NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:192
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elisya Bingung

"Gimana, Sya? Jadi pulang kampungnya?" tanya Elora.

Pagi itu mereka berjalan menuju gerbang sekolah membawa tas kerja masing-masing.

Elisya mengangkat bahu.

"Bingung...... Nanti aja kucoba minta ijin sama kepsek dulu. Kalau boleh baru kupastikan ke rumah."

"Iya sih. Soalnya bentar lagi ujian juga,"

Mereka pun masuk ke kelas. Pelajaran berlangsung seperti biasa sampai bel istirahat pertama berbunyi.

"Oke anak-anak. Waktunya kita istirahat..... Ingat ya, kalo jajan sampahnya harus di??" tanya Elisya di depan kelas.

"Di buang......" jawab mereka serentak.

"Ke?" Lanjut tanya Elisya.

"Tempat sampah....." lanjut anak-anak menjawab serempak.

Begitu anak-anak keluar kelas, Elisya merapikan seragamnya.

"Mau sekarang?" tanya Elora menghampiri Elisya yang mengajar tepat di samping kelasnya.

"Iya, mumpung Kepsek ada di kantor."

Koridor sekolah tampak lebih sepi dibanding halaman yang ramai oleh siswa yang sedang jajan.

Elisya berdiri di depan pintu kantor kepala sekolah selama beberapa detik sebelum mengetuk.

"Permisi, Pak."

"Masuk"

Kepala sekolah yang sedang memeriksa berkas mengangkat pandangan.

"Silahkan duduk, Bu"

Elisya maju pelan.

"Terimakasih,Pak. Saya mau meminta izin, Pak. Keluarga saya ada acara di kampung. Jadi kemungkinan saya harus pulang beberapa hari."

Kepala sekolah menyimak dengan tenang.

"Kapan acaranya?"

Elisya menjelaskan tanggal dan perkiraan waktu keberangkatannya.

Kepala sekolah kemudian bersandar di kursi.

"Saya mengerti. Acara keluarga memang penting."

Wajah Elisya sedikit lega.

"Tapi, karna sudah mendekati ujian, saya hanya bisa memberi izin tiga hari." lanjut beliau.

"Iya.Tiga hari termasuk perjalanan. Dan kalau dalam waktu dekat nanti ada keperluan lain membutuhkan cuti lagi, saya tidak bisa mengizinkan. Aturan sekolah harus tetap dijalankan."

Elisya terdiam.

"Jadi pikirkan baik-baik. Kalau memang mau menggunakan izin sekarang, nanti untuk izin berikutnya kemungkinan besar tidak bisa."

"Saya mengerti, Pak. Saya akan konfirmasi selanjutnya kepada Bapak. Terimakasih, Pak." balas Elisya.

Keluar dari kantor kepala sekolah, langkah Elisya terasa lebih lambat. Ia berhenti di dekat taman kecil sekolah sambil memandangi siswa yang berlalu lalang.

"Tiga hari....." gumamnya.

Itu sebenarnya cukup untuk pulang menghadiri Martuppol kakanya. Tapi ucapan kepala sekolah terus terngiang di kepalanya.

"Kalau membutuhkan cuti lagi, saya tidak bisa mengizinkan."

Elisya menghela napas panjang. Martuppol memang penting. Namun, setelah Martuppol pasti ada pernikahan.

"Jadi harus pilih salah satu....." gumamnya lagi.

Bel masuk berbunyi nyaring di seluruh area sekolah. Elisya yang masih berdiri di dekat taman kecil sekolah tersentak dari lamunannya. Ia menatap jam tangan sebentar lalu menghela napas pelan.

"Bingung......"

Langkahnya terasa lebih berat saat berjalan menuju kelas. Wajah bingung itu tampak sangat jelas. Namun, begitu tangannya menyentuh gagang pintu kelas, Elisya berhenti sejenak.

Anak-anak tidak perlu ikut memikirkan masalahnya. Ia menarik napas dalam-dalam lalu memaksakan senyum kecil di wajahnya.

Pintu kelas dibuka. "Selamat siang, Bu Elisya!!" seru murid-murid hampir bersamaan.

"Selamat siang semuanya." jawab Elisya dengan senyum lebih tulus.

Beberapa anak langsung mengangkat tangan dengan semangat.

"Bu, tadi saya beli roti...."

"Bu, saya sudah buang sampah di tempatnya tadi ya...."

"Bu, tadi Reno lari di Koridor!!"

"Tapi kau buang sampah sembarangan kan tadi....."

"Aduh, satu satu dong....." kata Elisya sambil tertawa kecil.

Suasana kelas yang riuh perlahan mengusir sedikit beban di kepalanya.

