NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: INVESTOR YANG HILANG

Hari ke-44 | Pukul 08:30 | Cerah, awan di timur

Ardi belum menyentuh kopi saat ponsel berdering.

Dimas. Asistennya.

"Pak, investor Singapura membatalkan. Email resmi baru masuk. Alasan internal—restrukturisasi."

Ardi memegang cangkir. Panas merambat, tapi ia tak merasakan.

"Sudah hubungi Pak Bram?"

"Belum. Saya lapor ke Bapak dulu."

Telepon ditutup. Ardi membuka email. Kata-kata formal. Alasan klise. "Kami berharap dapat bekerja sama di masa mendatang."

Omong kosong.

Tangannya gemetar. Bukan takut. Marah. Tiga hari lalu semuanya sempurna. Investor itu mengangguk, tersenyum, berjabat tangan. Sekarang batal. Tanpa peringatan.

"Ada apa?"

Maya di ambang pintu dapur. Rambut basah, mata waspada.

"Investor batal."

Maya duduk di seberang. "Kenapa?"

"Alasan internal. Omong kosong."

"Kamu sudah bilang ke ayahmu?"

"Belum."

Maya menghela napas. "Dia akan marah."

Ardi tahu. Bukan marah biasa. Bram akan menghancurkannya dengan tatapan dingin—seperti Ardi masih kecil yang gagal memenuhi ekspektasi.

"Kamu harus bilang sebelum dia dengar dari orang lain."

Ardi mengangguk. Jarinya berhenti di atas tombol panggil.

"Kamu takut," kata Maya.

Bukan pertanyaan.

Ardi menekan tombol.

---

Pukul 09:45 – Ruang kerja Bram

Bram berdiri di dekat jendela. Punggung tegap, bahu tegang. Ardi berdiri di depan meja, tak berani duduk.

"Sudah kau jelaskan detailnya?"

"Sudah. Restrukturisasi internal. Bukan karena proposal kita."

Bram berbalik. Matanya bukan marah—lebih buruk. Kecewa.

"Kau tahu artinya ini?"

"Proyek tertunda."

"Batal. Investor tidak akan kembali." Bram mendekat. "Dan yang disalahkan bukan aku. Bukan tim marketing. Kamu."

Ardi mengepal. "Aku sudah presentasi terbaik. Mereka setuju tiga hari lalu."

"Tiga hari lalu tidak penting." Bram satu meter di depannya. "Kau terlalu percaya diri. Lupa satu hal."

"Apa?"

"Hubungan. Investor itu kenalan lama teman bisnisku. Seharusnya kau merawat hubungan, bukan hanya grafik. Tapi kau terlalu sibuk..." Bram berhenti. Mata menyipit. "...dengan urusan lain."

Dada Ardi sesak. "Maksud Ayah?"

Bram tidak menjawab. Hanya menatap beberapa detik lebih lama dari yang nyaman. Lalu berbalik.

"Cari investor pengganti. Dua minggu. Jika tidak..." Ia menoleh setengah. "Kita bicara lagi soal posisimu."

Ardi keluar tanpa suara.

---

Pukul 13:15 – Parkiran kantor

Ardi di dalam mobil. Mesin menyala. AC dingin, tapi keningnya basah.

Ponsel bergetar.

Maya: "Gimana?"

Ardi: "Dia marah. Dua minggu cari investor baru."

Maya: "Kamu bisa."

Ardi: "Aku tidak yakin."

Maya: "Kamu lebih pintar dari yang ayahmu kira."

Ardi melempar ponsel ke kursi penumpang. Tangannya menggenggam setir, buku-buku jari memutih.

Ia ingin berteriak. Meninju sesuatu.

Tapi hanya duduk diam.

Lalu menginjak gas.

Mobil melesat. Ardi tidak tahu mau ke mana. Rumah? Maya ada, tapi Yuni juga. Kantor? Bram masih di sana.

Ia tancap gas. Macet, tapi ia mencari celah, menyalip kiri-kanan. Klakson dari berbagai arah.

Setir terasa berat. Atau tangannya terlalu kencang.

Di lampu merah Sudirman-Thamrin, ia tidak berhenti.

Mungkin tidak melihat. Mungkin sengaja. Mungkin ia hanya ingin merasakan sesuatu—apa pun—selain rasa gagal.

Truk dari kanan membunyikan klakson panjang. Ardi melihatnya sedetik sebelum roda mobilnya melewati marka.

Ia membanting setir ke kiri.

Ban menggerit. Tubuh terhantam. Kepala nyaris membentur kaca.

Mobil berhenti tiga sentimeter dari trotoar.

Diam.

Ardi terduduk, dada naik turun. Keringat dingin di punggung.

Di luar, sopir truk turun, berteriak. Orang-orang mengerumuni.

Ardi tidak mendengar. Hanya menatap setir. Tangannya masih gemetar.

