Dikhianati... Kemudian dibunuh...
Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.
Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.
"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.
"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.
Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Sisi Gelap.
Langit senja sudah berubah menjadi hitam pekat sejak beberapa jam yang lalu. Akan tetapi, meski waktu sudah menunjukkan waktu lewat tengah malam, Lea masih belum kembali ke mansion Angkasa.
Suasana mansion malam ini lebih sunyi dari malam-malam sebelumnya, jauh berbeda dengan suasana pagi ini saat Lea menikmati sarapan bersama sang singa yang kini duduk di salah satu sofa dengan kaki disilangkan. Para pelayan dan pekerja yang sengaja di pulangkan selama dua hari kedepan membuat keheningan mansion itu lebih terasa.
Angkasa duduk dengan punggung bersandar, satu tangannya memegang gelas berisi minuman favoritnya dengan siku bertumpu pada sofa, sementara netranya terkunci pada pria yang sudah berlutut di depannya dengan tubuh penuh luka. Memohon ampun.
"Jelaskan."
Hanya satu kata, tetapi cukup untuk membuat tekanan udara di sekitar menjadi sepuluh kali lebih berat dari biasanya. Kedua tangan pria itu terkepal, gemetar.
"T-Tuan ...s-saya ..." dia tergagap, otaknya bekerja extra mencari alasan, tetapi tatapan Angkasa seakan melumpuhkan indra pengecapnya. Setiap kata yang sudah ia susun dalam pikirannya menguap begitu saja. Pikirannya mendadak kosong.
Angkasa menegakkan punggung. Satu jarinya mengetuk berkas laporan keuangan perusahaan miliknya yang lain selain Kalva Company di meja.
"Kau ingin menipuku dengan laporan keuangan palsu?" tanya Angkasa dengan satu alis terangkat. Suaranya datar, tetapi membekukan pria itu di tempat.
"Tidak hanya membuat laporan palsu, kau juga memindahkan sebagian barang kiriman ke kontainer lain untuk kau jual lagi dan hasilnya masuk ke kantongmu sendiri. Nyalimu besar juga," Marco melanjutkan diakhiri tawa. Tawa yang membuat darah di tubuh pria itu serasa disedot habis.
"Siapa?"
Angkasa meletakkan gelas di tangannya ke meja dengan sedikit dihentakkan, berjalan mendekat ke tempat pria itu berlutut, dan berdiri menjulang di depan si pria.
"Kau sudah membunuh tiga orangku, menggunakan posisi yang kuberikan padamu untuk melakukan hal yang kau tahu jelas aku tidak menyukainya, tapi kau tetap melakukannya." Angkasa menadahkan tangan. Isyarat yang dipahami Marco dengan segera meletakkan belati di tangan Angkasa.
Kilau belati yang memantulkan cahaya lampu membuat wajah pria itu memucat. Ia melakukann kesalahan dengan kesadaran penuh, tetapi hanya ketika ia diberi kabar bahwa Angkasa lumpuh. Nyatanya, pria yang menjadi bos sekaligus pria yang ia takuti masih bisa berdiri tegak di hadapannya.
"Siapa yang memberimu nyali tambahan untuk mengkhianatiku?" tanya Angkasa sembari mengangkat dagu si pria menggunakan ujung belati di tangannya.
Wajah pria itu sepucat kapas, bibirnya terkatup rapat, kalimat yang ingin ia ucapkan seolah tersangkut di tenggorokannya.
"Atau ..." Angkasa mendekatkan wajahnya. "Kau lebih menyukai gagasan untuk melihat alasan mengapa semua orang dunia bawah menyebutku sebagai 'pembunuh tak berhati'?"
Dia tetap diam, otaknya masih berusaha mencari alasan melepaskan diri. Namun, suara kalimat yang Marco ucapkan membuat ia kembali tidak bisa memikirkan apapun.
"Istri dan anakmu ada bersama kami. Bagaimana nasib mereka, itu tergantung padamu," ujar Marco.
"S-saya bicara, Tuan," ucapnya dengan suara bergetar. Ada kepanikan di ujung kalimatnya.
Bayangan tentang rahasia yang ia jaga akan terbongkar jika istrinya disekap Angkasa membuat ia memilih untuk bicara.
"Vito," ujarnya.
Alis Angkasa berkerut tipis. Nama itu jelas tidak asing baginya. Vito merupakan salah satu bawahannya yang ia percaya untuk mengelola bar di pusat kota.
"Katakan lebih jelas," ucap Angkasa sedikit menurunkan belati di leher pria itu.
"Vito menawarkan kesepakatan. Memindahkan barang kiriman dan mengubah beberapa angka di laporan keuangan. Pusat perbelanjaan, hotel dan bar. Hasil dari semua itu dibagi dua."
Angkasa diam, tetapi genggaman pada belati di tangannya mengerat. Ia tidak berbicara, tetapi tatapanya menuntut si pria untuk melanjutkan.
"Vito mengatakan Anda tidak bisa bangun dari tempat tidur. Dan Anda tidak mungkin memeriksa laporan keuangan dalam dua minggu kedepan."
Sudut bibir Angkasa sedikit terangkat, tatapannya tak beralih dari pria yang masih mendongak menatapnya dengan posisi berlutut.
"Hanya itu. Saya sudah mengatakan yang saya ketahui. Tidak ada lagi."
"Bagus," Angkasa tersenyum samar. "Kau sudah menggunakan sisa waktu terakhirmu dengan baik"
Kedua mata pria itu melebar. Ia ingin beranjak dari tempatnya, namun terlambat. Gerakan tangan Angkasa jauh lebih cepat bahkan sebelum pria itu menyadari tangan Angkasa sudah terayun menebas lehernya.
Crat!
Bola mata pria itu seolah akan keluar dari tempatnya. Tubuhnya menegang sepersekian detik tergeletak di lantai dengan darah mengalir deras dari lehernya, membentuk sebuah genangan yang menjadi saksi atas apa yang baru saja Angkasa lakukan.
Marco melangkah maju, mengambil alih belati di tangan Angkasa seraya memberikan kain bersih untuk membersihkan noda darah yang tertinggal, lalu memasukkan belati itu ke saku jaketnya.
"Tuan, apakah Anda ingin menemui Luwis?" tanya Marco sambil memberi isyarat pada orang-orangnya untuk membereskan kekacauan yang baru saja terjadi.
"Tidak sekarang." jawab Angkasa kembali mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Dia masih berpikir racun yang dia berikan padaku bekerja. Aku juga yakin ada orang yang dia kirim untuk masuk ke kandangku. Jika aku menemuinya sekarang, dia hanya akan mengelak. Untuk saat ini, kita biarkan dia menikmati kemenangan sesaatnya."
Marco menganguk patuh.
Drtt...
Ponsel Marco bergetar singkat. Cukup untuk membuat ia segera mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan melihat nama seseorang yang ia minta menjaga gerbang mansion terera di layar.
"Nona Lea datang."
Hanya satu kalimat itu yang Marco dengar begitu ponselnya menempel di telinga, membuat ia segera membalikkan badan untuk memastikan tidak ada jejak darah yang tertinggal.
"Nona Lea sudah kembali, Tuan." lapor Marco seraya menyimpan ponsel kembali ke saku jaket.
Gerakan tangan Angkasa saat akan menyesap minuman dari gelas terhenti. Pandangannya beralih ke arah Marco, kemudian tersenyum samar. Senyuman yang segera Marco pahami apa yang Angkasa pikirkan.
"Mari kita lihat seberapa bergunanya dia."
. . . .
. . . .
To be continued...