Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pria itu tersentak, namun tidak menghentikan niatnya.
Ambar berlari kecil, menghapus air mata dengan punggung tangannya yang kasar, mencoba menahan sisa-sisa kesadarannya.
"Jangan lakukan hal bodoh itu!" seru Ambar lagi, kini ia berdiri hanya beberapa langkah di belakang pria itu.
Lelaki itu menoleh sedikit. Wajahnya pucat, namun garis rahangnya tegas, menunjukkan sisa-sisa wibawa yang kini tertutup keputusasaan.
"Pergi! Biarkan aku mati! Aku lelah!" ucapnya dengan suara berat yang penuh penderitaan.
Di luar dugaan, Ambar justru tertawa kecil. Tawa yang terdengar getir, hambar, dan penuh luka.
Pria itu tertegun, menatap Ambar seolah wanita di depannya sudah gila.
"Aku juga lelah, Tuan," ucap Ambar sambil menatap langit malam yang tak berbintang.
"Aku baru saja kehilangan pernikahanku, harga diriku, dan keluargaku dalam satu malam. Aku diusir seperti sampah hanya karena aku dianggap terlalu jujur."
Ambar melangkah mendekat, lalu bersandar pada besi jembatan di samping pria itu, membiarkan angin mempermainkan rambutnya yang kusut.
"Tuan ingin mati karena merasa tak berguna?"
Ambar menoleh, menatap mata pria itu dengan dalam.
"Bagaimana kalau daripada kita mati, kita lakukan sesuatu yang lebih gila? Sesuatu yang akan membuat orang-orang yang meremehkan kita berlutut memohon ampun."
Pria itu terdiam saat mendengar perkataan dari Ambar.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, seseorang tidak menatapnya dengan rasa kasihan karena kursi rodanya, melainkan dengan tatapan penuh dendam yang sama membara dengan miliknya.
"Apa maksudmu?" tanya Baskara parau.
"Menikahlah denganku," jawab Ambar tanpa ragu.
"Jadilah suamiku, dan aku akan menjadi kakimu. Mari kita tunjukkan pada mereka bahwa orang yang mereka buang adalah orang yang akan menghancurkan mereka."
Baskara tertegun. Cengkeramannya pada besi jembatan perlahan mengendur saat ia menoleh sepenuhnya ke arah Ambar.
Di bawah remang lampu jalanan yang berkedip, ia melihat seorang wanita dengan gaun yang kotor, mata yang sembap, namun memiliki binar keberanian yang nekat—atau mungkin kegilaan yang murni.
Baskara tertawa getir, suara tawanya kering seperti daun jatuh.
"Kamu yakin?" tanya Baskara parau, matanya menatap kaki-kakinya yang tak lagi bisa ia rasakan.
"Aku ini lumpuh. Aku tidak bisa berdiri, apalagi melindungimu. Banyak wanita yang menghinaku, menolakku, dan membuangku seolah aku hanyalah rongsokan tak berguna, sampai aku merasa mati adalah satu-satunya cara untuk berhenti menjadi beban."
Ia menatap Ambar dengan tatapan menantang, seolah menunggu wanita itu untuk segera sadar dan lari menjauh seperti orang-orang sebelumnya.
"Apa kamu sudah gila? Menikah dengan pria cacat hanya karena kamu sedang patah hati?" lanjutnya dengan nada mencemooh diri sendiri.
Ambar tidak bergeming. Ia justru melangkah mendekat, hingga jarak di antara mereka hanya tersisa sekian senti.
Ia berlutut di depan kursi roda Baskara, tidak dengan rasa iba, melainkan dengan ketegasan yang mutlak.
"Tuan, mereka menyebutku wanita kuno yang tak bisa menjaga pria. Dan mereka menyebutmu tidak berharga karena fisikmu," bisik Ambar, suaranya kini tenang namun tajam.
Ambar meraih tangan Baskara yang dingin dan meletakkannya di atas dadanya yang masih bergemuruh karena sesak.
"Duniaku sudah hancur malam ini. Aku tidak butuh pria yang bisa berdiri untuk melindungiku. Aku butuh alasan untuk tetap hidup dan membalas dendam pada mereka yang telah menginjak-injak harga diriku."
Ia menatap lurus ke dalam mata Baskara yang kelam.
"Biarkan aku menjadi kakimu, dan kamu menjadi duniaku. Kita tidak akan menjadi beban bagi satu sama lain. Kita akan menjadi senjata."
Baskara terdiam seribu bahasa. Untuk pertama kalinya, ia melihat seseorang yang tidak memandang kursi rodanya sebagai sebuah akhir, melainkan sebagai sebuah awal dari konspirasi besar.
Ada sesuatu di dalam dada Baskara yang tadinya sudah mati, tiba-tiba berdenyut kembali.
Sebuah keinginan untuk hidup—bukan untuk bahagia, tapi untuk melihat kehancuran musuh-musuhnya.
