Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Darah yang tersembunyi (EPILOGI)
Ruangan itu sunyi.
Sangat sunyi.
Bahkan suara hujan di luar terdengar jauh.
Semua orang terpaku menatap pria tua yang baru saja muncul.
Pria yang disebut Rio sebagai pendiri asli Wings of Hades.
Pria yang baru saja mengaku sebagai kakek kandung Arkan dan Kiara.
Arkan adalah orang pertama yang memecah keheningan.
"Itu tidak mungkin."
Suaranya dingin.
"Kakekku meninggal sebelum aku lahir."
Pria tua itu tersenyum tipis.
"Itu yang diberitahukan keluargamu."
Kiara juga menggeleng.
"Aku bahkan tidak tahu siapa orang tuaku."
"Itulah sebabnya aku datang."
Pria tua itu berjalan perlahan ke tengah ruangan.
Namanya adalah...
Brahmantyo Adinata.
Nama yang selama puluhan tahun dihapus dari sejarah.
Nama yang bahkan tidak pernah disebut oleh keluarga Narendra.
Namun begitu mendengar nama itu, wajah Aditya langsung berubah pucat.
Seperti melihat hantu.
"Kau seharusnya mati..."
gumam Aditya.
Brahmantyo tertawa kecil.
"Sudah kubilang. Kita sama-sama sulit mati."
Arkan menatap tajam pria itu.
"Jelaskan semuanya."
Brahmantyo mengangguk.
"Baik."
Ia menarik sebuah kursi lalu duduk.
Seolah tidak ada baku tembak, ledakan, dan puluhan orang bersenjata di luar sana.
"Sebelum ada Wings of Hades..."
Tatapannya menerawang jauh.
"...ada keluarga Adinata."
Empat puluh tahun lalu.
Keluarga Adinata adalah salah satu keluarga terkaya di Asia Tenggara.
Mereka memiliki perusahaan, bank, dan jaringan bisnis yang sangat besar.
Namun di balik kemewahan itu, keluarga tersebut menyimpan rahasia.
Mereka membangun organisasi rahasia untuk melindungi aset keluarga dari ancaman luar.
Organisasi itu kemudian berkembang.
Terlalu besar.
Terlalu kuat.
Dan akhirnya berubah menjadi Wings of Hades.
Awalnya organisasi itu bukan kelompok kriminal.
Mereka adalah pelindung.
Namun kekuasaan selalu mengubah manusia.
Sedikit demi sedikit.
Wings of Hades berubah menjadi monster.
"Aku mencoba menghentikannya."
kata Brahmantyo.
"Tapi sudah terlambat."
Lalu ia menatap Aditya.
"Dan salah satu orang yang mempercepat kehancuran itu adalah kau."
Aditya menggertakkan gigi.
"Kau tidak berhak menghakimiku."
"Aku menciptakan organisasi itu."
"Itulah masalahnya."
Ruangan kembali sunyi.
Kemudian Brahmantyo menoleh ke arah Kiara.
Tatapannya berubah lembut.
Sangat berbeda dari sebelumnya.
"Alya adalah cucuku."
DEG!
Kiara langsung membeku.
Arkan juga terkejut.
"Alya..."
Brahmantyo mengangguk.
"Putriku memiliki seorang anak perempuan."
"Itulah Alya."
Napas Kiara mulai memburu.
Artinya...
"Jadi..."
"Ya."
Brahmantyo tersenyum sedih.
"Kau adalah cicitku."
Air mata mulai menggenang di mata Kiara.
Seumur hidup.
Ia tidak pernah tahu siapa keluarganya.
Dan sekarang silsilah itu perlahan terbuka.
Namun Arkan masih bingung.
"Kalau Kiara cicitmu, lalu aku?"
Tatapan Brahmantyo beralih kepada Arkan.
Dan untuk pertama kalinya.
Wajahnya terlihat penuh penyesalan.
"Kau juga."
DEG!
"Apa?"
"Kau juga cicitku."
Arkan membelalak.
Seluruh ruangan langsung kacau.
"Itu mustahil!"
teriak Arkan.
Namun Brahmantyo hanya menghela napas.
"Narendra bukan anak kandung keluarga Narendra."
Kalimat itu menghantam semua orang.
Termasuk Aditya.
Termasuk Rio.
Bahkan Kiara.
Brahmantyo melanjutkan.
"Tiga puluh lima tahun lalu terjadi perebutan kekuasaan di keluarga Adinata."
"Banyak anak diburu."
"Banyak yang dibunuh."
"Aku menyembunyikan beberapa keturunanku."
Salah satunya adalah seorang bayi laki-laki.
Bayi itu diserahkan kepada keluarga sederhana.
Dibesarkan dengan identitas baru.
Dan kelak dikenal dengan nama...
Narendra.
Arkan merasa kepalanya berputar.
Berarti ayahnya...
Berarti dirinya...
Semuanya terhubung dengan keluarga Adinata.
Namun Brahmantyo mengangkat tangannya.
"Tapi dengarkan sampai selesai."
Semua kembali diam.
Karena ada sesuatu yang terasa ganjil.
Sangat ganjil.
Jika Narendra dan Alya sama-sama keturunan Adinata...
Maka hubungan Arkan dan Kiara menjadi masalah besar.
Brahmantyo seolah memahami pikiran mereka.
Lalu tersenyum tipis.
"Tenang."
"Aku belum selesai."
Ia mengeluarkan sebuah map tua.
Sangat tua.
Penuh dokumen dan foto.
Kemudian ia melemparkannya ke atas meja.
Arkan membuka dokumen itu.
Dan matanya langsung membelalak.
"Ini..."
Rio ikut melihat.
Lalu napasnya tercekat.
Karena dokumen tersebut berisi hasil tes DNA lama.
Dan hasilnya sangat berbeda dari yang selama ini mereka percaya.
Brahmantyo menatap Arkan.
Lalu berkata perlahan.
"Narendra memang ayah biologis Kiara."
"Tapi Alya bukan ibu kandung Kiara."
DEG!!!
Kiara langsung berdiri.
"Apa?!"
Air mata jatuh begitu saja.
"Bagaimana mungkin?"
Brahmantyo menatapnya penuh belas kasihan.
"Kau diadopsi saat masih bayi."
Dunia Kiara kembali runtuh.
Lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Selama ini ia percaya Alya adalah ibunya.
Lalu ternyata Alya bukan ibu kandungnya.
Berarti...
Siapa dirinya sebenarnya?
Namun kejutan belum berakhir.
Karena Brahmantyo kemudian menoleh ke arah Aditya.
Tatapannya menjadi sangat tajam.
"Dan sekarang saatnya mengatakan kebenaran yang sesungguhnya."
Aditya mulai mundur.
Untuk pertama kalinya.
Ia terlihat panik.
Sangat panik.
Brahmantyo menunjuknya.
Lalu mengucapkan kalimat yang membuat semua orang membeku.
"Orang yang menculik Kiara tiga puluh tahun lalu..."
Ruangan menjadi hening.
"Orang yang membakar rumah Alya..."
Tatapan semua orang tertuju kepada Aditya.
Dan Brahmantyo mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Adalah ayah kandung Kiara."
DEG!!!!
Kiara langsung kehilangan keseimbangan.
Untung Arkan segera menangkap tubuhnya.
Aditya memejamkan mata.
Seolah rahasia terbesar yang ia sembunyikan selama hidup akhirnya terbongkar.
Sedangkan Kiara...
Hanya bisa menangis.
Karena musuh yang selama ini menghancurkan hidupnya...
Ternyata adalah darah dagingnya sendiri. untuk menyelamatkan keluarganya.