NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Pukul 17.40 sore.

Jam kerja Aurora di kafe akhirnya selesai. Ia menghela napas panjang sambil meregangkan bahunya yang terasa kaku. Hari itu benar-benar melelahkan, terlebih karena seseorang bernama Alexander Kingsley menghabiskan hampir tiga jam duduk di meja yang sama dan selalu menemukan alasan untuk mengajaknya bicara.

"Coffee Girl," panggil Alexander di sela-sela kesibukan Aurora.

"Coffee Girl," panggilnya lagi tak lama kemudian.

"Coffee Girl," ulangnya lagi saat Aurora melewatinya.

Aurora merasa mulai membenci julukan itu. "Aku punya nama, tahu," gerutunya pelan sambil membereskan meja di dekat pria itu.

"Dan aku masih lebih suka memanggilmu Coffee Girl," jawab Alexander santai.

Aurora langsung membeku di tempat. Ia segera menoleh ke belakang dan benar saja, Alexander berdiri tepat di belakangnya dengan ekspresi santai yang membuat Aurora kesal.

"Ya Tuhan!" seru Aurora sambil memegangi dadanya karena kaget. "Kamu suka sekali muncul tiba-tiba ya?"

"Mungkin," jawab Alexander singkat tanpa rasa bersalah.

Aurora memutar bola matanya malas. "Kenapa belum pulang? Ini sudah hampir jam enam sore."

Alexander mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Aku sedang menunggu."

"Menunggu siapa?" tanya Aurora bingung.

"Aku menunggu..." Alexander menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk ke arah Aurora.

Aurora mengernyitkan keningnya. "Jangan bilang kalau..."

"Aku menunggumu," potong Alexander dengan senyum tipis.

Aurora hampir tersedak ludahnya sendiri karena kaget. "Kenapa harus menungguku?"

"Aku lapar," jawab Alexander jujur.

Aurora menatap pria itu selama beberapa detik dengan tatapan datar. "Lalu?"

"Makan denganku," ajak Alexander.

Aurora langsung tertawa kecil. "Tidak, terima kasih."

Alexander tampak menunjukkan wajah kecewa. "Kamu cepat sekali menolaknya."

"Aku harus segera pulang," balas Aurora.

"Aku traktir," tawar Alexander lagi.

"Tidak," tolak Aurora.

"Aku antar pulang," tawar pria itu kembali.

"Tidak," jawab Aurora tetap teguh.

"Aku beri bonus kopi," bujuk Alexander.

"Tidak!" tegas Aurora.

Alexander menyipitkan matanya. "Apa kamu selalu sesulit ini untuk diajak kompromi?"

Aurora menyilangkan tangan di depan dada. "Dan apa kamu selalu memaksa orang lain seperti ini?"

Alexander berpikir sejenak. "Lumayan sering."

Aurora hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pria ini benar-benar aneh. Biasanya, pria kaya seperti Alexander akan menghabiskan waktu bersama teman-temannya di tempat mewah, bukan mengganggu seorang pegawai kafe paruh waktu seperti dirinya. Namun anehnya, Aurora tidak benar-benar merasa terganggu. Sedikit kesal, iya, tapi ia tidak merasa risi.

"Baiklah, aku menyerah," ujar Alexander akhirnya sambil menghela napas.

Aurora tersenyum puas. "Nah, begitu lebih baik."

"Tapi sebelum aku pergi..." Alexander kembali bersuara.

Aurora kembali memasang wajah curiga. "Kenapa lagi?"

Alexander mengeluarkan ponselnya dari saku. "Lanjutkan misi kemarin."

"Misi apa lagi?" tanya Aurora mengernyit.

"Nomor teleponmu," jawab Alexander lugas.

Aurora memejamkan mata sejenak. "Ternyata kamu belum menyerah juga."

"Belum," jawab Alexander sambil tersenyum.

"Kamu benar-benar keras kepala," gumam Aurora.

"Aku sudah sering mendengar itu," sahut Alexander enteng.

Aurora mulai berjalan menuju pintu keluar kampus, dan Alexander dengan santai berjalan di sampingnya.

"Kamu tahu?" tanya Alexander sambil menatap Aurora.

"Apa?" sahut Aurora meliriknya.