Ia berjalan ke depan kelas dan meletakkan buku di meja guru.

"Sudah istirahat semua?"

"Sudaaah....."

"Sudah makan?"

"Sudaaah!"

"Ada yang belum?"

Seorang anak kecil di pojok mengangkat tangan malu-malu.

"Saya, Bu..... Uang jajan saya hilang....."

Beberapa teman sekelasnya langsung menoleh. Elisya tersenyum lembut.

"Nanti setelah pelajaran kita cari solusinya ya, Nak. Sekarang kita belajar dulu...."

"Iya, Bu."

Melihat wajah wajah polos yang memperhatikannya, Elisya kembali mengingat alasan ia mencintai pekerjaannya.

Sementara itu, di sisi lain kota, Asido sedang berada di klinik gigi miliknya sendiri. Klinik itu bukan lagi praktik kecil dengan satu ruang perawatan. Bangunnya terdiri dari dua lantai dengan beberapa ruang tindakan, ruang tunggu yang luas, laboratorium sederhana serta belasan tenaga medis dan staf yang bekerja setiap hari.

Meski namanya terpampang besar di depan gedung sebagai pemilik sekaligus dokter utama, Asido tidak pernah benar-benar terbiasa duduk diam di balik meja kantor. Ia lebih sering berada di ruang perawatan bersama pasien daripada mengurus laporan keuangan atau administrasi.

"Dok, jadwal sore hari ibu hampir penuh," Lapor salah satu resepsionis sambil menyerahkan daftar pasien.

Asido melirik sekilas lalu mengangguk.

"Pasien kontrol pasca perawatan masuk sesuai jadwal saja. Kalau ada yang darurat, kabari saya dulu."

"Baik, Dok."

Baru saja ia hendak masuk ke ruang praktik, seorang perawat menghampirinya.

"Dokter, mesin rontgen ruang dua sudah dicek teknisi. Sudah bisa dipakai lagi."

"Bagus.Terimakasih."

Hari itu berjalan cukup lancar. Tidak ada pasien darurat, tidak ada keluhan besar, dan semua jadwal hampir tepat waktu.

Di sela sela kesibukan, Asido sempat duduk di ruang kerjanya untuk menandatangani berkas. Namun baru beberapa menit bekerja, pikirannya kembali melayang.

Asido menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.

"Aneh kali......"

Biasanya ia mudah melupakan orang yang baru dikenalnya. Apalagi hanya seseorang yang bertemu tanpa percakapan panjang.

"Ini jelas berbeda......" gumamnya.

"Elisya Mayura Pasaribu....." gumam Asido pelan sambil memutar pulpen di antara jemarinya.

Nama itu masih teringat jelas. Bukan hanya wajahnya, bahkan namanya pun entah bagaimana melekat di kepalanya sejak perkenalan singkat mereka waktu itu.

Asido bersandar di kursinya.

"Pasaribu....." ulangnya pelan.

Sebagai orang Batak, marga seringkali menjadi hal pertama yang tanpa sadar diperhatikan. Bukan sekedar nama belakang, tetapi juga bagian dari identitas keluarga dan garis keturunan.

"Bukan......" gumamnya lagi.

Asido mencoba mengingat kembali. Pasaribu. Bukan marganya. Dan sejauh yang ia ketahui, tidak ada hubungan kekerabatan dekat yang membuat mereka terikat sebagai satu keluarga.

Pikiran itu membuatnya tersenyum kecil. Lalu seketika ia menggeleng sendiri.

"Kenapa pula sampai kepikiran ke sana?"

Ia meletakkan pulpennya di atas mejanya. Lalu memutar kursinya sedikit menghadap jendela. Di luar, aktivitas klinik berjalan seperti biasa. Pasien datang dan pergi, perawat berlalu lalang di Koridor, telepon resepsionis sesekali berdering.

Semuanya normal. Hanya pikirannya yang tidak.

"Permisi, Dokter Asido."

Ketukan pintu membuatnya menoleh.

"Ya?"

"Pasien berikutnya sudah siap."

Asido berdiri sambil mengambil jas putihnya.

"Oke, saya ke sana."

"Astaga....." Asido sambil berjalan, ia merapikan jas putihnya yang sedikit kusut di bagian lengan. Lanjut lagi membenarkan kerah jas dokter itu hingga ia tak fokus ke depan.

Bruk!!!!

"Woi!!!!" serunya.

Asido langsung berhenti.

Di depannya, seorang laki-laki yang baru saja keluar dari ruang administrasi memegangi bahunya yang sempat tersenggol.

"Maaf, " ucap Asido.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!