astaga.... Lupakan saja.” gumamnya yang tak ingin mau tau hingga Aria langsung saja membuka pakaiannya untuk berganti dengan piyama.
Tanpa masuk ke kamar mandi, ia langsung membuka pakaiannya sehingga cuman menyisakan bra, namun ia belum sepenuhnya membuka dress itu mungkin hanya setengah badan.
“Pemandangan yang indah.” kat seseorang yang sontak membuat Aria tergopoh dan mengenakan kembali dress nya lalu berbalik menatap keberadaan Lorenzo yang baru keluar dari kamar mandi?
“Se-sedang apa ku di sini?” cerca Aria yang nampak malu.
Lorenzo dengan santai, ia berjalan maju. “Aku berpikir akan tidur di sini malam ini, setelah melihat bagaimana istriku bertingkah.”
Aria nampak terkejut namun dia masih tegap.
“I-itu tidak perlu, aku bisa tidur sendiri, kau... Lebih baik kembali saja di kamarmu atau pada kesibukan mu, Tuan Lorenzo.” kata Aria yang mana ia jadi kepikiran akan kegiatannya besok pagi.
Lorenzo tak peduli, dia malah mendekat dan menyentuh belakang kepala Aria hingga menekannya lebih maju lalu mencium pipi kanan Aria begitu saja.
“Akan aku pastikan kau terjaga malam ini.” kata Lorenzo sebelum akhirnya pria itu membuka kemejanya hingga bertelanjang dada lalu rebahan di atas kasur yang empuk.
Melihat hal itu, Aria benar-benar tak bisa berkata-kata. Ia mencoba berpaling dari tubuh menggoda Lorenzo, namun dia juga marah akan tindakan Lorenzo yang seolah sengaja.
“Kenapa kau berdiri, kemarilah. Ini sudah malam, jangan biarkan aku memaksa mu.” kata Lorenzo begitu santai dan dingin.
Aria masih berdiri di sisi ranjang. Rasanya tidur di dekat Lorenzo sangatlah was-was. Namun aroma wangi dari tubuh pria itu benar-benar menggodanya.
-‘Tidak Aria, jangan turuti kemauan anak ini. Itu hanya jebakan.’ batin wanita itu yang menahan sebisa mungkin agar tidak tergoda.
Namun Lorenzo yang terlentang sembari menutup matanya, ia merasakan pergerakan kecil dari kasur yang menandakan seseorang baru saja ikut berbaring di sebelahnya.
Pria itu membuka mata dan menoleh. Betapa kakunya tubuh Aria yang kini berbaring di sebelahnya dan membelakanginya tanpa selimut.
Namun Lorenzo langsung menyibakkan selimut hingga menutup setengah tubuh istrinya sebelum akhirnya ia menutup mata lagi.
“Jangan biarkan nyamuk menggigit mu. Selamat malam.” kata Lorenzo terdengar dingin namun juga gen perhatian.
Aria hanya menoleh ke kiri tanpa melihatnya. Lalu kembali menatap lurus. “Aku harus bangun lebih pagi dan cepat darinya.” gumam Aria yang buru-buru tidur dan menahan aroma Lorenzo.