---

Pukul 14:30 – Hotel Aston, kamar 512

Maya berdiri di dekat jendela, tangan bersilang. Tidak memeluknya.

"Aku dengar kamu hampir celaka."

Ardi melepas jaket, melemparkannya ke kursi. "Cepat sekali beritanya."

"Dimas telepon. Katanya kamu keluar dengan wajah seperti orang kesurupan." Maya berjalan mendekat. "Kamu bodoh. Nyaris mati sia-sia."

"Tidak akan mati."

"Kamu tidak tahu itu."

Ardi menatapnya. Maya benar-benar marah. Bukan cemburu. Bukan karena rencana bisnis. Tapi takut.

Untuk pertama kali, Ardi melihat Maya takut.

"Aku minta maaf."

Maya menghela napas, duduk di tepi ranjang, menepuk tempat di sampingnya.

"Mobil hitam itu," katanya tiba-tiba.

"Apa?"

"Kamu bilang ada yang mengawasi. Aku mulai percaya." Maya menggenggam tangannya. "Di parkiran hotel tadi, mobil hitam terparkir di seberang pintu masuk. Tidak ada sopir. Tapi mesin menyala."

Bulu kuduk Ardi meremang. "Plat nomornya?"

"Tidak lihat. Aku foto." Maya menunjukkan foto buram. Mobil hitam, kaca gelap, tanpa ciri. Sedan mewah—banyak di Jakarta.

"Bisa siapa saja."

"Bisa. Tapi kenapa mesin menyala jam dua siang? Orang normal matikan mesin."

Ardi tidak bisa membantah.

"Kita harus lebih hati-hati. Tidak hanya dari ayahmu, tapi dari... entah siapa."

Ardi mengangguk. Kepalanya pusing. Bram, marah pada diri sendiri, kecelakaan, pengamat misterius—semua berputar.

"Aku tidak bisa berpikir jernih."

"Karena itu, jangan ambil keputusan besar hari ini." Maya menepuk pahanya. "Istirahat."

Ardi berbaring. Maya membaringkan kepalanya di pangkuannya, jari-jari mengusap rambutnya.

"Tidurlah. Aku di sini."

Ardi menutup mata. Truk itu mendekat lagi. Setir yang dibanting. Klakson panjang.

Ia membuka mata. "Aku tidak bisa. Setiap kali pejam mata, aku lihat truk itu."

Maya tidak menjawab. Hanya terus mengusap rambutnya. Lambat. Ritmis.

Perlahan, Ardi menutup mata.

Gelap.

---

Pukul 18:45 – Rumah Hartono, ruang makan

Ardi, Bram, dan Maya duduk bertiga. Yuni menyajikan sup ayam, lalu mundur ke dapur.

Hening.

Bram menyendok sup, makan perlahan, tak menatap siapa pun. Maya melakukan hal sama. Ardi hanya memegang sendok.

"Hari ini kau nyaris celaka," kata Bram tanpa menoleh.

Ardi membeku. "Ayah tahu?"

"Dimas lapor. Kecepatan tinggi, nyaris truk di lampu merah Sudirman." Bram meletakkan sendok. Matanya menatap. "Kau mau mati, Ardi?"

"Tidak."

"Kalau tidak, jangan berkendara seperti orang hilang akal."

Maya meneguk air, diam.

"Proyek itu memang penting. Tapi bukan satu-satunya." Bram menyeka mulut. "Yang tidak bisa kita perbaiki adalah kematian bodoh karena stres."

Ardi tidak tahu harus merespons. Kepedulian? Atau takut reputasi keluarga rusak?

"Makan."

Ardi menyendok sup. Hangat. Tak terasa.

---

Pukul 22:30 – Kamar Ardi

Ardi membuka jurnal biru tua. Memegang pulpen. Menulis.

---

Hari ke-44.

Aku hampir mati hari ini. Bukan karena kecelakaan. Tapi karena aku terlalu bodoh untuk berhenti di lampu merah.

Atau mungkin aku memang ingin berhenti. Permanen.

Ayahku marah. Bukan karena aku nyaris mati. Karena itu memalukan bagi nama Hartono.

Maya takut. Bukan karena dia sayang. Tapi karena rencananya akan hancur jika aku mati.

Dan aku? Aku tidak tahu lagi.

Mungkin memang lebih mudah mati.

---

Ardi menutup jurnal. Ponsel bergetar.

Maya: "Jangan lakukan hal bodoh lagi. Aku serius."

Ia tidak membalas. Berbaring, menatap langit-langit.

Di luar, bulan bersinar.

Dan di balik jendela, bayangan mobil hitam masih terparkir. Tapi kali ini, Ardi melihat pantulan samar—sesuatu bergerak di kursi pengemudi. Seseorang. Menatap ke arah kamarnya.

Ardi membeku. Tidak berani menarik tirai.

Ia hanya memejamkan mata.

Tapi tidak bisa tidur.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra screet love
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!