maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Maizy mengembuskan napas panjang saat akhirnya bisa duduk di bangkunya yang berada di baris tengah. Kelas 10 siang itu terasa agak gerah, atau mungkin hanya hati Maizy yang masih panas gara-gara Paul.
Winterhall International School memang bukan sekolah biasa. Sebagai salah satu sekolah internasional paling bergengsi di Berlin, murid-murid di sini datang dari berbagai belahan dunia. Tak heran jika koridor sekolah selalu ramai dengan perpaduan berbagai aksen bahasa asing yang unik.
"Ya ampun, Maizy! Kamu kenapa? Mukamu merah banget kayak tomat rebus," bisik sebuah suara dengan aksen Prancis yang kental.
Rachel Rossete, sahabat dekat Maizy, langsung mencondongkan badannya dari bangku sebelah. Gadis asal Prancis itu menatap Maizy dengan mata bulatnya yang penuh rasa ingin tahu, sementara rambut ikalnya bergoyang seiring gerakannya.
"Aku dihukum sepulang sekolah nanti," gerutu Maizy sambil membetulkan letak kacamatanya dengan kesal. "Gara-gara cowok paling menyebalkan di Winterhall."
"Siapa? Anak kelas kita?" Rachel berbisik heboh, mengabaikan guru sejarah di depan yang sedang menulis di papan tulis.
"Bukan, anak kelas sebelah. Namanya Paul Graxiel Laxsman. Dia anak pindahan dari Kanada itu, kan?"
Rachel langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya melebar. "*Mon Dieu!* Kamu berurusan dengan Paul si beruang kutub dari Kanada itu? Maizy, dia itu terkenal pintar tapi mulutnya tajam banget! Di klub debat kemarin, dia sampai bikin anak kelas 12 nangis karena kalah argumen. Dia benar-benar enggak mau kalah dari siapa pun!"
"Aku sudah merasakannya sendiri tadi di kereta dan di ruang piket," sahut Maizy sambil menopang dagunya gusar. "Dia menabrakku, membuat barang-barangku jatuh, dan bukannya minta maaf, dia malah menyuruhku naik sepeda roda tiga besok! Benar-benar tidak punya sopan santun."
Rachel meringis simpati, mengusap bahu sahabatnya itu. "Sabar, Maizy. Kamu kan orang paling baik se-Winterhall. Tapi kalau menghadapi Paul... kupikir kebaikanmu malah akan dijadikan sasaran empuk olehnya. Dia tipe orang yang akan menggilas siapa saja yang menghalangi jalannya."
"Aku tidak peduli seberapa pintarnya dia di Kanada atau di sekolah ini," bisik Maizy dengan tekad bulat, matanya menatap lurus ke jendela kelas. "Nanti di perpustakaan, aku tidak akan membiarkan dia menang begitu saja."
Rachel hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sang sahabat yang biasanya ramah dan penyabar, kini benar-benar telah menemukan lawan yang berhasil memancing jiwa kompetitif dan rasa keadilannya yang tinggi.
Bel pulang sekolah akhirnya berdering nyaring, membebaskan ratusan murid Winterhall International School dari penatnya pelajaran. Namun bagi Maizy, penderitaannya baru saja dimulai. Dengan langkah gontai dan tas yang disampirkan di bahu, gadis berambut coklat pendek itu berjalan menuju perpustakaan sekolah untuk menjalani hukumannya.
Begitu pintu kaca perpustakaan yang besar itu terbuka, Maizy langsung disuguhi pemandangan barisan rak buku tinggi yang berdebu. Dan di sudut ruangan dekat meja sirkulasi, berdirilah Paul Graxiel Laxsman.
Cowok Kanada itu sedang menyandang tas ranselnya di satu bahu, tampak rapi dan sama sekali tidak terlihat seperti murid yang akan menjalani hukuman bersih-bersih. Di sebelahnya, Ibu Schmidt, kepala perpustakaan yang terkenal galak, sedang tersenyum ramah—pemandangan langka yang membuat Maizy mengerutkan kening heran.
"Ah, Maizy, kau akhirnya datang," kata Ibu Schmidt begitu melihat Maizy mendekat. "Kebetulan sekali. Paul baru saja meminta izin, dan setelah saya pertimbangkan, dia boleh pulang duluan hari ini."
"Hah? Tapi Bu..." Maizy melongo, kacamatanya hampir melorot lagi. "Kami kan dihukum bersama karena terlambat pagi tadi? Kenapa dia boleh pulang?"
Paul membalikkan badannya perlahan, menatap Maizy dengan senyum miring khasnya yang luar biasa memancing emosi. Dia sengaja membetulkan letak pin emas di kerah seragamnya—pin penanda posisinya sebagai Ketua Paskibra sekaligus Ketua Divisi Bela Negara di Winterhall.
"Maizy, kau harus paham," Ibu Schmidt menjelaskan dengan nada maklum. "Paul ini siswa berprestasi kebanggaan sekolah kita. Sore ini dia punya rapat koordinasi darurat dengan komite sekolah dan militer lokal untuk persiapan upacara internasional bulan depan. Tugasnya sebagai Ketua Divisi Bela Negara sangat krusial. Jadi, hukumannya ditangguhkan."
*Privilese siswa berprestasi. Curang banget!* teriak Maizy dalam hati.
Maizy menatap Paul dengan pandangan tidak terima. Sebagai seorang yang menjunjung tinggi keadilan, melihat Paul bebas melenggang begitu saja hanya karena status jabatannya membuat darah Maizy mendidih.
Paul melangkah mendekati Maizy, memangkas jarak di antara mereka. Dia merunduk sedikit, berbisik dengan nada rendah yang hanya bisa didengar oleh Maizy, lengkap dengan seringai kemenangan yang tak mau kalah.
"Jangan menatapku seperti itu, Nona Kacamata. Dunia ini bergerak berdasarkan skala prioritas. Dan saat ini, kontribusiku untuk sekolah jauh lebih penting daripada sekadar memegang kemoceng," bisik Paul penuh kesombongan. "Nikmati soremu bersama debu-debu ini. Oh, dan pastikan rak bagian sejarah dibersihkan sampai mengilat, ya?"
"Kau..." Maizy mengepalkan tangannya kuat-kuat, giginya menggertak menahan geram.
"Saya duluan, Ibu Schmidt. Terima kasih atas pengertiannya," pamit Paul dengan sopan santun yang mendadak kembali 180 derajat di depan guru, lalu berjalan melewati Maizy begitu saja tanpa beban. Sebelum benar-benar keluar, dia sempat menoleh sekilas dan mengetuk pin Ketua Paskib-nya dengan jari telunjuk, seolah sengaja mengejek Maizy yang masih mematung di tempat.
Maizy mengembuskan napas kasar, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang karena kesal. Sambil meraih kemoceng dan kain lap dengan hentakan kasar, dia bersumpah dalam hati kalau kesombongan Paul Graxiel Laxsman suatu saat nanti harus runtuh di hadapannya.