NovelToon NovelToon
Dua Kehidupan Suamiku

Dua Kehidupan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.

​Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.

Apa yang terjadi pada Damar ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Klinik Rania

Pagi di Kendal selalu membawa ketenangan, namun bagi Rania, ketenangan itu terusik oleh gema suara dari toilet hotel kemarin. Sambil duduk di beranda samping dengan segelas susu hangat, jemarinya gemetar saat membuka aplikasi pesan singkat. Nama Aris berada di urutan teratas. Rania menarik napas panjang, mencoba merangkai kata agar tidak terdengar seperti wanita yang sedang kehilangan akal sehatnya.

Rania: "Ris, aku ingin cerita sesuatu. Kejadiannya kemarin saat acara lamaran sepupu Damar di sebuah hotel di Semarang. Aku... aku mendengar suara Damar di toilet. Suaranya benar-benar dia, Ris. Aku hafal betul intonasinya, tarikan napasnya, meskipun suaranya diubah menjadi versi perempuan yang manja. Apakah ini memang dia, atau aku yang mulai berhalusinasi karena terlalu merindukan penjelasan dari dia?"

Di Jakarta, Aris yang baru saja selesai apel pagi langsung merasakan ponselnya bergetar. Membaca pesan itu, jantung Aris berdegup kencang. Ia tahu betul insting seorang dokter seperti Rania tidak mungkin meleset, apalagi insting seorang istri. Namun, Aris juga tahu bahwa jika ia mengonfirmasi ketakutan Rania sekarang, mental Rania yang baru saja mulai pulih bisa kembali hancur. Ia harus menjadi jangkar bagi wanita itu.

Aris: "Ran, dengarkan aku. Kamu baru saja melewati masa-masa yang sangat berat. Secara medis, kamu tahu sendiri bahwa stres pascatrauma bisa memicu otak kita memproyeksikan memori yang paling kita takuti atau kita rindukan. Di tempat umum seperti hotel, banyak orang dengan karakteristik suara yang mirip. Tolong, jangan biarkan bayang-bayang itu menarikmu kembali ke kegelapan."

Aris: "Fokuslah pada klinikmu, pada bayi kita—maksudku bayi itu—dan kehidupan barumu di desa. Jangan biarkan hantu masa lalu merusak kedamaian yang sudah susah payah kamu bangun di sana. Aku di sini masih terus bergerak, biarkan aku yang menjadi matamu di Jakarta. Kamu cukup jadi cahaya untuk orang tuamu di Kendal."

Rania membaca pesan itu berulang kali. Ada rasa lega, namun juga ada ganjalan di hatinya. Benarkah itu hanya halusinasi? Namun, ia memilih untuk percaya pada Aris. Ia butuh percaya pada seseorang agar tidak merasa gila.

Kerinduan Ibu Lastri pada "Putra Kedua"

Belum sempat Rania membalas, Ibu Lastri muncul dari dapur membawa piring berisi pisang goreng hangat. Melihat Rania sedang memegang ponsel, Ibu Lastri langsung bertanya dengan wajah sumringah.

"Sedang bicara dengan siapa, Nduk? Apa itu Aris?"

"Iya, Bu. Aris baru saja kirim pesan tanya kabar," jawab Rania sambil tersenyum.

"Ya Allah, Ibu kangen sekali sama anak itu. Sini, Nduk, boleh Ibu video call sebentar? Ibu ingin lihat wajahnya, apa dia makan teratur di Jakarta sana. Aris itu sudah seperti anak Ibu sendiri, dia yang menjaga kita saat Damar... ah, sudahlah." Ibu Lastri segera duduk di samping Rania dengan wajah penuh harap.

Rania pun menekan ikon kamera. Tak butuh waktu lama, wajah Aris yang tegas namun tampak lelah muncul di layar.

"Assalamu’alaikum, Bu Lastri," sapa Aris dengan senyum lebar yang jarang ia perlihatkan pada orang lain.

"Wa’alaikumsalam, Le... Aris! Kamu kok kurusan? Pasti makannya cuma mie instan ya di kantor?" cerocos Ibu Lastri tanpa memberi kesempatan Aris menjawab. "Kapan main ke Kendal lagi? Ini pisang gorengnya enak lho, manis seperti yang kamu suka."

Aris tertawa renyah. Mendengar perhatian tulus dari Ibu Lastri selalu membuatnya merasa memiliki keluarga sungguhan. "Iya Bu, nanti kalau tugas lapangan sudah agak longgar, Aris langsung tancap gas ke Kendal pakai mobil pemberian Rania. Doakan saja Aris sehat ya, Bu."

"Ibu selalu doakan setiap habis shalat, Le. Kamu jaga diri baik-baik di sana. Jangan terlalu capek," ujar Ibu Lastri dengan mata berkaca-kaca.

Obrolan itu berlangsung hangat selama hampir dua puluh menit. Rania hanya memperhatikan dari samping, merasa hangat melihat kedekatan mereka. Bagi keluarga ini, Aris bukan lagi orang asing; dia adalah pelindung yang telah menggantikan posisi kosong yang ditinggalkan Damar.

Mukjizat di Lahan Sebelah

Waktu berlalu begitu cepat di desa. Jika di Jakarta waktu terasa seperti musuh yang mengejar, di Kendal waktu terasa seperti sahabat yang menemani. Rencana pembangunan klinik mandiri Rania yang awalnya diperkirakan memakan waktu tiga bulan, secara mengejutkan rampung hanya dalam waktu satu setengah bulan.

Hal ini bukan tanpa alasan. Bapak Suprapto benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai tokoh masyarakat yang royal. Setiap hari, Bapak Suprapto berada di lokasi pembangunan, bukan untuk memandori dengan kasar, melainkan untuk memastikan para tukang merasa dihargai. Ia memesankan makanan terbaik, memberikan kopi dan rokok tanpa batas, bahkan memberikan bonus harian jika target tercapai lebih cepat.

