NovelToon NovelToon
Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27.

Johan memundurkan tubuhnya ke belakang, bahkan ia hampir terjatuh setelah mendengar jawaban dari Luis.

"Lucian Wilson?" Tanya Johan lagi memastikan.

Luis mengangguk.

Emma bingung dengan ekspresi ayahnya yang tak biasa, ia pun bertanya pada ayahnya dengan nada khawatir, "Ayah nggak papa? Apa yang terjadi?"

Dada Johan tiba-tiba terasa sesak, ia buru-buru menjawab pertanyaan putrinya dengan gelengan kepala.

"Ayah pergi dulu, kalian berdua nikmati waktu berdua," ujar Johan buru-buru pergi meninggalkan putrinya.

Johan tahu betapa putrinya mencintai Luis, dia takut takut, kalau sampai Luis tahu yang sebenarnya terjadi dan meninggalkan putrinya.

Jika Luis nampak menatap punggung Johan dengan tatapan acuh tak acuh dan tidak peduli, hal berbeda ditunjukkan oleh Emma.

Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh ayahnya, tapi tubuhnya yang kurang fit ditambah dirinya yang kekurangan darah.

Akhirnya Emma memilih untuk tidak berpikiran lebih jauh.

"Luis, sepertinya kamu kelelahan?" Ujar Emma, melihat Luis memejamkan matanya.

Luis terlihat sangat tampan, wajahnya nyaris sempurna bagaikan patung dewa Yunani.

Bahkan Emma merasa, jakun Luis yang naik turun seakan menambah ketampanan pria itu.

Luis hanya menanggapi ucapan Emma dengan deheman.

"Luis, bisakah kamu melepaskan teman-temanku? Bagaimanapun juga, mereka tidak sepenuhnya salah," titah Emma, berusaha menahan emosinya.

Sofia, Ivy, dan beberapa anggota cheerleader kini sedang ditahan di ruang BK sekolah.

Mereka bahkan tidak diizinkan pulang karena kasus bullying yang mereka lakukan pada Laura sangat serius, hampir seperti tindakan kriminal.

Mata Luis terbuka lebar, menatap Emma dengan tajam. "Mereka tidak sepenuhnya salah? Maksudmu apa, Emma?"

Awalnya ia duduk di sofa yang agak jauh dari ranjang Emma, kini Luis bangkit dan melangkah mendekat.

"Kamu tahu, Laura divonis tidak bisa berjalan normal selama sebulan? Meskipun dia anak pelayan-pun, dia tidak pantas diperlakukan seperti itu. Teman-temanmu menendang dan menginjak kakinya," jelas Luis tegas.

Emma bisa merasakan dengan jelas gejolak amarah dan emosi tidak stabil di wajah Luis.

"Tapi, kalau sampai kasus ini sampai ke dewan sekolah. Kasihan Sofia dan Ivy, bagaimana pun juga mereka itu sahabatku. Luis, aku mohon kamu harus menolong mereka," ujar Emma dengan nada memohon.

Sementara Luis, wajahnya terlihat semakin tidak bersahabat.

"Luis ... Apakah kamu nggak mau menolong kedua sahabatku karena kamu mempunyai perasaan pada Laura? Walaupun kamu mengatakan tidak, tapi melihat sikapmu. Aku merasa perasaanmu lebih dalam pada Laura dibandingkan denganku." Imbuh Emma, ia menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya.

"Apakah kamu pernah mendengar pepatah? Semakin kamu membenci seseorang, lambat laun kebencian itu akan berubah jadi cinta."

Luis memejamkan matanya, ia merasa tidak terima dengan tuduhan yang diberikan oleh Emma. "Aku nggak mau menolong kedua temanmu itu karena mereka salah, bukan karena Laura."

"Tapi kamu itu pacarku, kamu harus membantuku. Saham terbesar di SMA Bintang milik keluargamu, kamu pasti bisa membantuku ... Aku mohon ... " Emma masih berusaha memohon demi kedua temanya.

Luis memejamkan matanya sebentar.

"Aku mau keluar dulu! Ngambil udara segar." Ujarnya tanpa menunggu respon Emma, ia langsung keluar meninggalkan ruang inap.

Sementara itu Emma tetap berteriak, "kalau kamu nggak mau membantuku melepas kedua sahabatku. Berarti kamu memang mencintai Laura!!"

Luis tetap keluar ruangan dengan langkah tegap, tanpa memperdulikan teriakan pacarnya.

Setelah pintu ruang inap tertutup, Emma menangis sejadinya, karena emosi yang meluap ditambah ia yang habis kehilangan banyak darah.

Hal itu membuat suhu tubuh Emma meningkat.

Walaupun Luis mengelak dan mengatakan sangat membenci Laura, tapi dalam hatinya ia tetap yakin.

Kalau sebenarnya Luis sangat mencintai Laura, bahkan perasaan cinta Luis lebih besar pada Laura.

Tadi Ivy menelponnya dan menceritakan seluruh kejadian saat Luis memergoki mereka membully Laura.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!