"Siapa namamu?" tanya Baskara, suaranya kini lebih dalam dan berwibawa.
"Ambar. Ambar Widyaningrum," jawabnya mantap.
Baskara menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya di kursi roda.
Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat namun
penuh misteri, muncul di sudut bibirnya.
"Baiklah, Ambar. Aku terima tawaran gila ini. Tapi ingat satu hal, begitu kamu masuk ke dalam hidupku, tidak akan ada jalan kembali. Aku bukan hanya sekadar pria di kursi roda yang malang."
Baskara menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi roda, matanya yang tajam kini menatap lurus ke arah aliran sungai yang gelap.
"Dorong kursi rodaku ke tepi jalan," perintahnya dengan nada yang tiba-tiba berubah dingin dan penuh wibawa, "lalu panggilkan taksi."
Ambar mengangguk pelan. Meski jemarinya masih gemetar karena sisa tangis dan udara malam yang menggigit, ia melangkah ke belakang kursi roda itu.
Dengan tenaga yang tersisa, ia mulai mendorong Baskara meninggalkan tepian jembatan maut tersebut.
Baru saja mereka mencapai trotoar dan Ambar hendak mengangkat tangan untuk menghentikan kendaraan yang lewat, deru mesin mobil mewah terdengar mendekat.
Sebuah sedan hitam mengkilat berhenti mendadak tepat di depan mereka, bannya mencit kepalang keras di atas aspal basah.
Seorang pria berseragam rapi keluar dari pintu kemudi dengan tergesa-gesa.
Ia berlari ke arah mereka dengan napas yang ngos-ngosan, wajahnya pucat pasi tertimpa lampu jalan.
"Tuan Baskara!" seru pria itu terbata-bata, mencoba mengatur napasnya yang memburu.
"Mohon maafkan saya, Tuan! Saya, kehilangan jejak Anda di kerumunan tadi. Saya sudah mencari ke seluruh area..."
Supir itu membungkuk dalam, tubuhnya gemetar karena ketakutan yang nyata.
Ia tampak seolah baru saja lolos dari maut karena berhasil menemukan tuannya.
Ambar menatap supir yang tampak begitu segan—bahkan takut—pada pria di kursi roda ini.
Tatapannya beralih pada Baskara. Pria yang tadi nyaris melompat ke sungai itu kini duduk dengan dagu terangkat, memancarkan aura kekuasaan yang sangat pekat, sangat berbeda dengan sosok yang putus asa beberapa menit lalu.
"Kamu terlambat, Johan," ucap Baskara datar, namun nadanya sanggup membuat supir itu makin menundukkan kepala.
Baskara kemudian menoleh sedikit ke arah Ambar yang masih memegangi tuas kursi rodanya.
"Bantu aku masuk ke mobil. Taksinya tidak jadi."
Ambar menelan salivanya. Ia mulai menyadari bahwa pria yang ia "selamatkan" ini bukanlah pria biasa yang malang.
"Naiklah, Ambar," ucap Baskara lagi saat pintu belakang mobil sudah dibukakan oleh supirnya.
"Malam ini, perjalananmu menuju pembalasan dendam baru saja dimulai."
Mobil mewah itu melintasi gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis, menyusuri jalanan beraspal halus yang diapit deretan lampu taman kristal.
Ambar menempelkan wajahnya ke kaca jendela. Matanya melebar, napasnya tertahan.
Di ujung jalan itu, berdiri sebuah bangunan megah bergaya kolonial modern dengan pilar-pilar putih raksasa yang menjulang tinggi.
Ini bukan sekadar rumah. Ini adalah istana.
"Turunlah," suara berat Baskara memecah lamunan Ambar.
Johan dengan sigap menurunkan kursi roda dan membantu tuannya berpindah.
Saat mereka memasuki lobi utama yang berlantaikan marmer mengkilap, seorang wanita dengan pakaian pelayan formal yang sangat rapi membungkuk hormat.
"Gabby," panggil Baskara datar.
"Iya, Tuan Muda?" wanita bernama Gabby itu mendekat, matanya sempat melirik Ambar dengan tatapan penuh tanya, namun ia segera menunduk kembali dengan sopan.
"Antar wanita ini ke kamar tamu utama di lantai dua. Pastikan dia mendapatkan semua yang dia butuhkan. Pakaian, makanan, dan istirahat yang cukup," perintah Baskara.
Ia kemudian memutar kursi rodanya, menghadap Ambar yang masih mematung di tengah kemewahan itu.
"Besok pagi, kita menikah," ucap Baskara tanpa nada ragu sedikit pun.
Kalimat itu lebih terdengar seperti titah daripada ajakan.
Ambar tersentak, namun ia segera menguasai diri. Ia menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Baik, Tuan."