Para tukang yang merupakan warga desa setempat pun bekerja dengan sungguh-sungguh. Mereka merasa bangga bisa membangun klinik untuk "Bu Dokter Rania", menantu kebanggaan desa mereka.

Sore itu, Rania berdiri di depan bangunan kecil yang berdiri gagah di samping rumah Joglo. Bangunan itu dicat warna putih bersih dengan kusen kayu jati yang dipelitur mengkilap. Ada papan nama kayu yang masih polos, menunggu untuk dituliskan: Klinik Cahaya Ibu - dr. Rania.

"Bagus sekali ya, Pak," bisik Rania pada Bapak Suprapto yang berdiri di sampingnya sambil berkacak pinggang puas.

"Ini baru kulitnya, Nduk. Isinya nanti kamu yang atur. Bapak ingin ini jadi tempat kamu memulai semuanya dengan indah. Jangan pikirkan biaya, semua sudah Bapak siapkan," ujar Bapak Suprapto dengan nada mantap.

Rania memejamkan mata, ia berdoa dalam hati. Ya Tuhan, jadikan tempat ini awal dari pengabdianku yang baru. Biarkan aku melupakan luka di Jakarta dan menjadi berguna bagi orang-orang di sini. Lindungi anakku, dan berikan aku kekuatan untuk tidak menoleh ke belakang lagi.

Rencana Perjalanan ke Semarang Kota

Keindahan klinik itu memang sudah tampak, namun fungsinya belum lengkap. Rania menyadari ia butuh perlengkapan medis yang mumpuni. Meja periksa, stetoskop baru, tensimeter digital, hingga obat-obatan dasar harus segera diisi.

"Besok lusa kita ke Semarang kota ya, Bu," ajak Rania saat mereka sedang bersantai di teras sore hari. "Semarang kota sekarang sudah lengkap sekali, hampir seperti Jakarta skala kecil. Saya dengar ada distributor alat kesehatan besar di sana yang koleksinya lengkap."

Ibu Lastri mengangguk antusias. "Boleh, Nduk. Sekalian Ibu mau beli beberapa perlengkapan bayi untuk kamu. Masa sudah mau masuk bulan kelima belum ada persiapan sama sekali? Kita belanja besar-besaran ya!"

Rania tertawa. "Jangan besar-besaran juga, Bu. Yang penting fungsional saja."

Malam harinya, suasana di dalam rumah Joglo terasa sangat hangat. Lampu-lampu gantung kuno memberikan cahaya kuning yang menenangkan. Rania duduk di ruang tengah bersama Bapak Suprapto dan Ibu Lastri, mereka membuka sebuah buku catatan kecil.

"Mari kita daftar, apa saja yang dibutuhkan klinik," ujar Bapak Suprapto sambil memegang pulpen.

Rania mulai menyebutkan satu per satu: "Timbangan bayi, lemari obat kaca, kursi tunggu untuk pasien—oh ya, mungkin kita butuh lima atau enam kursi dulu—lalu meja administrasi, dan beberapa alat bedah minor untuk keadaan darurat."

Ibu Lastri menimpali, "Jangan lupa kipas angin yang bagus ya, Ran, supaya pasien tidak gerah kalau menunggu."

Mereka mengobrol hingga larut malam, merencanakan setiap sudut klinik dengan penuh cinta. Rania merasa hatinya penuh. Ia tidak lagi memikirkan dres sutra dua puluh juta, tidak lagi memikirkan butik Shinta, bahkan suara di toilet hotel kemarin mulai memudar tertutup oleh rencana-rencana masa depan yang lebih nyata di depannya.

Di saat yang sama, di sebuah apartemen mewah di Semarang kota, Dara sedang mengemasi pakaiannya ke dalam koper mahal pemberian Mario. Ia menatap paspor barunya dengan tangan gemetar. Selasa adalah jadwal terbangnya ke Thailand. Ia merasa sangat siap untuk menghapus identitas pria dalam dirinya selamanya.

Dara tidak tahu bahwa Rania akan segera kembali ke Semarang kota untuk berbelanja kebutuhan klinik. Garis takdir yang tadinya hampir terputus, kini perlahan kembali melingkar. Semarang kota yang dianggap Rania sebagai "Jakarta skala kecil" akan menjadi saksi di mana dua dunia yang berlawanan ini akan kembali bergesekan, tepat sebelum pisau bedah di Bangkok melakukan tugasnya.

Namun untuk malam ini, Rania tertidur dengan senyum. Ia bermimpi tentang kliniknya yang dipenuhi oleh tawa anak-anak desa, tanpa menyadari bahwa badai terakhir sedang bersiap menyambutnya di jantung kota Semarang dalam beberapa hari ke depan.

1
Junita Lempoi
bagus ceritanya
𝐀⃝🥀Weny
semoga kau menyesal setelah operasi damar...
Ayu Putri
bagus
Ayu Putri
udah lah ran SM Aris aja,mas damar mu gak kembali,walopun kembali jg bukan damar yg dulu yg ada udh JD dara
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayu Putri
ternyata damar gay, harusnya ceraikan Rania dulu, kasian Rania nunggu yg gak pasti
Halwah 4g: emang..kasian ya say
total 1 replies
Ayu Putri
belum up ya Thor 🥺🥺🥺
Ayu Putri
lanjut kak othor
Dian Yuliana
iya kok gak ada kelanjutannya
𝐀⃝🥀Weny
thor, Iki critane dilanjut opo gak to.. kok suwi men gak up neh🤦
Halwah 4g: suabarrr nggih
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor ayo lanjut dong, jangan bikin penasaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!