"Biasanya cewek-cewek yang justru minta nomorku duluan," kata Alexander percaya diri.

Aurora tertawa kecil. "Sayangnya, aku bukan salah satu dari mereka."

Alexander memasang ekspresi pura-pura terluka. "Kejam sekali."

Aurora kembali tertawa. Tanpa mereka sadari, obrolan itu terus berlanjut sepanjang perjalanan menuju halte bus. Sampai akhirnya, mereka berhenti di bawah lampu jalan karena hujan gerimis mulai turun. Aurora melihat bus yang ditunggunya belum juga datang, sementara Alexander berdiri di sampingnya tanpa menunjukkan tanda-tanda ingin pergi.

"Aku penasaran," ujar Aurora membuka percakapan.

"Tentang apa?" tanya Alexander.

"Kenapa kamu harus kerja sambilan seperti ini?" tanya Alexander dengan nada penasaran.

Aurora sedikit terkejut karena pertanyaan itu terasa cukup personal. "Karena aku butuh uang," jawab Aurora jujur.

"Jawaban yang sangat jelas," sahut Alexander.

Aurora tertawa pahit. "Ayahku sakit. Aku harus membantu biaya kuliah sekaligus kebutuhan rumah." Aurora menatap jalanan yang mulai basah oleh hujan. "Aku nggak punya pilihan lain selain bekerja keras."

Untuk pertama kalinya, Alexander tidak bercanda. Ia terdiam dan mendengarkan dengan serius. Aurora tidak mengeluh dan tidak berusaha mencari belas kasihan; ia hanya menceritakan kenyataan hidupnya. Justru keteguhan itulah yang membuat Alexander kagum.

"Kamu hebat," puji Alexander tiba-tiba.

"Hah?" Aurora bingung.

"Aku serius," tegas Alexander.

Aurora menggeleng. "Nggak juga."

"Aku kenal banyak orang yang hidupnya jauh lebih mudah daripada kamu, tapi mereka justru mengeluh lebih banyak," ucap Alexander menatap Aurora dengan tatapan dalam.

Aurora terdiam. Entah mengapa, perkataan itu membuat dadanya terasa hangat. Belum pernah ada orang yang memuji ketegarannya dengan setulus itu.

"Ternyata kamu bisa serius juga ya," ucap Aurora pelan.

"Tentu saja, kadang-kadang," jawab Alexander tersenyum.

Bus yang ditunggu Aurora akhirnya terlihat dari kejauhan. Aurora langsung berdiri dari duduknya. "Nah, itu busku," ucap Aurora.

Alexander tampak kecewa. "Sekarang kamu benar-benar pergi?"

"Iya," jawab Aurora singkat.

Aurora mulai melangkah maju menuju bus, namun sebelum naik ke kendaraan tersebut, ia berhenti sejenak dan menoleh ke arah Alexander yang masih berdiri mematung menatapnya. Aurora menggigit bibir bawahnya, menimbang-nimbang selama beberapa detik, lalu mengeluarkan secarik kertas kecil dari tasnya.

"Alexander," panggil Aurora.

Pria itu langsung mendongak. Aurora berjalan mendekat dan menyodorkan kertas tersebut ke tangannya.

Alexander menerimanya dengan dahi berkerut. "Apa ini?"

"Jangan buat aku menyesal memberikannya," bisik Aurora pelan.

Alexander segera membuka kertas itu dan membeku di tempat. Di sana tertulis deretan angka: nomor telepon milik Aurora. Saat Alexander mendongak kembali untuk berterima kasih, bus sudah mulai bergerak maju, membawa Aurora pergi meninggalkannya.

Alexander menatap kertas kecil itu dengan senyuman lebar—senyuman tulus yang sudah lama tidak muncul di wajahnya.

"Ternyata..." gumam Alexander sambil memasukkan kertas itu ke bagian terdalam dompetnya, di tempat paling aman. "Akhirnya aku menang."

Namun, tanpa mereka sadari, dari balik jendela gedung kampus, seorang wanita berambut pirang memperhatikan semuanya. Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya penuh dengan rasa iri dan kebencian. Karena untuk pertama kalinya, Alexander Kingsley terlihat begitu tertarik pada seseorang—dan orang itu bukanlah dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!