"Istirahatlah. Aku tidak ingin pengantin wanitaku terlihat seperti mayat besok pagi," tambah
Baskara sebelum berlalu menuju lift pribadi di sudut ruangan.
Ambar mengikuti langkah Gabby menaiki tangga melingkar yang megah.
Di setiap langkahnya, jemari Ambar meremas ujung gaunnya yang kotor.
Pikirannya melayang pada jam tangan di lobi dimana besok pagi di jam yang sama saat Jayden seharusnya mengucapkan janji suci di depan penghulu bersamanya.
Jam yang sama itu juga saat keluarganya akan tertawa bangga melihat Gea merebut posisinya.
Ambar menatap bayangannya di cermin besar koridor lantai dua.
Matanya yang sembap kini menyala dengan api yang berbeda.
Jika mereka menginginkan sebuah pesta pernikahan, maka Ambar akan memberikan mereka sebuah kejutan yang tak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.
"Silakan, Nona Ambar. Ini kamar Anda," ucap Gabby sambil membukakan pintu kayu jati yang tebal.
Ambar masuk ke dalam kamar yang luasnya bahkan lebih besar dari seluruh rumah orang tuanya.
Ia duduk di tepi ranjang king size yang empuk, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian.
Malam itu, di balik pintu jati besar di sayap kanan rumah, suasana terasa dingin dan sunyi.
Baskara Mahendra mendorong kursi rodanya mendekati meja kerja yang terbuat dari kayu ebony gelap.
Di atas meja itu, hanya ada sebuah lampu duduk yang berpendar kuning keemasan, menyinari beberapa lembar kertas kosong dan sebuah pena perak.
Baskara terdiam sejenak, menatap bayangan dirinya di jendela besar yang menghadap ke taman luas.
Pria yang tadi nyaris menyerah pada maut itu kini memiliki sorot mata yang berbeda—tajam dan penuh perhitungan.
Ia meraih pena tersebut. Jemarinya yang panjang dan dingin mulai menari di atas kertas, merumuskan kontrak yang akan mengikat nasib wanita bernama Ambar itu mulai besok pagi.
Perjanjian Pernikahan Mahendra
Baskara menuliskan poin pertama dengan garis bawah yang tegas:
1. Status dan Privasi
Pernikahan ini adalah kontrak sah di mata hukum, namun tetap menjadi rahasia pribadi di antara kita hingga waktu yang ditentukan. Di depan publik, Ambar adalah istri sah pewaris Mahendra. Di dalam rumah ini, kita adalah rekan kerja dalam satu misi.
2. Kewajiban Pengantin Wanita
Ambar Widyaningrum bersedia menjadi 'kaki' bagi Baskara Mahendra.
Ia wajib mendampingi dalam setiap pertemuan bisnis dan acara keluarga tanpa pengecualian.
Segala bentuk kebutuhan fisik dan martabat Ambar akan ditanggung sepenuhnya oleh keluarga Mahendra.
3. Batasan Emosi
Tidak ada tuntutan perasaan atau hubungan fisik layaknya suami istri pada umumnya, kecuali jika dibutuhkan untuk menjaga sandiwara di depan musuh.
Pelanggaran terhadap batasan ini berarti berakhirnya kontrak.
4. Klausul Pembalasan Dendam
Baskara Mahendra akan memberikan akses kekuasaan dan finansial kepada Ambar untuk menghancurkan siapa pun yang telah merusak harga dirinya, selama hal itu tidak merugikan nama baik Mahendra Group.
Baskara meletakkan penanya. Ia membaca ulang
setiap tulisannya dengan teliti.
Sebuah senyum pahit muncul di wajahnya yang tampan.
Ia tahu, Ambar mungkin hanya melihatnya sebagai tiket keluar dari penderitaan, tapi baginya, Ambar adalah anomali yang menarik.
Seorang wanita yang berani menantang pria lumpuh untuk menikah tepat di saat nyawa pria itu berada di ujung tanduk.
"Kuno?" gumam Baskara teringat ejekan ayah Ambar yang diceritakan wanita itu di jembatan.
"Mereka tidak tahu singa betina apa yang baru saja mereka lepaskan ke jalanan."
Ia melirik jam dinding. Pukul dua dini hari.
Di kamar lain, Ambar mungkin sedang terjaga, menghitung mundur jam menuju waktu yang seharusnya menjadi momen bahagianya dengan Jayden. Namun, di kamar ini, Baskara sedang merancang sebuah skenario di mana besok, pernikahan Jayden dan Gea tidak akan menjadi berita utama.
Besok, dunia akan gempar bukan karena perselingkuhan seorang adik tiri, melainkan karena kemunculan kembali sang penguasa Mahendra yang selama ini mengurung diri—dengan seorang permaisuri baru di sampingnya.
Baskara melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam laci yang terkunci.
"Selamat tidur, calon istriku. Persiapkan dirimu, karena besok kita akan membakar jembatan masa lalumu hingga menjadi abu."